Postingan

Menampilkan postingan dengan label story

MENJOLOK WANITA DENGAN "A" PLUS

Gambar
1.044.570 0 0 0 0
“Mau nunggu apa kamu itu? Mau sampai karatan?” celetuk seorang teman Lainnya menyahut dengan tenang ,”Kau ini pria atau bukan?”
Damn! Mereka meragukan kejantananku kurasa. Tapi aku hanya tersenyum seperti biasa. Tak perlu menjawab. Untuk apa? Jawaban hanya akan membawa mereka menggiringku menjawab pertanyaan lainnya. Dan aku malas menjawabnya.
Sebenarnya jauh dalam hati aku juga iri. Dengan kebahagiaan yang mereka miliki Anak, isteri, rumah…hmm, nyaman kurasa memilikinya. Terbayang betapa nikmat kala penat meruyak istri menyajikan secangkir kopi hangat. Ditingkahi celoteh khas kanak-kanak yang bening murni tanpa beban. Dinaungi rumah mungil berhalaman luas dengan rumput hijau menghampar
Tapi siapa? Menemukan seseorang yang menerimaku seperti apa adanya. Menerima masa laluku dan segala konsekwensinya. Tak semudah membalik telapak tangan
“Menginginkan perempuan dengan A (akhlak) yang baik juga perlu usaha, Buddy,” kata seorang kawan lama.  “Menginginkan peremp…

MENGINTIP BERANDA FACEBOOK-MU

Sebuah bayangan berhenti di sudut. Diam memperhatikan perempuan yang kepalanya terkulai di depan laptop.
Setengah berbisik ia berkata,
"Mengintip berandamu facebook-mu, selalu kubaca kerinduanmu di tiap lekat katamu. Untukku. Selalu.
Terharu. Tapi tak bisa menjangkaumu.
Hanya kurasa aku akan menjagamu dari jauh. Dan bukan memerangkapmu untuk bersetia padaku. Aku lepaskan kau dengan segenap hatiku jika memang ada seorang yang bisa menjagamu.
Bukan, bukan karena tak cinta kamu. Justru kukatakan itu karena aku amat mencintaimu. Aku tak ingin kau sendiri menyusur lingkar jalan hidup ini.Aku tahu kamu teramat kuat. Amat sangat kuat. Setiap lekuk jalan sanggup kau lewati.
Tapi bagaimanapun juga berdua itu lebih baik ketimbang sendirian memikul beban dipundak, tak berkawan.
Menikahlah saja. Sungguh aku tak apa. Sudah cukup kurasa pengabdian dan cintamu selama kita bersama. Kini carilah bahagiamu sendiri. Jangan terpaku pada bayangku.
Aku tak ada lagi disisimu.
Aku kini berada disisi Tuhanmu…

KEPITING VS KALAJENGKING

Jam 23.00. Aku dan Kee masih belum bisa menutup mata, saling diam tanpa satupun yang mulai pembicaraan. Blah! Seharusnya bukan begini ceritanya, batinku sambil mengingat kembali kisah-kisah romantis yang pernah kubaca…. Lalu, setelah perjalanan cinta yang berliku akhirnya, Kepiting Vs Kalajengking pun bersatu. Mereka disatukan dalam satu pernikahan yang indah, penuh bunga dan tawa bahagia. Ketika malam tiba, sang pengantin kembali ke peraduannya, saling pandang penuh cinta dan kemesraan yang tak bisa kau bayangkan sebelumnya. “ Oh, kanda…aku sangat bahagia bisa bersatu denganmu,” ucap Kepiting sambil menggelendot manja. “ Demikian juga aku, Dinda. Setelah hari ini tanpamu duniaku akan hampa,” “ Oooh, Kanda…” “ Oooh, Dinda…” Sang mempelai berpelukan sedemikian eratnya. Saat mata mereka beradu, mereka tahu inilah saatnya untuk memadukan cinta tulus suci mereka. Lalu tangan pun tergenggam kian era, sementara wajah mereka kian dekat,…

CATATAN SEORANG RELAWAN

Gambar
Setahun lalu… Melihat berita pemboman Israel di Gaza lewat televisi itu hatiku tercabik. Keprihatinan yang dalam mendorongku untuk mendaftarkan diri menjadi relawan medis disana. Istri, mertua dan orang tuaku melarang. Bukan apa-apa, tapi itu daerah perang. Jika nyawa melayang siapa yang akan menanggung. Tapi tekad sudah bulat. Mereka memerlukan bantuan. Dan aku punya kemampuan. Selaku dokter spesialis orthopedi kurasa keahlianku dibutuhkan. Hari-hari sebelum keberangkatan adalah hari terberat untukku. Istriku menangisiku. Anak-anak tak mau lepas dari pelukanku. Mertua dan orang tuaku turut pula menghalangi langkahku. Kenapa aku harus kesana sementara menurut mereka di Indonesia masih banyak orang yang membutuhkan bantuan? Tanya mereka. Biarlah badan resmi pemerintah saja yang melakukan, bukan kamu yang tak tahu apa-apa soal menolong orang di medan perang. Benar apa yang mereka katakan. Jangankan di Palestina, disini saja masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Tapi jika dipik…

ANAK SAYA YANG PEREMPUAN

Anak saya yang perempuan, umurnya sudah tiga puluh sekarang. Betah betul melajang, bikin hati saya empot-empotan. Mikir siang malam, apa jadinya kalau ia terus menerus sendirian. Apa dia ndak ngerti kalau kawin punya anak lewat tiga puluh itu beresiko tinggi? Bukan hanya itu, kalau terlalu tua saat punya anak itu ndak enak. Bayangkan disaat anak-anak masih memerlukan biaya besar, kita sudah loyo. Tak bertenaga untuk mencari uang. Repot kan?

Tapi dianya ringan. Tiap kali saya menyinggung perkara itu jawabannya enteng saja. Nanti juga ketemu.
Kapan?
Entahlah.
Ibu kan keburu tua. Kalau mati gimana?
Eh dia malah berkata ,” Lha kalau saya dulu yang mati?”
Skak mat! Saya ndak bisa omong. Hanya menghela nafas panjang dan membiarkannya melenggang.
Tulilut! Tulilut!
Itu hape anak perempuan saya. Nampaknya ia tak berkenan. Sambil mendecak malas ia biarkan sms itu berlalu tanpa balasan.
“ Dari siapa kak?” saya berharap yang sms itu-pria.
“ Orang kantor. Males deh. Lagi cuti juga ada aja yang nelfon kemari…

SEMPURNA

Masih berpikir tentang sempurna ketika melihatnya. Tinggi cantik putih, mempesona. Rambutnya coklat pirang, high heels-nya nggak ketulungan. Tinggi, runcing, langsing. Selangsing kaki belalangnya yang terpampang hingga di pertengahan paha, selebihnya menghilang di balik rok ber-rimpel warna baby pink. Naik ke atas sedikit sampai ke pinggang rampingnya. Melihat ukurannya mana mungkin 28, pasti 27 atau 26 ya? Dan wajah itu betapa putihnya, mulus tanpa noda. Mungkin hasil karya salon-salon terkemuka. Bukan yang murahan, mana mungkin perempuan se-elite dia pergi ke salon macam itu. Mungkin saja dokter spesialis kulit seperti bosku-yang katanya harus mengeluarkan uang beratus-ratus ribu maybe moore untuk kulit sehat sempurna, seperti Apel New Zealand atau sejenisnya, yang merah merona. Menggoda, minta digigit saja. Ya Tuhan, aku kok jadi iri ya. Ingin rasanya memiliki apa yang ia punya. Ia sempurna seperti gambaran wanita-wanita dalam iklan. Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin l…

SIAP(A SAJA)!

Minggu pagi, ngerem aja di kamar sendiri. Sibuk buka-buka ebook hasil download kemarin. Secangkir besar susu coklat panas jadi teman. Baunya harumnya bikin perut jumpalitan. Lalu srupuuut! Hm, masih panas. Meluncur ke dalam perut yang keroncongan bersamaan dengan suara assalamualaikum di pintu depan. Kuseret sandal kelinci kesana dan bertanya-tanya-Siapakah dia gerangan? Oh ternyata Mama, adik ibu yang nomer dua. “ Ada apa, Ma?” “ Ibumu mana?” “ Di belakang, bercanda sama lele-lele di kolam.” “ Lha kamu kok masih awut-awutan. Masih belekan gitu. Apa nggak ada acara keluar ?” “ Enggak, Ma. Tanggung bulan gini dompet mulai kosong glondangan. Males jadinya keluar.” “ Apa kalau keluar itu harus butuh uang? Enggak dong, jalan-jalan sama pacar meski dompet kosongan tapi membahagiakan lho.” “ Heheheh, masa sih? Masalahnya itu dia yang nggak ada, Ma.” “ Cari dong, masa pacaran sama buku aja. Kamu tahu simple kok syarat mendapatkan pasangan itu.” “ Apa, Ma?” tanyaku antusias. “ Siap.” “ Siap?…

BUKAN SUAMI SESEORANG-DAMN VALENTINE!! part 1

Gambar
KEA Dua hari yang lalu…. Hari berhujan ketika aku datang ke Pengadilan Agama. Kulihat di depan ruang sidang Lea datang diantar oleh ayah dan adiknya, mengenakan baju hitam berenda kesayangannya. Kerudung hitam berenda ia sampirkan, sementara matanya ditutupi kacamata hitam lebar. Sekilas kami berpandangan, bibirnya membuka seolah hendak berkata tetapi aku justru memalingkan pandang kearah lantai warna terakota di bawah sepatuku. Sejurus kemudian kami memasuki ruang sidang. Dengan segala bla-bla-bla dan kebosanan aku berharap sidang cepat diakhirkan. Lalu detik-detik menentukan pun datang. Ketukan palu Hakim terdengar, satu tanda bahwa aku dan Lea telah syah berpisah di tengah jalan, satu hal yang tak pernah kuimpikan sejak awal pernikahan. Semua berawal di bulan keenam pernikahan kami sewaktu selentingan tengan perselingkuhannya mula kudengar. Rasa marah yang menggelegak akibat berita itu benar-benar menyiksa perasaan. Tetapi logika sehatku masih berjalan. Aku harus punya…

TIGA HARI MENJELANG RAMADHAN

Kepada Yth. Ibu Negara, Assalamu’alaikum, Ibu. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu. Entah kenapa malam ini saya ingin bercerita tentang semua keresahan saya kepada Ibu tercinta. Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa tidur nyenyak, Bu. Diganggu kegelisahan tiap kali menatap penanggalan. Ya, tiga hari lagi ramadhan tiba dan saya tak punya uang. Jangankan untuk belanja selamatan menjelang ramadhan, Bu, untuk makan sehari-hari saja saya kebingungan. Mau hutang ke warung Yu Kismi saya tak berani, sebab masih ada hutang lalu yang belum saya lunasi. Bahkan si kecil demam pun saya tak bisa membelikannya obat. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa sambil mengompresnya dengan air dingin. “ Pergilah ke Puskesmas, Yu. Gunakan Jamkesmas,” saran Bu Rus, pengurus Posyandu RT kami. Tapi bagaimana caranya? Saya kan tidak punya. Entah kenapa kok justru orang-orang yang lumayan berada seperti Mbak Sri yang justru bisa menggunakannya. Bukank…

MAN OF MY DREAM

Selembar mimpi tercetak dalam rangkaian gambar. Tentang keinginan seorang perempuan akan pria pujaan. Tak terlalu tampan, seorang pecinta alam, tak canggung berpelukan dengan kesederhanaan, bahkan orang-orang biasa yang ia temui di jalan. Adakah dia dalam nyata? Lalu bersama-sama bergabung membentuk satu kesatuan, di atas rumah mungil di atas bukit, dengan halaman depan yang penuh pepohonan. Menyejukkan pandang, tempat dua bocah kecil, laki-laki dan perempuan berguling-gulingan di rerumputan. Memanggilnya dengan keriangan agar bergabung di atas permadani hijau tebal menghampar, milik alam. Dari kebun belakang pria itu muncul, bermandikan peluh tapi ceria saat menatap perempuan itu dan dua buah hatinya. “ Lihat apa yang Ayah bawa,” pria itu tersenyum lebar, memberikan sekantung strawberry dari kebun belakang. Dua bocah itu berlari saling mendahului, mencoba tiba lebih dulu untuk mengambil kantung harta karun dari Ayahnya, yang berkulit kecoklatan, yang berwajah ramah menyenangkan. Peremp…

BILA KAU MULAI MENYESALI DIRIMU

Menjadi lajang di usiamu yang ke-29 tentu saja menimbulkan pertanyaan. Kapan menikah, kapan calonnya akan dikenalkan sudah jadi makanan sehari-hari yang harus ditelan. Apalagi ditambah problema karir mandeg dan melarnya badan, wah lengkap sudah penderitaan. Itu juga yang dialami Tata, sahabatku tercinta via ponsel kemarin lusa. Seharusnya aku sedih mendengarnya tapi gaya berceritanya yang jenaka membuatku tak bisa menghentikan tawa.
“ Ah, elu! Bukannya Bantu malah ketawa, gimana sih, Bu?” ia mendengus kesal. Aku berhenti tertawa. Lalu hanya hening yang kudengar. Dari seberang nafas berat ia hamburkan, seperti tengah mengumpulkan kekuatan.
“ Aku nggak ngerti kenapa hidupku begini, Fin. Aku hanya ingin bahagia, tapi seolah semua tak terjangkau. Sendirian, tak punya pacar, kegemukan, pekerjaan yang nggak berkembang. Kenapa demikian? Sementara orang-orang lain sudah bersiap terbang ke bulan.”

Deg! Mendengar kata Tata barusan aku seolah melihat diriku beberapa waktu sebelumnya. Seorang gadis …