Tampilkan postingan dengan label teman blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman blogger. Tampilkan semua postingan

28 Mei 2016

MEMBALIKKAN PANDANGAN MENGENAI SINDROM DOWN LEWAT TULISAN LIZA FATHIA UNTUK WORLD DOWN SYNDROME DAY



  
down syndrome girl (source : https://pixabay.com/en/down-syndrome-girl-love-389671/)      

Adalah Cut Mad, lelaki jadi obyek tulisan Mbak Liza Fathia untuk memperingati World Down Syndrome Day 21 Maret setahun silam. Tidak seperti lelaki seusianya, tingkah Cut Mad tidak bisa dikatakan dewasa. Ia kerap bertingkah laku serupa kanak-kanak meski usianya lewat dua puluh tahun. Penyebabnya adalah kelainan genetik pada kromosom 21 yang berdampak pada keterbelakangan mental dan motorik Cut Mad.
Lalu bagaimana cara mengetahui  apakah seseorang terkena sindrowm down atau tidak?
Secara gamblang, penderita sindrom down seperti Cut Mad memiliki ciri yang khas. Kepala mengecil (microcephaly), hidung datar menyerupai orang Mongoloid,  mulut kecil dan lidah yang menonjol, serta tubuh yang relatif pendek. 

Persepsi Orang Terhadap Penyandang Sindrom Down
Seperti yang dikatakan Mbak Liza, persepsi masyarakat terhadap penyandang down syndrome masih buruk. Orang-orang seperti Cut Mad kerap dipinggirkan. Sering jadi bahan olokan dengan menyebut mereka bodoh atau idiot, baik secara sembunyi atau terang-terangan.
Tak hanya di kalangan masyarakat sekitar tetapi juga orang tua penyandang sindrom down sendiri. Tak jarang orang-orang yang dikarunia putra seistimewa ini menunjukkan sikap pasrah. Dalam artian menganggap si anak tak bisa apa-apa. Akibatnya si anak sulit berkembang karena tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menjalani kehidupannya di masa depan.

10 Mei 2016

MENSYUKURI KEKURANGAN ALA AFIFAH MAZAYA



grateful with our imperfections make us happy
(sumber gambar :  https://pixabay.com/en/smiley-laugh-funny-emoticon-1159562/)


Tidak bisa dipungkiri, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Mensyukuri kelebihan secara umum jauh lebih mudah. Sebaliknya, mensyukuri kekurangan tak jarang menjadi hal tersusah. Kerap kali kekurangan itu membuat kita tidak nyaman. Ketika melihat orang lain terlihat lebih sempurna, hati memanas tanpa diminta. Terlebih ketika kita mulai membandingkan diri dengannya. Semakin lama membandingkan, semakin banyak kekurangan kita temukan. Akan tetapi bukannya bermuhasabah (evaluasi diri), kita kian terfokus pada kekurangan dan berujung pada kekurangsyukuran.

 Lalu apa yang terjadi kemudian? Kita jadi mudah iri dan sakit hati. 

Ciri-cirinya bagaimana?  Mudah saja. Jika kita sudah mengalami empat hal yaitu mudah tersinggung, susah bila melihat orang lain bahagia, kerap dendam, sering sekali mengeluh, dan  tak memiliki banyak teman. Jika dipikir, bagian terakhir soal tak memiliki banyak teman itu benar. Bagaimana mau memiliki teman jika sedikit-sedikit marah, dendam, gemar mengeluh, dan tak senang dengan kebahagian temannya?

Laluu bagaimana cara menanggulanginya?

Afifah Mazaya, blogger yang berasal dari Bogor ini mengajak kita mensyukuri kekurangan. Sebab mensyukuri kekurangan justru mengalihkan energi untuk menyesali menjadi energi yang bisa dipakai untuk melebihkan kelebihan.

30 April 2016

GARA-GARA GENTLE BIRTH KESASAR KE BLOG MERISKA PW



Bahagianya Bunda ketika anaknya lahir ke dunia.


Sebagai (orang yang paling) lajang diantara teman-teman seangkatan, saya sering kali dapat warning ,”Jangan sering-sering dengar cerita orang melahirkan. Kamu kan masih lajang, nanti malah ogah kawin lho gara-gara dengar proses lahiran yang menyakitkan.”
Tidak salah juga sih kalau mereka mengatakan demikian. Sebab proses persalinan yang saya dengar itu gak jauh beda dengan adegan bersalin yang kerap dipertontonkan di sinetron. Dimana perempuan terbaring di ruang bersalin dengan wajah penuh peluh dan kelelahan, berusaha keras mengejan sambil jejeritan, sementara bibir meringis menahan kesakitan.
“Widih, aku hampir aja nggak kuat waktu itu!” kisah seorang teman menanggapi pertanyaan gimana rasanya pas mau melahirkan bayinya. “Udah ngejan bayinya nggak keluar-keluar...”
Yang lainnya berkata ,”Gara-gara ngangkat pantat pas ngejan, aku dapet banyak jahitan. Lha piye robekan perineum-nya lebar je...”

Gleg!
Kalau kisah semacam ini terus diulang siapa juga yang tidak gentar? Alhasil demi menghindari persalinan yang menyakitkan calon emak (seperti saya) terpicu untuk melahirkan lewat operasi Sectio Caesaria (Caesar). Wis pokoknya weeer! Tahu-tahu bayi lahir gitu aja, tanpa perlu menahan sakit atau repot mengejan sebelum melahirkan. Lupa bahwa tindakan pun ada sebenarnya memiliki resiko tersendiri. Operasi caesar tidak hanya berpengaruh pada ibu tetapi juga pada bayi yang dilahirkan.  Resiko kematian, gangguan pernapasan, sampai trauma pada bayi pun besar. Paska operasi caesar pun Emak tidak langsung pulih dan bisa beraktifitas seperti semula layaknya wanita yang lahir normal. Rasa nyeri akibat tindakan operasi membaut Emak tidak seenaknya saja saat duduk atau berdiri. Tidak mustahil Emak juga mengalami infeksi pada jahitan operasi.  Entah karena peralatan yang kurang steril atau respon tubuh terhadap benang jahit seperti yang dialami sahabat saya Ce Nur. 

09 April 2016

BATAL MENGELUH MEMBACA KISAH INSPIRATIF DI BLOG MBAK LISA







Capek luar biasa! Itu yang saya rasa ketika menyinggahi rumah maya Mbak Lisa. Mata saya panas, begitu juga pantat saya. Punggung sakit, betis berkonde...aduh saya benar-benar remuk redam.
Sungguh, pekerjaan yang saya geluti baru-baru ini membuat saya kelelahan. Sampai-sampai saking lelahnya, ketika pulang kerja, saya tak sanggup lagi membasuh muka. Sekedar membersihkan make up dari wajah saya.

Seperti hari itu. That’s why saya yakin gak bakalan sanggup membaca satu pun artikel di rumah Mbak Lisa. Yang ada di kepala saya, saya akan ngusruk di depan komputer tak sampai lima menit kemudian.
Tetapi saya salah besar. Mata saya tetap terbuka lebar menekuri tulisan-tulisan Mbak Lisa. Dimulai dari kisah pengojek payung bernama Wendra yang mengingatkan saya agar tak mudah mengeluh bagaimanapun keadaannya. Terus saja berjuang sembari menyalakan harapan. Mungkin saja harapan-harapan itu terlihat naif, aneh, dan tidak mungkin kesampaian. Tetapi, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi di depan? Kini si bocah pengojek payung itu berhasil menjadi manajer artis papan atas.

10 Maret 2016

BELAJAR SABAR DAN POSITIF DARI MBAK ESTI SULISTYAWAN



Saya terdiam membaca tulisan seorang teman blogger, Mbak Esti, yang berjudul Pentingnya Sugesti Diri. Dalam artikel singkat itu Mbak Esti mengungkapkan perjuangannya sebelum akhirnya hamil dan memiliki anak. Empat setengah tahun bukan waktu yang singkat untuk terus bersabar dalam penantian. Aduh, saya nggak bisa bayangkan kalau itu saya. Lha wong dicoba nggak punya duit saja saya sudah merana, seolah matahari tak bersinar lagi, apalagi begitu rupa. Entah apa yang akan saya katakan pada Tuhan. Bisa jadi saya akan menggerutui apa yang ia gariskan. Tidak mau peduli bahwa Tuhan sudah memberi banyak  pada saya, berupa kesehatan, udara gratisan, pikiran yang jernih, dan keluarga serta teman yang menyenangkan. 

Seperti yang dikatakan Mbak Esti “...kami memang harus berusaha sekuat tenaga, akan tetapi hasil akhir adalah hak sepenuhnya Allah Swt” itu ada benarnya. Seperti apapun manusia berusaha hak prerogatif memang ada pada Tuhan. Jika memang cobaan yang dihadirkan lebih dulu sebelum akhirnya doa kita dikabulkan, tujuannya bukan untuk melemahkan. Tetapi, menguatkan dan membuat manusia lebih dekat pada-Nya. Sekaligus belajar sabar di saat yang sama.

Eh, masa?

Lho iya, beneran ini. Coba ingat-ingat, kalau kita sedang ditengah kesulitan bukankah kita jadi sering “ngapelin Tuhan”? Duduk di dalam kesunyian, memohon dengan sungguh-sungguh agar kita kuat menghadapi kesulitan sekaligus ditunjukkan jalan keluar.