Tampilkan postingan dengan label wisata murah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata murah. Tampilkan semua postingan

24 Januari 2019

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

Pemukulan rebana dalam rangka launching agro wisata dan festival buah naga.


Mendung dan hujan yang menggayuti langit Banyuwangi bulan Desember silam sebenarnya sempat membuat saya enggan keluar. Dua hari sebelum Festival Buah Naga digelar, saya mangu-mangu untuk datang. Akan tetapi, rasa penasaran yang besar membuat saya nekat datang. Tidak tahu kenapa saya merasa kalau nggak datang saya akan rugi besar. Padahal sungguh saya nggak tahu jalan. Meski beberapa kali ke Pulau Merah (iya daerah yang hendak saya datangi ini memang sejalur dengan jalan menuju Pulau Merah yang terkenal itu), tapi saya belum pernah sekali pun ke sana.

Tadinya saya hendak berangkat hari Sabtu pagi, sekitar pukul 6.00, agar nututi acara yang berlangsung sejak pukul 7.00. Akan tetapi, saya sangsi bisa datang tepat waktu jika datang hari Sabtu. Membayangkan diri ini masih harus mencari jalan, tanya sana-tanya sini, cek google map dengan kemungkinan salah yang cukup besar, saya memutuskan untuk datang sehari lebih awal. Artinya saya harus menginap di sana. Kebetulan Rizka, salah satu panitia festival saya kenal baik. Well, dengan mantap saya pun mengabarkan padanya bahwa saya akan datang hari Jumat, selepas sholat Jumat.

Tepat seperti dugaan saya, saya bingung mencari jalan. Sudah melongok google map pun, ternyata tiada guna ketika berhadapan langsung dengan kondisi nyata. Tetap saja saya harus tanya sana-sini plus minta panduan Rizka, kawan yang hendak saya datangi itu, via WhatsApp. Satu hal saya aktakan dalam hati waktu itu “Kalau tidak menemukan, saya balik kanan dan pulang”. Syukurlah, Allah masih memudahkan jalan saya. Meski sempat krik-krik, karena bingung jalurnya akhirnya saya sampai juga.

Tiba di dusun Ringinsari, hari masih sore. Warga setempat saat itu sibuk mengurusi printilan untuk acara yang dihelat esok harinya. Mendirikan tenda untuk pameran dan lomba lukis, menyiapkan kebun agro wisatanya, menyiapkan dekorasi panggung, dan sebagainya. Malam hari, acara tersebut tak reda. Malah kian menjadi. Saya sendiri tidak ikut sibuk apa-apa. Hanya duduk di sekretariat, menyaksikan duo MC, Sandy dan Meyda sibuk  bikin konsep. Sementara Rizka yang jadi wakil ketua panitia, sibuk wara-wiri mengurusi tenda-tenda untuk tenant yang mengisi festival tersebut. Tenda untuk penjual es cendol di mana, bakso di mana, kue di mana, begitu juga lainnya.

Ketika saya dan  Meyda tidur tidur, Rizka masih sibuk di sekretariat. Baru datang menyusul kami menjelang pagi. Itu pun tidak lama. Saat adzan subuh berkumandang ia bangun dan menyeret langkah menyiapkan acara hari itu. Semua panitia bahkan sudah stand by sekitar pukul enam, lalu sibuk dengan tugas masing-masing, seperti yang sudah ditetapkan.

Menggambar dengan tema "Buah Naga".

UKM yang hendak mengisi tenda pamer juga sudah berdatangan. Menyiapkan barang masing-masing di atas meja, sementara ibu-ibu dengan anak-anak TK-nya berdatangan mengisi tenda di dekat panggung. Di sana mereka duduk sambil membawa meja untuk mengikuti acara menggambar, yang masih satu rangkaian dengan Festival Buah Naga. Ada yang ibunya heboh ngurusin anaknya, ada yang santai bak di pantai, ada pula yang ngerumpi dengan kawannya sementara si anak mewarnai gambar buah nagar. Beberapa saya lihat teknik mewarnainya sudah bagus dan merata. Lainnya masih biasa. Namun keberanian mereka patut diacungi jempol. Buat anak-anak seusia mereka, bukan menang yang jadi tujuan utama. Namun memupuk keberanian jauh lebih utama.

Salah satu produk yang dijual di areal festival buah naga.

Sementara ibu-ibu sibuk dengan anak-anaknya, tenda-tenda tempat para UKM menata produk sudah terisi dengan rapi. Saya berjalan-jalan dari ujung ke ujung dan menikmati apa yang dipajang tenant. Ada yang membawa kaus dan baju, buah, olahan buah naga (dari mulai kripik hingga dodol), kue-kue dan pastry, juga jajanan yang digemari sejuta umat seperti cilok dan telur gulung. Mau bakso? Ada. Kue tradisional? Tidak ketinggalan. Es cendol dan es kelapa muda? Tersedia. Tinggal narik isi dompet saja, semua bisa dibawa.
Tak jauh dari sana, para pengisi acara—mulai dari panjak (penabuh gamelan), sinden, hingga penari yang berasal dari Sanggar Seni Kuwung Wetan—sibuk mengisi berdandan dan mempersiapkan diri sebelum tampil sejam kemudian. Sebagaimana profesional mereka berdandan cekatan dan taktis. Sebelum jamnya semua sudah selesai berdandan dan berpakaian.

18 Januari 2019

MENIKMATI JAWATAN, YANG SERUPA HUTAN FANGORN, DI KALA LENGANG



Jawatan, bukan sekali ini saya mendatanginya. Pada hari-hari libur biasanya terlampau sesak. Di mana-mana manusia, tidak bisa khidmat menikmati keindahannya. Maka saya memilih hari-hari kerja, di mana semua orang sibuk agar bisa mengaguminya secara leluasa. Memotret hal-hal asyik pada tiap sudutnya tanpa terganggu oleh orang-orang yang lalu lalang, pasangan-pasangan yang berpose demi mengabadikan kenangan, sekumpulan anak muda yang ribut foto sana-sini.

Seperti dugaan saya, Jawatan memang sepi di hari-hari kerja. Maka dengan tenang saya berjalan menapaki tanahnya. Melemaskan kaki di bawah naungan dahan-dahan trembesi tua yang saling bertaut membentuk kanopi. Tumbuhan paku yang tumbuh lebat di atas dahan-dahannya yang keriput itu mengingatkan saya pada pria-pria yang menjadi tokoh orang bijak di televisi. Tua, bijaksana, di mana janggut memanjang melengkapinya.

Soal tua, itu memang iya. Konon trembesi di sini sudah ada sejak jaman Belanda. Perkara bijaksana, mungkin para kelelawar yang menjadi penghuninya kala malam jauh lebih paham. Sebab bertahun-tahun mereka sudah berkawan. Trembesi membiarkan mereka bergelantungan dan menjadikan ranting-ranting dan dahannya menjadi rumah untuk pulang sejak dari buyut-buyut mereka. Soal janggut (tumbuhan paku lebih tepatnya) yang melengkapi tampilan bijaksana itu, kau bisa melihatnya lebih dekat dan seksama jika naik ke atas rumah pohon. Kau bahkan bisa merasakan teksturnya, bersama dengan lumut yang tumbuh bersama dengan si paku.


Dari atas rumah pohon itu, kau bisa melihat ke arah mana saja. Pada musim kemarau mungkin rerumputan akan menguning. Sementara saat hujan, rerumputan sejauh mata memandang nampak hijau segar. Menyenangkan berada di sana, menyandarkan badan pada pagar pembatasnya. Lalu merasakan sepoi angin dan cahaya matahari yang lembut menerobos celah dedaunan. Seperti di surga rasanya. Namun saat akhir pekan atau musim liburan jangan harap kau bisa merasakan kemewahan semacam ini. Orang-orang pasti tak sabar menanti gilirannya naik, untuk kemudian selfie. Maka catat bagimu jika ingin kemari dan merasakan hal semacam itu seolah Jawatan milikmu sendiri, pergilah pagi-pagi sekali.


Jika sudah puas di sini, turunlah dan teruskan perjalanan kembali. Mungkin langsung menaiki delman atau bisa juga naik motor ATV. Naik delman sendiri memang lumayan mahal, Rp30.000,00 sekali jalan. Kalau ramai-ramai tentu saja lebih murah. Harganya berkisar Rp40.000,00 atau lebih. Tergantung kepandaian kita bernegosiasi. Naik ATV kalau tidak salah Rp25.000,00-Rp35.000,00 tergantung besar kecilnya motor sepertinya.
Jika naik kuda per orang tarifnya Rp10.000,00 saja. Nah, sekarang tinggal pilih saja. Mau menggunakan transportasi jenis apa. Hanya saja menurutku yang paling tepat jika kemari adalah jalan kaki. Kau bisa mengeksplorasi berbagai tempat secara leluasa. Tak sekedar sambil lalu. Benar-benar menikmati tampilan alami tempat wisata satu ini.

03 Januari 2019

Melarung Penat di Air Terjun Telunjuk Raung


Air terjun Telunjuk Raung.
 
Cuaca cukup cerah saat saya berangkat ke air terjun Telunjuk Raung di dusun Sumberasri, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. Apalagi tujuannya jika bukan melarung penat setelah sibuk berkutat di depan komputer. Agak kesiangan memang, karena tadinya saya berniat berangkat sekitar pukul 7, tetapi molor kurang lebih dua jam-an. Berjarak 28 km dari rumah, air terjun Telunjuk Raung bisa ditempuh dalam waktu sejam. Meski demikian, jika tak terbiasa lumayan terasa juga di pantat. Apalagi kalau naik motor. Aduh, rasanya pantat ini seperti tidak ada saking kebasnya.

Lalu bagaimana cara menujunya?
Ada beragam jalur yang bisa dipakai. Tetapi, saya bahas yang paling mudah saja ya? Lewat jalur utama yaitu :
1. Dari arah Jember
Jika kawan-kawan berangkat dari arah Jember, dari arah Kalibaru ikuti saja jalur utama sampai menemukan pertigaan Genteng Wetan. Berbeloklah ke kiri (jalan KH. Hasyim Asyari, arah kantor Kecamatan Genteng), lantas lurus menuju jalan Temuguruh, hingga menemukan rel kereta api di dekat stasiun Temuguruh.
Dari sini teruslah menuju jalan Aruji Kartawinata Gendoh  sampai menemukan pertigaan. Dari pertigaan ini ambil arah ke kanan, menuju Songgon.  

23 Agustus 2013

WISATA CEKAK KE MARGO UTOMO

Sebenarnya banyak sekali destinasi wisata di Banyuwangi yang bisa dikunjungi, seperti Rowo Bayu, G-Land, Sadengan, Teluk Ijo. Namun karena keuangan cekak maka pilihan terbaik adalah mencari tempat terdekat yaitu Margo Utomo. Kenapa tidak ke air terjun Lider atau Umbul Pule yang lebih dekat dari tempat kami tinggal (kecamatan Genteng)?

Alasan kami medan Lider menyulitkan dan Umbul Pule hanya begitu-begitu saja. Selain alasan utama, yaitu ingin tahu dalamnya Mini Plantation yang berulang kali masuk televisi itu. Masa orang jauh aja tahu, kami yang asli Banyuwangi malah belum pernah kesana sama sekali? Memalukan to? Pikir kami waktu itu.

Tentang Margo Utomo dan jarak tempuhnya

Margo Utomo Agro Resort yang terletak di belakang stasiun kereta Api Kalibaru. Jarak tempuh dari Surabaya sekitar 6 jam-an, bila lancar dan tidak ada macet di daerah Porong. Sementara dari Bali jarak tempuhnya sekitar 6-7 jam. Bisa lebih bila terjadi antrean di penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Transportasi ke Margo Utomo
Dari Surabaya bisa naik bis atau kereta. Kalau naik bis, bisa pilih yang langsung menuju Banyuwangi, dengan resiko ngetem lama di terminal Jember. Atau justru estafet. Jadi dari Surabaya naik bis ke Jember lanjut ke Banyuwangi. Bila naik kereta pilih saja KA Sritanjung jurusan Surabaya-Kalibaru. Atau malah mau bersepeda motor kemari? Silakan saja.
Nah bagi kalian yang dari Bali, bisa menggunaka kapal Ferry dari Gilimanuk ke Ketapang. Dilanjutkan dengan naik kereta atau bis kemari. Bila naik kendaraan pribadi langsung saja menuju Kalibaru lewat jalur Pekulo. Tidak usah memutar lewat jalur Wonosobo. Bukan apa-apa sih kawan, selain kejauhan juga eman-eman bensinnya heheheh...

Mini Tapi Berkesan
Dari luar Margo Utomo tidak terlihat istimewa. Tetapi begitu menapakinya kita akan tertegun  melihat betapa asri dan rindang halamannya. Ada beberapa pohon besar seperti kepel, kelengkeng, durian, mangga. Sementara rumput menghijau dibawahnya. Membuat kami seperti disihir dan langsung menclok di sana. Guling-gulingan sedemikian rupa.




 duriannya begitu menggoda, pengen dibawa pulang aja