Postingan

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!

Gambar
Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun.
Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng-up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lembaga. Apalagi kala…

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA

Gambar
Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak. 
Lalu bahagia itu apa?
Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah menyita waktunya.…

STRATEGI MEMAJUKAN KOPERASI DI ERA DIGITAL

Gambar
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh The World Co-operative Monitor 2016, ranking dan kapital indeks koperasi dunia masih di dominasi oleh negara-negara barat utamanya utamanya Amerika dan Eropa. Tercatat hanya empat negara dari Asia yang berhasil masuk ke dalamnya yaitu Jepang, Korea, Singapura, dan India. Dari keempatnya hanya Korea dan Jepang yang bisa menduduki posisi sepuluh besar. Korea di urutan keempat, sedangkan Jepang menurun peringkatnya, dari posisi utama menjadi urutan kesepuluh. Sementara Perancis berhasil mendudukkan tiga koperasinya di posisi 1, 7, dan 8, German berada di posisi ke-3 dan 9, disusul oleh Amerika menduduki posisi ke-5 dan 6. Indonesia sendiri diwakili oleh Koperasi Warga Semen Gresik, KOSPIN JASA, Koperasi Karyawan Indocement, Kopkar PT. Pindodeli, dan Penabulu Jaya Bersama hanya masuk dalam daftar koperasi yang dimonitor oleh lembaga tersebut. Hal ini seolah menunjukkan bahwa mewujudkan impian Bung Hatta menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonom…

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA

Gambar
Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja. Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?” Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.” Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.
Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?” Dziingh! Saya bingung mau jawab ap…

MUKENA KANGGO EMAK

Gambar
Mukena ing cantholan kuwi rupane wis kuning. Ana perangan kang suwek, nanging ditisik saengga ora katon. Renda ing pinggire mukena uga akeh sing dedes. Ketara menawa umure mukena wis tuwa. Mandeng mukena mau Lila dadi trenyuh. Kepingin rasane nukokne mukena anyar kanggo Emak. Nanging apa sing arep dienggo nukokne? Lha wong duwit sitheng bae ora nduwe. Kanthi rasa prihatin Lila ndeleh mukena ing cantholan maneh. Ing batin Lila ndonga supaya bisa antuk rejeki. Mbuh piye cara. Yen wus cukup mengko arep dienggo tuku mukena. Tas mari nyantholne mukena, dumadakan ana sing celuk-celuk. Lila cepet-cepet mbukak lawang ngarepan. Ngertakne sapa sing ngundang. Wo, tibane Danisha. Kanca rakete ing kelas VA. “Hei, Nish. Ana apa?” Danisha ora semaur, mung ngelungne kresek kang gemantung ing sepedahe. Lila nampani karo ujar ,”Apa iki?” “Coba delengen.” Lila nuli mbukak kresek. Tibane ing njeroanak ayam goreng tepung cacah papat. Gedhi-gedhi pisan. Wah, jan rejeki nomplok! Ora dinyana antuk lawuh enake kay…

MATUR NUWUN, MAYA

Gambar
Wis ana telung minggu Maria pindah saka Belu. Belu monosalah sijining kabupaten ing NTT. Panggone cedhak karo perbatasan Timor Leste, negara kang tau dadi propinsi paling enom ing Indonesia. Sak suwene pindah ing Genteng, Banyuwangi, Maria asring sedih. Dheweke rumangsa kesisih. Ora ana bocah sing gelem ngancani. Angger-angger mung diguyu-guyu utawa dirasani. Duh, Maria dadi gela. Menawa bisa ngono dheweke luwih milih bali lan sekolah ing Belu bae. Ing kana luwih penak. Kabeh kanca wus dikenal, malahan akeh sing kaya sedulur dhewe. Coba Papa isih ana, mestine Papa ora bakal lila menawa Maria urip ing Jawa. Kepiye meneh, kahanan wis beda nalika Papa ora ana. Dulure Marina kabeh ana telu. Mama megawene mung serabutan. Jelas ora bisa menehi panguripan apik kanggo Maria lan adhi-adhine. Siji-sijining dalan, bocah-bocah banjur digawa dening dulure kang mapan. Banjur disekolahne supaya masa depane cerah. Ora dadi wong bodho lan ketula-tula. Maria akhire melu Om Alex ing Banyuwangi. Dene adhi…

TERNYATA INI HAL YANG BIKIN SAYA TIDAK KAYA-KAYA.

Gambar
Sering saya bertanya kenapa Tuhan tidak membuat saya kaya. Setidaknya dengan kaya saya bisa melakukan banyak hal. Membantu orang tua, membantu oang lain, atau saudara. Tuhan itu nggak adil kan? Tetapi benarkah demikian? Saya merenung dan menemui bayangan diri saya. Seorang perempuan muda, dengan badan yang berisi, dan angan-angan yang terlampau luas melebihi jagad raya.
Melihatnya saya jadi tahu alasan Tuhan belum menjadikan saya secara harfiah. Secara mentalitas ternyata saya belum terasah, itu terbukti dari cara saya saya menyikapi banyak hal. Contohnya ketika saya ingin membantu orang. Saya sering pilih-pilih kepada siapa bantuan itu hendak diberikan. Saya terlampau takut jika kelak bantuan yang susah-susah saya berikan tidak diingat atau dilupakan. Alhasil saya mundur melakukan kebaikan. Atau bahasa mudahnya tidak ikhlas. Padahal Empunya hidup yang lebih kaya saja nggak banyang cing-cong memberi pada saya. Dalam bentuk apa saja. Dari mulai kesehatan sampai beragam kesenangan yang t…

KAPOKE MIKO

Gambar
Bocah tomboy kang lungguh ing ngarepku kuwi jenenge Cherry. Cherry Tanoyo lengkape. Cherry mono isih anyar ingkampungku kene. Sakdurunge Cherry urip ing Semarang, awor karo simbahe. Nalika dak takoni ngapa kok pindah ing Sarirejo, Cherry kandha menawa melu Papahe. Papahe tibane kelairan desa Sarirejo. Dene Mamahe asli saka Semarang kana. “Apa ora penak ing Semarang to, Cher?” Cherry manggut. Anging piye maneh. Soale Papahe diserahi ngurus perusahaan beras ing Sarirejo kene. Aku manthuk-manthuk krungu semaure Cherry. “Eh, kowe arep lumpia? Aku tas bae dikirimi Omaku ka Semarang.” “Tenane?” Cherry ngacungke jempole. Wah, ndeleng kuwi aku ora kathik mikir maneh. Langsung njawab iya. Cherry banjur menehi isyarat supaya aku nunggu sedhela. Dheweke arep mlebu lan njupuk lumpia dhisik. Aku mung manthuk kaya beo. Dene Cherry banjur bablas menyang njero omahe. Ora nganti limang menit Cherry bali karo nggawa baki. Ing dhuwure baki mau wus ana lumpia cacah papat lan es jeruk. “Byuh, kok repot-repot me…

SEKEPING PELAJARAN LEWAT SEONGGOK TAS

Gambar
Saya memang tergolong orang yang cuek soal tas. Ketika banyak teman perempuan berlomba membeli tas kece, saya justru jarang sekali. Saya bukan nggak doyan lihat tas caem, masalahnya tas caem itu nggak mungkin saya bawa sembarangan. Oleh karena itu saya lebih memilih tas ransel atau tas-tas selempang murah tapi fungsional. Bisa bawa kamera saku, ponsel, flashdisk, dompet, dan charger.
Meski begitu saya punya juga tas yang berharga lumayan. Kurang lebih setengah juta. Saya beli itu dengan pertimbangan bahwa saya butuh tas yang kuat, yang besar, dan muat untuk membawa banyak barang. Sebelumnya saya beli paling mahal seratus ribuan, tapi karena bolak-balik talinya putus akhirnya nekatlah saya membeli tas itu. Maklum saat masih ngantor dulu saya sering kali bawa kerjaan kantor pulang yang beratnya aduhai benar.
Oke deh, tasnya memang sesuai harapan. Satu hal yang diluar prediksi saya adalah tas itu ternyata berat sekali. Itu dalam kondisi kosongan, belum berisi barang-barang. Kalau berisi ba…

KETIKA JALAN KELUAR ITU BERNAMA PERCERAIAN

Gambar
Saya tidak tahu sejak kapan saya jadi pendengar bagi orang-orang. Saya bukan orang yang bijak, berilmu, dan pantas dimintai nasehat. Tetapi mungkin itu hadiah Tuhan. Saya jadi belajar banyak dari pengalaman orang-orang.
Dari sekian banyak hal yang membuat saya bersedih adalah mendengar kata perceraian. Mungkin saya akan baik-baik saja di depan si pencerita, tapi setelahnya saya bisa menangis berderai-derai tanpa tahu kenapa saya yang harus menangis bukannya dia. Terutama jika orang yang hendak bercerai punya anak, saya membayangkan jika saya berposisi sebagai anak mereka. Pasti saya akan sedih melihat dua orang yang saya cinta terpisah dengan alasan PERBEDAAN YANG TAK DAPAT DISATUKAN.
Diam-diam saya membayangkan saya menjadi mereka, jatuh cinta pada seseorang dan yakin benar untuk melangkah ke gerbang pelaminan bersamanya. Sebegitu gembiranya saya maka yanglupa untuk melakukan persiapan. Kalaupun ada, tak ubahnya persiapan layaknya orang yang pergi berwisata. Saya siapkan koper berisi p…

MAAF, SAYA BLOGGER YANG TIDAK ADIL

Gambar
Seperti halnya orang lain saya senang jika ada yang mengunjungi blog saya. Tetapi, sebaliknya saya jarang sekali berkunjung ke rumah blogger lainnya. Situasi saya memang tidak lega. Saya tidak bisa komen sebebasnya. Saya baru bisa koment kalau sudah online di warnet. Masa sih nggak bisa koment via ponsel? Pernah nyoba, berat dan susah. Setiap kali mengisi capcha (entahlah saya sebenarnya tidak pernah pasang, tapi sudah ada begitu saja di blog), selalu fail. Jadi komen via ponsel tak saya lakukan.
Online via warnet juga terbatas waktunya. Selama dua jam biasanya sudah disesaki agenda yang panjang. Posting ini di blog, browsing artikel pendukung cerita, cari video ini, kirim naskah...alhasil komen di blog sendiri saja kadang nyempet-nyempetin. Syukur nggak kelewat, kalau kelewat ya sudahlah. Saya terkadang merasa tak enak sendiri, pada mereka yang sudah blogwalking. Sudah didolani kok ya nggak mau bales dolan balik. But, thats true. 

KADALUWARSA

Gambar
Sudah jamak bagi saya menerima pertanyaan “Kapan nyusul, “Kapan nikah?”, “Mana calonnya?” karena orang melihat kesendirian saya. Saya jarang mempermasalahkan atau memasukkan ke hati, apalagi sampai mendendam pada si penanya. Tapi, bukan berarti saya tak pernah marah. Pernah. Ketika itu kesendirian saya dijadikan bahan olokan oleh seorang rekan kerja. Ia mengatakan saya kadaluwarsa, tak ubahnya susu basi yang teronggok di pojok gudang tempat saya bekerja (sekarang sudah ex). Nadanya yang sinis sangat menyakiti perasaan. Jika menuruti emosi maka saya akan melempar printer LQ 2170 didepan saya sekaligus mejanya. Sudah terbayang di mata saya betapa menyenangkannya melihat orang itu tersungkur sambil mengaduh-aduh kesakitan. Itu akan sangat memuaskan bukan? Tetapi kebalikan dari hati, sayajustru tidak melakukan apapun. Saya biarkan orang itu dan kata-katanya berlalu, tak mengijinkan kata-kata buruknya menyentuh hati saya. Seujung pun. Sederhana. Karena sayatidak kadaluwarsa. Kadaluwarsa bagi…

MINIM SPONSOR DAN DANA, PAGELARAN MAKARYA BERHASIL DIHELAT DENGAN GOTONG ROYONG SEMATA

Gambar
Gotong royong merupakan budaya bangsa yang sarat akan nilai luhur. Diwariskan secara turun temurun, budaya satu ini berakar kuat di pedesaan dan menjadi kepribadian bangsa. Banyak manfaat dari aktivitas ini, salah satunya menjalin kebersamaan dan mengeratkan hubungan emosional antar warga yang pada akhirnya berujung pada persatuan. Sayangnya, aktivitas positif ini mulai tergerus jaman. Seiring perkembangan yang terjadi belakangan, gotong royong lambat laun mengalami pergeseran. Gotong royong tak lagi kental akibat pengaruh modernisasi pada bidang ekonomi, sosial, budaya, dan gaya hidup masyarakat kita. Sebuah konsekuensi yang mau tak mau harus ditanggung karena masyarakat yang semula bersifat tradisonal menjadi lebih modern seperti sekarang. Gotong royong di masa kini lebih bersifat formal dengan pemberian upah berupa uang. Berbeda dengan gotong royong di masa lampau, di mana segenap masyarakat bahu-membahu secara sukarela tanpa mengharap imbalan, Akan tetapi, baru-baru ini masyarakat …

Memahami Kenapa Dia Memilih Bertahan dan Bukannya Bercerai

Gambar
Sebagai tukang dicurhatin, saya terbiasa mendengar beragam topik pembicaraan. Mulai dari anak pilek, sengkring-sengkring usai sectio caesarea, sampai masalah rumah tangga yang bikin mulas pendengarnya. Widiiih, untuk ukuran nona-nona yang tidak pengalaman soal rumah tangga (tangga rumah sih paham ya) itu perkara yang berat juga. Gara-gara itu pula banyak orang “nuduh” saya belum menikah itu karena jiper dengar banyak orang curhat masalah rumah tangga. Lha gimana, wong masalah rumah tangga itu biasanya pelik bin ruwet jaya. Tapi, swear deh kakak, saya belum menikah hanya karena belum saja. Ya, seperti rejeki dan mati begitu pun jodoh. Meski saya sudah menjolok langit dengan doa, alhamdulillah masih diberi kesendirian hingga sekarang (ihiiir...).
Eits, back to topic...Soal curhat rumah tangga. Saya pernah dapat curhatan teman yang mengalami KDRT. Semua orang bilang dia goblok karena tak mau meninggalkan suaminya. Masa, pria macam itu kok dipelihara. Yang ada cuma bikin sakit dada dan sak…

Lancar Bahasa Inggris Lisan dan Tulisan #Resolusiku2017

Gambar
Sebagai penulis saya bersyukur memiliki kemampuan berbahasa lebih. Tak hanya satu tapi lima bahasa sekaligus—bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa kalbu, bahasa tubuh, dan bahasa tarzan (pakai tangan, kaki, atau sembarang pokoknya you paham). Kedua bahasa yang pertama membuat komunikasi dengan orang berjalan lancar. Saya tak dituduh alien karena gagal paham bahasa apa yang mereka gunakan. Setidaknya dengan tetangga sebelah saya. Bahasa ketiga, bahasa kalbu, yang paham tidak sembarang orang. Harus yang mumpuni untuk memahami apa yang saya pikirkan. Dan ternyata yang mumpuni membaca kalbu saya tak lain adalah saya sendiri. Lha buktinya, meski saya sudah njureng-njureng (njureng itu apa ya bahasa Indonesianya, ah...iya muka serius, alis kenceng) menyiarkan bahwa dompet saya dalam titik nadir tidak ada yang mampu menangkapnya *hwahahaha. Jadi, ya sudahlah. Saya harus terimakalau bahasa kalbu itu tidak pas untuk komunikasi masal. Terlebih karena kebanyakan orang bukan cenayang yang mampu me…

KETIKA BUNDA BERPULANG

Gambar
Saya berpikir Ibu saya akan hidup lama. Bisa mendampingi saya menikah, melahirkan anak-anak, dan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi, Allah Sang Maha Kuasa itu memiliki skenario berbeda. Ibu saya dipanggilnya pulang dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-59. Saya masih ingat, jauh-jauh hari Ibu sering kali bilang bahwa dia tak ingin merepotkan siapapun saat meninggal. Ibu ingin saat hari itu tiba ia tidak mengalami sakit panjang hingga menyusahkan seluruh anggota keluarga. Allah yang baik mendengar dan mengabulkan pintanya. Ibu meninggal tanggal 13 September pukul 2.30 setelah mengeluh sesak di dadanya. Saya ingat betul, tengah malam itu Bapak membawa Ibu ke rumah sakit dengan bantuan Om saya. Saya tidak ikut karena harus jaga rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman, saya berlari menyongsong Om dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu saya.Tapi jawaban yang saya dengar mengejutkan. Dengan suara terbata-bata Om berkata ,”Ibu sudah tidak ada, Nduk...” Seperti or…

MENDAKI IJEN, MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI

Gambar
Saya belum pernah naik ke Gunung Ijen ketika Yogi, teman saya, menawari saya untuk ikut bersama rombongan tour yang dipimpinnya. Tawaran yang menarik. Tapi, saya sangsi mengingat saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Mendaki gunung itu bukan kegiatan main-main. Butuh stamina kuat agar energi tubuh tak mudah terkuras saat melakukannya. Bahkan meski jaraknya hanya sejauh 3 km seperti Gunung Ijen. Jangan salah, meski jalurnya pendakiannya pendek medan yang dilalui cukup berat—menanjak dengan dengan kemiringinan antara 25-35 derajat. Tanahnya berpasir pula. Siapapun yang pernah kesana pasti tahu bahwa langkah kaki akan terasa lebih berat. Para pendaki harus menahan bobot tubuhnya agar tak tergelincir kembali ke bawah.  Oleh karena itu kondisi tubuh harus disiapkan betul saat melakukan pendakian. Tubuh yang kurang fit selain membuat perjalanan jauh lebih lambat juga bisa merepotkan kawan seperjalanan. Padahal itulah yang saya alami kala itu, tak enak badan—meriang ditambah dengan ten…

SWITCH ALPA 12, NOTEBOOK YANG MELEBIHI HARAPAN

Gambar
Banyak yang mengira pekerjaan sebagai penulis itu pekerjaan yang keren dan seksi. Padahal yang sudah menjalani justru tahu pekerjaan ini berat. Banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena tidak sanggup menerima ujiannya. Bayangkan, tidak mudah menembus majalah atau koran. Tak cukup sebulan waktu tunggu hingga akhirnya karyamu layak tayang. Bisa berbulan-bulan hingga kau lupa pernah mengirimkan karya di majalah atau koran itu. Begitupun menerbitkan buku di penerbitan. Butuh jangka waktu sedikitnya tiga bulan untuk tahu kepastian apakah karyamu layak diterbitkan. Jika lebih dari itu tak ada jawaban harus sabar. Barangkali masih menunggu antrian. Bukankah yang kirim ke satu penerbit itu bisa ribuan? Kalaupun akhirnya layak terbit, si buku masih harus melalui proses yang lama lagi. Saya pernah menunggu kurang lebih dua tahun untuk menunggu terbitnya novel berjudul Glamo Girls yang saya tulis bareng dua teman saya, Tya dan Fitri. Jika sebegitu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk t…

ISL (INSPIRASI SEKOLAH LITERASI BANYUWANGI) BATCH 3 : GERAKAN KECIL YANG MENGESANKAN

Gambar
Beberapa tahun lalu seorang karib saya, Dee, mengajak saya untuk mengumpulkan teman dan memberi inspirasi ke sekolah-sekolah. Mereka akan menceritakan profesinya sendiri-sendiri, berharap itu bisa menjadikan anak-anak yang kami temui bercita-cita setinggi mungkin. Waktu itu saya menolak. Dengan gamblang saya mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu tak semudah membalik telapak tangan. Mengumpulkan dan meminta mereka meluangkan waktu di hari kerja bukan perkara gampang. Yang paling penting adalah perijinan. Saya jenis manusia spontan, paling malas kalau harus menghadapi birokrasi macam-macam. Padahal kalau sudah berurusan dengan pihak sekolah banyak yang harus dilakukan. Harus ke UPTD, harus ke sekolah, dan ngurus segala tetek bengek lain demi menyukseskan acara. Apalagi kami tinggal di kota yang berbeda. Dia dimana, saya dimana. Dia juga tak selalu pulang setiap pekan. Ini ngaturnya gimana? Kalau ada yang bikin acara seperti itu dan saya tinggal nyemplung tanpa repot jadi panitia ya …

BATAL GANTUNG PENA BERKAT WIFI.ID

Gambar
“Jadi penulis tak boleh gampang nangis. Harus tahan bantingan, sebab banyak sekali kesulitan menjelang. Tak cuma soal naskah yang tak ada kabar, tapi juga ketahananmu menghadapi krisis finansial.”
Saya mengetahui hal-hal itu sejak saya terjun di dunia literasi tahun 2009. Tapi, saya baru paham setelah benar-benar menggantungkan diri pada pekerjaan satu ini sejak 2012. Saya memang tergolong nekat, berbekal pengalaman menulis yang minim saya berani terjun menjadi penulis. Maka ibarat orang lari yang tak melakukan pemanasan cukup ketahanan saya pun menurun. Meski lintasan yang dicapai belum mencapai seperempatnya, saya megap-megap karena kesulitan bernapas. Walau begitu saya tetap bertahan. Saya sudah memulai perjalanan, jika saya berhenti maka sia-sia saja langkah yang sudah saya lakukan. Tetapi, ketika dompet hanya berisi lima ribu rupiah saya menyerah. Sepertinya saya harus berhenti saja. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk pergi ke warnet satu kali. Lalu selebihnya bagaimana? Padahal s…