Postingan

Menampilkan postingan dengan label rupa-rupa

Mandiri Banyuwangi Half Marathon 2019, Gelaran Olahraga Berkonsep Sport Tourism

Gambar
Start peserta di Taman Blambangan. Memiliki kontur yang unik, dari dataran rendah hingga dataran tinggi tak urung menjadikan Banyuwangi surga kecil di ujung timur pulau Jawa. Kita bisa menemukan beragam destinasi wisata yang menawan dari pantai hingga ke pegunungan, dari sawah hingga perkebunan. Tak heran, sekali jalan begitu banyak area yang bisa dijadikan tempat melarikan diri dari kepenatan. Memiliki aset sedemikian hebat, Pemkab Banyuwangi tak tinggal diam. Wisata alam dan budayanya dipasarkan sedemikian rupa sehingga orang mau berdatangan untuk bisa merasakan secara langsung bagaimana asyiknya bertualang di sana senyampang menikmati pengalaman mencicip wisata budaya lewat beragam festival. Untuk lebih memacu sektor pariwisita, Banyuwangi kemudian mengusung agenda olahraga yang berkonsep sport tourism . Konsep ini dipilih karena bisa memperkenalkan destinasi wisata di wilayah Banyuwangi secara efektif. Salah satunya adalah Mandiri Banyuwangi Half Marathon 2019 yang diadakan t

Sekelumit Kisah Dari Kelas Inspirasi 6 Di Kaliglagah

Gambar
  Perjalanan Menuju MI Al Khairat, Kaliglagah Saya sedang tak enak badan ketika berangkat ke Jember, Jumat (5 Oktober 2018), pukul 14.51. Hidung masih mampet, batuk masih tersisa, dan meriang masih tak mau lepas dari badan saya meski   sudah mengalami hal ini sepekan sebelumnya. Saya berbaik sangka saja, insyaallah ketika sampai di tempat hal-hal tersebut tak jadi kendala. Satu setengah jam perjalanan, saya sampai di Jember. Yova, relawan fasilitator yang menjemput   saya, sudah standby di samping masjid yang tepat di sisi kiri stasiun Jember. Saya langsung mengenalinya karena baju batik bermotif burung merak yang dipakainya. Kok tahu? Iya, sebelumnya Yova memang menyebutkan pakaian yang dia kenakan via WhatsApp . Biar saya mudah mencari dia.   Dari stasiun, Yova mengajak saya ke rumah relawan lain, Riza Rastri. Di jalan Yova sempat bilang, kemungkinan besar saya mengenal Riza. Saya sempat mengerutkan kening, tapi begitu ketemu saya langsung paham. Saya sudah ketemu

TAK TERLUPAKAN : NEKAT NYEMPIL DI POJOKAN HINGGA DUDUK DI KURSI UNDANGAN DEMI GREBEG SUROAN

Gambar
            Hari sedang panas-panasnya ketika saya berangkat ke Pekulo dalam rangka menonton grebeg suro, Senin (10/9/2016). Itu pun masih ada drama ketinggal ponsel pula. Padahal waktu itu sudah jauh dari rumah dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Beruntung acara ternyata belum dimulai, dari jadwal pukul 12.00 ternyata mundur sekitar sejaman. Syukurlah pikir saya.             Sampai ternyata tempat acara sudah dipenuhi orang. Sudah susah mencari tempat motret yang menyenangkan. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah di masuk ke dalam, di sudut kanan, tepat di samping pintu masuk. Di tempat itu saya melihat ada beberapa orang sudah bersiap dengan senjata laras panjang, bukan buat menembak, tapi buat motret. Iya, kamera maksudnya, yang lengkap dengan lensa telenya pula. Saya memutuskan untuk nyelip masuk, sebelum Wakil Bupati tiba dan acara dimulai. Lantas bergabung orang-orang dari media di sana. Peduli amat, meski saya bukan bagian dari mereka, yang penting bis

DRUMBAND LANSIA DARI LALANGAN, TAMPIL ATRAKTIF DI ACARA SUROAN

Gambar
Hari sudah sore waktu terdengar suara drumband dari luar tempat pagelaran suroan dihelat. Saya mengernyitkan kening keheranan. Drumband mana lagi yang hadir sekarang? Bukannya kirab suroan di desa Temuguruh baru saja kelar? Kok masih ada drumband lagi di luar. Karena tempatnya terhalang oleh tembok-tembok tinggi, maka saya tidak bisa melihat drumband siapa itu. Begitu muncul saya melihat sederet emak-emak dengan   make up lengkap, menggerak-gerakkan tangan diikuti sederet barisan penabuh alat musik seperti snare drum, bass, dan lainnya. Lhadalah drumband itu ternyata masuk ke PUSKUD, tempat digelarnya acara suroan di desa Temuguruh, Sempu. Saya langsung tersenyum melihat atraksi para pemain drumband yang rata-rata usianya sudah lansia. Gitapati dan mayoretnya tak kalah gaya. Wuuh, tak mau kalah dengan gitapati atau mayoret dari SMA. Ada yang memakai baju terusan, ada pula yang berkebaya lengkap dengan jariknya. Yang tidak kalah aksi itu alas kakinya. Wahahaha, emak-emak gitapati

Stop Upload Foto Korban Pembunuhan Atau Kecelakaan, Itu Menyalahi Etika Dan Kemanusiaan

Gambar
  sumber gambar : https://pixabay.com Saya selalu melewati jika ada orang yang share gambar atau video kekerasan, korban pembunuhan, atau kecelakaan. Saya tidak jijik atau lemah hati, hanya tidak tega melihatnya. Untuk mengantisipasi hal yang sama, biasanya saya cukup unfollow atau hide postingannya di akun media sosial, daripada saya sebal jika ia mengunggah hal yang sama kemudian hari. Terlebih bagi mereka yang gemar membagikan hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi, tindakan ini ternyata terkadang tidak cukup. Yang di media sosial sudah aman, di aplikasi percakapan malah terbuka lebar. Seperti beberapa waktu silam. Seorang kawan mengisahkan, sewaktu ramai berita pengeboman di Surabaya, seseorang dengan entengnya mengunggah gambar pelaku tanpa sensor. Dalam kondisi utuh saja rasanya tidak nyaman, apalagi jika tidak utuh lagi. Sontak semua kawannya mengingatkan. Tidak hanya dianggap norak, berbagi gambar semacam ini juga menunjukkan kurangnya etika si pengunggah.

Selalu Ada Cara Mengatasi Kesulitan, Asal Kita Tak Tinggal Diam

Gambar
sumber gambar : Photo by Kaboompics .com from Pexels Saya tercenung di depan komputer. Masalah command prompt yang beberapa waktu lalu terselesaikan kini muncul lagi. Meski tanda (x) sudah di klik comman prompt tetap muncul lagi dan lagi. Upaya menggunakan aplikasi RKill untuk membenahi masalah tersebut juga gagal. Si command prompt tetap bandel tidak mau pergi. Di saat yang sama setiap kali membuka google chrome, selalu muncul Nineteducer.info. Nineteducer.info adalah pop-up ads yang selalu muncul bila kita membuka browser. Secara konstan kita akan diarahkan ke situs Nineteducer.info meski sudah menolaknya dengan cara klik tanda (x). Berulangkali, hal samalah yang terjadi. Wah, saya garuk-garuk kepala karena ini. Masalahnya saya tidak punya teman yang bisa dimintai tolong untuk mengatasi hal ini. Jadi apa yang harus saya lakukan? Menanti adik saya pulang dan minta dia mengatasi problem tersebut atau mencari jalan keluar sendiri? Saya pilih opsi kedua karen

KETIKA AFIN YULIA MENJADI MARKONAH A.K.A MARISA

Gambar
Februari silam ... "Fin, kamu besok ikut main Oplosan (red. nama talkshow di sebuah te levisi lokal, Banyuwangi TV) ya," kata Mas Faisal, waktu ketemu saya di Rumah Baca Sahabat Kecil. Jreeng! Ha, saya kok disuruh berakting. Mana bisa? Sekalinya saya nampil di depan orang banyak (sok) nge-drama itu ya bersama Maliki dan Widhi di acara ISL (inspirasi Sekolah Literasi) 2017 Desember silam. Selain itu mana pernah. Tapi, nggak apa-apalah ini acaranya kan tujuannya untuk pendidikan. Kalaupun nanti gagal, paling kedepannya tidak dimainkan. Pikir saya sambil mikir adegan yang mungkin saya mainkan. Yah, paling figuran. Pikir saya tenang. "Kamu main jadi TKI yang baru pulang ke Indonesia ," kata Mas Faisal sambil menjelaskan seperti apa saya harus tampil nanti yakni kudu bling-bling, cetar, dan gaya. Mbokneee! Secara saya ini tampilan sehari-hari 'kan tomboy. Baju seadanya, sandal jepit, jilbab, dan tanpa bedak pula. Pernik-pernik yang "cewe

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)

Gambar
source image : http://pixabay.com/ Dikira Hamil             Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.             Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”             Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”             Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.             Lain hari, saat melihat-lihat

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ

Gambar
              Aplikasi workshop menulis Room to Read Phase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya...                         Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanya   beberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

Gambar
    Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG :  @upirocks )             Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.             Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stu

MAAF, SAYA BLOGGER YANG TIDAK ADIL

Gambar
Seperti halnya orang lain saya senang jika ada yang mengunjungi blog saya. Tetapi, sebaliknya saya jarang sekali berkunjung ke rumah blogger lainnya. Situasi saya memang tidak lega. Saya tidak bisa komen sebebasnya. Saya baru bisa koment kalau sudah online di warnet. Masa sih nggak bisa koment via ponsel? Pernah nyoba, berat dan susah. Setiap kali mengisi capcha (entahlah saya sebenarnya tidak pernah pasang, tapi sudah ada begitu saja di blog), selalu fail. Jadi komen via ponsel tak saya lakukan. Online via warnet juga terbatas waktunya. Selama dua jam biasanya sudah disesaki agenda yang panjang. Posting ini di blog, browsing artikel pendukung cerita, cari video ini, kirim naskah...alhasil komen di blog sendiri saja kadang nyempet-nyempetin. Syukur nggak kelewat, kalau kelewat ya sudahlah. Saya terkadang merasa tak enak sendiri, pada mereka yang sudah blogwalking. Sudah didolani kok ya nggak mau bales dolan balik. But, thats true. 

KADALUWARSA

Gambar
            Sudah jamak bagi saya menerima pertanyaan “Kapan nyusul, “Kapan nikah?”, “Mana calonnya?” karena orang melihat kesendirian saya. Saya jarang mempermasalahkan atau memasukkan ke hati, apalagi sampai mendendam pada si penanya. Tapi, bukan berarti saya tak pernah marah. Pernah. Ketika itu kesendirian saya   dijadikan bahan olokan oleh seorang rekan kerja. Ia mengatakan saya kadaluwarsa, tak ubahnya susu basi yang teronggok di pojok gudang tempat saya bekerja (sekarang sudah ex). Nadanya yang sinis sangat menyakiti perasaan.             Jika menuruti emosi maka saya akan melempar printer LQ 2170 didepan saya sekaligus mejanya. Sudah terbayang di mata saya betapa menyenangkannya melihat orang itu tersungkur sambil mengaduh-aduh kesakitan. Itu akan sangat memuaskan bukan? Tetapi kebalikan dari hati, saya   justru tidak melakukan apapun. Saya biarkan orang itu dan kata-katanya berlalu, tak mengijinkan kata-kata buruknya menyentuh hati saya. Seujung pun.             Sederh

MEMELIHARA IRI TAK UBAHNYA MEMELIHARA SAKIT GIGI (SEBUAH CATATAN BLOGGER YANG PERNAH DILAMURI IRI)

Gambar
image source https://pixabay.com 23 Agustus 2015 rupanya saya pernah menuliskan soal ini di dalam catatan saya, ketika hati dilamuri iri melihat prestasi blogger tetangga. Apakah Anda tengah mengalaminya juga? Siapa tahu ini bisa jadi bahan renungan bersama. Agustusan nggak ikut lomba apa-apa tapi dapat door prize itu ya saya. Nggak nanggung-nanggung, sekalinya dapat door prize rasanya juara. Nyut-nyutan sampai susah tidur malam. Apaan tuh? Sakit gigi. Fyuuh, sakit yang satu ini bikin apapun jadi terasa salah. Berdiri salah, miring salah, tidur salah, duduk salah, lapar mau makan ya salah, minum kelewat dingin salah. Wis lah! Pokoknya serba salah. Apalagi begitu melihat timeline seliweran berita-berita bahagia. Blogger anu menang lomba, hadiahnya tujuh juta. Blogger lain dapat pemberitahuan kalau duit dari adsense sudah bisa dicairkan. Blogger yang ono lagi-lagi dapat job review. Belum lagi yang cerita kalau page rank-nya ramping, pengunjungnya sejagad raya, dan lain s

Koleksi Buku dan Secarik Kisah Dibalik Itu

Gambar
            Jika dihitung-hitung buku yang saya kumpulkan sudah mencapai menembus angka dua ratus lebih sekarang. Dari mulai cergam sampai buku agama, dari buku motivasi sampai novel sastra. Ada yang beli, ada juga yang hasil menang lomba. Memang masih   tergolong sedikit bila dibanding kolektor lain, tetapi di balik itu ada kisah menarik mewarnainya.               Seperti kisah buku berjudul “Sepuluh Tjerita Anak-Anak” ini. Buku tersebut adalah salah satu buku paling tua yang saya miliki. Terbit tahun 69-an dan masih mengunakan ejaan lama. Saya menemukannya di warung Buyut semasa duduk di bangkus SD. Buku itu tergeletak mengenaskan, kertasnya sudah kecoklatan, sampulnya robek, dan siap dijadikan bungkus bahan belanjaan. Diam-diam saya menyelamatkannya dan menyimpannya di rumah.     

POKEMON GO MERAMBAH PEDESAAN BANYUWANGI

Gambar
            Pokemon Go belum rilis secara resmi di Indonesia. Berdasarkan update terbaru fanpage resminya tanggal 16 Juli silam, Pokemon Go baru luncur di 26 negara setelah sebelumnya hadir di lima negara yaitu   Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Jerman. Dilansir dari Reuters, John Hanke selaku CEO Niantic, menyatakan Pokemon Go di Asia akan diluncurkan di   dua negara yaitu Jepang dan Korea Selatan. Sementara di China masih belum mendapat kepastian. Namun demikian, game augmented reality ini sudah digemari di Indonesia.             Tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya saja, kini Pokemon Go sudah merambah kemana-mana. Batam, Bali, Pekalongan, juga Malang dilaporkan sudah terkena demam game ini. Bahkan di Banyuwangi Pokemon Go mulai merambah wilayah pedesaan.             Rendi, pemuda asal Blokagung (kecamatan Tegalsari) ini menyatakan ia mulai memainkan Pokemon Go sejak malam takbiran. Sengaja memilih game ini kar

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!

Gambar
   Sepertinya tak ada yang istimewa dengan keripik satu ini. Bungkusnya mungkin boleh juga. Tetapi tampilan kripiknya tidak menarik mata. Warnanya terlampau coklat, membuat calon penikmat berpikir sedikitnya dua kali untuk mencicipinya. Tetapi, laiknya mencari calon pasangan, tampilan luar ternyata tak bisa dijadikan tolak ukur. Bisa jadi yang tampilannya menarik, justru tak asyik jadi pasangan. Sebaliknya yang biasa saja dan terkesan membosankan malah mengesankan. Nah, part terakhir itulah yang tepat untuk menggambarkan keripik ayam La Forest.    Rasanya ternyata tidak mengecewakan. Begitu satu dimakan rasanya pecah di mulut, kawan! Rasanya rempahnya yang kuat, dipadu pedasnya cabai membuat kita terhenyak. Fuuh, panas! Tapi bikin nagih. Itu yang saya pikirkan waktu memakannya. Tak heran meski bolak-balik harus ber-huh-hah kepedasan, nyatanya saya tak berhenti menikmati keripik itu.

LAUNDRY KI LOAN : SAAT CINCIN LAMARAN NYANGKUT DI JARI LING LING

Gambar
              Omong-omong soal sitkom, setelah Bajaj Bajuri dan Preman Pensiun saya memang belum punya jagoan lagi. Bajaj Bajuri dengan Bajuri dan istrinya—Oneng yang fenomenal itu,   kerap membuat saya terpingkal-pingkal. Preman Pensiun, meski yang diangkat adalah kisah para preman tetapi jauh dari kesan menyeramkan, bahkan bisa dibilang kocak maksimal. Hadirnya Kang Mus, Kang Komar, dan kawan-kawan jelas membuat sore hari saya jadi menyenangkan             Beberapa waktu lalu seorang teman kemudian merekomendasikan Laundry Ki Loan yang tayang di TransTV pukul 18.30. Katanya itu cukup lucu. Sayangnya jam segitu bukan jam nonton saya. Setelah jam lima Babe saya (baca : Bapak euy) adalah penguasa teve sampai pukul sembilan malam. Maka yang saya lakukan pada jam-jam itu adalah membaca, nongkrongkin laptop, atau nempelin kepala di bantal dan liuran. See...saya sibuk sekali bukan? *Melet.             Namun   akhirnya saya bisa nonton juga berkat teman yang berbaik hati

IIK, DAPAT LIEBSTER AWARD!

Gambar
 Liebster award. Memang tidak sekelas Tony, Emmy, atau Oscar...tapi karena award ini saya harus semedi. Demi memberikan jawaban paling nggak masuk akal. Buat yang udah baik hati ngasih ini yaitu Jeng Agia di http://www.agiasaziya.com   saya trenyuh. Saya sampai berdoa semoga besok gak dapet lagi hihihi... Mari heningkan cipta. Biar selamet sebelum dan sesudah membaca rentetan mitraliur di bawah ini : 1.       Kalo jadi tokoh antagonis di film, lo mau jadi siapa? Berikan alasannya. Aro (sumber Twilight Saga_Breaking Down Part 2)

DAMN!

Gambar
Bosan. Saban hari itu yang terdengar. Seputar ukuran dada, paha dan pinggang. Plus tips-tips khusus membuat perempuan jatuh bangun disimpul rayuan maut. Bosan. Apa nggak ada pembicaraan yang cerdas menyegarkan. Seputar gadget terbaru kek. Atau apalah…asal jangan-maaf-ukuran dada, paha, dan pinggang. Hei, pria! Yang kau bicarakan sampai berbusa itu kaum ibumu juga. Yang harusnya kau hormati dan kau jaga. Bukannya diraba-raba. Inget nggak anakmu perempuanmu itu dua. Apa pernah terpikir olehmu bagaimana hancurnya rasamu jika ada pria meraba mereka dengan segala ketaksenonohannya? Sepi. Pembicaraan sunyi. Si dia meraih ponsel di sakunya, lalu memijit nomer telefon seseorang yang dikenalnya. “ Hallo, sayaaaang…Apa kabar? Udah makan siang?” Si dia tertawa lebar. Membuat saya geregetan ingin melempar stapler besar. “Iya, dimana? Jimbaran? Delta Maron? Bu Maksum? Atau di mana? Terserah deh…” suaranya lembut menggoda. Bikin eneg saya. “Okeee…” Percakapan te

SEPULUH HARI TER-WAW!

Gambar
Praktis udah empat lima hari tiba di rumah kembali setelah training selama sepuluh hari di BIN Surabaya.  Berbeda dengan Surabaya yang panasnya ampun dije ituh, Banyuwangi saban hari diguyur hujan. Nggak ada ceritanya pulang kantor nggak pake basah. Hari Rabu kemarin beberapa ruas jalan malah kebanjiran saking derasnya hujan, sampai beberapa motor jadi macet dijalanan. Cool bukan? Di kantor sih dari Senin belum ngapa-ngapain. Senin acaranya bersih-bersih berjamaah. Mule nyapu, ngepel, bersih-bersih meja, bersih-bersih WC dan dapur (di kantor BIN Banyuwangi dapurnya guede, bo! Sumpe deh...bisa buat guling-gulingan looh). Hari kedua, listrik mati dengan suksesnya selepas jam sepuluhan.  Sampai jam empat lewat nggak hidup-hidup. Gila banget deh! Alhasil kita cengo jaya, nggak ngapa-ngapain. Mati gayalah pokoknya. Udah gitu pake hujan pula klop dah. Sementara kita nongkrong, anak-anak gudang pada main futsal di dalam gudang. Abis belum ada kegiatan apa-apa, daripada bengong