Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

29 Agustus 2018

Kawan Sakit, Apa yang Harus Kita Lakukan? Perlukah Menasehati Atau Support Saja Yang Kita Lakukan?

sumber gambar : https://www.pexels.com



Saya terkejut mendengar teman saya sakit hipertensi. Saya pikir dia baik-baik saja, aih ternyata setelah beberapa waktu tak jumpa justru saya mendengar ia terkena hipertensi atau orang biasa menyebut darah tinggi.
Sebagai kawan, yang kebetulan memiliki ayah dengan penyakit sama, saya paham apa yang dirasakannya. Termasuk soal penurunan tekanan darah yang tidak signifikan itu. Sejak Ayah terkena hipertensi, saya menyadari bahwa banyak hal hal harus di maintain agar tekanan darahnya tetap stabil.  Menjaga pola makan dan hidup sehat itulah kuncinya.

Bagaimana jika kita sudah menjaga pola makan sampai sirikan (red. menghindari) beragam makanan, tetapi tekanan darah tak kunjung turun? Atau kalau pun turun tidak sedrastis yang diharapkan?
Meski sudah menjaga pola makan memang tidak serta merta menurunkan kadar hipertensinya. Sabar dan tenang saja, itu kuncinya. Jika belum turun-turun juga, tak perlu kemrungsung. Apa ya bahasa Indonesianya? Ah, semacam perasaan yang campur aduk begitulah. Karena hal semacam ini justru mendorong kita untuk khawatir berlebihan dan akhirnya malah jadi bahan pikiran. Jika terus-menerus begini akan jadi beban bagi psikologis kita. Efeknya malah kesehatan yang dipertaruhkan.
Berdasarkan pengalaman Ayah, setiap kali dia merasa takut sewaktu hendak periksa ke dokter, tekanan darah langsung melonjak. Berbeda ketika dia sudah jauh lebih tenang, biasanya hasil periksa akan menunjukkan tekanan darah yang normal.

10 Agustus 2018

Dibalik Jari-Jari Yang Doyan Menebar Hujatan, Ada Kita Yang Gagal Mengendalikan


Hari ini kelima jari bergentayangan di dunia maya. Melongok akun artis-artis dan MUA (make up artist) yang banyak bertebaran di sana. Aih, Bubah Alfian ternyata baru saja menggarap wajah Via. Itu tuh penyanyi dangdut asal Jawa Timur yang terkenal dengan lagu "Sayang"-nya. Melihat foto itu mata kelima jari mengerut, hati kelima jari tak senang. Sepertinya ada yang kurang. Wajah Via Vallen itu kurang tirus ke mana-mana. Tidak heran di foto yang nampak pipi semua. 
Aih, gatal masing-masing jari mulai gatal. Tak pelak muncul komentar "Ya ampun, pipinya itu nggak nahan. Benerin dong, biar tirusan. Udah banyak uang ini lho!"

Bosan menengok instagram, pindah lagi kelima jari ke akun sosial media lainnya, Facebook. Ada seorang perempuan mengunggah foto bekal untuk anak buatannya. Cantik sih, tapi kok isinya mie instan. Terus itu loh, kok ya saben hari telur terus-terusan. Apa tidak ada lauk lainnya? Yang lebih hebat seperti daging panggang atau udang misalnya.
Kelima jari pun gatal kembali. Tak urung muncul ucapan seperti ini dinding akun sosial media :
"Baru bisa bikin  bekal gitu aja, combyongnya. Huuh, yang udah jago bikin masakan aneh-aneh nggak pernah pamer. Dasar emak-emak baru belajar masak!"

Barusan berhenti, di timeline muncul gosip artis nganu yang baru saja bertunangan dengan horang kayah. Weew, calon istrinya konon pemilik sekian banyak usaha. Tapi, kok tampilannya tua? Kayaknya nggak cocok deh sama si artis yang ono.
Tangan ini kumat lagi gatalnya. Cuus, langsung saja nemplokin komentar di bawah link itu yang rasanya masam.
"Ih, tua bingit sih, nggak cocok deh situ sama si ono ....”

Eh, tak berapa lama ada lagi berita kalau artis cantik yang barusan putus sama pacarnya itu sekarang sudah punya yang baru lagi. Sayangnya si cowok baru kok njomplang. Jauh banget dari si mantan. Aih, jari-jari langsung kompak berujar ,”Pacarnya barunya mirip Cak Lontong yes?”

Ups! Udah ah. Ada janji. Gerilya di dunia mayanya harus disudahi. Eits, tapi apa ini? Istri komika satu ini gendut sekali. Woo, ndak bisa didiamkan ini. Kelima jari harus bersatu dan menyuarakan isi hati. Which is ... G-E-N-D-U-T!

Nah, itu ada lagi. Ternyata rumornya, si anu ...

Priiiiit! Stop sampai disini kelima jari, kini giliran hati yang bicara. Biar dia menyuarakan apa yang jadi uneg-unegnya.

Hati dengan sepenuh kegeraman berkata  ,”Owalah jari-jari, kamu itu demen sekali berkonspirasi. Sayangnya konspirasi merusak hati. Mbok yao yang pinter gitu loh. Yang beradab, jangan asal njeplak! Memang kamu itu belum pernah dapat penataran P4 5000 jam. Biar khatam. Jadi esok lagi kalau komentar yang positif, inspiratif, dan penuh kecerdasan.”




Eh, tapi si hati tak lama kemudian terdiam. Ia sadar kelima jari tak bisa begitu saja disalahkan. Bukannya dibalik aksinya yang menyakitkan ada pemiliknya yang telah dikarunia akal? Dengan itu seharusnya ia tahu bagaimana cara memanfaatkan tangan untuk melakukan hal yang hebat. Ini malah kebalikannya. Kalau tidak nyinyir ya menghujat. Kalau tidak menghujat, nyindir. Kalau nggak nyindir, bawaannya meriang. Lalu sakit terus muntah-muntah.

08 Agustus 2018

Abaikan Orang-Orang Yang Demen Body Shaming, Sebaik Apapun Dirimu Mereka Tetap Akan Menemukan Hal Untuk Memperolokmu




"Dua-duanya  (maaf) pendekawati ... ups."
Kalimat itu terlontar ringan di Instagram Rossa ketika mengunggah fotonya bersama dengan Tasya Kamila dalam balutan baju pengantinnya.
Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama? Seseorang mengolok karena bentuk fisikmu tak sesuai standarnya? Pernah? Oh, ya kita sama.

Sebagai perempuan bertubuh semampai (semeter lebih dikit nyampai) dengan berat 50 kg (65 sebenarnya, tetapi 15 kg selebihnya adalah kebahagiaan hakiki), saya acap menerima komentar tidak menyenangkan. Entah disampaikan secara bercanda atau justru betulan. Misalnya pas di jalan ketemua teman, tiba-tiba dia nyeletuk ,"Ampuun, kamu kok tambah lebar?" atau malah "Astaga, gendut betul sih kamu? Makannya dong dijaga!".

Oleh karena itu saya berusaha untuk mengurangi setidaknya beberapa kilo lemak di badan. Upaya yang saya lakukan waktu itu adalah lari. Lumayan, dulu itu saya bisa lari kurang lebih 1 km, meski thimik-thimik (pelan sekali). Aih, dasar apes. Saat getol-getolnya lari pagi seseorang bilang "Kok tetep gendut sih, padahal rajin lari."
Dongkol?
Lha iyalah. Saya tahu badan saya masih gendut. Nggak dibilangin juga saya sadar diri.

Terus apa yang saya lakukan?
Saya sewot luar dalam meski tidak memperlihatkan. Saya jadi merasa kalau usaha saya lari nggak ada manfaatnya. Lha nyatanya saya tetap gendut, nggak berubah juga. Akhirnya saya berhenti lari. Karena merasa hanya dapat capeknya tapi nggak kurus-kurus juga, hahahaha ...
Padahal kalau dipikir-pikir tidak juga. Saya tetap dapat manfaatnya. Saya memang tidak langsing gara-gara lari itu, tetapi saya sehat. Tidak gampang sakit dan merasa kalau mood selalu terjaga.


Jujur saja tak ada satu pun orang yang akan termotivasi untuk menguruskan badan, menjaga makanan, atau malah berolahraga seperti yang disarankan dengan body shaming. Yang ada justru runtuh secara psikologis. Mungkin tidak nampak secara fisik, tetapi di dalam sana perasaan teriris-iris. Sudah itu ditaburi pula dengan kalimat semanis jeruk nipis, hadew ... diri ini jadi kian meringis. Atiit, Kakak.

Lebih jauh body shaming juga bisa berdampak serius. Apa tuh? Eating disorder dan bulimia contohnya. Bahkan kerapuhan menghadapi tekanan sosial bisa membuat mereka nekat mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, apakah mereka menyadarinya? Enggak. Ketika ketika mengungkapkan kesedihan kita justru dianggap baper. Masa gitu aja merana, ih dasar lebay jaya!

Tahun berlalu, saya belajar bahwa body shaming itu bisa menimpa siapa saja. Bahkan jika dia terlihat sempurna. Ketika kau kurus kau akan ditanya “Kurus amat? Jangan-jangan lagi susah ya?”. Ketika kau cantik, langsing, berkulit putih,  bahkan berprestasi seperti Rossa atau Tasya Kamila orang masih saja berkata “Elah, pendeknya.” Saat kau semampai dan berbody aduhai, namun kakimu besar pasti akan ada saja orang yang bilang “Ya ampun, kakimu kok kaya kaki kesebelasan?”. Yang kakinya langsing kaya belalang diolok-olok kaya ranting pohon.

06 Agustus 2018

Pertama Kali Menjadi Pemateri Saya Justru Membawa Pulang Pelajaran Penting Ini


Saya mengiyakan saja ketika dimintai bantuan jadi pemateri workshop menulis yang diadakan oleh teman-teman KKN 13 Untag di base camp RLI (Rumah Literasi Indonesia sepekan silam. Permintaannya adalah lebih banyak praktek ketimbang materi yang disampaikan.
Sepekan sebelum hari H saya mulai mikir, lha kok saya oka-oke saja. Apa yang harus saya sampaikan nanti di depan peserta? Anggaplah yang datang nanti sedikit, sepuluh orang misalnya, saya tak boleh sembarangan. Harus membagikan sesuatu yang bermanfaat ketika pulang. Bukan sekedar ngobos (ngomong ngalor ngidul), nggak ada juntrungan. Tidak lupa juga si materi harus punya relasi dengan praktek yang hendak dilakukan. Tapi, apa ya?

Setelah mencari tahu soal audiens yang hadir nanti akhirnya saya memilih materi bagaimana cara menulis bagi pemula saja. Kalaupun diantara audiens sudah ada yang terbiasa nulis, apa yang saya bagikan nanti bisa digunakan juga saat mereka terkena writer's block. Sampai di sini masalah teratasi. Namun menjelang hari H, tepatnya tiga hari sebelumnya, saya nyengir kuda. Kenapa?  Saya tidak tahu caranya bikin slide, hahahaha.
Untungnya jaman sekarang kita ini dimudahkan. Sudah banyak ilmu yang bertebaran. Jadi tinggal nyari saja pasti ketemu. Begitu pun hari itu. Saya langsung nyolek You Tube untuk mencari tahu cara membuat slide. Karena tidak punya banyak waktu, saya pilih yang simpel-simpel saja. Jadi waktu saya tidak terbuang banyak untuk mempelajarinya.

materi untuk workshop menulis bersama KKN 13 UNTAG

 Pukul 1 dini hari, materi dan persiapan kelar. Saya tinggal tidur dan  kemudian berangkat pagi-pagi ke tempat acara di Gunung Remuk-Ketapang, kurang lebih sekitar pukul 6.00. Tujuannya untuk menghindari tertutupnya jalan utama yang menuju ke arah sana. Maklum di hari yang sama ada gelaran BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) di tengah kota.  Jadi jika kesiangan dan jalan ditutup, saya pasti kebingungan karena tidak terlampau paham jalan alternatif agar bisa sampai di sana tepat waktu.

Setiba di sana ternyata masih banyak waktu. Jadi saya makan dulu bekal yang saya beli sebelum berangkat sembari menanti acara dilangsungkan. Saya memang jarang melewatkan sarapan pagi, karena tanpanya saya bisa lemah dan sulit konsentrasi. Sekitar pukul sembilan pagi, acara di mulai. Saya duduk tenang menanti, hingga Pak Suhalik selesai melakukan bedah buku "Babad Tawangalun".

Lalu bagaimana tugas saya sebagai pemateri? Sukseskah?
Saya tidak tahu sukses atau tidaknya. Karena yang bisa menilai orang lain bukan diri sendiri. Terlepas apapun hasilnya, saya justru pulang dengan membawa pelajaran penting ini :

01 Agustus 2018

Bukan Cinta Pertama Biasa, Keberadaannya Berdampak Pada Hidup Seseorang Selamanya

 
Photo by Josh Willink from Pexels
Cinta pertama? Jika yang dimaksud dengan pria, saya tak punya cerita yang luar biasa. Yang berisi kisah mengharu-biru ala-ala Qais dan Laila. Atau malah menginsipirasi orang untuk menirunya.  Jadi saya tak bisa menceritakannya. Meski demikian bukan berarti saya atau orang lain yang tak memiliki kisah cinta pertama macam itu tak pernah mengalaminya. Justru jauh sebelum itu kita sudah mendapatkannya. Cinta pertama yang jauh lebih berkesan. Cinta pertama dari siapa? Cinta dari Ayah dan Bunda.

Ayah dan Bunda memiliki porsi penting bagi kita. Keberadaannya memegang peranan bagi tumbuh kembang anak secara optimal. Ayah, yang acap disebut cinta pertama bagi anak gadisnya, memberi pengaruh besar bagaimana ia kelak di masa depan. Kedekatan emosional antara anak dan ayah akan membentuk kepercayaan dan citra dirinya. Tangguh dan tidaknya ia kelak, ditentukan sejak awal masa pertumbuhan.

Ketidakhadiran Ayah dalam pengasuhan bahkan berpengaruh besar pada tipe pria yang akan dipilihnya kemudian. Anak-anak yang kurang kasih sayang dan penghargaan cenderung mencari-carinya di luar. Mudah jatuh pada sembarang pria, bahkan yang seusia ayahnya. Tidak jarang mereka terperosok ke dalam hubungan yang salah, bersama pria yang abusive (kasar) misalnya.

Bagi anak laki-lakinya, Ayah adalah pahlawan. Semua perilakunya akan direkam dan ditiru. Dengan Ayah ia belajar bagaimana menjadi pria. Jika Ayah malas-malasan serta kerap berlaku buruk pada perempuan, kecenderungan anak untuk meniru sangat besar. Jadi jika kelak anak berlaku sama, tak perlu merasa heran. Karena ini adalah jejak yang ditinggalkan Ayah di masa silam.
Keberadaan Ayah diperlukan untuk mengajarkan anak bagaimana harusnya  memecahkan masalah, berlaku dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana menjalankan perannya sebagai pria di masyarakat.

31 Juli 2018

ENAM HAL HEBAT YANG KITA DAPAT BILA BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS

Photo by rawpixel.com from Pexels


Sejak nge-blog 2006 silam, saya sudah bergabung dengan komunitas. Saat itu Blogger Family atau yang kerap disingkat Blogfam jadi salah satu komunitas yang terkenal. Saya memang tidak terlampau aktif di sana. Akan tetapi saya sempat dua kali ikut lomba dan lolos pelatihan cerita anak yang diampu oleh Kang Iwok Abqary di sana.
Belakangan ketika era sosial media datang, komunitas blogger semakin berkembang. Mulailah bermuncul nama-nama baru dan disertai pula dengan aktivitas yang seru. Dimana para anggota tidak hanya bisa berbagi tulisan, namun juga info-info lomba, pekerjaan, dan pengetahuan.

Hal yang sama saya lakukan ketika saya mulai belajar menulis cerita akhir tahun 2009 silam. Mulai dari grup UNSA, BAW, IIDN, dan lain-lainnya saya ikut meski akhirnya yang bertahan hanya beberapa saja. Salah satu yang paling berjasa bagi saya adalah komunitas UNSA dan BAW. Bersamanya saya belajar banyak soal kepenulisan. Oleh sebab itu dalam perjalanan saya menjadi penulis ini kedua komunitas ini tak mungkin saya lupakan.

Di dunia nyata saya tergabung sebagai relawan rumah Litertasi Banyuwngi dan Relawan Nusantara. Namun, tidak semua aktif. Hanya Rumah literasi bayuwangi saja yang kerap diikuti, sedang relawan nusantara hanya sebatas ikut nyumbang jika ada kegiatan (itupun tidak besar). Bukan karena tak mau datang, tapi tempat yang berjauhan jadi kendala. Markas Relawan Nusantara yang terdekat di Jember, bukan Banyuwangi tempat saya tinggal.


Lalu apa sih pentingnya ikut komunitas? Kok kayaknya banyak juga tuh yang nyemplung di komunitas tapi nggak dapat apa-apa. Cuma senang-senang saja, nggak ada isinya.

30 Juli 2018

Cintai Diri Sendiri Dengan Bersyukur Dan Berhenti Merasa Kurang, Meski Untuk Mencapainya Butuh Proses Panjang


Sumber gambar : https://pixabay.com



Pernah pada suatu masa saya tidak menyukai diri saya. Setiap bercermin yang terlihat adalah kekurangan, keburukan, dan ketidakmampuan. Itu-itu saja. Kebaikan, kepandaian, atau kelebihan tak terlihat di sana.
Padahal orang lain tak melihatnya demikian. Akan tetapi saya tak mudah diyakinkan. Sewaktu orang lain berpikir saya memiliki kepandaian, saya bersikap kebalikan. Saat orang berkata saya punya banyak kelebihan, saya hanya mengerutkan kening dan berpikir "Masa iya?". Saat orang berujar saya punya kemampuan, saya malah mengecilkan.
Bahkan saya kerap merasa bahwa orang-orang mengatakan itu hanya untuk menyenangkan saya, bukan setulusnya. Bisa jadi dibelakang lain lagi yang dipikirkan.

Semua pikiran itu tak membuat saya bahagia. Seperti belenggu, ia mengurung saya dalam kubangan kenegatifan. Hingga suatu hari saya menonton televisi, penerimaan pada diri adalah penyebab seseorang mengalami masalah semacam ini. Jika tidak dituntaskan maka akan berlarut-larut dan menjadi batu sandungan bagi saya di masa depan. Salah satunya menjadi pangkal ketidakbahagiaan. Situasi ini bisa mendorong seseorang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Hal yang saya lakukan waktu itu adalah memaafkan diri sendiri. Setiap usai shalat, saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa saya memaafkan sikap saya selama ini yang acap meremehkan diri sendiri. Padahal sesungguhnya Allah sudah memberi banyak kelebihan. Saya memaafkan diri saya yang acap terlampau dalam mengkritik diri sendiri, padahal tidak ada seorang pun yang sempurna. Saya memaafkan karena menjadi orang yang tidak berani dalam segala hal, padahal Allah sudah memberi kemampuan. Saya juga sering berucap bahwa diri saya yang sebenarnya adalah sosok yang baik, tangguh, pantang menyerah, selalu optimis, lapang, selalu tersenyum, tidak takut berjuang, dan sebagainya. Kegiatan itu saya lakukan terus-menerus, hingga kemudian saya merasa lapang dan ringan. 

29 Juli 2018

Ketika Tua Datang, Hal Sederhana Saja Yang Saya Inginkan


Sewajarnya orang-orang lainnya di dunia, saya juga memiliki seperti apa gambaran jika saya tua. Saya ingin tinggal tenang di suatut tempat yang dikelilingi pepohonan, kebun bunga, peternakan di sudut lahan, juga sungai mengalir di sisi lainnya. Anak-anak dan cucu bisa bercengkrama di sana dengan gembira jika liburan. Di atas bale-bale dari kayu beratap rumbia untuk bercengkrama dan makan rujak bersama.

Tidak lupa keuangan yang mapan secara finansial. Maka sudah seharusnya saya mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Bekerja keras, menabung, dan teliti menggunakan keuangan adalah hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan mimpi semacam ini. Bagaimana tidak, tanpa itu bagaimana kelak saya bisa mendapati kehidupan yang nyaman?

Dunia berjalan tak seperti yang saya bayangkan. Bahkan di usia saya sekarang, saya tak memiliki riwayat keuangan yang mapan (hahahaha!). Sungguhan. Sepertinya hal-hal yang pernah  saya inginkan itu bakalan jauh dari jangkauan jika menilik faktor tersebut. Bagaimana saya harus menjangkaunya?

Dan kepergian Ibu mengubah arah saya. Dulu sebelum meninggal, Ibu seringkali bilang bahwa jika ia tua tak ingin merepotkan. Ingin meninggal dengan tenang, tanpa membuat anak dan suami kesusahan. Semisal menderita sakit, semoga tidak lama setelahnya ia dipanggil pulang. Ketika saya tanya kenapa, Ibu berujar hanya tak ingin menyusahkan seluruh anggota keluarga.

Saya mendengarkan itu, mengaminkannya. Akan tetapi, tidak mengira jika doanya dikabulkan begitu cepat. Semua orang terkejut ketika Ibu meninggal. Ibu saya terakhir nampak sehat, masih jalan-jalan. Hanya beberapa hari sebelum meninggal beliau diam saja di kamar karena tak enak badan. Dan kepergiannya sungguh tidak menyusahkan, persis seperti yang selalu didoa-doakannya.

Melihat banyaknya orang yang bertakziah, saya jadi bertanya-tanya ,"Bagaimana kelak saya meninggal. Apakah saya akan dikenang sebagai pribadi yang baik atau sebaliknya, orang yang buruk sifat dan menyusahkan. Saya boleh saja bermimpi hidup kaya dan nyaman di usia tua, tetapi jika pada akhirnya hanya kenangan hitam di benak banyak orang apa gunanya?"

27 Juli 2018

Bu Sih Pitajeng, Guru Favorit Karena Cara Ngajarnya Yang Asyik

source image : https://pixabay.com

Biologi selalu menjadi pelajaran favorit saya di bangku SMA. Saya suka membaca segala sesuatu didalamnya, terlepas gurunya pandai menerangkan atau tidak. Toh, masih ada bukunya. Kalau cara guru menerangkan membosankan, tinggal buka paketnya saja. Beres. Lain halnya dengan matematika. Mungkin karena pada dasarnya kurang suka segala sesuatu yang berbau hitungan. Gurunya seenak apapun saya tetap ngos-ngosan mengejar.
 
Kembali ke pelajaran Biologi, Bu Sih Pitajeng ini baru mengajar saya dan kawan-kawan di kelas tiga. Beliau sosok yang gesit, ramah, dan menyenangkan. Cara mengajarnya mengasyikkan. Dan tidak pernah menggunakan kekerasan, untuk membuat kami mendengarkannya. Intonasi suara yang tinggi pun tidak. Belajar Biologi dengan beliau itu seperti mendengarkan cerita. Saking ngalir dan enaknya bahkan pelajaran genetika yang rumit itu pun bisa kami terima dengan baik. Bisa dibilang tidak ada anak yang tidur sampai ngowoh karena bosan  bila beliau menerangkan. Semua "on fire" jika jam mengajar beliau tiba. 


Satu hal yang paling saya ingat di tahun terakhir saya di SMA itu, adalah kami diperbolehkan menghiasi buku catatan. Sebelum-sebelumnya kami tidak pernah menemui guru seperti ini. Guru yang lain standar saja. Datang ke kelas pada waktu jam pelajarannya, lalu memberikan materi sementara kami mencatatnya.


Bu Sih berbeda. Sepertinya beliau paham jika materi yang disajikan di tahun itu memang membosankan, terlebih dengan adanya pelajaran genetika yang membingungkan. Oleh sebab itu beliau mendorong kami untuk belajar dengan fun. Kami dibebaskan menulis materi menggunakan bolpoin warna-warni, bahkan didorong. Diberi ajang berkreasi, kami langsung mengiyakan. Jadi bisa dibayangkan buku kami pun jadi seperti pelangi, penuh warna. Tidak monoton sebagaimana pelajaran lainnya, di mana  buku catatan hanya ditulisi dengan tinta hitam atau biru. Merah, ungu, atau merah muda? Warna-warna itu jelas tak ada kecuali di buku catatan Biologi.

24 Juli 2018

OKKY LUKMAN DAN HAL-HAL YANG MEMBUAT SAYA MENYUKAINYA


Sumber gambar : http://poskotanews.com


Saya mengenal Okky Lukman sejak ia berperan menjadi Umi di acara Lenong Bocah yang tayang di TPI. Saya senang dengan gayanya di sana, nyablak, ramai, seru, dengan dialek khas betawi. Ia benar-benar mampu berakting di depan kamera padahal usianya kala itu masih 9 tahun. Di usia yang sama saya nggak ngapa-ngapai. Hanya sekolah dan main. 

Kalau diingat-ingat masa itu kalau nggak nonton Lenong Bocah rasanya ada yang kurang. Makanya setiap Lenong Bocah tampil, nggak pernah ketinggalan. Terlebih di masa itu televisi yang juga masih jarang. Hanya beberapa saja. Beranjak dewasa, karier Okky Lukman terus berkembang. Gadis yang terkenal lewat acara Lenong Bocah itu mulai merambah dunia sinetron dengan menjajal akting di beberapa judul macam Norak Tapi Beken, Montir-Montir Cantik, dan beberapa lainnya. Ia juga kerap muncul di berbagai acara Variety Show. Tidak puas dengan itu, Okky menjajal dunia host juga. Dangdut Mania, Mikrofon Pelunas Hutang, Idola Cilik, dan lainnya adalah contoh acara yang ia pandu sebagai pembawa acara.

Lalu apa sih istimewanya Okky sampai-sampai saya suka padanya? Padahal  jika ditilik secara fisik, Okky Lukman tak sebanding dengan Luna Maya, Raline Shah, atau Sandra Dewi misalnya?

23 Oktober 2017

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN



Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf...
Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film.

Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan.
Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia tak berhasil jadi penyampai pesan yang mumpuni pada materi yang dia sampaikan. Tetapi, saya juga tak perlu menyombongkan diri dengan berkata ia belum layak tayang. Toh, seorang pemateri handal sebenarnya juga belajar dari banyak kesalahan. Jika pemateri pertama dan kedua begitu enak menyampaikan itu juga disebabkan karena jam terbang.

12 Oktober 2017

UNFOLLOW DEMI KESEHATAN JIWA



Belakangan diam-diam saya suka unfollow orang. Bukan tanpa alasan saya melakukannya. Biasanya saya unfollow jika akun yang bersangkutan sudah terlampau sering curhat masalah sampai tidak mengenal batasan (ngamuk disertai kalimat umpatan), kerap share berita dengan sumber tak berdasar ditambahi dengan caption menyebalkan, dan kemudian menyerang orang lain yang tak sependapat atau sepemikiran dengannya meskipun bukan saya yang ditujunya.

Pada mulanya saya biarkan, toh saya bisa melewatinya. Tetapi, lama-kelamaan intensitasnya semakin besar. Pada akhirnya negativisme yang menyebar di beranda saya itu sudah melampaui batasan. Saya tidak nyaman membaca banyaknya amarah yang muncul tiap kali saya membuka akun sosial media saya. Saya jadi terprovokasi untuk “menasehatinya”, agar jangan terlalu kala bersosial media. Pakailah sudut pandang beragam, agar tidak gampang jadi orang yang panasan. Sedikit-sedikit nyinyir melambai di media sosial. Bahkan untuk hal yang belum jelas perkaranya.

07 Agustus 2017

SAAT KAU MERASA HIDUPMU SERASA MANUSIA DI EMPER TOKO (CUMA BISA MELIHAT ORANG-ORANG MENDAPAT YANG DIINGINKAN SEMENTARA KITA MELONGO)






Apakah pernah Anda berada di emperan toko? Anda hanya bisa melihat orang-orang lalu-lalang masuk ke dalam toko yang megah di seberang, tanpa Anda bisa mengikutinya. Anda ingin tapi tidak bisa. Perasaan iri muncul tatkala melihat orang-orang itu tertawa sambil menenteng belanjaan. Sedih melihat mereka bisa menikmati makanan di sebuah kedai gerai siap saji di lingkup toko besar itu sementara Anda menelan ludah. Melihat ke arah lain, Anda hanya bisa menghela napas sewaktu menatap orang-orang menikmati kopi di kedai paling gaya dalam lingkup toko besar itu juga. Sedangkan Anda? Jangankan kopi, uang saja tinggal seribu rupiah. 

Anda mulai mengutuki keadaan. Mungkin juga mulai mengutuki Allah. Bertanya sembari memaki kasar kenapa Allah yang Maha Pemurah itu tak kunjung membuat hidup Anda naik kelas? Anda masih ada di level terbawah. Level kelas teri, itu teri kualitas rendah. Bukan teri berkelas yang dijajakan di toko-toko besar kenamaan. Usaha Anda seperti berhenti di tengah jalan. Anda tidak mendapat kesuksesan justru harus menghadapi kenyataan kalau usaha Anda terancam gagal. Anda tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan uang seribu rupiah itu.

Apa sih mau Allah? Jika dia Maha Pemurah seharusnya Allah memudahkan jalan Anda. Bukankah Anda sudah bekerja keras? Anda bahkan memulai usaha itu dengan niat baik. Allah sungguh tidak adil!
Apakah Anda tahu, niat baik Anda sedang diuji? Diuji dengan beragam persoalan sampai Anda megap-megap rasanya. Anda seperti masuk goa, dimana disana tidak ada sedikit pun cahaya. Anda mulai dilanda kecemasan, rasanya melangkah kemanapun jadi terasa salah. 

Itu pula yang pernah saya alami seusai melepaskan diri dari pekerjaan kantor kurang lebih lima tahun lalu dan beralih profesi menjadi penulis. Tetapi seiring waktu, saya mulai bisa menyesuaikan diri. Saya tidak lagi kebingungan di hidup di tengah goa yang gelap itu (baca : kesusahan). Mata saya mulai terbiasa dalam kegelapan, saya bisa melihat jalan meski remang. Kadang-kadang...oh tidak bukan kadang tetapi seringkali saya merasa bosan. Perjalanan melewati goa itu amat panjang dan saya mulai jengkel karena tak juga mencapai ujungnya.. Tidak jarang saya berniat berhenti dan balik kanan, kembali ke awal. Tetapi, jalan yang saya tempuh sudah jauh. Tak terbayang kalau harus kembali lagi.

01 Agustus 2017

KARENA SUKSES ITU BUTUH PROSES



Suatu hari saya duduk dengan teman. Dia tengah memulai usaha baru, setelah memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tempatnya bernaung dulu. Ia memutuskan hal ini bukan tanpa perhitungan. Ia merasa  memiliki ilmu dan pengalaman, jadi kenapa tidak dicoba. Tetapi, ternyata  menjadi seorang enterpreneur memiliki banyak cobaan. Teman saya mengaku ilmu dan pengalaman yang ia miliki tak semua bisa diterapkan pada usaha barunya itu. Saya memahaminya, sebab meski kami terjun di dunia yang berbeda (dia kuliner dan saya menulis), situasi yang terjadi kurang lebih sama.

Saya ingat saat memutuskan terjun bebas di dunia menulis lima tahun lalu saya pun membawa semangat yang sama. Saya yakin mampu dan bisa. Dalam perjalanan saya menyadari “amunisi” saya masih kurang dalam menghadapi merah-birunya dunia penulisan. Buat anak baru dan unyu seperti saya, dunia menulis itu belantara. Saya tergagap-gagap mencari jalan yang mana. Saya benar-benar tidak tahu harus apa. Selama itu pula saya juga harus menghadapi kenyataan dunia menulis itu tidak memberikan janji keindahan finansial. Haduh, saya pontang-panting demi terus menulis dan mengirimkan naskah yang ujungnya tidak ada kabar. 

24 Juli 2017

JANGAN COPY PASTE SEMBARANGAN, TAPI TEKAN TOMBOL SHARE ATAU TOMBOL BAGIKAN


sumber gambar : https://pixabay.com

Belakangan kasus plagiarisme memang mencuat. Saya tak banyak berkomentar, karena kenyataannya saya masih harus memperbaiki soal penulisan dan bagaimana cara mencantumkan nara sumber yang benar. Tak jarang karena tulisan itu terlampau umum, kita menuliskan tanpa pikir panjang. Lalu mengunggahnya di media sosial, tanpa sekalipun terpikir menyebutkan nama penulisnya. Karena masalah inilah saya berpikir ulang sebelum ikut-ikut “nyinyir melambai” di berbagai sosial media. 

Lho kenapa kok saya berpikir demikian?

Sederhana saja, tak jarang saya  berpikir yang saya lakukan sudah lurus dan benar. Padahal saat ditelisik dan di runut sampai ke belakang, eh ternyata saya pernah melakukannya. Hanya saja kita lupa, tidak sadar, atau malah tak ketahuan.

Lalu bagaimana cara kita berkontribusi melawan plagiarisme?

Tidak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri dengan tidak meng-copy paste sembarangan tulisan yang tersebar di media sosial. Jika menemukan tulisan yang bagus tekan saja tombol share atau bagikan. Kalaupun ingin copy paste, pastikan tulis sumbernya dengan benar. Jangan copy paste lalu ditulis dengan kalimat “Copas dari tetangga beranda”, “Copas dari FB sebelah”, “Copas dari status teman” di akhir posting-an.

18 Juli 2017

JARANG MENJAWAB PESAN, TANDA TEMAN TAK PERHATIAN?


sumber gambar : https://pixabay.com/

Beberapa kali saya ngobrol dengan teman, soal kekecewaan mereka pada teman lain yang susah sekali menjawab sapaan mereka via BBM, Line, WA atau sosial media. Kalaupun dijawab biasanya lama.
“Jadi malas deh berteman dengannya. Masa iya balas pesan gitu aja nggak bisa. Emang sesibuk apa sih hidupnya? Lha wong aku yang sibuk ono, ini, anu, itu aja masih bisa kok balas chat di BBM atau WA.”

Saya memahaminya kekecewaannya. Saya pun pernah berpikir sama. Seorang teman yang tak membalas berarti tak lagi perhatian sama kita. Dan itu menjengkelkan saya. Saya jadi berburuk sangka padanya. Saya berpikir ia sudah tak ingat lagi pada saya. Padahal dulu semasa lajang, segala hal dilakukan dengan saya. Bahkan curhat masalahnya pun ke saya. Sekarang jangankan “say hi”, ketemu saja sulitnya minta ampun. Teman macam apa itu?

Tetapi pemikiran itu berubah ketika bertandang ke rumah seorang teman lainnya. Saya melihat bagaimana kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang harus menjaga anak, sambil menyetrika, masak, dan seabrek kegiatan lainnya. Bisa melongok ponsel dan membaca status teman-temannya saja sudah menjadi barang langka dan berharga. Dan itu memang diakui teman saya.

10 Juli 2017

PESAN MAMA MUDA UNTUK SINGLE FIGHTER SEPERTI SAYA: JANGAN NYEKOLAHIN ANAK KARENA GENGSI SEMATA




Sebagai mama muda Liv (bukan nama sebenarnya), menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena itu saat mertua menyarankan agar anak sekolah di dekat rumahnya saja, ia menolak. Liv beranggapan sekolah di desa tidak cukup baik untuk putri pertamanya. Ia ingin dia mengenyam pendidikan di sekolah terbaik. Kebetulan di kecamatan tempat dia tinggal merupakan gudang sekolah terbaik. Dari TK, SD, SMP sampai SMA semua ada. Jadi ia tidak perlu khawatir soal pendidikannya.

Karena itu begitu putri pertamanya usia lima tahun ia masukkan ke sebuah TK favorit. Meski biaya pendaftaran mahal tak apa, yang penting baik bagi putrinya. Begitu juga SD-nya. Ia bahkan rela membayar agar sang putri bisa masuk SD idaman sejuta umat itu. Tapi, apa lacur yang terjadi kemudian justru bikin Liv merasa stress sendiri. Putrinya, sebut saja Nana, enggan sekolah. Setiap hari ia harus berperang dengan putrinya, hanya agar si putri mau berangkat sekolah. Sepertinya sekolah adalah momok menakutkan bagi Nana. 

Belakangan Liv menyadari sekolah jadi sesuatu yang memberatkan bagi Nana. Di SD favorit itu, anaknya dibebani pe-er begitu banyak. Ia pun harus les untuk mengejar pelajaran. Saban hari les hingga waktu bermainnya hilang. Les di sekolah, les privat di kala malam, belum lagi ditambah pe-er berlembar-lembar, itulah hal-hal yang harus dilakukan Nana setiap hari. 

19 Juni 2017

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!





Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun.

Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng-up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lembaga. Apalagi kalau sudah berputra, wah...malah nggak nyaman karena harus meninggalkan mereka.
Nah, beruntunglah waktu itu di halaman facebook saya seliweran soal kursus bahasa Inggris di I Can Course. Saya tertarik karena kursus dilakukan online, jadi tidak memerlukan tempat khusus. Cukup dilakukan di WA dan proses belajar pun dilakukan. Nah, proses belajar itu akan berlangsung selama 2 bulan, sebanyak delapan kali pertemuan, dari jam 19.30-21.00. 

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA




Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak. 

Lalu bahagia itu apa?

Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah menyita waktunya. Praktis hidupnya adalah kantor dan rumahnya. Lainnya? Bukan tidak ingin, hanya waktunya yang tidak bisa.

09 Juni 2017

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA





Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.

Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).