Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

25 Mei 2019

Ramadan Jauh Dari Kampung Halaman, Tiga Hal Ini Dirindukan

Photo by mentatdgt from Pexels


Berada jauh dari rumah tak urung membuat Rena, adik ipar saya, merindukan banyak hal. Seperti yang dicetuskannya lewat WhatsApp beberapa waktu silam. Mulai dari cemilan seperti keripik (segala macam keripik, hingga beragam masakan rumah yang biasa dinikmatinya kala pulang seperti ayam pedas, rawon, pecel, dan sebagainya. Tidak hanya itu saja ia juga rindu berada rumah, meski setibanya nanti saya yakin dia pasti pilek bin gebres-gebres karena udara di tempat saya tinggal lebih dingin daripada di Kalimantan. Membaca ungkapan itu saya pun tersenyum. Bukan karena lucu, tetapi karena memahami apa yang dirasakannya karena tahu sendiri seperti apa rindu merasakan ramadan di kampung halaman.
Sewaktu kuliah, saya harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri saat buka dan sahur.  Memasak seadanya, sesuai budget yang ada. Kenapa tidak membeli saja? Pertama, kurang cocok dengan selera. Dua, eman-eman uangnya (*aih peliiit nian!).
Eh, eman-emang uangnya? Kenapa? Sederhana, dengan memasak sendiri saya jadi bisa berhemat ketimbang beli. Kala-kala saja beli di luar. Itu pun pilih-pilih benar. Rasanya-kah? Bukan. Tetapi, harga dan banyak nasinya. Warung yang murah dan memberikan nasi yang tumpah ruah meski rasanya tak terlalu juara adalah jujugan saya, ketimbang warung nasi yang enak tapi mahal harganya.
Berdasarkan pengalaman itu saya menuliskan tiga hal yang dirindukan dari ramadan  sewaktu kita jauh di perantauan seperti berikut ini :
1. Makanan Rumah
Tinggal di perantauan berarti harus menyesuaikan dengan makanan setempat yang belum tentu cocok dengan selera kita. Disitulah baru terasa, betapa makanan rumah yang paling sederhana, adalah surga kecil yang kita rindukan. Bahkan jika itu  hanya sambal  kecap yang dulu kita benci, karena terlampau sering disajikan.
Terkadang kita berharap waktu bisa diputar, sehingga kita bisa merasakan ramadan di kampung halaman. Tetapi, harapan hanyalah harapan. Kenyataannya kita tinggal di perantauan. Salah satu cara untuk menuntaskan rindu ala saya waktu itu adalah menduplikasi sendiri masakan dari kampung halaman meskipun rasanya tak se-wah yang dibayangkan. Maklum kepandaian memasak memang jauh jauh dari nilai delapan. Ah, namun tidak mengapa. Dengan begitu kita jadi lebih menghargai segala hal yang kita alami.

24 Mei 2019

MUDIK : ANTARA CERITA GOKIL DAN LIMA TIP MUDIK ASYIK

Photo byOleksandrPidvalnyi from Pexels


Mudik? Keluarga kami memang tidak melakukannya. Kebetulan semua keluarga tinggalnya berdekatan. Nenek dari pihak ibu saya bahkan tinggalnya hanya berjarak sepelemparan batu saja. Jadi tinggal melangkah sampai sudah. Rumah nenek dari pihak Bapak juga tidak jauh. Paling hanya butuh lima menit, bahkan tidak sampai, untuk tiba di rumahnya. Jadi mudik memang bukan tradisi keluarga.

Baru ketika kuliah saya merasakan yang namanya mudik. Rasanya gimana? Repot, Mak! Padahal mudiknya hanya dari Jember ke Banyuwangi saja. Lha kok repot kenapa? Soalnya kebanyakan mudiknya itu dekat-dekat hari raya. Naik apa aja pasti kena harga tuslah. Terbayang mereka-mereka yang rumahnya beda propinsi atau beda pulau. Alamat lebih repot lagi. Dan kemungkinan nggak pulang juga besar kalau kehabisan tiket atau justru tiketnya mahal.

Sudahlah kena tuslah, ternyata masih harus berdiri juga. Jadi sepanjang Jember Banyuwangi, saya berdiri empet-empetan dengan orang lain dengan tas ransel yang segede gaban. Waduuh, pokoknya nggak beda jauh deh penampakan saya sama kura-kura ninja. Bedanya sono kekar, kita melar. Eh, belum melar ding waktu itu. Masih langsing, celana aja masih ukuran 27. Sekarang jangan tanya, ukurannya melambung jauh!

Balik lagi soal empet-empetan tadi, saya selaku kura-kura ninja (tapi mini, sesuai ukuran body) kadang-kadang merasa terjebak di sarang penyamun, Mak, berada di situasi itu. Nengok kanan salah, kiri salah. Maju nggak bisa, mundur apalagi. Stuck di tengah-tengah, diantara harum minyak si nyong-nyong,  sambil mempertahankan keseimbangan diri sementara sopirnya kebut-kebutan kayak ikut balapan NASCAR. Percayalah, goyangnya body para penumpang dalam bis  tuh nggak beda jauh dengan naik kapal ferry dari Ketapang ke Bali pas ombaknya lagi tinggi. Oleng nggak karu-karuan sampai wajah pucat pasi.

Jadi nggak heran, Mak, kalau mendadak terdengar suara "hoek, hoek, hoek" disusul suara "byooor!" kayak air tumpah dari suatu tempat  di dalam di bis itu. Emang itu suara apa? Orang buang air mineral gitu? Ye bukanlah. Itu suara orang muntah. Dan bisa dipastikan kalau satu kena, pasti nular ke lainnya. Apalagi bis ‘kan yah ruangnya tidak terlampau luas. Bau muntahan itu nyamber ke mana-mana, memicu diri untuk ikut berhoek ria, ngeluarin semua isi perut ke dunia.

Yang berusaha bertahan macam saya, nampak menabahkan diri untuk tidak terprovokasi suara “hok a hok e” yang bersahutan (baca : hoak-hoek). Lalu exhale inhale bergantian,  sambil komat-kamit mensugesti diri “Kamu bisa! Kamu bisa!”. Padahal perut sudah bergolak kemana-mana, seperti ombak saat purnama. Untunglah, di saat-saat segenting itu pemandangan kota tercinta terpampang nyata. Semangat saya jadi kembali membara, apalagi ketika wajah terminal nampak di depan mata. Perut yang bergolak tadi akhirnya kalah dengan rasa gembira.

22 Mei 2019

Cara Sederhana Mengatur Uang THR




THR? Kalau ngomongin ini saya suka tertawa. Dulu jaman masih ngantor, saya dan teman-teman selalu menunggu hari itu tiba. Yang biasanya datang jelang libur kantor, yang artinya pula THR diberikan sekian hari jelang lebaran. Buat yang single seperti saya, mungkin tak terlampau jadi masalah. Karena rumah masih numpang orang tua. Jadi kebutuhan lebaran seperti kue dan lain-lain, saya tidak terlampau ikut serta. Paling nyumbang dikit-dikit untuk menggenapinya.

Sementara yang sudah berkeluarga jelas beda. Ada istri yang kirim kode lewat dentingan toples kosong atau anak-anak yang mendadak kompak "menyanyi" meminta dibelikan baju dan sandal baru. Ini yang biasanya dikeluhkan teman-teman kantor saya dulu. Kita balik ngasih kode bos, kodenya mental. Antara kurang jelas kodenya, apa pihak ono yang kurang peka terhadap siraman THR di musim kemarau melanda dompet-dompet anak buahnya, kita juga nggak bisa menerka. Alhasil cuma bisa menghela napas sambil ngelus tembok saja, hahahaha …

Sekarang semenjak freelance memang tidak lagi menerima THR, tapi bolehlah saya bercerita bagaimana cara sederhana mengatur uang THR ala saya. Nggak pakai lama, yuk kita cuuz saja!
Seperti halnya orang-orang lain, saya juga membayangkan bisa membeli baju, sepatu, sandal, atau lain-lain yang serba baru. Sumber dananya darimana? Tentu saja THR yang kita terima. Tetapi, biasanya semua angan-angan itu tidak saya turuti semua. Biasanya begitu THR diterima saya membaginya menjadi pos-pos tertentu seperti di bawah ini :

1. Pos hari raya

Namanya pos hari raya, tentunya digunakan untuk segala keperluannya. Baik beli sandal, sepatu, isi toples di rumah (alias kue), sirup dan sejenis itu. Sebelum bela-beli-belu, saya biasa menyiapkan daftarnya dulu. Maklum, Kakak ... takut kalap. Dengan membawa daftar belanjaan ini, kita jadi lebih disiplin. Nggak kalap melihat baju, sepatu, celana, dan lain-lainnya. Jika semua sudah terpenuhi, segera balik kanan. Langsung menuju kasir dan bayar. Nggak perlu mampir-mampir lagi kemana-mana, biar tidak tergoda untuk ngantongin segala sesuatu yang unyu, yang bikin hatimu merasa pek buk glodag sewaktu melihatnya. Yah misalnya Abang So Ji Sub misalnya (loooh, ini sih bukan barang Maliiiih!).

21 Mei 2019

Ramadan Berkesan itu Terjadi Sehari Silam


Image by Ahmed Sabry from Pixabay 

Kenangan ramadan berkesan? Wah, susah milihnya kalau diminta bercerita. Sebab menurut saya semua ramadan itu berkesan. Tidak ada yang tidak. Selalu ada sisi-sisi menarik yang sulit dilupa. Tetapi, baiklah. Saya akan menceritakan salah satunya, yang terjadi tak kurang dari sehari silam.

Semua bermula di tanggal 15 Mei lalu. Seorang kawan menghubungi saya untuk ikut acara bukbernya. Biasanya saya agak malas kalau diajakin bukber. Tahu sendirilah ya, bukber di luar berarti datang lebih awal, lalu pesan makanan yang bisa jadi datangnya tahun depan (hahaha lebayatun!), tapi cuma gitu doang. Tak ada esensi lainnya.

Namun kali itu berbeda, saya langsung menerimanya karena kawan saya mengajak bukber bareng tukang parkir dan gojek. Wah, lah kok tumben ini! Pikir saya. Itu sebabnya ketika diminta menemaninya saya langsung mengiyakan. Meskipun harus menempuh perjalanan kurang lebih lima puluh menit dari rumah. Wah, cukup jauh ya?

Lha memang rumah saya di mana dan undangannya di mana?
Rumah saya kalau dilihat di peta Kabupaten Banyuwangi termasuk ada di tengah, tepatnya di Kecamatan  Genteng. Sementara undangannya bukbernya di Banyuwangi kota yang berjarak 37 km dari rumah. Itu sebabnya saya harus menempuh perjalanan selama itu untuk sampai. Bahkan bisa lebih karena saya mengendarai motor dengan kecepatan biasa. Bukan kecepatan dewa yang waz wuz ... langsung sampai nggak pakai lama.

Saya berangkat dari rumah setelah sholat ashar, sekitar pukul 15.000. Lalu sampai di tempat janjian (bukan tempat bukbernya) pukul 15.37. Baru kemudian berangkat bersama ke warung soto Surabaya Pak Slamet. Sengaja datang lebih awal untuk memastikan tempatnya. Jadi begitu orang-orang yang diundang datang jam 17.00, sudah siap semua.

Diluar perkiraan, yang datang hanya sepuluh dari dua puluh yang ditargetkan. Itu pun terbagi menjadi dua kloter. Lima datang tepat di waktu berbuka, sedangkan lima lainnya setelah itu karena masih harus melakukan tugasnya menjadi tukang parkir.

Photo by Bob Clark from Pexels

Ada hal menarik yang saya dapati dari acara buka sore itu. Pertama, kebaikan itu tak memandang siapa orangnya atau apa agamanya. Ia datang dari hati dan meluncur begitu saja, tanpa mempedulikan keduanya. Seperti yang dilakukan kawan saya. Ia bukan muslim. Sudah jelas dari kalung salib yang tergantung di lehernya. Akan tetapi, ia tetap melakukan acara seperti ini meskipun tak ada kewajiban baginya. Dan itu dilakukannya sejak beberapa tahun silam.

Sempat tertangkap oleh saya alasan dibaliknya, bahwa ia pernah berada di titik di mana ia tidak punya. Untuk makan saja susah. Tetapi, ketika memberi tanpa berpikir hitung-hitungan justru Tuhan mengembalikan jauh lebih besar daripada yang ia pikirkan.
Berapa kali?
Berulang kali.
Tetapi, yang jelas itulah yang mendorongnya untuk tetap melakukan kebaikan semacam ini. Entah sekedar mengadakan buka bersama atau justru berbagi sembako bagi janda dan orang miskin di sekitarnya.

20 Mei 2019

Tiga Tempat Ciamik Untuk Ngabuburit Asyik

Ngabuburit buat saya bukan jalan-jalan menunggu waktu buka tiba sambil mencari makanan. Maklumlah itu memang bukan kebiasaan saya. Jadi kalaupun ngabuburit, yang saya lakukan adalah jalan-jalan menikmati pemandangan atau situasi di sekitar sambil memotret kiri-kanan.

Nah, dari sekian banyak tempat ada beberapa tempat ngabuburit asyik yang saya rekomendasikan untuk kawan-kawan.
1.       RTH Maron (Ruang Terbuka Hijau)


Meski tidak selengkap di Taman Blambangan, buat saya tempat ini menyenangkan. Tempatnya di pusat kota Genteng, tak jauh dari rumah, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan yang paling saya sukai adalah banyak pohonnya dan rindang. Memberi keteduhan bagi orang-orang yang datang.
Tak jarang, di hari-hari selain ramadan, orang sengaja kemari untuk menggelar tikar dan menikmati makanan bareng rekan-rekan atau keluarga. Meskipun di sekitarnya banyak penjual makanan juga. Tepatnya di sisi dalam RTH, tepat di samping jogging track.


Eih, ada jogging track-nya pula? Ada. Lumayanlah, jalan sekali bisa ngos-ngosan kalau tidak terbiasa. Di tempat ini tidak hanya ini saja fasilitasnya, tetapi juga ada tempat bagi mereka yang gemar olahraga panahan, sepakbola, atau futsal.
Yang bawa anak-anak, arena permainannya kurang memadai. Tetapi, di sana ada orang-orang yang menyewakan mobil-mobilan dengan remot. Jadi kalo misalnya bosan jalan-jalan di seputar RTH sambil nonton ikan, bisa menyewa mobil-mobilan itu.
Jika maghrib datang dan tidak nutut untuk buka puasa di rumah, di tempat ini banyak orang-orang yang menjajakan makan. Mulai dari kelas kaki lima hingga kafe dan restoran. Tinggal pilih dan sesuaikan dengan kantong saja. Jadi tidak nyengir waktu hendak membayarnya.

18 Mei 2019

Menahan Diri Ketika Ramadan, Agar Puasa Tak Sia-Sia



Ramadan adalah bulan yang kerap dirindukan ulah umat muslim sedunia. Di bulan yang istimewa ini kita diberi kesempatan untuk untuk menahan diri baik jasmani serta rohani dari beragam hal yang tak sejalan dengan perintah Allah. Pengendalian diri inilah yang membuat kita mampu bertahan kala berada di jurang kesesatan dan diombang-ambingkan oleh godaan syetan. Dengan demikian kita bisa menjadi pribadi yang bertakwa serta bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Akan tetapi, acap kali menahan diri ketika ramadan lebih sulit daripada berpuasa  dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, meskipun kita paham bahwa berpuasa memiliki banyak keutamaan. Tak heran jika  kemudian kita tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.


Lalu perbuatan seperti apa yang membuat puasa kita sia-sia? Simak keterangan berikut ini :
1. Berdusta
Berbeda dengan jaman dulu, dusta di masa kini tak hanya diucapkan dari mulut ke mulut. Di jaman di mana media sosial menjadi bagian dari keseharian, kita cenderung mengungkapkan apa saja yang kita pikirkan di sana. Bahkan jika itu informasi yang tidak berdasarkan fakta. Jika kemudian informasi itu ternyata tidak benar, biasanya kita terlampau malu untuk mengklarifikasi. Akibatnya kita mendiamkannya dan membiarkan informasi itu berkembang sedemikian rupa.

29 Agustus 2018

Kawan Sakit, Apa yang Harus Kita Lakukan? Perlukah Menasehati Atau Support Saja Yang Kita Lakukan?

sumber gambar : https://www.pexels.com



Saya terkejut mendengar teman saya sakit hipertensi. Saya pikir dia baik-baik saja, aih ternyata setelah beberapa waktu tak jumpa justru saya mendengar ia terkena hipertensi atau orang biasa menyebut darah tinggi.
Sebagai kawan, yang kebetulan memiliki ayah dengan penyakit sama, saya paham apa yang dirasakannya. Termasuk soal penurunan tekanan darah yang tidak signifikan itu. Sejak Ayah terkena hipertensi, saya menyadari bahwa banyak hal hal harus di maintain agar tekanan darahnya tetap stabil.  Menjaga pola makan dan hidup sehat itulah kuncinya.

Bagaimana jika kita sudah menjaga pola makan sampai sirikan (red. menghindari) beragam makanan, tetapi tekanan darah tak kunjung turun? Atau kalau pun turun tidak sedrastis yang diharapkan?
Meski sudah menjaga pola makan memang tidak serta merta menurunkan kadar hipertensinya. Sabar dan tenang saja, itu kuncinya. Jika belum turun-turun juga, tak perlu kemrungsung. Apa ya bahasa Indonesianya? Ah, semacam perasaan yang campur aduk begitulah. Karena hal semacam ini justru mendorong kita untuk khawatir berlebihan dan akhirnya malah jadi bahan pikiran. Jika terus-menerus begini akan jadi beban bagi psikologis kita. Efeknya malah kesehatan yang dipertaruhkan.
Berdasarkan pengalaman Ayah, setiap kali dia merasa takut sewaktu hendak periksa ke dokter, tekanan darah langsung melonjak. Berbeda ketika dia sudah jauh lebih tenang, biasanya hasil periksa akan menunjukkan tekanan darah yang normal.

10 Agustus 2018

Dibalik Jari-Jari Yang Doyan Menebar Hujatan, Ada Kita Yang Gagal Mengendalikan


Hari ini kelima jari bergentayangan di dunia maya. Melongok akun artis-artis dan MUA (make up artist) yang banyak bertebaran di sana. Aih, Bubah Alfian ternyata baru saja menggarap wajah Via. Itu tuh penyanyi dangdut asal Jawa Timur yang terkenal dengan lagu "Sayang"-nya. Melihat foto itu mata kelima jari mengerut, hati kelima jari tak senang. Sepertinya ada yang kurang. Wajah Via Vallen itu kurang tirus ke mana-mana. Tidak heran di foto yang nampak pipi semua. 
Aih, gatal masing-masing jari mulai gatal. Tak pelak muncul komentar "Ya ampun, pipinya itu nggak nahan. Benerin dong, biar tirusan. Udah banyak uang ini lho!"

Bosan menengok instagram, pindah lagi kelima jari ke akun sosial media lainnya, Facebook. Ada seorang perempuan mengunggah foto bekal untuk anak buatannya. Cantik sih, tapi kok isinya mie instan. Terus itu loh, kok ya saben hari telur terus-terusan. Apa tidak ada lauk lainnya? Yang lebih hebat seperti daging panggang atau udang misalnya.
Kelima jari pun gatal kembali. Tak urung muncul ucapan seperti ini dinding akun sosial media :
"Baru bisa bikin  bekal gitu aja, combyongnya. Huuh, yang udah jago bikin masakan aneh-aneh nggak pernah pamer. Dasar emak-emak baru belajar masak!"

Barusan berhenti, di timeline muncul gosip artis nganu yang baru saja bertunangan dengan horang kayah. Weew, calon istrinya konon pemilik sekian banyak usaha. Tapi, kok tampilannya tua? Kayaknya nggak cocok deh sama si artis yang ono.
Tangan ini kumat lagi gatalnya. Cuus, langsung saja nemplokin komentar di bawah link itu yang rasanya masam.
"Ih, tua bingit sih, nggak cocok deh situ sama si ono ....”

Eh, tak berapa lama ada lagi berita kalau artis cantik yang barusan putus sama pacarnya itu sekarang sudah punya yang baru lagi. Sayangnya si cowok baru kok njomplang. Jauh banget dari si mantan. Aih, jari-jari langsung kompak berujar ,”Pacarnya barunya mirip Cak Lontong yes?”

Ups! Udah ah. Ada janji. Gerilya di dunia mayanya harus disudahi. Eits, tapi apa ini? Istri komika satu ini gendut sekali. Woo, ndak bisa didiamkan ini. Kelima jari harus bersatu dan menyuarakan isi hati. Which is ... G-E-N-D-U-T!

Nah, itu ada lagi. Ternyata rumornya, si anu ...

Priiiiit! Stop sampai disini kelima jari, kini giliran hati yang bicara. Biar dia menyuarakan apa yang jadi uneg-unegnya.

Hati dengan sepenuh kegeraman berkata  ,”Owalah jari-jari, kamu itu demen sekali berkonspirasi. Sayangnya konspirasi merusak hati. Mbok yao yang pinter gitu loh. Yang beradab, jangan asal njeplak! Memang kamu itu belum pernah dapat penataran P4 5000 jam. Biar khatam. Jadi esok lagi kalau komentar yang positif, inspiratif, dan penuh kecerdasan.”




Eh, tapi si hati tak lama kemudian terdiam. Ia sadar kelima jari tak bisa begitu saja disalahkan. Bukannya dibalik aksinya yang menyakitkan ada pemiliknya yang telah dikarunia akal? Dengan itu seharusnya ia tahu bagaimana cara memanfaatkan tangan untuk melakukan hal yang hebat. Ini malah kebalikannya. Kalau tidak nyinyir ya menghujat. Kalau tidak menghujat, nyindir. Kalau nggak nyindir, bawaannya meriang. Lalu sakit terus muntah-muntah.

08 Agustus 2018

Abaikan Orang-Orang Yang Demen Body Shaming, Sebaik Apapun Dirimu Mereka Tetap Akan Menemukan Hal Untuk Memperolokmu




"Dua-duanya  (maaf) pendekawati ... ups."
Kalimat itu terlontar ringan di Instagram Rossa ketika mengunggah fotonya bersama dengan Tasya Kamila dalam balutan baju pengantinnya.
Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama? Seseorang mengolok karena bentuk fisikmu tak sesuai standarnya? Pernah? Oh, ya kita sama.

Sebagai perempuan bertubuh semampai (semeter lebih dikit nyampai) dengan berat 50 kg (65 sebenarnya, tetapi 15 kg selebihnya adalah kebahagiaan hakiki), saya acap menerima komentar tidak menyenangkan. Entah disampaikan secara bercanda atau justru betulan. Misalnya pas di jalan ketemua teman, tiba-tiba dia nyeletuk ,"Ampuun, kamu kok tambah lebar?" atau malah "Astaga, gendut betul sih kamu? Makannya dong dijaga!".

Oleh karena itu saya berusaha untuk mengurangi setidaknya beberapa kilo lemak di badan. Upaya yang saya lakukan waktu itu adalah lari. Lumayan, dulu itu saya bisa lari kurang lebih 1 km, meski thimik-thimik (pelan sekali). Aih, dasar apes. Saat getol-getolnya lari pagi seseorang bilang "Kok tetep gendut sih, padahal rajin lari."
Dongkol?
Lha iyalah. Saya tahu badan saya masih gendut. Nggak dibilangin juga saya sadar diri.

Terus apa yang saya lakukan?
Saya sewot luar dalam meski tidak memperlihatkan. Saya jadi merasa kalau usaha saya lari nggak ada manfaatnya. Lha nyatanya saya tetap gendut, nggak berubah juga. Akhirnya saya berhenti lari. Karena merasa hanya dapat capeknya tapi nggak kurus-kurus juga, hahahaha ...
Padahal kalau dipikir-pikir tidak juga. Saya tetap dapat manfaatnya. Saya memang tidak langsing gara-gara lari itu, tetapi saya sehat. Tidak gampang sakit dan merasa kalau mood selalu terjaga.


Jujur saja tak ada satu pun orang yang akan termotivasi untuk menguruskan badan, menjaga makanan, atau malah berolahraga seperti yang disarankan dengan body shaming. Yang ada justru runtuh secara psikologis. Mungkin tidak nampak secara fisik, tetapi di dalam sana perasaan teriris-iris. Sudah itu ditaburi pula dengan kalimat semanis jeruk nipis, hadew ... diri ini jadi kian meringis. Atiit, Kakak.

Lebih jauh body shaming juga bisa berdampak serius. Apa tuh? Eating disorder dan bulimia contohnya. Bahkan kerapuhan menghadapi tekanan sosial bisa membuat mereka nekat mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, apakah mereka menyadarinya? Enggak. Ketika ketika mengungkapkan kesedihan kita justru dianggap baper. Masa gitu aja merana, ih dasar lebay jaya!

Tahun berlalu, saya belajar bahwa body shaming itu bisa menimpa siapa saja. Bahkan jika dia terlihat sempurna. Ketika kau kurus kau akan ditanya “Kurus amat? Jangan-jangan lagi susah ya?”. Ketika kau cantik, langsing, berkulit putih,  bahkan berprestasi seperti Rossa atau Tasya Kamila orang masih saja berkata “Elah, pendeknya.” Saat kau semampai dan berbody aduhai, namun kakimu besar pasti akan ada saja orang yang bilang “Ya ampun, kakimu kok kaya kaki kesebelasan?”. Yang kakinya langsing kaya belalang diolok-olok kaya ranting pohon.

06 Agustus 2018

Pertama Kali Menjadi Pemateri Saya Justru Membawa Pulang Pelajaran Penting Ini


Saya mengiyakan saja ketika dimintai bantuan jadi pemateri workshop menulis yang diadakan oleh teman-teman KKN 13 Untag di base camp RLI (Rumah Literasi Indonesia sepekan silam. Permintaannya adalah lebih banyak praktek ketimbang materi yang disampaikan.
Sepekan sebelum hari H saya mulai mikir, lha kok saya oka-oke saja. Apa yang harus saya sampaikan nanti di depan peserta? Anggaplah yang datang nanti sedikit, sepuluh orang misalnya, saya tak boleh sembarangan. Harus membagikan sesuatu yang bermanfaat ketika pulang. Bukan sekedar ngobos (ngomong ngalor ngidul), nggak ada juntrungan. Tidak lupa juga si materi harus punya relasi dengan praktek yang hendak dilakukan. Tapi, apa ya?

Setelah mencari tahu soal audiens yang hadir nanti akhirnya saya memilih materi bagaimana cara menulis bagi pemula saja. Kalaupun diantara audiens sudah ada yang terbiasa nulis, apa yang saya bagikan nanti bisa digunakan juga saat mereka terkena writer's block. Sampai di sini masalah teratasi. Namun menjelang hari H, tepatnya tiga hari sebelumnya, saya nyengir kuda. Kenapa?  Saya tidak tahu caranya bikin slide, hahahaha.
Untungnya jaman sekarang kita ini dimudahkan. Sudah banyak ilmu yang bertebaran. Jadi tinggal nyari saja pasti ketemu. Begitu pun hari itu. Saya langsung nyolek You Tube untuk mencari tahu cara membuat slide. Karena tidak punya banyak waktu, saya pilih yang simpel-simpel saja. Jadi waktu saya tidak terbuang banyak untuk mempelajarinya.

materi untuk workshop menulis bersama KKN 13 UNTAG

 Pukul 1 dini hari, materi dan persiapan kelar. Saya tinggal tidur dan  kemudian berangkat pagi-pagi ke tempat acara di Gunung Remuk-Ketapang, kurang lebih sekitar pukul 6.00. Tujuannya untuk menghindari tertutupnya jalan utama yang menuju ke arah sana. Maklum di hari yang sama ada gelaran BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) di tengah kota.  Jadi jika kesiangan dan jalan ditutup, saya pasti kebingungan karena tidak terlampau paham jalan alternatif agar bisa sampai di sana tepat waktu.

Setiba di sana ternyata masih banyak waktu. Jadi saya makan dulu bekal yang saya beli sebelum berangkat sembari menanti acara dilangsungkan. Saya memang jarang melewatkan sarapan pagi, karena tanpanya saya bisa lemah dan sulit konsentrasi. Sekitar pukul sembilan pagi, acara di mulai. Saya duduk tenang menanti, hingga Pak Suhalik selesai melakukan bedah buku "Babad Tawangalun".

Lalu bagaimana tugas saya sebagai pemateri? Sukseskah?
Saya tidak tahu sukses atau tidaknya. Karena yang bisa menilai orang lain bukan diri sendiri. Terlepas apapun hasilnya, saya justru pulang dengan membawa pelajaran penting ini :

01 Agustus 2018

Bukan Cinta Pertama Biasa, Keberadaannya Berdampak Pada Hidup Seseorang Selamanya

 
Photo by Josh Willink from Pexels
Cinta pertama? Jika yang dimaksud dengan pria, saya tak punya cerita yang luar biasa. Yang berisi kisah mengharu-biru ala-ala Qais dan Laila. Atau malah menginsipirasi orang untuk menirunya.  Jadi saya tak bisa menceritakannya. Meski demikian bukan berarti saya atau orang lain yang tak memiliki kisah cinta pertama macam itu tak pernah mengalaminya. Justru jauh sebelum itu kita sudah mendapatkannya. Cinta pertama yang jauh lebih berkesan. Cinta pertama dari siapa? Cinta dari Ayah dan Bunda.

Ayah dan Bunda memiliki porsi penting bagi kita. Keberadaannya memegang peranan bagi tumbuh kembang anak secara optimal. Ayah, yang acap disebut cinta pertama bagi anak gadisnya, memberi pengaruh besar bagaimana ia kelak di masa depan. Kedekatan emosional antara anak dan ayah akan membentuk kepercayaan dan citra dirinya. Tangguh dan tidaknya ia kelak, ditentukan sejak awal masa pertumbuhan.

Ketidakhadiran Ayah dalam pengasuhan bahkan berpengaruh besar pada tipe pria yang akan dipilihnya kemudian. Anak-anak yang kurang kasih sayang dan penghargaan cenderung mencari-carinya di luar. Mudah jatuh pada sembarang pria, bahkan yang seusia ayahnya. Tidak jarang mereka terperosok ke dalam hubungan yang salah, bersama pria yang abusive (kasar) misalnya.

Bagi anak laki-lakinya, Ayah adalah pahlawan. Semua perilakunya akan direkam dan ditiru. Dengan Ayah ia belajar bagaimana menjadi pria. Jika Ayah malas-malasan serta kerap berlaku buruk pada perempuan, kecenderungan anak untuk meniru sangat besar. Jadi jika kelak anak berlaku sama, tak perlu merasa heran. Karena ini adalah jejak yang ditinggalkan Ayah di masa silam.
Keberadaan Ayah diperlukan untuk mengajarkan anak bagaimana harusnya  memecahkan masalah, berlaku dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana menjalankan perannya sebagai pria di masyarakat.

31 Juli 2018

ENAM HAL HEBAT YANG KITA DAPAT BILA BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS

Photo by rawpixel.com from Pexels


Sejak nge-blog 2006 silam, saya sudah bergabung dengan komunitas. Saat itu Blogger Family atau yang kerap disingkat Blogfam jadi salah satu komunitas yang terkenal. Saya memang tidak terlampau aktif di sana. Akan tetapi saya sempat dua kali ikut lomba dan lolos pelatihan cerita anak yang diampu oleh Kang Iwok Abqary di sana.
Belakangan ketika era sosial media datang, komunitas blogger semakin berkembang. Mulailah bermuncul nama-nama baru dan disertai pula dengan aktivitas yang seru. Dimana para anggota tidak hanya bisa berbagi tulisan, namun juga info-info lomba, pekerjaan, dan pengetahuan.

Hal yang sama saya lakukan ketika saya mulai belajar menulis cerita akhir tahun 2009 silam. Mulai dari grup UNSA, BAW, IIDN, dan lain-lainnya saya ikut meski akhirnya yang bertahan hanya beberapa saja. Salah satu yang paling berjasa bagi saya adalah komunitas UNSA dan BAW. Bersamanya saya belajar banyak soal kepenulisan. Oleh sebab itu dalam perjalanan saya menjadi penulis ini kedua komunitas ini tak mungkin saya lupakan.

Di dunia nyata saya tergabung sebagai relawan rumah Litertasi Banyuwngi dan Relawan Nusantara. Namun, tidak semua aktif. Hanya Rumah literasi bayuwangi saja yang kerap diikuti, sedang relawan nusantara hanya sebatas ikut nyumbang jika ada kegiatan (itupun tidak besar). Bukan karena tak mau datang, tapi tempat yang berjauhan jadi kendala. Markas Relawan Nusantara yang terdekat di Jember, bukan Banyuwangi tempat saya tinggal.


Lalu apa sih pentingnya ikut komunitas? Kok kayaknya banyak juga tuh yang nyemplung di komunitas tapi nggak dapat apa-apa. Cuma senang-senang saja, nggak ada isinya.

30 Juli 2018

Cintai Diri Sendiri Dengan Bersyukur Dan Berhenti Merasa Kurang, Meski Untuk Mencapainya Butuh Proses Panjang


Sumber gambar : https://pixabay.com



Pernah pada suatu masa saya tidak menyukai diri saya. Setiap bercermin yang terlihat adalah kekurangan, keburukan, dan ketidakmampuan. Itu-itu saja. Kebaikan, kepandaian, atau kelebihan tak terlihat di sana.
Padahal orang lain tak melihatnya demikian. Akan tetapi saya tak mudah diyakinkan. Sewaktu orang lain berpikir saya memiliki kepandaian, saya bersikap kebalikan. Saat orang berkata saya punya banyak kelebihan, saya hanya mengerutkan kening dan berpikir "Masa iya?". Saat orang berujar saya punya kemampuan, saya malah mengecilkan.
Bahkan saya kerap merasa bahwa orang-orang mengatakan itu hanya untuk menyenangkan saya, bukan setulusnya. Bisa jadi dibelakang lain lagi yang dipikirkan.

Semua pikiran itu tak membuat saya bahagia. Seperti belenggu, ia mengurung saya dalam kubangan kenegatifan. Hingga suatu hari saya menonton televisi, penerimaan pada diri adalah penyebab seseorang mengalami masalah semacam ini. Jika tidak dituntaskan maka akan berlarut-larut dan menjadi batu sandungan bagi saya di masa depan. Salah satunya menjadi pangkal ketidakbahagiaan. Situasi ini bisa mendorong seseorang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Hal yang saya lakukan waktu itu adalah memaafkan diri sendiri. Setiap usai shalat, saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa saya memaafkan sikap saya selama ini yang acap meremehkan diri sendiri. Padahal sesungguhnya Allah sudah memberi banyak kelebihan. Saya memaafkan diri saya yang acap terlampau dalam mengkritik diri sendiri, padahal tidak ada seorang pun yang sempurna. Saya memaafkan karena menjadi orang yang tidak berani dalam segala hal, padahal Allah sudah memberi kemampuan. Saya juga sering berucap bahwa diri saya yang sebenarnya adalah sosok yang baik, tangguh, pantang menyerah, selalu optimis, lapang, selalu tersenyum, tidak takut berjuang, dan sebagainya. Kegiatan itu saya lakukan terus-menerus, hingga kemudian saya merasa lapang dan ringan. 

29 Juli 2018

Ketika Tua Datang, Hal Sederhana Saja Yang Saya Inginkan


Sewajarnya orang-orang lainnya di dunia, saya juga memiliki seperti apa gambaran jika saya tua. Saya ingin tinggal tenang di suatut tempat yang dikelilingi pepohonan, kebun bunga, peternakan di sudut lahan, juga sungai mengalir di sisi lainnya. Anak-anak dan cucu bisa bercengkrama di sana dengan gembira jika liburan. Di atas bale-bale dari kayu beratap rumbia untuk bercengkrama dan makan rujak bersama.

Tidak lupa keuangan yang mapan secara finansial. Maka sudah seharusnya saya mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Bekerja keras, menabung, dan teliti menggunakan keuangan adalah hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan mimpi semacam ini. Bagaimana tidak, tanpa itu bagaimana kelak saya bisa mendapati kehidupan yang nyaman?

Dunia berjalan tak seperti yang saya bayangkan. Bahkan di usia saya sekarang, saya tak memiliki riwayat keuangan yang mapan (hahahaha!). Sungguhan. Sepertinya hal-hal yang pernah  saya inginkan itu bakalan jauh dari jangkauan jika menilik faktor tersebut. Bagaimana saya harus menjangkaunya?

Dan kepergian Ibu mengubah arah saya. Dulu sebelum meninggal, Ibu seringkali bilang bahwa jika ia tua tak ingin merepotkan. Ingin meninggal dengan tenang, tanpa membuat anak dan suami kesusahan. Semisal menderita sakit, semoga tidak lama setelahnya ia dipanggil pulang. Ketika saya tanya kenapa, Ibu berujar hanya tak ingin menyusahkan seluruh anggota keluarga.

Saya mendengarkan itu, mengaminkannya. Akan tetapi, tidak mengira jika doanya dikabulkan begitu cepat. Semua orang terkejut ketika Ibu meninggal. Ibu saya terakhir nampak sehat, masih jalan-jalan. Hanya beberapa hari sebelum meninggal beliau diam saja di kamar karena tak enak badan. Dan kepergiannya sungguh tidak menyusahkan, persis seperti yang selalu didoa-doakannya.

Melihat banyaknya orang yang bertakziah, saya jadi bertanya-tanya ,"Bagaimana kelak saya meninggal. Apakah saya akan dikenang sebagai pribadi yang baik atau sebaliknya, orang yang buruk sifat dan menyusahkan. Saya boleh saja bermimpi hidup kaya dan nyaman di usia tua, tetapi jika pada akhirnya hanya kenangan hitam di benak banyak orang apa gunanya?"

27 Juli 2018

Bu Sih Pitajeng, Guru Favorit Karena Cara Ngajarnya Yang Asyik

source image : https://pixabay.com

Biologi selalu menjadi pelajaran favorit saya di bangku SMA. Saya suka membaca segala sesuatu didalamnya, terlepas gurunya pandai menerangkan atau tidak. Toh, masih ada bukunya. Kalau cara guru menerangkan membosankan, tinggal buka paketnya saja. Beres. Lain halnya dengan matematika. Mungkin karena pada dasarnya kurang suka segala sesuatu yang berbau hitungan. Gurunya seenak apapun saya tetap ngos-ngosan mengejar.
 
Kembali ke pelajaran Biologi, Bu Sih Pitajeng ini baru mengajar saya dan kawan-kawan di kelas tiga. Beliau sosok yang gesit, ramah, dan menyenangkan. Cara mengajarnya mengasyikkan. Dan tidak pernah menggunakan kekerasan, untuk membuat kami mendengarkannya. Intonasi suara yang tinggi pun tidak. Belajar Biologi dengan beliau itu seperti mendengarkan cerita. Saking ngalir dan enaknya bahkan pelajaran genetika yang rumit itu pun bisa kami terima dengan baik. Bisa dibilang tidak ada anak yang tidur sampai ngowoh karena bosan  bila beliau menerangkan. Semua "on fire" jika jam mengajar beliau tiba. 


Satu hal yang paling saya ingat di tahun terakhir saya di SMA itu, adalah kami diperbolehkan menghiasi buku catatan. Sebelum-sebelumnya kami tidak pernah menemui guru seperti ini. Guru yang lain standar saja. Datang ke kelas pada waktu jam pelajarannya, lalu memberikan materi sementara kami mencatatnya.


Bu Sih berbeda. Sepertinya beliau paham jika materi yang disajikan di tahun itu memang membosankan, terlebih dengan adanya pelajaran genetika yang membingungkan. Oleh sebab itu beliau mendorong kami untuk belajar dengan fun. Kami dibebaskan menulis materi menggunakan bolpoin warna-warni, bahkan didorong. Diberi ajang berkreasi, kami langsung mengiyakan. Jadi bisa dibayangkan buku kami pun jadi seperti pelangi, penuh warna. Tidak monoton sebagaimana pelajaran lainnya, di mana  buku catatan hanya ditulisi dengan tinta hitam atau biru. Merah, ungu, atau merah muda? Warna-warna itu jelas tak ada kecuali di buku catatan Biologi.

24 Juli 2018

OKKY LUKMAN DAN HAL-HAL YANG MEMBUAT SAYA MENYUKAINYA


Sumber gambar : http://poskotanews.com


Saya mengenal Okky Lukman sejak ia berperan menjadi Umi di acara Lenong Bocah yang tayang di TPI. Saya senang dengan gayanya di sana, nyablak, ramai, seru, dengan dialek khas betawi. Ia benar-benar mampu berakting di depan kamera padahal usianya kala itu masih 9 tahun. Di usia yang sama saya nggak ngapa-ngapai. Hanya sekolah dan main. 

Kalau diingat-ingat masa itu kalau nggak nonton Lenong Bocah rasanya ada yang kurang. Makanya setiap Lenong Bocah tampil, nggak pernah ketinggalan. Terlebih di masa itu televisi yang juga masih jarang. Hanya beberapa saja. Beranjak dewasa, karier Okky Lukman terus berkembang. Gadis yang terkenal lewat acara Lenong Bocah itu mulai merambah dunia sinetron dengan menjajal akting di beberapa judul macam Norak Tapi Beken, Montir-Montir Cantik, dan beberapa lainnya. Ia juga kerap muncul di berbagai acara Variety Show. Tidak puas dengan itu, Okky menjajal dunia host juga. Dangdut Mania, Mikrofon Pelunas Hutang, Idola Cilik, dan lainnya adalah contoh acara yang ia pandu sebagai pembawa acara.

Lalu apa sih istimewanya Okky sampai-sampai saya suka padanya? Padahal  jika ditilik secara fisik, Okky Lukman tak sebanding dengan Luna Maya, Raline Shah, atau Sandra Dewi misalnya?