Postingan

Lancar Bahasa Inggris Lisan dan Tulisan #Resolusiku2017

Gambar
            Attention please...Do you speak English? (source : http://gratisography.com)             Sebagai penulis saya bersyukur memiliki kemampuan berbahasa lebih. Tak hanya satu tapi lima bahasa sekaligus—bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa kalbu, bahasa tubuh, dan bahasa tarzan (pakai tangan, kaki, atau sembarang pokoknya you paham). Kedua bahasa yang pertama membuat komunikasi dengan orang berjalan lancar. Saya tak dituduh alien karena gagal paham bahasa apa yang mereka gunakan. Setidaknya dengan tetangga sebelah saya.             Bahasa ketiga, bahasa kalbu, yang paham tidak sembarang orang. Harus yang mumpuni untuk memahami apa yang saya pikirkan. Dan ternyata yang mumpuni membaca kalbu saya tak lain adalah   saya sendiri. Lha buktinya, meski saya sudah njureng-njureng (njureng itu apa ya bahasa Indonesianya, ah...iya muka serius, alis kenceng) menyiarkan bahwa dompet saya dalam titik nadir tidak ada yang mampu menangkapnya *hwahahaha. Jadi, ya sudahlah.

KETIKA BUNDA BERPULANG

Gambar
            Saya berpikir Ibu saya akan hidup lama. Bisa mendampingi saya menikah, melahirkan anak-anak, dan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi, Allah Sang Maha Kuasa itu memiliki skenario berbeda. Ibu saya dipanggilnya pulang dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-59.             Saya masih ingat, jauh-jauh hari Ibu sering kali bilang bahwa dia tak ingin merepotkan siapapun saat meninggal. Ibu ingin saat hari itu tiba ia tidak mengalami sakit   panjang hingga menyusahkan seluruh anggota keluarga. Allah yang baik mendengar dan mengabulkan pintanya. Ibu meninggal tanggal 13 September pukul 2.30 setelah mengeluh sesak di dadanya.             Saya ingat betul, tengah malam itu Bapak membawa Ibu ke rumah sakit dengan bantuan Om saya. Saya tidak ikut karena harus jaga rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman, saya berlari menyongsong Om dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu saya.Tapi jawaban yang saya dengar mengejutkan.             Dengan suara

MENDAKI IJEN, MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI

Gambar
                          Saya belum pernah naik ke Gunung Ijen ketika Yogi, teman saya, menawari saya untuk ikut bersama rombongan tour yang dipimpinnya. Tawaran yang menarik. Tapi, saya sangsi mengingat saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Mendaki gunung itu bukan kegiatan main-main. Butuh stamina kuat agar energi tubuh tak mudah terkuras saat melakukannya. Bahkan meski   jaraknya hanya sejauh 3 km seperti Gunung Ijen. Jangan salah, meski jalurnya pendakiannya pendek medan yang dilalui cukup berat—menanjak dengan dengan kemiringinan antara 25-35 derajat. Tanahnya berpasir pula. Siapapun yang pernah kesana pasti tahu bahwa langkah kaki   akan terasa lebih berat. Para pendaki harus menahan bobot tubuhnya agar tak tergelincir kembali ke bawah.  pagi hari di gunung Ijen               Oleh karena itu kondisi tubuh harus disiapkan betul saat melakukan pendakian. Tubuh yang kurang fit selain membuat perjalanan jauh lebih lambat juga bisa merepotkan kawan seperjal

SWITCH ALPA 12, NOTEBOOK YANG MELEBIHI HARAPAN

Gambar
            Banyak yang mengira pekerjaan sebagai penulis itu pekerjaan yang keren dan seksi. Padahal yang sudah menjalani justru tahu pekerjaan ini berat. Banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena tidak sanggup menerima ujiannya. Bayangkan, tidak mudah menembus majalah atau koran. Tak cukup sebulan waktu tunggu hingga akhirnya karyamu layak tayang. Bisa berbulan-bulan hingga kau lupa pernah mengirimkan karya di majalah atau koran itu. Begitupun menerbitkan buku di penerbitan. Butuh jangka waktu sedikitnya tiga bulan untuk tahu kepastian apakah karyamu layak diterbitkan. Jika lebih dari itu tak ada jawaban harus sabar. Barangkali masih menunggu antrian. Bukankah yang kirim ke satu penerbit itu bisa ribuan? Kalaupun akhirnya layak terbit, si buku masih harus melalui proses yang lama lagi. Saya pernah menunggu kurang lebih dua tahun untuk menunggu terbitnya novel berjudul Glamo Girls yang saya tulis bareng dua teman saya, Tya dan Fitri.             Jika sebegitu lama

ISL (INSPIRASI SEKOLAH LITERASI BANYUWANGI) BATCH 3 : GERAKAN KECIL YANG MENGESANKAN

Gambar
Relawan ISL Batch 3 dan murid SDN Tamansari 4-Licin berfoto bersama             Beberapa tahun lalu seorang karib saya, Dee, mengajak saya untuk mengumpulkan teman dan memberi inspirasi ke sekolah-sekolah. Mereka akan menceritakan profesinya sendiri-sendiri, berharap itu bisa menjadikan anak-anak yang kami temui bercita-cita setinggi mungkin. Waktu itu saya menolak. Dengan gamblang saya mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu tak semudah membalik telapak tangan. Mengumpulkan dan meminta mereka meluangkan waktu di hari kerja bukan perkara gampang. Yang paling penting adalah perijinan. Saya jenis manusia spontan, paling malas kalau harus menghadapi birokrasi macam-macam. Padahal kalau sudah berurusan dengan pihak sekolah banyak yang harus dilakukan. Harus ke UPTD, harus ke sekolah, dan ngurus segala tetek bengek lain demi menyukseskan acara. Apalagi kami tinggal di kota yang berbeda. Dia dimana, saya dimana. Dia juga tak selalu pulang setiap pekan. Ini ngaturnya gimana

BATAL GANTUNG PENA BERKAT WIFI.ID

Gambar
“Jadi penulis tak boleh gampang nangis. Harus tahan bantingan, sebab banyak sekali kesulitan menjelang. Tak cuma soal naskah yang tak ada kabar, tapi juga ketahananmu menghadapi krisis finansial.”             Saya mengetahui hal-hal itu sejak saya terjun di dunia literasi tahun 2009. Tapi, saya baru paham setelah benar-benar menggantungkan diri pada pekerjaan satu ini sejak 2012. Saya memang tergolong nekat, berbekal pengalaman menulis yang minim saya berani terjun menjadi penulis. Maka ibarat orang lari yang tak melakukan pemanasan cukup ketahanan saya pun menurun. Meski lintasan yang dicapai belum mencapai seperempatnya, saya megap-megap karena kesulitan bernapas. Walau begitu saya tetap bertahan. Saya sudah memulai perjalanan, jika saya berhenti maka sia-sia saja langkah yang sudah saya lakukan.             Tetapi, ketika dompet hanya berisi lima ribu rupiah saya menyerah. Sepertinya saya harus berhenti saja. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk pergi ke warnet sa

AKHIRNYA SAYA PILIH IBU DAN BUKAN PEKERJAAN

Gambar
  Bunda cinta dan kasihmu adalah cahaya             Agustus, 2014.             Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang yang tengah dilanda “kekeringan” ketimbang tawaran pekerjaan. Maklumlah sebagai penulis saya memang masih taraf belajar. Tulisan saya belum banyak yang tembus ke media. Beberapa kali jadi finalis atau menang lomba nulis, tak berarti saya mumpuni. Maka tak heran jika hasil dari menulis jauh dari harapan. Tak bisa dijadikan pegangan.             Maka wajar jika saya bergembira ketika karib saya, Endang, mengatakan ada lowongan pekerjaan. Meski pun profesi yang ditawarkan jauh sekali dari ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dulu yaitu jadi guru SD di sebuah sekolah swasta baru.             “Siapa tahu, Fin. Kenapa tidak dicoba? Nggak apa-apa meski kamu lulusan Faperta.”             Pertanyaannya kemudian ”Apa saya mampu? Mengajar tak sekedar mencari uang, didalamnya ada tanggung jawab besar. Apalagi saya tak memiliki ilmu mengajar”.            

12 Langkah Mudah Membuat Digital Signature Transparant Menggunakan Adobe Photoshop

Gambar
Bagi mereka yang kerap ikut lomba nulis, pasti sudah tahu beberapa lomba memberikan syarat agar pesertanya mengisi form lomba atau form keaslian naskah yang harus dikuatkan dengan tanda tangan kita. Begitu juga saat mengirim lamaran pekerjaan via email. Baik cover letter (surat lamaran kerja) dan CV (curriculum vitae) harus dibubuhi tanda tangan. Cara paling umum biasanya adalah print dokumen atau form lomba, lalu dibubuhi tanda tangan, di-scan, baru kemudian dikirim via email.   Cara lainnya, bisa juga dilakukan dengan scan tanda tangan, kemudian hasil scan disisipkan dalam   dokumen tersebut.   Tapi, tentu saja tidak seperti tanda tangan asli. Seperti contoh di bawah ini. 

TANTANGAN DAN UPAYA PEMERINTAH UNTUK MENAIKKAN KEMILAU PERNIAGAAN INDONESIAN SOUTH SEA PEARL

Gambar
source : IG @indonesianpearlfestival2016             Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan luas lautan mencapai dua pertiga luas daratan. Tak heran bila kemudian Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi kelautan yang besar—baik sumber daya alam, potensi wisata, hingga kekayaan biota lautnya. Akan tetapi, baru sedikit yang dieksplor dan dimanfaatkan. Sehingga belum bisa memberikan kontribusi tinggi pada kesejahtaraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.             Salah satu contoh nyatanya adalah mutiara laut selatan atau disebut juga sebagai Indonesian South Sea Pearl (ISSP).   Dikutip dari situs Worlds Richest Countries, Indonesia hanya menyuplai sebesar 2% kebutuhan dunia atau menduduki peringkat sembilan dari sepuluh negara terbesar pengekspor mutiara. Berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan bahwa Indonesia merupakan penghasil mutiara laut selatan terbesar. Dari total produksi sebesar 12 ton per tahun, 55% lebih berasal Indonesia. Sementara

MENGAJI KEMBALI DI USIA KE-28, ITU PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN

Gambar
source : https://pixabay.com DITEGUR TUHAN             Merasa cukup dengan pengetahuan agama, saya tidak merasa perlu untuk menambahnya. Sampai satu hari saya ditegur Tuhan lewat peristiwa kecil yang berefek besar.             Sore itu saya mendengar kumandang adzan dari surau kecil di timur kantor kepolisian. Sang muadzin sudah tua, terdengar jelas dari suaranya. Tetapi, bukan itu yang jadi pangkal kejengkelan melainkan kekukuhannya mengumandangkan adzan meski tahu suaranya tak memenuhi syarat—buruk, gemetar, napasnya pendek, dan nadanya asal. Parahnya lagi panjang-pendek yang harus diperhatikan dalam adzan diterjangnya habis-habisan. Kentara bila sang muadzin tak paham tajwid dengan benar.             ”Ck, muadzin tak becus tajwid begitu disuruh maju. Yang lainnya memang gak ada? Yang muda-muda, yang paham cara ber-adzan kan ada?!” gerutu saya.             Di detik itu juga, Allah mengusik hati kecil saya dan membuatnya bertanya ,”Bagaimana jika anak muda yang

MENGGERUTUI HUJAN

Gambar
  sumber gambar : https://www.pexels.com/ Benar-benar tidak diharapkan. Saat lagi orang butuh jalan, mengirim naskah yang super penting, eh dianya malah turun sembarangan. Mak bress! Tidak pakai kode atau sinyal. Haduuh, kalau begitu bagaimana caranya sampai di warnet tanpa kebasahan? Ha, mbok ya nanti saja kalau sudah selesai urusan. Atau nanti saja waktu malam, sehingga saya bisa nyenyak tidur. Begitu kata saya ketika menggerutui hujan. Hujan yang sebenarnya merupakan keberkahan. Hingga kaum muslim kerap dianjurkan untuk berdoa di kala hujan tengah turun.  Tetapi, Allah yang baik itu justru mengirimkan hadiah sebagai balasan atas gerutuan saya. Saya diberikan kesempatan melawat bumi lain yang tak pernah saya bayangkan, hadiah menang Gramedia Blogger Competition Juli silam. Saya diterbangkan ke Belu via Jakarta dan mengikuti rangkaian acara “Festival Membaca Belu” yang diadakan oleh Save The Children dalam rangka Hari Anak Nasional tgl 23 Juli 2016. Menyenangkan!

MEMELIHARA IRI TAK UBAHNYA MEMELIHARA SAKIT GIGI (SEBUAH CATATAN BLOGGER YANG PERNAH DILAMURI IRI)

Gambar
image source https://pixabay.com 23 Agustus 2015 rupanya saya pernah menuliskan soal ini di dalam catatan saya, ketika hati dilamuri iri melihat prestasi blogger tetangga. Apakah Anda tengah mengalaminya juga? Siapa tahu ini bisa jadi bahan renungan bersama. Agustusan nggak ikut lomba apa-apa tapi dapat door prize itu ya saya. Nggak nanggung-nanggung, sekalinya dapat door prize rasanya juara. Nyut-nyutan sampai susah tidur malam. Apaan tuh? Sakit gigi. Fyuuh, sakit yang satu ini bikin apapun jadi terasa salah. Berdiri salah, miring salah, tidur salah, duduk salah, lapar mau makan ya salah, minum kelewat dingin salah. Wis lah! Pokoknya serba salah. Apalagi begitu melihat timeline seliweran berita-berita bahagia. Blogger anu menang lomba, hadiahnya tujuh juta. Blogger lain dapat pemberitahuan kalau duit dari adsense sudah bisa dicairkan. Blogger yang ono lagi-lagi dapat job review. Belum lagi yang cerita kalau page rank-nya ramping, pengunjungnya sejagad raya, dan lain s

Koleksi Buku dan Secarik Kisah Dibalik Itu

Gambar
            Jika dihitung-hitung buku yang saya kumpulkan sudah mencapai menembus angka dua ratus lebih sekarang. Dari mulai cergam sampai buku agama, dari buku motivasi sampai novel sastra. Ada yang beli, ada juga yang hasil menang lomba. Memang masih   tergolong sedikit bila dibanding kolektor lain, tetapi di balik itu ada kisah menarik mewarnainya.               Seperti kisah buku berjudul “Sepuluh Tjerita Anak-Anak” ini. Buku tersebut adalah salah satu buku paling tua yang saya miliki. Terbit tahun 69-an dan masih mengunakan ejaan lama. Saya menemukannya di warung Buyut semasa duduk di bangkus SD. Buku itu tergeletak mengenaskan, kertasnya sudah kecoklatan, sampulnya robek, dan siap dijadikan bungkus bahan belanjaan. Diam-diam saya menyelamatkannya dan menyimpannya di rumah.     

JOB VACANCY : WAHID FOUNDATION THE WAHID INSTITUTE

Buat teman-teman yang tertarik  bekerja di NGO, berikut ini ada lowongan pekerjaan sebagai Deputy Project Manager di Wahid Foundation (The Wahid Institute) : Wahid Foundation, formerly known as The Wahid Institute, who strive for a just and peaceful world has become one of the leading voices espousing moderate and tolerant views of Islam in Southeast Asia. In line with our new project, to enhance the capacity of Civil Society/Muslim progressive in preventing and responding  towards violence extremism and Foreign Terrorist Fighters (FTF), we are currently looking for professional candidates to fill in position as below: Deputy Project Manager Qualifications: Minimum graduated with Bachelor degree (in any major), preferable Master degree Min have 3 years work experience as Deputy Project Manager Detail oriented and able to meet deadline Well developed interpersonal skill and analytical skill Job Description: 1. Create a detailed work plan, sch

15 LANGKAH KEMBALIKAN BLOG POST YANG TERHAPUS

Gambar
Beberapa bulan lalu, kamis tanggal 11 Februari 2016, bencana datang untuk saya. Blog post yang saya ikutkan lomba Acer Liquid Z320 terhapus tanpa sengaja.   Padahal tanggal itu masih tahap penjurian. Duh, sial! Batin saya kesal. Tapi, apa mau dikata? Nasi sudah jadi bubur, ketimbang menyesal lebih baik kan mencari jalan keluar. Ya’kan?   Lalu bagaimana caranya mengembalikan blog post yang sudah hilang itu?   Berikut ini 15 langkah kembalikan blog post yang terhapus : 1.       Ketik judul artikel (blog post) yang terhapus di Google Lakukan sesegera mungkin sebelum cache-nya tidak dapat di akses. Contoh     : “GADGET YANG MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK DAN ORANG TUA,   ACER LIQUID Z320   JAWABNYA! Arahkan kursos ke arah kanan, lalu klik tanda panah berikut ini, pilih opsi cache. Klik opsi tersebut, nanti akan muncul tampilan seperti berikut ini :

OLEH-OLEH DARI ATAMBUA 3 : INIKAH INDONESIA?

Gambar
Setelah merasakan perjalanan lama yangbikin pantas saya kebas , kini saatnya saya menceritakan ketika saya diam-diam bertanya : Inikah Indonesia?  duh, sayang gambarnya blur   Ya, itulah pertanyaan yang muncul di kepala saya melihat rumah-rumah beratap daun lontar kering, berdinding bebak, tanpa ventilasi, dan berlantai tanah di tepi jalan. Beberapa nampak modern dengan sentuhan atap seng, jendela kayu, dan lantai semen. Lainnya, seperti yang saya ceritakan. Beberapa dari rumah-rumah itu sudah miring. Jika angin kencang menerpa bisa jadi rumah itu roboh seketika. Ditilik dari segi kesehatan jelas rumah gewang tanpa jendela dan berlantai tanah sangat kurang. Tanpa ventilasi berarti aliran udara dari dalam dan luar tidak berjalan lancar. Dengan demikian bisa meningkatkan penularan penyakit di dalam rumah, contohnya penyakit infeksi pernapasan. Tanpa ventilasi berarti rumah juga kurang mendapat cahaya alami. Membuat rumah lembab dan rentan terhadap bibit penyakit. Lantai

OLEH OLEH DARI ATAMBUA 2 : SERASA TIPIS PANTAT SAYA

Gambar
NTT dari udara Setelah mengalami perjalanan yang penuh drama , akhirnya saya berangkat juga ke Kupang dengan pesawat Batik Air. Sekitar pukul satu pesawat yang saya tumpangi itu akhirnya landing di Bandara El Tari. Saya tidak sendiri disana. Ada teman-teman dari tim dari Gramedia dan Elex Media (Mas Bagus, Mbak Retno, Listi), Save The Children (Mas Ruly, Mbak Maitra, Mas Frandy, Fandy, Jeppery, Franky, Maymunah, Tora, Hana, dan Nadia) juga dua pemenang Gramedia Blogger Competition lainnya (Huud Alam dan Ursula) bersama saya. Itu hal yang luar biasa. Bertemu orang-orang baru yang ramah dan menyenangkan sejak mula. Dari bandara kami segera bergerak menuju markas Save The Children di Kupang menggunakan mobil sewaan. Mobil itu serupa bis kecil yang mampu diisi hingga 20 orang. Disana kami bertemu dengan jurnalis dair kompas teve, Astried dan Kalix. Usai ngobrol sejenak kami melanjutkan perjalanan. Tetapi, rasa lapar akhirnya membawa rombongan kami menuju KFC dan menikmati maka

OLEH-OLEH DARI ATAMBUA : PERJALANAN YANG DIAWALI DENGAN DRAMA

Gambar
  kalau tidak diberitahun Mbak Hairi Yanti, saya pasti kelewat berita ini. Terima kasih banyak Mbak... Menjadi salah satu dari tiga orang pemenang Gramedia Blogger Competition periode 1 Mei-30 Juni lalu tak pernah saya duga. Selain persiapannya mepet saya pun upload menjelang akhir lomba. Pikir saya, mari berpartisipasi saja. Menang kalah usah dipikirkan. Syukur-syukur masuk dalam dalam 10 karya terbaik. Kalau tidak pun tidak apa. Diluar dugaan saya justru masuk tiga besar. Sungguh, saya tidak percaya. Saya berulang kali berpikir, mungkin ada yang salah dengan pengumumunannya. Iya, begitu adanya. Saya ingat betul, saat masih penjurian saya justru menjagokan penulis lainnya. Penulis cilik yang keren menurut saya. Tapi, rupanya ketentuan Allah kerap tak terduga. Ternyata malah saya dianugerahi hal luar biasa. Jelang ulang tahun yang kesekian, saya mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk mengenal Belu lebih dekat sekaligus hadir dalam Festival Membaca di sana. Te

PLEASE, JANGAN NYAMPAH DI TOILET BANDARA!

Gambar
                                        Tanggal 21, sekitar pukul   satu. Saya sudah tidak sanggup menahan hasrat ingin pipis begitu pesawat Batik air yang saya tumpangi dari Jakarta ke Kupang landing. Saya segera turun dan mencari toilet di bandara kecil itu. Sepertinya saya sedang tidak beruntung, antriannya cukup panjang. Tetapi, saya harus sabar. Bukankah orang sabar di sayang Tuhan? Bisik hati saya. Masuk ke dalam, saya dibuat tercengang. Deretan tisu bertebaran. Toilet bagi perempuan itu tak ubahnya tempat sampah. Astaga! Saya menghela napas. Dalam hati saya mendumal, apa iya mbak-mbak atau ibu-ibu sebelum kami tidak tahu ada tempat sampah di bawah wastafel. Kalau tidak tahu kok kebangetan? Tempat sampahnya segede Gaban! Atau jangan-jangan memang kebiasaan? Langsung lempar begitu saja tisu yang dibawanya di sembarang tempat. Aih, benar-benar tidak tahu adat, pikir saya sambil masuk ke dalam salah satu bilik di toilet. Sampai di dalam bilik, saya lebih terc

TIPS NYAMAN MENDAKI GUNUNG IJEN

Gambar
image source : http://news.nationalgeographic.com Tak jarang saat kita memutuskan pergi ke suatu tempat, yang kita fokuskan adalah berapa biayanya, bagaimana keindahan destinasi wisata yang kita tuju, berapa jam waktu tempuhnya. Akan tetapi hal yang penting seperti medan yang hendak ditempuh kerap kita lupa. Meski masuk dalam daftar pencarian tetapi tidak fokus kesana. Alhasil ketika sampai di tujuan kita malah tidak menikmati perjalanan kita. Justru merasa menyesal karena telah memilih tempat tersebut sebagai destinasi wisata. Salah satu contohnya adalah gunung Ijen. Gunung yang secara administratif dimiliki oleh tiga kabupaten ini—Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso ini, memang menarik banyak traveller untuk datang. Banyaknya pemberitaan mengenai keindahan alam ( seperti blue fire yang kerap digembar-gemborkan hanya ada dua di dunia) dan rasa penasaran mendorong kita untuk pergi kesana dan menyaksikan.  Agar nyaman   saat mendaki gunung Ijen ada beberapa hal