Tampilkan postingan dengan label Kepada Sang Pejalan Jauh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepada Sang Pejalan Jauh. Tampilkan semua postingan

15 Januari 2012

Kepada Sang Pejalan Jauh Part 12



Sudah lama tidak bertemu, apa yang terjadi padamu?

Mengapa aku melihat banyak goresan pahit diseluruhmu? Mengapa mendung kelam menghuni kepalamu? Kemana perginya mata bintangmu? Yang berkilauan setiap kali kau ceritakan kemana kau hendak berpetualang. Kau sudah letih dan kuyu. Seolah beban hidup itu telah menghabiskan energimu

Kurasa aku telah kehilangan dirimu. Semangatmu telah padam dan kau goyah diatas kakimu. Katakan padaku, apa terjadi padamu?
Baiklah, baiklah…jika kau enggan bercerita. Kurasa kita duduk-duduk saja. Mari bicara tentang kisah lampau kita. Tentangmu, bocah kecil badung yang menyebalkanku. Kau dulu sering berbuat jahat padaku. Melempariku dengan batu. Mendorong-dorong tubuh kurusku. Membiarkan anjingmu menggigitku. Heuuuh, kalau ingat aku ingin menjitakmu!

Meski begitu aku yang kau datangi dalam galaumu. Kau akan duduk duduk dibatu. Tidak berkata apa-apa selain membisu. Kau suruh aku menerka dan membacamu. Ah, mana kutahu? Aku bukan dukun atau cenayang tahu? Mampu menerjemahkan tiap isi kepalamu.

Tetapi begitulah persahabatan kita dimulai. Kubiarkan kau duduk disebelahku tiap datang susah dan sedihmu. Mendesah berat sementara aku menaungimu. Hanya kepadaku kau percayakan rahasiamu. Sebaliknya, kau jadi begitu menjagaku. Kau akan sangat galak jika ada orang berani mengusikku

Hanya waktu kemudian memisahkan kau dan aku. Saat usiamu beranjak remaja, aku bukan lagi teman yang asyik bagimu. Kau lebih sering pergi dengan kawan-kawanmu, merambah malam dengan tawa dan keonaran.
Aku bukan lagi sahabat dalam susah dan sedihmu. Berganti dengan buai daun surga dan air api memabukkan.
Kau semakin jauh berlalu. Berpetualang kesana-kemari dan melupakan aku. Tak kau dengar lagi panggilanku. Atau keberatanku atas aksi merusak dirimu.

Bertahun-tahun setelahnya aku hilang kabarmu. Sampai kau tiba dan menemuiku dalam diam.
Kawan, apa kau benar-benar pulang sekarang? Ke tempat dimana kau selau diterima dengan tangan lebar? Rumah dimana bundamu menunggu dengan doa dan kesabaran? Kau tahu, kawan, sejauh mana kau terbang rumah selalu menjadi tempat yang menyenangkan.
Sungguh, aku senang kau datang, Pejalan Jauh. Melebihi senangnya hati karena kau tak pernah melupakan aku, sahabatmu, sebatang pohon di belakang rumahmu.

Pic taken from www.gettyimages.com

Backsong : I’ll Stand By You-Carrie Underwood, Home-Michael Buble

14 Juni 2010

SANG PEJALAN JAUH PART 11


Sang Pejalan Jauh
Si Kemayu.
Dia tak sadari kalau aku menangkap profilenya dengan kameraku.
Sebenarnya sudah lama juga menahan perasaan. Sejak masih bau kencur dan malu-malu bila ketahuan suka bocah perempuan. Di usia ketujuh belas aku menyatakan perasaan setelah sekian lama dipendam. Hasilnya hanya senyuman. Tanda diterima? Bukan? Ia menolakku dan menyatakan kalau ia menyukaiku sebagai teman.
Sialan!
Tapi aku tak patah arang. Masih juga berharap dengannya-lah kuhabiskan hidup hingga ajal menjelang.
Lalu perempuan lain datang. Mengisi kesendirian, membuatku melupakan si kemayu. Tapi tak sepenuhnya begitu. Yang lain, yang juga kemayu, tak mampu mengusirnya sepenuhnya ia dari anganku. Tak bisa dibantah bila senyumnya mengawang di angan kurasakan kenyerian yang sulit dilukiskan. Apa itu sebuah kebodohan? Entahlah.
Sekarang di usia yang sudah matang, kuulangi lagi ungkapan perasaan. Apa itu bahasa anak sekarang? Nembak kan? Dan jawabannya kembali senyuman. Ah, jadi gemas. Sungguh, senyuman itu membuatku mulas. Dulu itu saat ia menolakku gayanya juga begitu kan?
Dari matanya aku membaca kata-kata-Aku menyayangimu. Sungguh. Tapi sebagai sahabatku. Tak lebih dari itu.
Hai!
Si Kemayu melambai padaku. Minta difoto bareng sama kawan-kawan SMA kami dulu.
Aku bergegas kesitu. Masih juga kemayu. Dari satu sudut kutangkap kembali profile-nya itu. Anggun ayu dihiasi jilbab ungu. Begitu menonjol dimataku. Sementara yang lain, perempuan-perempuan lain yang juga ayu-ayu mengabur di mataku.
Klik.
Kembali kutangkap senyumnya dengan kameraku. Untuk kenangan. Karena sebentar lagi tak bisa leluasa menikmati senyuman itu. Ia akan jadi milik orang. Dan aku pasti sungkan kalau memandangnya terus-terusan, seperti sekarang.
Ah Tuhan, jangan biarkan perasaan ini terus-menerus datang. Ikhlaskan hatiku menerima kenyataan dan menempatkannya di satu sudut ruang perasaan bernama Persahabatan. Bukan kekasih atau belahan jiwa. Desisku saat kamera menangkap dirinya ditengah keriaan kawan-kawan lama.
“ Jangan lupa di upload ya,” pintanya.
Aku mengangguk mengiyakan. Bersamaan dengan bersiroboknya mataku dengan mata bulat di sudut ruang.

Si Mata Bulat di Sudut Ruang
Sekian lama menunggu. Kurasa tak ada ruang untukku disitu. Di hatinya hanya ada ia.
Tak apa, memang rasa tak bisa dipaksa. Hanya mengikisnya akan membutuhkan usaha ekstra. Lebih baik begitu, ketimbang selalu berharap tak tentu.
“ Tahun depan kita ketemu lagi disini!” seru seorang kawan membuyarkan tatapan dua mata yang tak saling bertautan, milikku dan pelukis cahya.
Semua mengiyakan. Aku juga. Berjanji akan datang tahun depan jika tak ada halangan. Sejurus kemudian pintu keluar dijejali orang yang hendak kembali pulang selepas meluapkan kerinduan pada kawan lama dan kenangannya.
Aku menghela nafas. Menghembuskan ganjalan di hati. Kenangan hanya indah untuk disimpan dan dikenang. Ada baiknya dibiarkan demikian. Begitu juga rasaku padanya, sang pelukis cahya.
“ Sendirian? Ayo kuantar pulang,” tawarnya sewaktu melihatku di depan pagar rumah Vi, tuan rumah reuni kali ini.
Aku menggeleng. Aku bisa pulang sendiri.
“ Sungguh?”
Aku mengiyakan seraya melambai pada tukang becak di ujung jalan. Tak hirau pada tatapan yang sulit diartikan.
Becak datang dan membawaku pulang. Meninggalkannya tertinggal di belakang.

Sang Pejalan Jauh
Mata bulat itu.
Termangu aku melihatnya pergi. Tanpa basa-basi. Hanya sekilas senyuman tanpa embel-embel percakapan.
Biasanya tidak begitu. Kenapa kamu?
Mendadak menyadari sesuatu. Ada jarak terbingkai di mata bulat itu. Ia memilih pergi dan tak menungguku. Kurasa adil, setelah sekian lama ia setia menanti rasaku.
Aku bukannya tak tahu, hanya saja hati dan kepalaku dipenuhi Si Kemayu.
Angin dingin senja hari menyusup ketulangku. Mewartakan mendung kelam di langit akan segera memuntahkan hujan. Aku bergegas pulang. Dan menyadari satu hal, aku sendirian. Masih akan sendirian. Entah sampai kapan. Tanpa setangkup mawar yang kuimpikan jadi kawan seperjalanan.


May 11, 2010; 06:32
Still hearing Andy McKee

pic taken from : http://www.flickr.com/

07 Juni 2010

SANG PEJALAN JAUH PART 10




Senang juga melihatnya datang. Sudah lama tak bersua. Banyak perubahan padanya. Bukan hanya muka yang tampak lebih dewasa tapi juga pola pikirnya. Pengalaman hidup rupanya berperan menjadikannya sedemikian rupa.

Ha oh ya, ia juga lebih tambun dari yang kuingat. Bila duduk nampak ada yang menyembul di balik kausnya. Ular naga, katanya bercanda tiap kali seseorang menyentil gelambir di perutnya. “ Beginilah. Terlalu banyak makan fastfood dan jarang olahrga,” cetusnya santai mendengar celetukan kecil sang kakak atas bentuk tubuhnya sekarang.

Kok tahu? Iya, sebab jika kemari ia suka duduk bersamaku dan menceritakannya di laptop itu. Lantas di posting di blog pribadi yang kini jarang diambahi.

Sibuk, banyak waktu dihabiskan dijalan. Nggak sempat lagi ngurusin yang begituan. Begitulah alasan yang terlontar seiring dengan kesibukan kerja yang sulit ditinggalkan. Tapi ada satu yang tak berubah. Kesukannya memetik gitar. Kapanpun ada kesempatan. Seperti sekarang.Seuntai lagu mellow mulai dimainkan. Dua tahun lampau lagu itu diciptakan. Lukisan seluruh keperihan sewaktu kekasih melepaskan jalinan tangan. Ia ingat malam-malam itu ia habiskan tanpa arah. Berkawan sunyi dan denting gitar. Meluapkan seluruh kedukaan. Disaksikan gemintang dan desau angin malam. Berbumbu kegetiran. Sedang saya? Cuma duduk diam mengawasinya tanpa berbuat apa-apa. Ingin juga mengelus rambut cepaknya, tapi tak saya lakukan. Buat apa? Lagian siapa saya? Bisa dikira hendak macam-macam kalau saya melakukannya. Padahal saya berharap. Ah, edan! Kenapa sih begitu? Psst, jangan bilang-bilang. Ini rahasia…saya memang naksir dengannya. Padanya atau permainan gitar ciamiknya? Entahlah, pokok men saya sukaaa.

Dia berhenti. Sekeping rindu melintas cepat-kemanakah ia sekarang, perempuan yang gelombang rambutnya pernah memakukan kerinduan? Tapi segera hilang. Digelontor himpitan rasa rindu lain yang susah di hadang. Pada kampung halaman, pada tanah basah dan bau hujan, pun pada kembang-kembang liar yang menghiasi pinggir sungai dan persawahan. Sejurus kemudian ia kembali tenggelam. Begitu asyik hingga tak memperhatikan sekitar. Kesepuluh jemari ia benamkan di senar-senar gitar. Menunduk serius pada nada-nada yang ia mainkan. Membiarkan orang-orang lalu lalang mendekat perlahan. Menikmati iramanya dan bergoyang. Dari sekedar anggukan hingga akhirnya terprovokasi untuk meliukkan badan. Semangat melingkupinya, jemarinya terus menari dihamburi ketukan sepatu dan jentikkan jemari dari sana-sini.

Tes...tes! Mendadak air langit turun menetes. Membuyarkan penikmatnya, pun ia yang tengah larut dalam keasyikannya. Berlari kecil ia menjauh. Tanpa sepatah kata atau sekedar lambaian saja. Sekilas nyeri merasuki hati. Selalu begini melihatnya pergi. Sekelumit harap bertahta di hati agar esok berjumpanya lagi. Di sini. Dan menikmati petikan gitarnya kembali. Ah, tapi tak mungkin. Sebentar lagi ia harus ke bandara. Mengejar penerbangan berikutnya. Kalau begitu kapan-kapan saja ya. Bila kau tiba.

Tes…tes…tes! Air langit kian meluap. Membabi buta membasah semak, pepohonan dan aku-bangku taman yang acap ia duduki saat senggang. Saat ia ingin menikmati kesendirian sembari melampiaskan rindu lewat denting gitar.

Thanks to petikan gitarnya Raka X-Man and Andy Mc. Kee (Rylynn)
May 3, 2010 ; 05;00

pic taken from http://musformation.com/

31 Mei 2010

PEJALAN JAUH PART 8

Photobucket
Sejak bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Pikiran bebasmu menyeretku ke satu dunia yang tak pernah kumasuki sebelumnya. Dunia penuh mimpi, dunia yang kuabaikan selama ini.
“ Bermimpilah karena mimpi tidak bayar. Untuk apa takut bermimpi, apa kau tahu banyak hal hebat di dunia ini berawal dari mimpi,” katamu seolah percikan api yang membakar hasrat diri.
Begitukah? Bagaimana jika aku kehilangan segala kenyamanan yang kupunya hanya untuk mengejar sebuah mimpi yang belum pasti? Inilah hidupku, ini pilihanku. Sesuatu yang memang kusukai sejak dulu.
“ Benarkah itu?” ucapmu sambil menuang air panas dalam gelas berisi bubuk kopi. “ Jika kau suka mengapa kau selalu mengeluh? Tak pernah kulihat kau merdeka di dalamnya.”
Diam tak bisa berkata-kata. Kutekuri tanah di bawah kakiku. Mengiyakan dalam hati ucapnya itu.
Kau benar. Aku tak merdeka. Aku sudah lupa apa arti merdeka. Orang lain melihatku tampak bahagia, sesungguhnya tidak di dalam sana. Tapi aku selalu menepiskan segala haru biru rasanya. Melaju mengikuti alur jadi di depanku dan melupakan mimpi-mimpi masa kecilku. Tentang terbang mengangkasa ke sekujur dunia, seperti yang sering kugambarkan gumaman dan cerita. Kemana? Kemana keberanianku? Kemana hilangnya gadis kecil yang bermimpi menuliskan kisah perjalanannya sendiri?
Seolah sangkar maya, segala yang mereka katakan tentang hidup menjadi belenggu. Kau harus begini, kau harus begitu. Tak bisa tentukan sendiri langkahku. Setiap kali aku meneguhkan diri mengikuti jalanku, mereka mengingatkanku untuk kembali pada jalan utama yang harusnya kulalui. Jalanan yang dipenuhi batas-batas kaku bernama rutinitas dan kebiasaan hingga akhirnya aku jadi terlampau takut terbang demi demi mewujudkan impian. Dihantui bayang-bayang kegagalan, kepak sayapku selalu terhenti sebelum mencapai batas.
“ Hidup itu bukan sebuah kenyamanan. Jika hanya itu yang kau inginkan. Sesungguhnya kau telah mati di dunia yang penuh warna ini.” Ujarmu sambil tertawa kecil. Seperti denting lonceng, renyahnya mengalun di udara.
“Kau harus menebas hutan, rasakan desir angin, lolong anjing, dan harum pohon pinus. Menyentuh embun yang menetes di daunan. Pergi melintasi pucuk-pucuk cemara untuk mencium kabut senja pun gerimis renyai yang melingkupinya. Rasakanlah! Dunia itu penuh tantangan, dibalik itu banyak keindahan. Bukalah matamu lebar-lebar,” lanjutmu tak memperhatikan keruh wajahku.
Aku benci mendengar ucapmu. Seolah kau tahu saja apa hidup itu. Sejurus kemudian aku meluncur pergi, meninggalkan tanganmu mengulurkan secangkir kopi harum wangi padaku dalam kesia-siaan. Melihat tingkahku, tawa geli melejit dari tenggorokanmu. Mengejekku. Bahkan ketika aku merangkai serapah untuk menangkis hal itu.

“ Pikirkan kata-kataku!” serumu dalam kekeh kecilmu.
Seminggu, dua minggu aku menjauhimu. Melengos dan mengambil jalan lain tiap melihatmu. Sedangkan kau tak sedikitpun terusik atas tingkah kekanak-kanakanku. Anehnya tanpa bisa kutepiskan kata-katamu terus berdentam. Seperti genderang perang yang kerap dimainkan untuk membangkitkan semangat juang, aku sulit mengabaikannya. Alih-alih rasa marah, sebuah semangat baru merayap, menyaluti hatiku dengan caranya sendiri.
Maka sejak itu aku merasa ada sesuatu yang bergolak dalam dadaku. Saat berbincang denganmu selalu kunantikan. Meski untuk itu aku harus mencuri waktu ditengah kesibukan. Sejak itu pula nama dan wajahmu beterbangan bak kunang-kunang di kegelapan. Amat indah, berpendar-pendar dalam pandangan. Setiap kali mengingatmu kehangatan mengaliriku.
Sering aku bertanya apa nama geletar asing yang menyusupi jiwaku, hingga seekor belalang terkekeh-kekeh dan mengatakan ,” Kau sedang jatuh cinta, atau setidaknya demikian yang kau rasa.”
Oh ya? Aku tak percaya. Belalang bijak itu berkata kembali ,” Jika kau merasa kehilangan jika ia tak ada. Mendadak kau jadi punya keberanian menatap dunia sejak ia ada dan merasa nyaman bila di dekatnya maka aku bisa pastikan kau jatuh cinta.”
Nyanyian tempias hujan diatas dedaunan dan ranting menyuarakan kegembiraan perasaan. Ditingkahi suara kodok yang memainkan nada-nada riang, kurasakan hatiku mengembang. Ya, Tuhan…kupikir aku takkan menemukan seseroang yang melumpuhkan hatiku. Ternyata aku salah, inilah dia, desisku bahagia.
Syalalalala! Aku bernyanyi gembira. Sebelum akhirnya kenyataan mementahkan rasa. Kau pergi ketika aku merasa aku telah menemukan tempat bergantung yang sempurna. Yang bisa membawaku mengarungi mimpi-mimpiku. Pun mendorongku di saat aku tak mampu.
Banyak pertanyaan “mengapa?” mengabut dan menyesak di kepala. Melelehkan tangis yang mengaliri lembah-lembah di wajahku, menjatuhi daun berserak di bawah kakiku. Menyesali kepergianmu dan berharap kau kembali untuk membawaku.
Musim berlalu. Aku tak tahu kabar beritamu. Kekeraskepalaan membuatku menunggumu hingga seekor anjing hutan bertanya padaku ,” Apa yang kau tunggu sejak awal musim gugur lalu?”
Diamku sebagai jawaban. Sang anjing hutan tersenyum penuh pengertian. Ia tengadahkan muka. Mengendus sesuatu di udara lalu berkata seolah tahu,” Ia terlampau jauh kini...jangan lagi kau tunggu.”
Aku mengacuhkannya. Sementara musim gugur dan semi berlalu, digantikan musim panas yang menyengat dan lembab.
“ Udara telah menjadi sepanas ini gadis kecil, tak inginkah kau berteduh?” seru sang awan dari kejauhan.
“ Aku takut jika berteduh aku takkan melihatnya lewat disini.”
Sang awan menatapku tak percaya. Mempertanyakan keteguhanku lewat matanya. Aku tersenyum meyakinkan, hingga kudengar suara tawa yang dalam datang dari arah belakang. Rupanya seekor kumbang belang hinggap di dahan rapuh sebatang pohon yang telah tumbang ,“ Aku salut dengan pendirianmu meski kurasa penantianmu akan menjadi kesia-siaan belaka.”
“ Mengapa engkau mematahkan semangatku?”
“ Tidak begitu. Aku hanya ingin kau gunakan logikamu, tak hanya hatimu. Menunggu sesuatu yang tak tentu hanya akan menjadi belenggu. Cobalah lihat sekelilingmu, berapa banyak hal baik yang bisa kau lakukan selama kau termangu-mangu menunggu Pejalan Jauhmu?”
“ Banyak perubahan yang bisa kau lakukan dengan tangan kecilmu. Tak usah menunggu orang lain mendorong dan mengajakmu.”
“ Tapi aku takut jika tanpa pembimbing jalan,” ungkapku.
“ Pembimbing jalan? Jadi itu yang kau pikirkan? Benarkah Sang Pejalan Jauh menjadi jawaban?” Sang kumbang belang menatapku dalam-dalam.
“ Bak pemantik, ia telah membakarmu. Membangkitkan kembali semangat mengarungi mimpi-mimpimu. Selanjutnya engkaulah yang harus mewujudkan itu.”
“ Tapi…tapi bagaimana jika aku gagal. Karena itu aku butuh teman…”
“ Dan Sang Pejalan Jauh yang kau harapkan bisa memberi bantuan?” sahut sang Kumbang Belang sambil terkekeh.
“ Tidak sayang…Menurutku kau tak bisa bergantung pada orang lain jika hendak mewujudkan seluruh angan. Melangkahlah ke hutan kehidupan dan belajar dari segala tanda yang ia suarkan. Dengarkan bisikan-bisikan. Ambil yang positif, buang yang negatif. Kau akan temukan jalan melayari kehidupan. Pupuskan keraguan, tanamkan kemauan kuat.”
Aku terdiam, meresapi ucapan si Kumbang Belang. Benarkah? Ia mengangguk tanpa keraguan. Ketika ia berlalu kata-katanya berdenging di kepalaku. Menghasilkan lubang-lubang kecil dengan seribu cahaya menyerangku. Kurasa ia benar. Aku memang harus menempuhi perjalanan dengan kepak sayapku sendiri. Terlampau khawatir tentang ini dan itu telah mematahkan semangat juangku.
Berbeda dengan hari-hari kemarin, hari ini kepakanku melebar dan menguat. Begitu pun tekadku. Dengan keyakinan kuterjuni hutan maha luas di depanku dan mempelajari kebijakan yang akan kutemui disitu. Aku tahu perjalananku takkan mudah, tapi bukan tidak bisa dilampaui. Akan kuletakkan ketakutan jauh di belakangku dan takkan kubiarkan ia menghalangiku mencoba hal-hal baru. Agar kelak ketika aku tiada aku takkan menyesalinya. Karena aku telah merasakan hidup yang sesungguhnya. Dengarkan, dengarkan kata hatimu. Dengarkan, dengarkan desis lembut angin yang membelahmu. Lajulah, laju! Kepakkan sayapmu dan hadapi hari-hari penuh petualangan baru.
Di satu sisi ranting cemara kuhentikan langkah. Menatap jingga langit senja diufuk sana. Suara adzan menggema, memanggil tiap mahkluk bersujud dihadapan-Nya. Tunduk luruh dalam doa sewaktu bayang Sang Pejalan Jauh melintas cepat. “ Terima kasih Tuhan ia pernah kau hadirkan dalam satu episode perjalanan hidupku. Sedikit banyak ia telah meninggalkan jejak positif untukku. Berperan menggelontor dan menjungkirbalikkan pikiran-pikiran berkarat di kepalaku.”
Senja melayang. Kegelapan datang. Bersama bisikan lembut yang kian lama kian terang di pendengaran,
Akan selalu ada hal-hal yang tak mampu kau kendalikan, tapi kau baru benar-benar gagal kalau kau membiarkan hal-hal ini mencegahmu mencoba. Kalau kau tak pernah mengambil resiko, kau pun takkan pernah mencapai apa-apa. Lebih baik mencoba dan gagal, daripada takut mencoba.
Ada orang yang menghabiskan hidup tanpa pernah mencoba melakukan hal-hal baru, karena mereka takut gagal. Yang tidak mereka sadari adalah, walaupun orang pemberani takkan hidup abadi, orang yang selalu berhati-hati malahan tidak pernah hidup sama sekali.”

(Peter O’Connor, Seeking Daylights End)


Episode yang kelewatan
Inspired by
* Peter O’Connor (When Tomorrow Comes and Seeking Daylights End) I love this book so much
* my friends words : Diana Rini, Rina Astari, Tasya Madina, Tectona, Ceples Dian Kartika and Yuniati Nur Wahidah
pic taken from www.ib.berkeley.edu/labs/bentley



05 Februari 2010

PEJALAN JAUH PART 9

Lama tak mendengar kabarmu, Pejalan Jauh. Ternyata aku sudah ketinggalan banyak berita seberapa jauh engkau telah tumbuh. Kudengar jejak langkahmu kian mantap. Goresan-goresannya prestasi yang kau bangun berkembang, menyeruak diantara segenap banyak orang yang berkemauan. Kau memang hebat, Pejalan Jauh. Kau selalu tak mudah menyerah, maju terus pantang mundur demi sepotong cita-cita yang kau gantungkan setinggi bintang.
Tetapi menyaksikanmu bersimpuh di hadapan Tuhan, jauh lebih mengesankan ketimbang berita kesuksesanmu yang sering terdengar. Kau tampak menyatu dan jauh dari kesan sulit dijangkau saat berhadapan dengan Sang Pencipta Alam. Seluruh kesah kau haturkan dalam nada lirih penuh perasaan.
Kau sama sekali tak tampak garang, tapi justru kesan lembutlah yang tersembul jika demikian. Betapa berbedanya engkau kini, Pejalan Jauh. Tak sama lagi seperti lelaki kecil yang kutemui beberapa tahun lalu.
Ingatkah kamu ketika syair-syair patah hati merasukimu. Kau jadi sedemikian sentimentilnya, membuatku tertawa saat melihatnya. Ajaib betul melihatmu selemah itu, kukira kau setegar batu karang. Takkan terhanyut perasaan saat dihempas gelombang kekecewaan.
Dari denting gitar yang kau petik dalam sunyi, aku menangkap sejumput kesan kesedihan namun tak ingin kau tampakkan.
Dan melihatmu sekarang, maka hanya ucapan selamat dari seorang sahabat yang bisa kuhaturkan, serta sepotong doa kecil dari kejauhan. Tak usah pake traktiran, toh aku takkan bisa makan semeja denganmu. Kamu ingat kan siapa aku? Ya, ya, kau benar sobat. Aku adalah seekor pipit kecil yang dulu suka nangkring di pohon dekat kamarmu lalu mencicit membangunkanmu.



Done, 080509; 03:37

20 Januari 2010

PEJALAN JAUH PART 7

Duluuu…saya ndak pernah mikir saya bisa cinta saya manusia seperti sampeyan. Apanya yang menawan dari seorang pria berbandana hitam, menutupi rambut cepak yang malas shampoan, kulit coklat karena terbakar sinar, bercelana sedengkul bulukan berpadu kaus pudar yang paling nyamleng kata sampeyan, beserta tas ransel tua yang nggak pernah ketinggalan. Fiuuh!! Noraaak! Norak bukan kepalang!
“ Yo ben! Pokokmen aku seneng,” balas sampeyan enteng waktu seseorang menegur perkara penampilan yang aneh bin ajrut-ajrutan itu.
Sumpah deh, saya gak mau sama orang kayak gitu,” batin saya sambil berlalu.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Pelan-pelan tingkah laku sampeyan mencuri perhatian. Cara bicara yang tajam dan tepat sasaran bikin saya ternganga, kepingin nimpuk tapi sekaligus menyadari kalo sampeyan benar tentang makna pasrah yang sering kali disebut banyak kyai dalam pengajian bukanlah pasrah, neda nrima, tanpa usaha. Sudah ada pancingnya, maka kaillah ikannya. Jangan diam saja berharap pancingnya mengail sendiri. Opo tumon?
Ibarat sedang kebanjiran. Apa iya sampeyan akan larut oleh pusaran arus tanpa mau berenang ke pinggiran? Yo mati no sampeyan. Wis ta lah buang kata nggak bisa, nggak mampu itu dari kepala. Karena pikiran buruk akan melemahkan semangat, ” cerocos sampeyan, bikin sewot pendengar.
Ngomong sih gampang! Prakteknya yang susah, tahu nggak siih?!
Lha nyatanya saya bisa, mosok sampeyan enggak. Bukankah Allah itu ngasih kesempatan sama pada tiap manusia.”
Tapi kalau takdirnya gitu gimana?”
Lho bukannya takdir itu bisa berubah. Usahakan dulu baru ngomong yang itu. Buktikan kalo sampeyan bisa, jangan ngeluh, jangan omdo saja!” balas sampeyan ringan, seringan sesapan kopi panas yang kini sudah tinggal ampasnya doang.
Wis, ya. Saya mau sholat ashar dulu. Nanti kita terusin lagi ngobrolnya.”
Deg! Jadi pria ini masih sholat juga? Tak pikir dia seajrut-ajrutan gayanya. Keren banget ya? Aneh, mendadak hati saya tergetar, melihat apa yang sampeyan lakukan. Beribu lonceng di dada gemerincing seketika.
CLING! CLING
Lonceng-lonceng di hati pun berbunyi.
CLING! CLING!
Begitu bunyinya melagukan satu symphony cita hati.
Syukurin, syukurin! Makanya jangan suka judge the book by its kolor (hihihihi), bener kolornya bulukan, bener wajahnya kusam sama sekali tapi belum tentu tidak tahu cara mencintai Tuhan,” ejek bayangan dalam kaca saya sambil berjingkrakan. “ Nananana, kamu jatuh cinta! Nanananana!”
Ndak itu bukan cinta, sangkal saya. Tapi kenyataan berkata lain, sangkalan saya mentah ketika bayang-bayang wajah jahil dan mata tersenyum jenaka hadir dalam berbagai pose di tembok kamar. ARRGGH! Menyebalkan!
Ya Khalik, mbok ya jangan dia. Kan masih banyak pria yang lebih baik darinya?” keluh saya dalam doa.
Apa kata Ustadz dan kawan-kawan sepengajian kalo tahu saya naksir sama pria aneh yang blas ndak pawakan santri kayak gitu. Byuh, bisa habis saya diguyu-guyu.”
Meski begitu tak urung saya selalu mencari-cari alasan untuk ketemu dan kecewa ketika sampeyan tak kelihatan dimana pun jua. Duh ya perasaan ini apa namanya? Kenapa ketika melihat sampeyan saya sangaaat lega, tapi ketika tak ada saya pengen njotos muka siapa saja (termasuk muka sampeyan) biar ikut merasakan pedih perihnya perasaan saya.
Tulis email! Kirim SMS! Beres!” seru Cinta mendengar curhat saya.
Ndak bisa. Saya ndak sanggup melakukannya.”
Lho, trus gimana caranya dia tahu kalau kamu suka dia? Sudahlah….DOR! Tembak saja! Kalo dia ternyata kutubnya negative ya dia kabur, kalau positif ya maju terus pantang mundur.”
Oalah, Cinta…Cinta, andai semudah itu melakukannya. Saya justru takut menyusahkan dia jika saya berterus-terang seperti usulmu itu. Akan jadi tak mengenakkan jika ternyata dia sudah tak sendiri dan si tambatan hati mengetahui ada orang lain yang suka sama kekasihnya. Gawaaaat, gajah makan kawat, Ta! Bisa kiamat dunia dalam sekejap. Lagipula saya tak ingin dia kabur setelah tahu perasaan saya. Ah, eman-eman rasanya. Bukankah dari dia kita bisa belajar banyak, dia Guru yang tak terduga, dimana saya suka mengaji diam-diam darinya.
Kalo dianya tiba-tiba menjatuhimu cinta gimana?”
Wuaaa, laen cerita! Tak terima dengan tangan terbuka, dengan catatan dia masih sorangan ya.”
Nggak sih, ngomong-ngomong apanya yang bikin kamu termehe-mehe begitu rupa. Kaya ya dia?”
Lah, kok saya malah ndak tahu dia kaya apa ndak. Yang saya tahu dia punya kerjaan. Lagian saya malah berharap dia itu orang biasa, saya miris banget kalo dia banyak duitnya. Bisa-bisa dia jumawa dan pengen kawin empat-lima wanita! Ah, bikin nelangsa.
Atau tampan?”
Woalah, kalau wajah kayak gitu dibilang tampan gimana dengan Brad Pitt, ya? Enggak, coy! Biasa aja (thanks Allah karena dia biasa aja), super biasa. Nanti deh saya tunjukin gambarnya, biar kamu bisa menilai sendiri seperti apa dia.
Atau rayuannya maut?”
Wah embuh, ya. Belum membuktikan, tapi kalo memetik gitar sambil menatap bintang itu tergolong rayuan (pulau kelapa?), saya sih mengakui sering tersihir mendengar kemampuannya yang ini. Saking tersihirnya sampai saya jadi liyer-liyer ngantuk dan tak sadar kalau liur netes semua. Hwahahaha!
Lalu apanya yang istimewa hingga bikin kamu nolak banyak pria?”
Duoooh! Bukan nolak, Cinta, saya hanya nggak tahu kenapa kata-kata ya seolah ilang dari kamus bahasa Indonesia di otak saya tiap kali mereka serius bertanya-Apa kamu mau jadi pendamping saya?- terlebih ketika muka jahilnya terbayang di pelupuk mata.
Sudah empat pria kau anggap angin lalu lamarannya. Pertama pria santun, penyabar yang katanya bekerja sebagai Guru di SD XYZ itu. Ia yang datang tanpa diundang pulang nggak pake diantar itu harus kecewa karena kau menolaknya meski caramu sehalus sutra.
Kedua, saudagar kaya yang berkata akan langsung membawamu naik haji selepas kalian jadi suami istri. Tuh kan kurang apa lagi?
Ketiga si Donny, pria sederhana yang ndak ada modis-modisnya. Tapi punya sikap lembut dan penyayang serta pekerjaan mapan di perusahaan IT, yang ternyata tak membuatmu terkesan sama sekali.
Keempat si tampan Pierce Brosnan (duooh, cuma mirip doang, itupun kalo dipandang pake sedotan), yang naksir situ bukan kepalang. Yang bilang kalau mau bintang tinggal bilang, pengen bulan tinggal pesan. Iih nggak kreatif, dikiranya aku nggak tahu kalau rayuannya itu nyontek abis lirik lagu?
Katakan padaku apa istimewanya pria itu!”
Ndak tahu! Pokokmen dia okeee aja dimata saya! Ah kok jadi ikutan cara ngomongnya sih?
Tapi ku lihat kamu menderita. Bertepuk tangan saja agaknya. Apa kamu nggak menyesal mencintai dia?”
Tidak. Saya ndak menyesal ia pernah tiba di hati saya dan memberi saya warna pelangi meski sekejap saja. Jatuh cinta kepadanya juga membuat saya lebih dekat dengan Allahu Robbi, berkeluh kesah padanya saat buncahan rasa yang nano-nano rame rasanya itu membikin saya sengsara. Kamu tahu, gara-gara itu juga aku jadi rajin sholat malam, ngadu sama Allah sambil nangis saking kagaaak nahaaaan gara-gara kangen yang menggumpal (syah!).
Wooh, dasar! Niatan nggak bener tuh! Deket-deket karena ada mau.”
Iya seeeh, tapi belakangan aku justru mikir, mungkin dia secara nggak langsung dikirim Allah untuk membuatku sadar jika selama ini aku terlampau sombong karena menjauhinya, tak pernah meminta dan merasa kalau saya baik-baik saja, mampu mengatasi segala. Lupa kalau saya ini hidup diatas bumi ciptaan-Nya. Wa lillaahi maa fissamaawaati wa maa fil ardli…dan kepunyaan Allah-lah yang ada di langit dan di bumi.
Begitu enaknya saya nikmati dunia, tapi enggan mendekati empu-Nya. Ngeles saat menepati janji kencan yang lima. Cik kurang ajare saya!
“ Sekarang ?”
Sekarang sudah beda lagi. Aku mendekati Allah karena sebuah kebutuhan, Cinta. Aku merasa nyaman ketika aku tengah konek dengannya, bercerita tentang sedih dan gembiraku sebagai mahkluknya.
“ Ciee, alim nih ye?”
Haha, ndak juga. Saya ini manusia, seonggok debu di sahara. Menjauh darinya juga ndak bikin saya jadi lebih perkasa.
Ah semoga Allah memercikkan Nur kepadanya, melembutkan hatinya, menjadikan ia semakin dekat kepada Tuhan-nya, mencintai keluarganya, sahabatnya, dan terutama orang-orang kecil di sekitarnya. Menjadikan ia pria yang bisa menggunakan segenap harta dan ilmunya demi kebaikan agamanya. Amiin (Cinta, aminin dong, jangan diem aja).
Heh, kamu belum jawab tanyaku. Ayo jawab seperti apa dia?” Cinta memaksa.
Malu-malu saya menunjuk ke satu sudut. “ Itu dia,” kata saya.
Cinta menoleh ke satu sudut dan melongo. Mak Ploook! Dia tepok jidatnya sambil ngedumel panjang pendek di depan hidung saya.
Woalah jan edun! Dasar kamu nyamuk Aedes Aegepty ndak tahu diri! Dari jaman kuda gigit besi, mana ada manusia mau sama nyamuk begini?”
Hiks! Saya tertawa. “ Lah wong cinta, tak ada salahnya…” teriak saya sambil terbang cepat menghindari raket listrik Sang Pejalan Jauh yang terayun lurus.


^_^

A story,
Inspired by Di and the whole story (whuuf, I hope you get your dream finally), my chit chat with Cinta Astari, and Man behind the wall (I used to see him over and over to describe Pejalan Jauh)
Thanks to : Forbidden City (Twelve Girls), A Phantom Agony (Epica), Is It You Girl (The Brandals) plus Mahabbah Rindu-nya Abidah El Khalieqy

15 Juli 2009

PEJALAN JAUH PART 6

Photobucket



Selalu saja ia datang dan berkata ,” Mari bertaruh untuk memiliki Sang Pejalan Jauh.”
Dan selalu pula aku tak acuh. Membiarkannya berkelebatan bagai hantu di terik siang, tidak menakutkan hanya jeritnya memekakkan. Ah, menyebalkan. Apa yang kau mau kawan?
“ Mari bertaruh untuk memiliki Pejalan Jauh!”
Untuk apa? Biarkah aku mencinta dengan cara yang berbeda. Membiarkannya berliku dijalannya, tak hendak membelokkannya kearahku kecuali Allah menghendakinya.
“ Kau terlampau lemah, hai wanita!”
Terserah katamu, Kawan. Bagiku bertaruh bukan suatu kepentingan. Apalah artinya pertaruhan jika empat puluh hari saja ia bisa kau luluhkan, selebihnya itu cinta buyar menjadi kepingan. Tak bisa disatukan karena rasa memang tak bisa dipaksakan.
“ Kau penakut! Haha, kau tak berani bukan menerima kenyataan jika ia sang pujaan lebih memilihku ketimbang dirimu yang tak berani menyatakan perasaan.”
“ Bisa jadi kau benar. Jika cinta kau jadikan pertaruhan, apa yang tersisa di akhir kisah. Kesakitankah karena terlalu banyak pengorbanan tersiakan? Melantak di padang kesengsaraan tanpa seorang bisa mengulurkan tangan ketika kasih sudah disalut kepalsuan. Sekedar nafsu untuk bisa memekakkan kebanggaan-Pejalan Jauh sudah kutaklukkan! Kujerat ia dengan tubuh ranumku yang matang! Bibirku yang merah menantang pun elus lembut rayuku yang mengesankan!”
Jika mau jujur pernah suatu ketika aku hampir mengiyakan tantanganmu. Ingin tahu siapa yang akan jadi pemenang, tak peduli seberapa kotor caraku melakukan. Ingin kuacungkan di depan hidungmu yang bangir itu bila aku juga merampas hatinya yang kembara. Bahwa akulah yang juara!
Namun seleret kalimat bijak menyadarkan emosiku yang meninggi. “ Kemarahan adalah api yang menghanguskan, biarkan ia memadam dengan siraman air kebijakan,” bisik seseorang penuh kelembutan.
Kutoleh dan tak kulihat siapapun disana. Lalu seolah diseret memasuki cahaya aku menemukannya. Satu kisah mengharuskan tentang cinta. Cinta yang diuji untuk menemukan maknanya. Ketika tubuh sang kekasih telah kehilangan daya. Meringkuk bergelut dengan penyakit yang menggerogotinya.
Pria itu mengulurkan tangannya. Ia memandangku dengan tatapan bijak yang tak bisa kulukiskan. Mari sini, seolah itulah yang ia katakan lewat senyuman. Seorang perempuan manis duduk disebelahnya, tak bosan-bosannya mengurus keperluan suaminya. Meski kelelahan nampak jelas dimatanya. Andai saja ada kamera yang mampu menangkap aura kemesraan dan kehangatan yang terpancar di wajah keduanya, maulah aku membelinya. Dan kutunjukkan padamu betapa mengagumkan mereka yang tak putus asa meski acap dihampiri kabut coba.
Sang perempuan bercerita dengan tawa yang menyegarkan, bahwa sang suami pria yang hebat. Guru yang mengajarinya tegar bahkan ketika ia sendiri tengah kesakitan. Yang mengajarinya untuk bersyukur meskipun rasa sakit tak henti mendera, membuatnya terpasung diatas ranjang belaka, tetapi tidak jiwa dan pikirannya yang terus mengembara.
Satu hati bertanya ,” Andai saja aku adalah ia, mampukah aku terus mendampingi pujaan jiwa ketika ia kehilangan segalanya? Ketampanan, kemudaan, kekayaan, yang dulu dipuja banyak wanita? Masihkah kau mampu tegar melewati hari tanpa mengeluh dan justru mengucap syukur karena Allah telah memberikan ujian yang mengaduk-aduk batas sabarmu?”
Belum lagi pertanyaan terjawab. Tiba-tiba satu pintu lain terbuka. Menampakkan seorang pria yang tengah menyeka nanah yang keluar dari infeksi di kepala sang istri. Dengan telaten dan hati-hati ia membersihkannya tanpa banyak kata. Sejenak nanah tak lagi keluar. Tapi sepuluh menit kemudian, bahkan kurang, si nanah mengalir lagi dari luka di sisi kiri kepala sang istri. Sang suami mengelap nanah itu kembali dengan kapas ditangannya. Sama sekali tidak jijik ketika kapas ditangannya dipenuhi cairan kekuningan yang dipenuhi kuman.
Iigh! Bisa jadi itulah yang orang lain katakan melihat keadaan si istri. Membuang muka, dan berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perut yang naik karenanya.
Aku terdiam. Meresapi dalam-dalam perwujudan cinta yang tersaji di depan mata. Subhanallah! Inilah cinta yang kuinginan, batinku ketika satu tawa membuyarkan angan. Kulihat sang pejalan jauh tengah bergandengan tangan, bukan dengan ia yang menantangku taruhan tapi dengan sosok lain yang tak kukenal. Menyedihkan, menggoreskan getir tapi bisa kutahan. Sang Penantang balik kanan tak kuat menyaksikan kenyataan.
CINTA, CINTA, CINTA…
Kubiarkan ia melarut dalam helai hujan, dan berbalik pada sang Akbar
Sepoi angin mengibaskan dedaunan, pelan-pelan ia bergoyang. Mengalun, mengikuti irama senja yang kian temaram. Pelan aku berjalan meninggalkan ia yang bersikukuh hendak bertaruh mencari cinta sang pejalan jauh, ditingkahi satu simfoni dan bait-bait puisi karya Indra Tjahyadi,
PENANTIAN
Kupilih kata-kata yang terbit
Dalam musim-musim duka
Untuk kupasung mesra
Diantara gaun-gaun indah
Sang waktu yang dungu
Lalu, aku pun semakin menunggu
Sekejap lain untuk datang padaku
Dan menyapa ,” masih ada cinta untukmu…”
Masih ada cinta untukku, batinku sendu. Ya, masih ada cinta untukmu, kali ini suara bijak dan dalam memasuki gendang telingaku. Tak kasat mata tapi bisa kurasakan betapa kebesarannya. Aku tahu siapa dia. Ia yang menungguku dan tak bosan mencintaiku. Sang Maha yang tak henti memberiku ruang meski seringkali aku enggan pulang. Sibuk menghujatnya dan lupa pada tiap jengkal kenikmatan yang ia sodorkan ketika aku terpuruk dalam kubangan kecewa. Bahkan Menolak untuk datang, tiap kali panggilannya datang. Dan justru asyik berenang dalam kolam kebahagian fana. Mengentengkan 114 emailnya yang datang, menganggapnya tak terlampau penting dengan penuh kesombongan.

A story, done May 28, 2009; 06.00
Inspired by Babe dan Bunda tercinta, Na, Mbak Tami dan Mas Pepeng ( The Thoughest Man On Earth)
Thanks to Murattal Syeikh Musya’ari Rasyid (Surah Ar-Rahman 1-78)

08 Juni 2009

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 5

Photobucket

Tumben kau lama duduk di situ. Seingatku kau jarang berlama-lama jika bertandang di tempatku. Selalu ada acara yang lebih penting ketimbang denganku. Maka tak heran jika kau buru-buru berlalu setelah berbicara dan mengutarakan maksudmu.
Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku, sampai kau rela bersimpuh menungguku? Mari masuk kemari. Jangan ragu, aku selalu ada waktu untukmu meski jadwalku penuh dan banyak masalah yang harus kubereskan dalam tugasku sebagai CEO nomer satu.
“ Apa nikmat itu?” tanyamu.
Lho jadi kau tak tahu apa nikmat itu pejalan jauh? Bukankah sepanjang jalan hidupmu telah kau rasakan itu? Tapi baiklah jika kau tak tahu aku tak segan memberitahumu.
Ruangan meredup, di hadapan terpampang gambar seorang pria tengah makan. Ia terperangah, berbalik kearahku dan bertanya ,” Lho itu aku. Bagaimana Kau tahu?”
Aku tertawa geli melihat keheranan Pejalan Jauh. Aku ini CEO nomer satu, tak ada yang tak mungkin bagiku. Jika seluruh semesta tunduk padaku, hanya mengetahui peristiwa sekecil ini apa susahku?
“ Sebentar, aku heran bagaimana gambarku ini bisa kau putar dengan menjentikkan jari seperti yang Kau lakukan bahkan tanpa layar?” ia meraba si gambar yang nongol tanpa layar. Ia terheran-heran, penuh kekaguman.
“ Bagaimana bisa? Canggih betul ya? Bahkan tidak perlu pake remot seperti kebanyakan,” ia mengernyit mendekati gambar yang berputar. “ Wuuh hebat!”
Lho ya jelas hebat! Akuu…gimana sih kamu? Apa kamu tahu, teknologi paling canggih yang kalian kenal masa kini tak ada seperempatnya dibanding teknologiku. Bahkan pengetahuan yang kata kalian nomer satu tak ada apa-apanya bagiku. Bagaikan setitik air di lautan, begitu kalian mengibaratkan. Ah, sudah. Berhenti dulu mengagumi teknologi canggih punyaku, mari kembali kepada tujuan semula. Menjawab tanyamu nikmat itu apa.
Cerita kembali berputar, mengetengahkan kisah sang pejalan jauh, sang tokoh utama.
“ Kenapa Kau pertontonkan aku soal makanan? Aku kan bertanya tentang kenikmatan.”
“ Kisah ini masih panjang, Kawan. Teruslah melihat dan kau akan dapat jawaban.”
Ia diam, kembali menikmati kisah yang tengah berjalan. Di akhir cerita, aku bertanya ,” Apa yang kau dapat darinya?”
Ia tersipu-sipu dan berkata ,” Aku jadi malu tak pernah mengakui bahwa dalam hidupku dipenuhi kenikmatan. Makanan yang kumakan takkan enak kurasakan ketika aku tak enak badan. Benar-benar aku ini kurang ajar, sudah diberi kesehatan tapi jarang berterima kasih dan justru menggerutu.”
Aku tertawa. Dengan bercanda kujentikkan jari dan kuperlihatkan saat ia merepet panjang pendek, mengumpati-Ku suatu waktu.
“ Kau ingat itu?”
“ Iya.”
“ Kenapa tuh?”
“ Aku ketinggalan pesawat waktu itu, kehilangan pula klien kelas satu. Ponsel hilang entah dimana, dan kecurian uang juga. Ah! Benar-benar hari yang menyebalkan.”
“ Apa kamu tahu apa maksudku?”
Ia menggeleng.
Gambar kembali berputar. Nampak sebuah pesawat meledak, membuat 120-an orang kehilangan nyawa dalam sekejap.
“ Jadi itu maksudnya? Andai saja peristiwa kecurian uang dan ponsel itu tak ada, aku pasti langsung berangkat dengan pesawat pertama dan bisa jadi aku jadi korbannya kan?”
“ Kau ingat ini?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“ Iya. Aku lagi kesal sama bosku yang sialan. Ups, iya dilarang ngomong kotor ya? Tapi benar loh, aku jengkel padanya sampai aku mengumpati-Mu segala.”
“ Apa kau ingat ini juga?”
“ Iya. Aku bilang aku ingin kaya. Enak banget kelihatannya. Ndak susah…”
“ Dan ternyata?”
“ Ealah…ndak juga. Tak pikir setelah punya segalanya di usiaku yang masih tiga puluhan sekian (boleh dong berahasia?) aku bisa ongkang-ongkang setelahnya. Ternyata ndak juga. Malah keseret pekerjaan, nggak pernah punya waktu luang.”
“ Bahkan lupa padaku juga, kan? Paling kalau ingatpun kalau kamu sedang butuh teman curhat, abis cerita panjang lebar lalu minggat.”
“ Iya, ya. Benar-benar aku ini mahkluk bejat!”
“ Wooh, kamu yang ngomong sendiri lo. Aku ndak ikutan.”
Ia tertawa, ada malu nampak di matanya.
“ Bahkan baca email-emailku saja kamu jarang. Palingan juga pas Ramadhan, itupun buyar kalo kesibukan menggodamu.”
“ He-eh. Aku memang jarang baca email-email-Mu. Saking lamanya tak menyentuhnya, sampai aku blekak-blekuk membacanya.”
“ Gimana nggak blekak-blekuk wong kamu ndak membiasakan membaca. Bacalah, disana ada banyak pelajaran yang bisa kau timba. Tentu saja kalau kau mau bertanya-tanya juga pada ahlinya. Anggap seperti main gitar saja, semakin kau sering memainkannya, tak berhenti belajar, kau semakin hebat kan?”
“ Iya. Tapi ngomong-ngomong soal gitar, aku sekarang juga jarang nyentuh dia. Kesibukan membuatku harus berkelana sementara ia di rumah, anteng dalam kandangnya.”
“ Hahaha, ingat kata pepatah jawa lamun ana bandha sira tentu ngreksa, lamun tambah akeh tambah ngrekasa artinya kalau ada harta tentu kamu mencarinya, tetapi semakin banyak kamu tambah sengsara. Gimana enggak kalau kamu jadi kepikiran, uh gimana nyimpan harga segitu banyaknya, disimpan di rumah takut kemalingan , disimpan di bank takut bank-nya kolaps. Dan masih banyak gimana lagi yang bikin pusing kepala, bukannya malah lega setelah kamu punya banyak harta segunung tingginya.”
“ Hehehe, tahu saja…”
Lho wong aku. CEO nomer satu. Ya jelas tau hal-hal semacam itu.
“ Lah terus gimana dengan Cah Ayu itu? Bukankah waktu kamu putus dengannya mulutmu maju persis kayak orang baru ngemut gardu? Masih juga marah-marah karena itu?”
“ Hiyaaa! Engkau membuatku malu saja, ah. Sudah tidak.”
“ Ck, gitu dulu uring-uringan melulu sampai-sampai malas menemui-Ku. Menganggap-Ku jahat dan tak adil karena menghalangimu. Ada sesuatu di balik itu, Kawanku. Hanya saja Aku ingin kau mengetahui jawabannya sendiri.”
“ Iya. Maaf aku suka negative thinking pada-Mu.”
“ Oke.”
“ Aku pamitan dulu.”
Hati-hati, Sob. Semoga Nur-Ku tersampai pada-Mu. Melingkupimu, menyentuh hatimu, menjadikan kau seseorang yang mulia. Berilmu, berharta tapi tak pernah lupa bersyukur pada Penciptanya. Lembut dalam bersikap dan bertutur kata, tidak kardi (karepe dibi’) alias sak enak udele dhewe seperti dulu kala.
Sampai di pintu ia berhenti. Tersipu-sipu, tapi tertawa juga saat melihatku.
“ Kenapa?”
“ Aku malu dengar murattal itu. Fabi-ayyi aalaaa-i robbikuma tukadzdzibaan…Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”
Aku tersenyum. Semoga Ar-Rahman memberimu keberkahan. Selalu teringat berapa banyak nikmat yang telah Ku berikan, Kawan. Menjadikanmu bijak dalam bahagia atau kesengsaraan.

A story, done May 23, 2009; 04:23
Thanks to Murattal Syeikh Musya’ari Rasyid (Ar-Rahman ayat 1-78)

29 Mei 2009

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 4

Photobucket

Hari ini dimana, besok dimana. Teman milis sampai bertanya kenapa tempatnya selalu berganti tiap kali kirim berita.
Sebenarnya kamu dimana? Nomaden ya? Aku tertawa, percayalah itulah yang kulakukan demi sebuah tanggung jawab yang kupegang. Hari ini di KL, besok terbang ke Bali, dan esok hari sudah ada di negeri Kiwi, sebelah Australi.
Menyenangkan betul kelihatannya? Ah seringnya aku malah bosan. Rindu rumah, rindu kampung halaman acap menyesak ingin dimuntahkan tapi waktu sebanyak dua puluh empat jam terasa begitu rapat hingga sulit menyelipkan agenda pulang.
Tapi kulihat kehidupanmu menyenangkan, menantang, kawan! Aku jadi iri tiap membaca kisah yang kau pampang di blogmu itu, sungguh! Oh ya? Aku malah iri melihat kehidupan sampeyan yang tenang, tidak diburu-buru pekerjaan. Tapi begitulah manusia sawang-sinawang, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau ya kan? Ahahahaha, apa kabarnya kopian di pojokan jalan? Sampaikan salamku pada si empunya kopian, kalau kopi buatannya kurindukan. Begitu juga dengan mendoannya.
Membuka email, muncul berbagai berita dari berbagai belahan dunia. Aku capek membacanya hingga aku menemukannya, sepotong email dari Nadia. Kubuka, dan kubaca. Berbeda dari biasa, emailnya kali ini pendek saja. Sibukkan kamu, Nadia? Atau ini balasan untukku yang selalu membuatmu kesal dengan balasan singkat, padat dan gampang dihafal di luar kepala? Kemana kisah panjang yang acap kau tuliskan, Nadia? Sungguh, meski tak kuakui caramu menulis membuatku senang. Diam-diam membuatku terkesan dan ingin membacanya ulang. Psst, ini beneran! Bukan ngasal.
Senja turun perlahan, aku sadar aku tengah berada di negeri orang. Dikelilingi gedung tinggi dan manusia-manusia yang tak kukenal. Pada satu kelokan jalan usai melakukan pembicaraan bisnis dengan seorang klien, kulihat sepasang pria dan wanita separuh baya saling memandang penuh cinta. Bergenggaman tangan sembari makan sandwich buatan sendiri. Bikin iri hati.
Kelebat bayangan orang-orang tersayang muncul membirukan perasaan. Kapan pulang? Kudengar suara cadel keponakanku mengawang, mengusik hati priaku yang dipenuhi kerinduan. Sebentar lagi sayang, jangan khawatir, Om akan pulang dan mencium pipimu yang ranum kemerahan.
Sampai di flat, maghrib sudah hampir kedaluwarsa. Cepat-cepat aku mengambil wudlu, membasuh seluruh badan yang penat karena beban kerja. Allahu Akbar, Allahu Akbar, aku mengumandangkan adzan sendirian. Lalu tunduk di hadapan Tuhan, pelan-pelan mengucap kalimah doa yang biasanya menghambur cepat, diburu-buru kesibukan. Kali ini haru terikut di dalamnya, saat doa kebaikan meluncur untuk hati-hati penyayang yang tak pernah berhenti merindukanku datang.
Selepas sholat, segelas susu coklat terhidang. Menemaniku berlayar di dunia maya, membaca berita dari kawan-kawan lama.
Ketemuan di KL yuk? Kamu di KL kan? Aku tertawa, email itu tertanggal dua minggu lalu, tepat ketika aku terbang menuju belahan dunia lainnya.
Ck, enak awakmu saiki yo? Sugih reek, isok nang endi-endi numpak kapal mabur! Hehehe. Aku meringis. Sugih, kaya apapun namanya ternyata tak seindah bayangan semula. Uang di tangan, mengalir baik air dari kran menuntut konsekwensi yang ternyata menyengsarakan. Aku juga baru tahu sekarang, ketika aku sudah kecemplung semakin dalam. Apa kamu tahu, Kawan, sering aku merindukan ketika kita berjibaku di jalan. Meraih sejumput uang untuk makan. Merindukan hari-hari saat kita kelaparan, berbagi makanan yang sesungguhnya tak bisa mengganjal lapar. Sekarang bisa dibilang hidupku nyaman, rekening di bank lebih dari sekedar aman, tapi aku sulit punya waktu luang. Selalu ada di jalan, tak berhenti ngurus kerjaan bahkan saat makan malam. Sementara kamu bahagia disisi istri yang manis tutur bahasa, dua balita yang ceria, nun jauh di desa.
Brur, si Agung kawin. Ayo datang, sekalian reunian. Ya ampun dimana aku saat berita ini dikirimkan? Duuh iya aku sedang ada di Srilanka, di satu wilayah yang sulit koneksi internetnya.
Nggak pulang? Ibu masak enak loh sekarang. Soto ayam kesukaanmu. Mataku berkaca-kaca. Terbayang wajah semua orang rumah. Tepat saat itu, mengalunlah Home-nya Michael Buble dari laptop, mengusik satu rasa yang selalu kusimpan. Aku ingin pulang. Mencium bau hujan, tanah basah, dan embun di kehijauan tanah kelahiran. Rindu merembes turun, meluap, meluber menyakitkan. Tak sadar aku meraih gitar, mendentingkannya lagu itu sembari menatap bintang berharap rindu itu segera bisa dituntaskan.
HOME

............................


Another aeroplane another sunny place
I’m lucky I know but I wanna go home
I’ve gotta go home
Let me go home I’m just too far
From where you’re, I wanna come home
Oh let me go home I’ve had my run
Baby I’m done
I wanna come home

And I feel just like
Im living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not come along with me
Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come and gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Oh, I miss you, you know
And I’m surrounded by a million people
I still feel all alone
Oh let me go home, I’ve had my run
Baby I’m done, Ive’ gotta go home
Let me go home, It will be allright
I’ll be home tonight, I’m coming back home


A story, Done May 22, 2009, 07;11
Inspired by silence man story
Ditemani Home (westlife version), dari awal nulis hingga buyar ^_^
Lyrics taken from Home
pic taken from

18 Mei 2009

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 3

KUPU-KUPU DI ATAS KAPAL

Photobucket

19 April, sepanjang penyeberangan Gilimanuk-Ketapang…
Zwing! Mata-mata mahkluk berjenis kelamin pria mendadak terfokus ke satu titik saat seorang perempuan berpenampilan menyegarkan memasuki ruangan. Sihir! Semua orang seolah terpaku saat menatapnya berjalan. Saya tertawa diam-diam menyadari mengapa pria-pria seperti saya enggan menundukkan pandang. “ Sungguh, meski sampeyan tidak menyodorkan senyum menggoda, tapi rok mini yang sampeyan kenakan benar-benar sulit dilewatkan mata,” batin saya sambil menatap kagum pada sepasang kaki jenjang yang tengah berjalan mencari-mencari tempat duduk yang nyaman.
“ Coba ya tiba-tiba dia duduk di sebelah ini,” pikir saya tanpa melepas pandangan ke arahnya.
“ Maaf…disebelah Mas, kosong ya?” saya mendongak, setengah gelagapan karena ia datang sebelum saya sempat mengalihkan pandang.
” Ii…iya,” jawab saya salting sambil beringsut memberinya tempat duduk. Dalam kesempatan itu, lewat ekor mata, sempat saya menangkap wajah cantiknya yang ringan tanpa hiasan tebal. Seulas bedak dan lipstik warna merah muda ternyata cukup membuatnya berpendar dalam kabin kapal yang mulai gelap dihantam senja.
“Permen?” perempuan itu mengangsurkan permen rasa mint seraya tersenyum tipis.
“Terimakasih…saya sudah punya kok, Mbak.”
“Masnya darimana?” ia bertanya lagi, mengusung pertanyaan basa-basi yang biasa digunakan orang untuk memulai percakapan.
“Denpasar, Mbak.”
“ Kerja atau liburan nih?”
Saya tersenyum.” Liburan tapi sambil ngurus kerjaan. Lha Mbaknya?”
Entah karena suasana yang mulai remang atau hal lainnya, binar cerah di matanya meredup dan menghasilkan seutas senyum kecut. “Hmh…liburan? Betapa nyamannya bisa merasakan liburan,” gumamnya seolah untuk dirinya sendiri.
Saya mengernyit heran. “ Kenapa?” pertanyaan itu terlontar tanpa bisa ditahan. Ups!
“Waktu kecil saya bermimpi jadi putri, dipuja banyak orang, dengan baju bersayap bidadari. Tapi begitu saya merasakan bagaimana dipuja bak putri, saya baru tahu semua nggak sejalan dengan nurani.”
Hah? Kok nggak nyambung gini? Aneh banget nih orang.
“Ulat yang sudah jadi kupu itu ternyata tak menghasilkan keindahan. Ia justru merusak pandangan ,” katanya tanpa peduli pertanyaan saya tadi.
“Maksudnya?” saya menyipitkan mata.
Ia menoleh dengan muka rusuh, tersenyum sekilas tanpa makna, seolah ingin menutupi kesedihan yang mulai merebak dimatanya. Ia lantas mengeluarkan sebatang rokok dari tas mungilnya, dinyalakannya dan dihisapnya dengan tergesa, seperti ingin menghapus sesuatu seiring dengan hembusan asap rokok ke udara.
“Tahukah Mas, profesi saya?” ia menolah pada saya tanpa peduli dengan tampang keheranan yang dari tadi terpampang.
“Kupu-kupu malam, istilah halus untuk orang yang menjajakan badan, seperti saya,” lanjutnya sambil menyunggingkan satu senyum pahit
Shitt! Terus terang banget sih perempuan ini? Lagian siapa yang tanya? Apa pentingnya buat saya? Mau kupu-kupu malam atau pelacur jalanan kan bukan masalah saya. Bah anehnya, gumam saya tak suka.
“Aneh ya, kenapa saya berterus terang pada orang asing?”
Saya meringis, sembari menggaruk kepala saya yang berambut cepak. Sumpah deh, Mbak, apa maksud sampeyan? Saya yang goblok atau sampeyan yang kurang kerjaan berkata nggak karuan?
“Mungkin saya hanya ingin didengar. Sudah lama saya tak bisa bercerita panjang lebar..” ia menghela nafas berat .” Saya ingin pulang, ingin bertemu ibu yang sakit-sakitan. Saya tak ingin kehilangan kesempatan meminta maaf sebelum beliau meninggal, seperti saat Ayah saya dipanggil Tuhan. “
Suasana sunyi. Hanya bunyi ketukan jemari lentiknya mewarna. Rokok yang perlahan susut terus saja dihisapnya dengan cepat, sekedar lewat dan tak terlihat menikmati.
“Andai saya punya kesempatan mengulang kembali, saya tak ingin melalui jalan yang sama yang telah saya lewati. Saya akan menghindari Yu Sumi, saya juga tak ingin datang ke Bali.”
Traffic King! Itulah yang pertama kali terlintas di benak saya usai mendengarnya berbicara. Saya bisa bayangkan bagaimana seorang gadis polos yang bermimpi merubah nasib ternyata hanya jadi komoditi orang-orang yang tak peduli darimana uang datang.
“Saya lelah….Saya ingin pulang dan tidak kembali lagi,” wanita cantik itu mengusap sudut matanya, sementara saya hanya terdiam dan menyimpan rasa kasihan dalam-dalam agar tak terbaca lewat mata.
“Oh kapal sudah merapat. Masnya nggak turun?” tanyanya saat orang-orang beranjak meninggalkan tempat duduknya masing-masing dan meninggalkan kabin kapal.
Tanpa pamit, ia lalu bangkit, menerobos kerumunan orang-orang dan disambut tatapan sinis banyak perempuan. Saya tersenyum, sembari menangkap profil cantiknya lewat beberapa kali jepretan kamera. Entah kenapa.
“Huff betapa anehnya kejadian hari ini, tanpa diduga ada perempuan cantik datang dan bercerita panjang lebar tentang hidupnya, meski saya tak merasa nyaman dengan keterusterangnya,” bisik saya sendirian.
“Aaaaaaaaaaaa!!!”
Terdengar jeritan kencang dari jalanan di depan pelabuhan Ketapang, berbarengan dengan orang-orang yang berlarian ke tempat kejadian, tak terkecuali saya yang sedang berjalan santai.
Oh ya Allah…perempuan itu! Saya terkejut melihat tubuhnya berlumur darah, sedangkan tak jauh dari tempatnya terkapar nampak dua orang pemuda tergolek tanpa daya bersama sepedanya yang ringsek.
“Sudah meninggal…”bisik seseorang saat saya mendekati tubuh perempuan cantik itu.
“Gimana kejadiannya?” seseorang bertanya-tanya.
“Dua orang itu mengendarai sepeda dengan kencang dan berniat menyalip bis yang mau berhenti. Harusnya mereka bisa lihat Si Mbake yang sedang menyeberang kalo dia nggak guyon aja. Habis itu ya pruukk! Lantas si pengendara motor terpental.”
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun, inikah jawaban dari keanehan wanita cantik itu di sepanjang penyeberangan? Ya Allah, jika benar berarti bicaranya yang seolah meracau tadi adalah tanda saat satu nyawa takkan bisa bersama tubuhnya lagi.
“Saya lelah….Saya ingin pulang dan tidak kembali lagi,” ucapan itu kembali berdentang dalam ingatan, bersamaan dengan tubuh bekunya yang diangkut dalam ambulance. Dan takdir rupanya tak memandang hari atau tanggal, takkan ada yang bisa menghadang jika Allah memutuskan untuk memanggil seorang mahkluknya untuk pulang.
Done; 30907
picture taken from here