Postingan

TIGA HARI MENJELANG RAMADHAN

Kepada Yth. Ibu Negara, Assalamu’alaikum, Ibu. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu. Entah kenapa malam ini saya ingin bercerita tentang semua keresahan saya kepada Ibu tercinta. Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa tidur nyenyak, Bu. Diganggu kegelisahan tiap kali menatap penanggalan. Ya, tiga hari lagi ramadhan tiba dan saya tak punya uang. Jangankan untuk belanja selamatan menjelang ramadhan, Bu, untuk makan sehari-hari saja saya kebingungan. Mau hutang ke warung Yu Kismi saya tak berani, sebab masih ada hutang lalu yang belum saya lunasi. Bahkan si kecil demam pun saya tak bisa membelikannya obat. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa sambil mengompresnya dengan air dingin. “ Pergilah ke Puskesmas, Yu. Gunakan Jamkesmas,” saran Bu Rus, pengurus Posyandu RT kami. Tapi bagaimana caranya? Saya kan tidak punya. Entah kenapa kok justru orang-orang yang lumayan berada seperti Mbak Sri yang justru bisa mengguna

PEJALAN JAUH PART 7

Duluuu…saya ndak pernah mikir saya bisa cinta saya manusia seperti sampeyan. Apanya yang menawan dari seorang pria berbandana hitam, menutupi rambut cepak yang malas shampoan, kulit coklat karena terbakar sinar, bercelana sedengkul bulukan berpadu kaus pudar yang paling nyamleng kata sampeyan, beserta tas ransel tua yang nggak pernah ketinggalan. Fiuuh!! Noraaak! Norak bukan kepalang! “ Yo ben! Pokokmen aku seneng,” balas sampeyan enteng waktu seseorang menegur perkara penampilan yang aneh bin ajrut-ajrutan itu. “ Sumpah deh, saya gak mau sama orang kayak gitu,” batin saya sambil berlalu. Tapi apa yang terjadi kemudian? Pelan-pelan tingkah laku sampeyan mencuri perhatian. Cara bicara yang tajam dan tepat sasaran bikin saya ternganga, kepingin nimpuk tapi sekaligus menyadari kalo sampeyan benar tentang makna pasrah yang sering kali disebut banyak kyai dalam pengajian bukanlah pasrah, neda nrima, tanpa usaha. Sudah ada pancingnya, maka kaillah ikannya. Jangan diam saja berha

SILLY THINGS, FUNNY THINGS IN MY LIFE

Dikira Pembantu Sepasang suami istri datang mencari Bapak, tapi karena beliau tidak ada mereka pun pulang. Besoknya Bulik saya bercerita, tamu Bapak yang juga dikenalnya itu mengira kalau saya ini pembantu Bapak dan Ibu. Maka manyunlah bocah sepuluh tahun yang dikira pembantu itu (saya maksudnya) sambil ngedumel,” Asem!” Tapi ya nggak salah sih kalau dikira pembantu, lah wong sesore itu saya masih belum mandi, rambut awut-awutan, keringat bercucuran gara-gara membabu buta menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah. Ugh! Bukan Babe……… Tanpa ba-bi-bu saya langsung menyeret Babe pulang, saya sudah bosan disuruh ikut ngider-ngider di pasar. Aneh kok Babe gak bergeming, begitu mendongak….Hiks, bukan Babeku. Tanpa menoleh aku langsung menuju kearah Babe yang sedang berdiri di depan kios sayuran. BOLOS TAPI SIAL Celingak, celinguk, tengok kiri tengok kanan…ah aman! Dan hup, saya langsung menaiki tembok dan melompatinya dengan selamat. Apesnya baru saja berniat melangkah pergi eh seluruh

MENU AKHIR TAHUN

Tanggal 31 desember, jam 4 lewat banyak tapi masih ngadep kompi nungguin proses akhir tahun. Weh bakal ngakar neh, ada yang mo nemenin gak? Jangan kaget kalo ada bau kecut-kecut seger. Itu akyu! Hehehe, bis gimana lagee...gak mungkin dunk ada mahkluk manis bau melati jam segini? Selain blum mandi, yang jenis itu pada ribut dandan buat nanti, tahun baru. Bukan buat gaet cem-ceman tapi bikin kaget orang dengan ringkik tawa yang menyeramkan. Nah lho, kok kata proses akhir taun selesai blum muncul. Padahal udah seratus persen! Hik, mana blum setting pekan, bulan, hari kerja, promo. Mpe jam berapa kita kencan kompie sayang? Gag liat apa muka sepet kaya orang gagal buang hajat ini? Come on! Jadi mules kalo genee! Sholat aja dah, darìpada empet prosesnya blum selesai-selesai. Hya! Tulisan 'SELESAI PROSES AKHIR TAHUN' muncul juga. Alhamdulillah...artinya proses lain masih menunggu, Nona! Jangan khawatir masih banyak. Ada yang Mau bantu gag ya? Hehehe

SLOGAN SAKTI IBUKU : MARI BERHEMAT, MARI MENABUNG

Gambar
Ibu saya tergolong ibu yang tak pernah memanjakan anak-anaknya. Sejak kecil kami dibiasakan jajan secukupnya saja. Bahkan cenderung lebih kecil dibanding kawan-kawan sebaya. Tetapi anehnya di rumah selalu tersedia apa yang kami inginkan , entah dengan membuat sendiri atau justru membelinya dari pasar. Ketika ditanya ibu menjawab pertama ibu ingin mengajari kami untuk hemat dalam menggunakan uang dan kedua ibu tak suka melihat kami jajan di luar. Ketiga demi kebersamaan. Kok bisa? Ya sebab menurut ibu dengan cara semua anggota keluarga bisa menikmati apa yang menjadi kesukaan kami. Hal lain yang sering didengungkan selain hidup hemat adalah slogan “ MARI MENABUNG!” yang kedengarannya menyebalkan. Coba bayangkan, dengan uang saku yang kecil bagaimana bisa menabung? Gerutu kami dalam hati. Tetapi ibu tak pernah berhenti mengatakan kepada kami agar kami rajin menabung. Katanya ini kelak bagi kami di kemudian hari. Ibu saya juga tak pernah membedakan anak laki-lak

I WISH I WAS HER

Hahahaha…Semua langsung tergelak mendengar ucapan Ustadz Munir kalau cantik dan ganteng itu bedanya hanya dari leher ke atas. Selebihnya baru diperhatikan kemudian. Betapa bangganya kita karena sebuah penampakan (means wajah) banyak yang mengagumi, ya nggak? Bahkan seorang teman yang merasa dirinya super biasa sampai berkata dengan muka masygul pada saya,” Ya kamu beruntung, kamu lebih putih, lebih cantik, aku?!” Lho? Sejak kapan Afin tergolong cantik dan putih? Kaca…mana kaca? Please deh ah, mumpung ada yang memuji niiih. Dengan semangat saya mengaca, dan blup…saya pikir saya akan mendapati serauh wajah se-aduhai Tamara Blesz, enggak tuh. Teteup wajah biasa yang saya kenali, yang alhamdulillah tidak ruaar biasa (hehehehehe). Ya, ya saya paham perasaan teman saya itu. Sejak kecil saya dikelilingi teman-teman dekat yang cukup popular karena kecantikan dan kecerdasannya. Wajar jika bersama mereka dirimu tak terlihat atau istilah perdukunannya sih auranya tenggelam. Jadi jika luput da

MUSASHI

Aku bertemu dengannya saat aku masih bocah. Kala itu usiaku baru mencapai angka 12, dan ia sudah dewasa. Ia pria yang tinggi, tegap, dan liat, amat menonjol dibanding sebayanya. Masa itu banyak yang mengaguminya, mengatakan ia mengesankan tapi tidak denganku. Di usia semuda itu, aku menganggapnya membosankan. Sama sekali tak menarik, meski berusaha paham. Menginjak usia ke-14, bayangannya kian pudar. Berganti dengan sosok keren kekinian, dengan gaya omong yang lugas dan obrolan yang selalu up to date. Di usia dua puluhan, aku benar-benar melupakan. Tak pernah bersentuhan, meski samar. Sekarang aku justru merasa senang bisa bertemu kembali dengannya. Mungkin karena aku kini telah dewasa, melihat dunia dengan kacamata berbeda. Filsafat yang dulu terasa berat untuk dicerna, kini mulai bisa dipahami artinya. "Apa kabar gadis kecil? Lama tak bersua, kemana saja kau berkelana?" tanyanya dengan tubuh tegak dan tangan memegangi gagang pedangnya. Kulihat kehangatan di matanya

...BAGIAN...

Gambar
mari mengukur sejauh apa kita mencintai... mengungguli nepal dari himalaya kah? meluap seperti penyair mengecap kosakata puitisnya? tertinggi diantara rembulan dan rasi bintang?.. seorang pengasih adalah membebaskan belahan jiwanya berpendar, benderang diantara ilusinya, di dalam ketajaman hayalannya.. seorang penerima cinta adalah mengakui kuasanya dibuai rentangan cinta, mengiyakan bahwa tanpanya, seperti terlelap tanpa mimpi... mari mencari tau sedalam apa sebuah kebencian.. seperti mengukur ujung hari ke hari berikutnya kah? seperti kurun waktu jaman romawi berbalik ke kehidupan kali kini? tidak cukup mempertanyakan cinta...dia bukan untuk direndahkan, bukan dihentikan.. dia akan menemukan jalannya...mengunggah kejayaannya sendiri. Diantara derita dan isak Diantara senyum dan kerlingan mata.... Pujalah sebuah kasih seadanya saja... berlebihan akan membuatnya terbirit lari..takut tak sewajarnya.. dia akan tau caranya merengkuh, memberi peluang-peluang indah.

BB

Yang namanya senam wajar dong kalau keringat berleleran. Yang namanya senam sudah biasa kan kecapekan. Yang namanya senam pasti pengennya dapat kebugaran. Tapi kali ini yang kita dapat justru senyum lebar, cengengesan. Sewaktu seseorang berkata ,''Igh! Mau muntah deh gara-gara BB-nya.'' Hm, piye to jeung? Memang benar BB-nya memabukkan tapi bukankan sampeyan juga demikian? Mbok ya kalau bicara tengok kiri-kanan, ndak asal. Bisa-bisa sampeyan yang ditertawakan. Rasanya, pepatah kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak cocok untuk sampeyan. Untung saja yang diomongin nggak dengar, kalo nggak bisa habis sampeyan dicincang.

HUFFH!!

Laptop gak ada, pc-ku sakit juga. Trus gimana nulisnya? Garuk pala ampe sakit kok ya ndak nemu jalan keluarnya. Oalah, mana gak punya cadangan diluar, misal catatan. Soalnya aku biasa nulis langsung di kompi. Kalo gini aku jadi Pusing sendiri. PIYE JAL?! HUGH! Sabar ning...sabar

KETIKA PESAN ASING ITU DATANG

Tak terbentang, tak terbuka lebar bila hati tak menginginkan. Pesan perkenalan tersalut kerahasiaan sama sekali tak mengesankan, justru membuatnya memasang tembok tebal. '' Keras kepala!'' celetuk satu suara. Tetapi ia acuh saja. Diangkatnya bahu tanpa beralih dari e-book yang dibacanya. '' Bukan keras kepala, hanya perkara kejujuran saja. Tak terbiasa bermanis kata, penuh gula pada pengembara yang hendak memasuki wilayahnya. Segala hal yang anonim tak menarik hatinya, akan selalu berakhir di tempat sampah jika tak mengindahkan peraturan yang terpampang di pintu gerbang. Perempuan yang ini memang berbeda. Menerkanya tak semudah yang diperkirakan. Tiap kemanisan datang dan ditawarkan sensor-sensornya akan berjalan. . Usaha untuk membuatnya terkesan biasanya gagal jika di pintu awal ia salah mengambil langkah. Bukan,bukan pula kejam seperti yang kau pikirkan. Tetapi ia memilih unsur kehati-hatian atas banyak hal,'' bisik suara lain panjang lebar.

SEPULUH ALASAN KENAPA BUNDA JELITA

Semua orang berkata Bundaku jelita. Dan aku hanya bisa menahan kesal tiap kali mereka berkata ,” Kamu tak secantik bundamu.” Apa yang harus kulakukan untuk bisa secantik Bunda? Dan bagaimana ia bisa secantik itu? Tanyaku penasaran. Tapi aku tak juga menemukan jawaban hingga bertahun-tahun kemudian, saat masa kanak-kanak telah jadi kenangan dan masa dewasaku datang. Pertama, untuk jadi secantik Bunda harus cerewet dan bisa mencubit sampai membekas. Bukan cerewet dan cubitan biasa yang hanya menimbulkan kebencian dan rasa sakit setelahnya. Tapi kecerewetan dan cubitan sayang yang disertai nasehat panjang lebar berisi kebaikan tiap kali kau melakukan kesalahan. Tak pernah bosan untuk mengulang meski balasannya gerutuan kesal yang berbunyi ,”Bunda jahat! Bunda jelek! Bunda nggak sayang aku!” Kedua, kau juga harus bisa menjewer telinga sampai panas. Tentu saja tak sekedar jeweran yang memerahkan telinga, tapi ada ajaran penting ya

MAN OF MY DREAM

S elembar mimpi tercetak dalam rangkaian gambar. Tentang keinginan seorang perempuan akan pria pujaan. Tak terlalu tampan, seorang pecinta alam, tak canggung berpelukan dengan kesederhanaan, bahkan orang-orang biasa yang ia temui di jalan. Adakah dia dalam nyata? Lalu bersama-sama bergabung membentuk satu kesatuan, di atas rumah mungil di atas bukit, dengan halaman depan yang penuh pepohonan. Menyejukkan pandang, tempat dua bocah kecil, laki-laki dan perempuan berguling-gulingan di rerumputan. Memanggilnya dengan keriangan agar bergabung di atas permadani hijau tebal menghampar, milik alam. Dari kebun belakang pria itu muncul, bermandikan peluh tapi ceria saat menatap perempuan itu dan dua buah hatinya. “ Lihat apa yang Ayah bawa,” pria itu tersenyum lebar, memberikan sekantung strawberry dari kebun belakang. Dua bocah itu berlari saling mendahului, mencoba tiba lebih dulu untuk mengambil kantung harta karun dari Ayahnya, yang berkulit kecoklatan, yang berwajah ramah menyenan

BOLEHKAH KU TAHU SIAPA KAMU?

Aku tak tahu siapa yang datang, yang kulihat hanya bendera dan kota tempatmu datang. Pertanyaan-pertanyaan menyerbu, apa alasanmu mendatangi blogku. Oh, aku tahu kau pasti kesasar kan? Salah masuk kamar sewaktu mengetikkan satu kata kunci misalnya miyabi? Atau temanku G barangkali? Seperti beberapa orang yang pernah kuketahui? Haha, kubayangkan kau pasti mengumpat sewaktu blog terbuka. Hlha kok genee? Hihi, aku jadi geli sendiri... Atau hanya teman masa lampau yang sering kusapa saat blogwalking? Entahlah. Aku tak bisa menduganya, sebab aku tak bisa melacak jejakmu, kawan. Ah, tapi tak apa. Aku cukup senang engkau mau datang. Mengunjungi rumah yang kubangun karena suka. Suka bermimpi dan bermain kata, menceritakan tentang apa saja yang terambil dari keseharian yang penuh warna. Anyway, thanks for your coming. Terlepas dari apapun niatmu mendatangi rumahku. Aku berharap suatu hari aku mengenalmu supaya aku bisa menyapa dan menjabat erat tanganmu. *sore-sore sehabis hujan Te

PEREMPUAN TANGGUH ITU

Sawang sinawang, katamu sewaktu mereka bilang pekerjaanmu menyenangkan, bisa kerja sekalian jalan-jalan. Satu mimpi yang terwujudkan setelah sekian lama berjuang. Satu persatu tangga kau tapaki, diawali dengan taburan beribu gamang namun keyakinan kuat telah meretasnya perlahan. Membuatmu maju dan meninggalkan keraguan, hingga bisa meraih pencapaian seperti sekarang. Tapi pernahkah mereka tahu perempuan tangguh yang selalu menjadi pendukungmu? Ia yang menyimpan kekhawatiran tiap kau pamit melanglang. Ia yang menyimpan kecemburuan besar tapi justru mengalirkan energinya lewat kalimat-kalimat dukungan. Yang percaya sepenuhnya pada apa yang kau perjuangkan, tak lekang menunggu meski hari-hari tanpamu terasa menjemukan. Tahukah mereka? Itulah dia, yang tengah tersenyum membaca jejak cerita di blogmu dan berdoa membaca status di facebookmu. * a story, terinspirasi blog sang petualang dan a man behind his cam :-D

HAL KECIL UNTUK AIKA

Hari itu anak kelas 6 A, SDN 2 Genteng sedang sibuk berdandan. Hari itu mereka akan berfoto untuk ijazah kelulusan mereka. Masing-masing terlihat ceria, kecuali gadis mungil bernama Aika. Berbeda dengan kawan-kawan lainnya, nampak ada kecemasan yang ia simpan dimatanya. Tapi dengan pintar ia sembunyikan semua dibalik canda dan tawanya, hingga tak ada yang menyadarinya sampai seseorang menyeletuk ," Kemana Aika? Bukankan sebentar lagi gilirannya difoto?" Semua tersadar. Aika hilang! Atau lebih tepatnya menghilang. Kemana dia? Wali kelas 6 A sudah berulang kali memanggilnya. Apa dia sakit? Tapi tadi dia tidak menunjukkan tanda-tanda itu? Dua orang gadis berjalan mencari Aika dan menemukannya sedang sendirian di dalam kelas. Didatanginya gadis kecil yang sedang menangis itu dengan sapaan hangat. Aika mendongak, menatap dua kawannya. Sepasang air mata bergulir menjatuhi pipi merah mudanya. " Kenapa, Aika?" " Aku malu. Aku paling kecil diantara mereka." Oh

YANG HILANG DARI PERASAANKU

Tak pernah sedikit pun aku bayangkan Betapa hebat cinta yang kau tanamkan Hingga waktu beranjak pergi Kau mampu hancurkan hatiku Ada yang hilang dari perasaanku Yang terlanjur sudah kuberikan padamu Ternyata aku tak berarti tanpamu Berharap engkau tetap disini Berharap dan berharap lagi Lagu berjudul Ada Yang Hilang itu pernah jadi lagu kebangsaanku beberapa waktu lalu. Tatkala mata mengabur oleh tangis dan hati terusik perih. Tak peduli dengan permainan gitarku yang terbata-bata, aku ngelangut dalam bait-baitnya. Kupaksa untuk tegar, melepasmu tanpa mempertanyakan. Tak mudah memang. Tapi aku terbukti bisa melawan desakan hati. Kukatakan pada kalbuku aku tangguh, tak mudah patah meski cinta yang kuinginkan hanya seonggok impian. Kini getir itu perlahan memudar, bersama pudarnya mendung di langit malam. * :-D ditengah kantuk dan lagunya ipang yang bikin tangan gatal untuk menuliskan cerita panjang hoahemm, kantuk tak tertahan pluk...zzz Ngilang ke alam impian

SKENARIO KEDATANGAN

Skenario pertama : Kau datang tiba-tiba, bawa buket bunga dan sang gadis melonjak gembira. Tersipu dan berdebar saat kau menautkan kalung di lehernya. Persis kaya iklan shampo sunsilk yang sering nampang. Masalahnya gadisnya enggak ada dan wajahmu gak sekeren ariel peterpan, sang bintang. Jadi dipastikan ini gagal! Skenario kedua : Disambut meriah, bak penganten sunat, pake arak-aran sepanjang jalan. Sementara kamu nyengir kuda gak karuan. Masalahnya, yang ini butuh biaya besar, mana mungkin diadakan di pertengahan bulan ketika kekeringan mulai melanda dompet emak. So inipun batal, bro! Skenario tiga : semua nunggu kamu dengan gembira, berharap bisa menyarangkan satu jitakan di kepalamu sekaligus mencari tahu kebalkah dirimu (ahahaha!). Lantas menyeretmu ke rumah makan paling mahal, untuk traktiran. Kejaam! Kejaam! Tapi gak kok, skenario gak bakal berlaku. Kau tahu semua orang sudah menantikanmu, menanti cerita hidupmu setelah mengangkasa sendirian sambil menimbang berat badan lewa

APA YANG BISA KULAKUKAN?

Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kulihat ada kerisauan di matamu. Jangan takut, katakan saja resahmu meski kau tak terlalu mengenalku. Kau tahu, bercerita bisa jadi salah satu cara untuk melepas beban di dada. Dan aku punya waktu mendengarkannya. Mungkin tak ada yang tahu betapa bersyukurnya aku mendengar ceritamu atau orang-orang lain padaku. Karena lewat itu ada banyak pelajaran berharga menghampiriku. Pelajaran yang gurunya adalah lingkungan dan sesama yang mengajari kita tentang kebijakan. Yang kemudian kusebarkan pada saudara, sahabat dan teman saat mereka butuh dukungan. Apa yang bisa kubantu untukmu kawan? Aku tak keberatan menjadi pendengar agak makin banyak pelajaran hidup kuserap, lalu kubagikan.

BILA KAU MULAI MENYESALI DIRIMU

Menjadi lajang di usiamu yang ke-29 tentu saja menimbulkan pertanyaan. Kapan menikah, kapan calonnya akan dikenalkan sudah jadi makanan sehari-hari yang harus ditelan. Apalagi ditambah problema karir mandeg dan melarnya badan, wah lengkap sudah penderitaan. Itu juga yang dialami Tata, sahabatku tercinta via ponsel kemarin lusa. Seharusnya aku sedih mendengarnya tapi gaya berceritanya yang jenaka membuatku tak bisa menghentikan tawa. “ Ah, elu! Bukannya Bantu malah ketawa, gimana sih, Bu?” ia mendengus kesal. Aku berhenti tertawa. Lalu hanya hening yang kudengar. Dari seberang nafas berat ia hamburkan, seperti tengah mengumpulkan kekuatan. “ Aku nggak ngerti kenapa hidupku begini, Fin. Aku hanya ingin bahagia, tapi seolah semua tak terjangkau. Sendirian, tak punya pacar, kegemukan, pekerjaan yang nggak berkembang. Kenapa demikian? Sementara orang-orang lain sudah bersiap terbang ke bulan.” Deg! Mendengar kata Tata barusan aku seolah melihat diriku beberapa waktu sebelumnya. Seorang gad