Postingan

SAAT KAU MERASA HIDUPMU SERASA MANUSIA DI EMPER TOKO (CUMA BISA MELIHAT ORANG-ORANG MENDAPAT YANG DIINGINKAN SEMENTARA KITA MELONGO)

Gambar
Apakah pernah Anda berada di emperan toko? Anda hanya bisa melihat orang-orang lalu-lalang masuk ke dalam toko yang megah di seberang, tanpa Anda bisa mengikutinya. Anda ingin tapi tidak bisa. Perasaan iri muncul tatkala melihat orang-orang itu tertawa sambil menenteng belanjaan. Sedih melihat mereka bisa menikmati makanan di sebuah kedai gerai siap saji di lingkup toko besar itu sementara Anda menelan ludah. Melihat ke arah lain, Anda hanya bisa menghela napas sewaktu menatap orang-orang menikmati kopi di kedai paling gaya dalam lingkup toko besar itu juga. Sedangkan Anda? Jangankan kopi, uang saja tinggal seribu rupiah.  Anda mulai mengutuki keadaan. Mungkin juga mulai mengutuki Allah. Bertanya sembari memaki kasar kenapa Allah yang Maha Pemurah itu tak kunjung membuat hidup Anda naik kelas? Anda masih ada di level terbawah. Level kelas teri, itu teri kualitas rendah. Bukan teri berkelas yang dijajakan di toko-toko besar kenamaan. Usaha Anda seperti berhenti di tenga

KARENA SUKSES ITU BUTUH PROSES

Gambar
Suatu hari saya duduk dengan teman. Dia tengah memulai usaha baru, setelah memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tempatnya bernaung dulu. Ia memutuskan hal ini bukan tanpa perhitungan. Ia merasa  memiliki ilmu dan pengalaman, jadi kenapa tidak dicoba. Tetapi, ternyata   menjadi seorang enterpreneur memiliki banyak cobaan. Teman saya mengaku ilmu dan pengalaman yang ia miliki tak semua bisa diterapkan pada usaha barunya itu. Saya memahaminya, sebab meski kami terjun di dunia yang berbeda (dia kuliner dan saya menulis), situasi yang terjadi kurang lebih sama. Saya ingat saat memutuskan terjun bebas di dunia menulis lima tahun lalu saya pun membawa semangat yang sama. Saya yakin mampu dan bisa. Dalam perjalanan saya menyadari “amunisi” saya masih kurang dalam menghadapi merah-birunya dunia penulisan. Buat anak baru dan unyu seperti saya, dunia menulis itu belantara. Saya tergagap-gagap mencari jalan yang mana. Saya benar-benar tidak tahu harus apa. Selama itu

JANGAN COPY PASTE SEMBARANGAN, TAPI TEKAN TOMBOL SHARE ATAU TOMBOL BAGIKAN

Gambar
sumber gambar : https://pixabay.com Belakangan kasus plagiarisme memang mencuat. Saya tak banyak berkomentar, karena kenyataannya saya masih harus memperbaiki soal penulisan dan bagaimana cara mencantumkan nara sumber yang benar. Tak jarang karena tulisan itu terlampau umum, kita menuliskan tanpa pikir panjang. Lalu mengunggahnya di media sosial, tanpa sekalipun terpikir menyebutkan nama penulisnya. Karena masalah inilah saya berpikir ulang sebelum ikut-ikut “nyinyir melambai” di berbagai sosial media.  Lho kenapa kok saya berpikir demikian? Sederhana saja, tak jarang saya   berpikir yang saya lakukan sudah lurus dan benar. Padahal saat ditelisik dan di runut sampai ke belakang, eh ternyata saya pernah melakukannya. Hanya saja kita lupa, tidak sadar, atau malah tak ketahuan. Lalu bagaimana cara kita berkontribusi melawan plagiarisme? Tidak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri dengan tidak meng- copy paste sembarangan tulisan yang tersebar di me

JARANG MENJAWAB PESAN, TANDA TEMAN TAK PERHATIAN?

Gambar
sumber gambar : https://pixabay.com/ Beberapa kali saya ngobrol dengan teman, soal kekecewaan mereka pada teman lain yang susah sekali menjawab sapaan mereka via BBM, Line, WA atau sosial media. Kalaupun dijawab biasanya lama. “Jadi malas deh berteman dengannya. Masa iya balas pesan gitu aja nggak bisa. Emang sesibuk apa sih hidupnya? Lha wong aku yang sibuk ono, ini, anu, itu aja masih bisa kok balas chat di BBM atau WA.” Saya memahaminya kekecewaannya . Saya pun pernah berpikir sama. Seorang teman yang tak membalas berarti tak lagi perhatian sama kita. Dan itu menjengkelkan saya. Saya jadi berburuk sangka padanya . Saya berpikir ia sudah tak ingat lagi pada saya. Padahal dulu semasa lajang, segala hal dilakukan dengan saya. Bahkan curhat masalahnya pun ke saya. Sekarang jangankan “ say hi ”, ketemu saja sulitnya minta ampun. Teman macam apa itu? Tetapi pemikiran itu berubah ketika bertandang ke rumah seorang teman lainnya. Saya melihat bagaimana kesibukannya seb

PESAN MAMA MUDA UNTUK SINGLE FIGHTER SEPERTI SAYA: JANGAN NYEKOLAHIN ANAK KARENA GENGSI SEMATA

Gambar
Sebagai mama muda Liv (bukan nama sebenarnya), menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena itu saat mertua menyarankan agar anak sekolah di dekat rumahnya saja, ia menolak. Liv beranggapan sekolah di desa tidak cukup baik untuk putri pertamanya. Ia ingin dia mengenyam pendidikan di sekolah terbaik. Kebetulan di kecamatan tempat dia tinggal merupakan gudang sekolah terbaik. Dari TK, SD, SMP sampai SMA semua ada. Jadi ia tidak perlu khawatir soal pendidikannya. Karena itu begitu putri pertamanya usia lima tahun ia masukkan ke sebuah TK favorit. Meski biaya pendaftaran mahal tak apa, yang penting baik bagi putrinya. Begitu juga SD-nya. Ia bahkan rela membayar agar sang putri bisa masuk SD idaman sejuta umat itu. Tapi, apa lacur yang terjadi kemudian justru bikin Liv merasa stress sendiri. Putrinya, sebut saja Nana, enggan sekolah. Setiap hari ia harus berperang dengan putrinya, hanya agar si putri mau berangkat sekolah. Sepertinya sekolah adalah momok menakutkan bagi Nana. 

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!

Gambar
  Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun. Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng- up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lem

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA

Gambar
Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak.  Lalu bahagia itu apa? Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah m

STRATEGI MEMAJUKAN KOPERASI DI ERA DIGITAL

Gambar
  Unit Usaha Toko Koperasi Karyawan Indocement             Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh The World Co-operative Monitor 2016, ranking dan kapital indeks koperasi dunia masih di dominasi oleh negara-negara barat utamanya utamanya Amerika dan Eropa. Tercatat hanya empat negara dari Asia yang berhasil masuk ke dalamnya yaitu Jepang, Korea, Singapura, dan India. Dari keempatnya hanya Korea dan Jepang yang bisa menduduki posisi sepuluh besar. Korea di urutan keempat, sedangkan Jepang menurun peringkatnya, dari posisi utama menjadi urutan kesepuluh. Sementara Perancis berhasil mendudukkan tiga koperasinya di posisi 1, 7, dan 8, German   berada di posisi ke-3 dan 9, disusul oleh Amerika menduduki posisi ke-5 dan 6. Indonesia sendiri diwakili oleh Koperasi Warga Semen Gresik, KOSPIN JASA, Koperasi Karyawan Indocement, Kopkar PT. Pindodeli, dan Penabulu Jaya Bersama hanya masuk dalam daftar koperasi yang dimonitor oleh lembaga tersebut.             Hal ini seolah menun

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA

Gambar
Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja. Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?” Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.” Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa. Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?” Dziingh! Saya bin

MUKENA KANGGO EMAK

Gambar
              Mukena ing cantholan kuwi rupane wis kuning. Ana perangan kang suwek, nanging ditisik saengga ora katon. Renda ing pinggire mukena uga akeh sing dedes. Ketara menawa umure mukena wis tuwa. Mandeng mukena mau Lila dadi trenyuh. Kepingin rasane nukokne mukena anyar kanggo Emak. Nanging apa sing arep dienggo nukokne? Lha wong duwit sitheng bae ora nduwe.             Kanthi rasa prihatin Lila ndeleh mukena ing cantholan maneh. Ing batin Lila ndonga supaya bisa antuk rejeki. Mbuh piye cara. Yen wus cukup mengko arep dienggo tuku mukena.             Tas mari nyantholne mukena, dumadakan ana sing celuk-celuk. Lila cepet-cepet mbukak lawang ngarepan. Ngertakne sapa sing ngundang. Wo, tibane Danisha. Kanca rakete ing kelas VA.             “Hei, Nish. Ana apa?”             Danisha ora semaur, mung ngelungne kresek kang gemantung ing sepedahe. Lila nampani karo ujar ,”Apa iki?”             “Coba delengen.”             Lila nuli mbukak kresek. Tibane ing njer

MATUR NUWUN, MAYA

Gambar
                                                                                                                      Wis ana telung minggu Maria pindah saka Belu. Belu mono   salah sijining kabupaten ing NTT. Panggone cedhak karo perbatasan Timor Leste, negara kang tau dadi propinsi paling enom ing Indonesia. Sak suwene pindah ing Genteng, Banyuwangi, Maria asring sedih. Dheweke rumangsa kesisih. Ora ana bocah sing gelem ngancani. Angger-angger mung diguyu-guyu utawa dirasani. Duh, Maria dadi gela. Menawa bisa ngono dheweke luwih milih bali lan sekolah ing Belu bae. Ing kana luwih penak. Kabeh kanca wus dikenal, malahan akeh sing kaya sedulur dhewe.             Coba Papa isih ana, mestine Papa ora bakal lila menawa Maria urip ing Jawa. Kepiye meneh, kahanan wis beda nalika Papa ora ana. Dulure Marina kabeh ana telu. Mama megawene mung serabutan. Jelas ora bisa menehi panguripan apik kanggo Maria lan adhi-adhine. Siji-sijining dalan, bocah-bocah banjur digawa dening d

TERNYATA INI HAL YANG BIKIN SAYA TIDAK KAYA-KAYA.

Gambar
Sering saya bertanya kenapa Tuhan tidak membuat saya kaya. Setidaknya dengan kaya saya bisa melakukan banyak hal. Membantu orang tua, membantu oang lain, atau saudara. Tuhan itu nggak adil kan? Tetapi benarkah demikian? Saya merenung dan menemui bayangan diri saya. Seorang perempuan muda, dengan badan yang berisi, dan angan-angan yang terlampau luas melebihi jagad raya. Melihatnya saya jadi tahu alasan Tuhan belum menjadikan saya secara harfiah. Secara mentalitas   ternyata   saya belum terasah, itu terbukti dari cara saya saya menyikapi banyak hal. Contohnya ketika saya ingin membantu orang. Saya sering pilih-pilih kepada siapa bantuan itu hendak diberikan. Saya terlampau takut jika kelak bantuan yang susah-susah saya berikan tidak diingat atau dilupakan. Alhasil saya mundur melakukan kebaikan. Atau bahasa mudahnya tidak ikhlas. Padahal Empunya hidup yang lebih kaya saja nggak banyang cing-cong memberi pada saya. Dalam bentuk apa saja. Dari mulai kesehatan sampai ber

KAPOKE MIKO

Gambar
                                                                                              Bocah tomboy kang lungguh ing ngarepku kuwi jenenge Cherry. Cherry Tanoyo lengkape. Cherry mono isih anyar ing   kampungku kene. Sakdurunge Cherry urip ing Semarang, awor karo simbahe. Nalika dak takoni ngapa kok pindah ing Sarirejo, Cherry kandha menawa melu Papahe. Papahe tibane kelairan desa Sarirejo. Dene Mamahe asli saka Semarang kana.             “Apa ora penak ing Semarang to, Cher?”             Cherry manggut. Anging piye maneh. Soale Papahe diserahi ngurus perusahaan beras ing Sarirejo kene.    Aku manthuk-manthuk krungu semaure Cherry.             “Eh, kowe arep lumpia? Aku tas bae dikirimi Omaku ka Semarang.”             “Tenane?”             Cherry ngacungke jempole. Wah, ndeleng kuwi aku ora kathik mikir maneh. Langsung njawab iya. Cherry banjur menehi isyarat supaya aku nunggu sedhela. Dheweke arep mlebu lan njupuk lumpia dhisik. Aku mung manthuk kaya be

SEKEPING PELAJARAN LEWAT SEONGGOK TAS

Gambar
Saya memang tergolong orang yang cuek soal tas. Ketika banyak teman perempuan berlomba membeli tas kece, saya justru jarang sekali. Saya bukan nggak doyan lihat tas caem, masalahnya tas caem itu nggak mungkin saya bawa sembarangan. Oleh karena itu saya lebih memilih tas ransel atau tas-tas selempang murah tapi fungsional. Bisa bawa kamera saku, ponsel, flashdisk, dompet, dan charger. Meski begitu saya punya juga tas yang berharga lumayan. Kurang lebih setengah juta. Saya beli itu dengan pertimbangan bahwa saya butuh tas yang kuat, yang besar, dan muat untuk membawa banyak barang. Sebelumnya saya beli paling mahal seratus ribuan, tapi karena bolak-balik talinya putus akhirnya nekatlah saya membeli tas itu. Maklum saat masih ngantor dulu saya sering kali bawa kerjaan kantor pulang yang beratnya aduhai benar. Oke deh, tasnya memang sesuai harapan. Satu hal yang diluar prediksi saya adalah tas itu ternyata berat sekali. Itu   dalam kondisi kosongan, belum berisi bar

KETIKA JALAN KELUAR ITU BERNAMA PERCERAIAN

Gambar
Saya tidak tahu sejak kapan saya jadi pendengar bagi orang-orang. Saya bukan orang yang bijak, berilmu, dan pantas dimintai nasehat.   Tetapi mungkin itu hadiah Tuhan. Saya jadi belajar banyak dari pengalaman orang-orang. Dari sekian banyak hal yang membuat saya bersedih adalah mendengar kata perceraian. Mungkin saya akan baik-baik saja di depan si pencerita, tapi setelahnya saya bisa menangis berderai-derai tanpa tahu kenapa saya yang harus menangis bukannya dia. Terutama jika orang yang hendak bercerai punya anak, saya membayangkan jika saya berposisi sebagai anak mereka. Pasti saya akan sedih melihat dua orang yang saya cinta terpisah dengan alasan PERBEDAAN YANG TAK DAPAT DISATUKAN. Diam-diam saya membayangkan saya menjadi mereka, jatuh cinta pada seseorang dan yakin benar untuk melangkah ke gerbang pelaminan bersamanya. Sebegitu gembiranya saya maka yang   lupa untuk melakukan persiapan. Kalaupun ada, tak ubahnya persiapan layaknya orang yang pergi berwisata.

MAAF, SAYA BLOGGER YANG TIDAK ADIL

Gambar
Seperti halnya orang lain saya senang jika ada yang mengunjungi blog saya. Tetapi, sebaliknya saya jarang sekali berkunjung ke rumah blogger lainnya. Situasi saya memang tidak lega. Saya tidak bisa komen sebebasnya. Saya baru bisa koment kalau sudah online di warnet. Masa sih nggak bisa koment via ponsel? Pernah nyoba, berat dan susah. Setiap kali mengisi capcha (entahlah saya sebenarnya tidak pernah pasang, tapi sudah ada begitu saja di blog), selalu fail. Jadi komen via ponsel tak saya lakukan. Online via warnet juga terbatas waktunya. Selama dua jam biasanya sudah disesaki agenda yang panjang. Posting ini di blog, browsing artikel pendukung cerita, cari video ini, kirim naskah...alhasil komen di blog sendiri saja kadang nyempet-nyempetin. Syukur nggak kelewat, kalau kelewat ya sudahlah. Saya terkadang merasa tak enak sendiri, pada mereka yang sudah blogwalking. Sudah didolani kok ya nggak mau bales dolan balik. But, thats true. 

KADALUWARSA

Gambar
            Sudah jamak bagi saya menerima pertanyaan “Kapan nyusul, “Kapan nikah?”, “Mana calonnya?” karena orang melihat kesendirian saya. Saya jarang mempermasalahkan atau memasukkan ke hati, apalagi sampai mendendam pada si penanya. Tapi, bukan berarti saya tak pernah marah. Pernah. Ketika itu kesendirian saya   dijadikan bahan olokan oleh seorang rekan kerja. Ia mengatakan saya kadaluwarsa, tak ubahnya susu basi yang teronggok di pojok gudang tempat saya bekerja (sekarang sudah ex). Nadanya yang sinis sangat menyakiti perasaan.             Jika menuruti emosi maka saya akan melempar printer LQ 2170 didepan saya sekaligus mejanya. Sudah terbayang di mata saya betapa menyenangkannya melihat orang itu tersungkur sambil mengaduh-aduh kesakitan. Itu akan sangat memuaskan bukan? Tetapi kebalikan dari hati, saya   justru tidak melakukan apapun. Saya biarkan orang itu dan kata-katanya berlalu, tak mengijinkan kata-kata buruknya menyentuh hati saya. Seujung pun.             Sederh

MINIM SPONSOR DAN DANA, PAGELARAN MAKARYA BERHASIL DIHELAT DENGAN GOTONG ROYONG SEMATA

Gambar
  source : Karo Adventure             Gotong royong merupakan budaya bangsa yang sarat akan nilai luhur. Diwariskan secara turun temurun, budaya satu ini berakar kuat di pedesaan dan menjadi kepribadian bangsa. Banyak manfaat dari aktivitas ini, salah satunya menjalin kebersamaan dan mengeratkan hubungan emosional antar warga yang pada akhirnya berujung pada persatuan.               Sayangnya, aktivitas positif ini mulai tergerus jaman. Seiring perkembangan yang   terjadi belakangan, gotong royong lambat laun mengalami pergeseran. Gotong royong tak lagi kental akibat pengaruh modernisasi pada bidang ekonomi, sosial, budaya, dan gaya hidup masyarakat kita. Sebuah konsekuensi yang mau tak mau harus ditanggung karena masyarakat yang semula bersifat tradisonal menjadi lebih modern seperti sekarang. Gotong royong di masa kini lebih bersifat formal dengan pemberian upah berupa uang. Berbeda dengan gotong royong di masa lampau, di mana segenap masyarakat bahu-membahu secara suk

Memahami Kenapa Dia Memilih Bertahan dan Bukannya Bercerai

Gambar
Sebagai tukang dicurhatin, saya terbiasa mendengar beragam topik pembicaraan. Mulai dari anak pilek, sengkring-sengkring usai sectio caesarea , sampai masalah rumah tangga yang bikin mulas pendengarnya. Widiiih, untuk ukuran nona-nona yang tidak pengalaman soal rumah tangga (tangga rumah sih paham ya) itu perkara yang berat juga. Gara-gara itu pula banyak orang “nuduh” saya belum menikah itu karena jiper dengar banyak orang curhat masalah rumah tangga. Lha gimana, wong masalah rumah tangga itu biasanya pelik bin ruwet jaya. Tapi, swear deh kakak, saya belum menikah hanya karena belum saja. Ya, seperti rejeki dan mati begitu pun jodoh. Meski saya sudah menjolok langit dengan doa, alhamdulillah masih diberi kesendirian hingga sekarang (ihiiir...). Eits, back to topic...Soal curhat rumah tangga. Saya pernah dapat curhatan teman yang mengalami KDRT. Semua orang bilang dia goblok karena tak mau meninggalkan suaminya. Masa, pria macam itu kok dipelihara. Yang ada cuma bik

Lancar Bahasa Inggris Lisan dan Tulisan #Resolusiku2017

Gambar
            Attention please...Do you speak English? (source : http://gratisography.com)             Sebagai penulis saya bersyukur memiliki kemampuan berbahasa lebih. Tak hanya satu tapi lima bahasa sekaligus—bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa kalbu, bahasa tubuh, dan bahasa tarzan (pakai tangan, kaki, atau sembarang pokoknya you paham). Kedua bahasa yang pertama membuat komunikasi dengan orang berjalan lancar. Saya tak dituduh alien karena gagal paham bahasa apa yang mereka gunakan. Setidaknya dengan tetangga sebelah saya.             Bahasa ketiga, bahasa kalbu, yang paham tidak sembarang orang. Harus yang mumpuni untuk memahami apa yang saya pikirkan. Dan ternyata yang mumpuni membaca kalbu saya tak lain adalah   saya sendiri. Lha buktinya, meski saya sudah njureng-njureng (njureng itu apa ya bahasa Indonesianya, ah...iya muka serius, alis kenceng) menyiarkan bahwa dompet saya dalam titik nadir tidak ada yang mampu menangkapnya *hwahahaha. Jadi, ya sudahlah.