Postingan

Bepergian Sendiri Mengajari Saya Memahami Arti Kalimat "Berbaik Sangka Pada-Nya"

Gambar
Saya memang bukan petualang. Saya tak paham adventure atau segala macam. Terlebih saya itu anak rumahan. Kata adik bungsu saya itu kalah jauh mainnya sama ayam. Iya memang benar. Saya hampir tidak pernah keluar karena dulu acap merasa tidak nyaman. Takut bila nanti di jalan kenapa-napa, padahal berangkat saja belum. Padahal yang dituju hanya seputar kabupaten sendiri. Sekarang sebaliknya. Orang-orang sering heran karena saya pergi sendirian mengunjungi berbagai tempat wisata yang bejibun di kabupaten saya tinggal, Banyuwangi. Tidak beramai-ramai dengan lainnya. Padahal acapkali saya tidak paham betul tempat yang saya tuju meskipun   Hanya mengandalkan google map dan info-info yang saya dapat dari browsing , saya biasanya menetapkan hendak menuju kemana. Tanpa perlu mengajak si ini atau si itu. Entahlah, menurut saya pergi sendirian itu jauh lebih nyaman ketimbang bareng teman. Bukannya bareng-bareng tidak menyenangkan, akan tetapi ada hal-hal yang bisa jadi kurang

KETIKA AFIN YULIA MENJADI MARKONAH A.K.A MARISA

Gambar
Februari silam ... "Fin, kamu besok ikut main Oplosan (red. nama talkshow di sebuah te levisi lokal, Banyuwangi TV) ya," kata Mas Faisal, waktu ketemu saya di Rumah Baca Sahabat Kecil. Jreeng! Ha, saya kok disuruh berakting. Mana bisa? Sekalinya saya nampil di depan orang banyak (sok) nge-drama itu ya bersama Maliki dan Widhi di acara ISL (inspirasi Sekolah Literasi) 2017 Desember silam. Selain itu mana pernah. Tapi, nggak apa-apalah ini acaranya kan tujuannya untuk pendidikan. Kalaupun nanti gagal, paling kedepannya tidak dimainkan. Pikir saya sambil mikir adegan yang mungkin saya mainkan. Yah, paling figuran. Pikir saya tenang. "Kamu main jadi TKI yang baru pulang ke Indonesia ," kata Mas Faisal sambil menjelaskan seperti apa saya harus tampil nanti yakni kudu bling-bling, cetar, dan gaya. Mbokneee! Secara saya ini tampilan sehari-hari 'kan tomboy. Baju seadanya, sandal jepit, jilbab, dan tanpa bedak pula. Pernik-pernik yang "cewe

Lebih Baik, Lebih, Sehat, & Lebih Manfaat di Tahun Mendatang

Gambar
            Tahun 2017 segera berlalu beberapa hari lagi. Terlepas dari beberapa kegagalan—penolakan penerbit dan naskah cernak yang belum ada kabar—saya mensyukuri apa yang saya capai di tahun ini.             Pertama , k esempatan belajar dari ahlinya . Dua tahun lalu saya sudah berkeinginan untuk   ikut kursus menulis cernak online pada dari Ibu Nurhayati Pujiastuti. Tetapi, karena uangnya tidak terkumpul juga, keinginan itu akhirnya batal. Tidak terduga tahun ini saya justru mendapat kesempatan belajar langsung pada beliau dengan cara yang berbeda. Saya mendapakan bonus kelas nulis gratis berkat membeli bukunya. Kelas nulis pertama pada bulan Juni, kedua pada bulan Nopember. Meskipun hanya berlangsung sepekan dengan waktu belajar kurang l ebih dua jam, tetapi apa yang beliau ajarkan itu memberikan saya pemahaman baru soal apa dan bagaimana menulis cerita anak. Bahkan hasil belajar pada beliaulah beliau ajarkan membantu saya lolos pelatihan Room To Read Agustus sila

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)

Gambar
source image : http://pixabay.com/ Dikira Hamil             Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.             Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”             Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”             Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.             Lain hari, saat melihat-lihat

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ

Gambar
              Aplikasi workshop menulis Room to Read Phase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya...                         Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanya   beberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu

“DEAR HUSBAND”, KUMPULAN SURAT CINTA YANG MENUNJUKKAN KETULUSAN DAN KETERIKATAN PENULIS PADA PASANGAN

Gambar
 Judul buku                     :    Dear Husband Penulis                           :     Afifah Afra, Sinta Yudisia, Laila, dkk. Tahun terbit                   :    November 2016 ISBN                             :     978-602-6344-07-7 Ketebalan                       :    128 halaman Cover                             :     Soft Cover Penerbit                          :    Indiva Media Kreasi Harga buku                    :     -             Melihat   cover dan membaca judul buku ini   tak urung mengingatkan saya pada tahun-tahun 90-an ke belakang di mana orang-orang masih menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan lainnya. Termasuk didalamnya urusan cinta. Pada masa itu jamak bagi pasangan untuk mengungkapkan isi hatinya lewat selembar surat berisi kalimat puitis dan romantis.             Sekarang situasi sudah berbeda. Pola komunikasi berubah masa kini telah berubah. Kecepatan komunikasi di era digital membuat acara mengirim dan menerima pesan terjad

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN

Gambar
Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf... Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film. Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan. Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

Gambar
    Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG :  @upirocks )             Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.             Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stu

UNFOLLOW DEMI KESEHATAN JIWA

Gambar
Belakangan diam-diam saya suka unfollow orang. Bukan tanpa alasan saya melakukannya. Biasanya saya unfollow jika akun yang bersangkutan sudah terlampau sering curhat masalah sampai tidak mengenal batasan (ngamuk disertai kalimat umpatan), kerap share berita dengan sumber tak berdasar ditambahi dengan caption menyebalkan, dan kemudian menyerang orang lain yang tak sependapat atau sepemikiran dengannya meskipun bukan saya yang ditujunya. Pada mulanya saya biarkan, toh saya bisa melewatinya. Tetapi, lama-kelamaan intensitasnya semakin besar. Pada akhirnya negativisme yang menyebar di beranda saya itu sudah melampaui batasan. Saya tidak nyaman membaca banyaknya amarah yang muncul tiap kali saya membuka akun sosial media saya. Saya jadi terprovokasi untuk “menasehatinya”, agar jangan terlalu kala bersosial media. Pakailah sudut pandang beragam, agar tidak gampang jadi orang yang panasan. Sedikit-sedikit nyinyir melambai di media sosial. Bahkan untuk hal yang belum jelas perkaranya.

MENEROBOS FIRDAUS MINI DI KAWANGSARI

Gambar
Kawangsari masih terdengar asing di dunia wisata Banyuwangi. Terletak di kampung Kawangsari, desa Wringin Putih, kecamatan Muncar, blok mangrove ini   belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Ijo, atau justru Kawah Ijen yang sudah mendunia, kawasan ini baru saja muncul ke permukaan.  Untuk mencapainya Anda harus melajukan kendaraan menuju desa Tembokrejo, langsung menuju desa Wringin Putih. Dari jalanan beraspal desa ini, Anda akan diarahkan menuju Kawang, melewati rumah-rumah penduduk yang berselang-seling dengan areal persawahan. Perjalanan mendekati akhir bila Anda mendapati deretan tambak-tambak yang memanjang di kiri-kanan jalan.   Di terik siang itu, tambak-tambak tampak lengang. Tidak ada aktivitas apapun karena sudah lama ditinggalkan. Di masa silam tambak-tambak ini pernah berjaya. Setiap hari dipenuhi aktivitas dari pemilik dan pekerja tambak yang sibuk mengurusi benur hingga jadi udang siap ekspor. Tetapi, fenomena pe

SAAT KAU MERASA HIDUPMU SERASA MANUSIA DI EMPER TOKO (CUMA BISA MELIHAT ORANG-ORANG MENDAPAT YANG DIINGINKAN SEMENTARA KITA MELONGO)

Gambar
Apakah pernah Anda berada di emperan toko? Anda hanya bisa melihat orang-orang lalu-lalang masuk ke dalam toko yang megah di seberang, tanpa Anda bisa mengikutinya. Anda ingin tapi tidak bisa. Perasaan iri muncul tatkala melihat orang-orang itu tertawa sambil menenteng belanjaan. Sedih melihat mereka bisa menikmati makanan di sebuah kedai gerai siap saji di lingkup toko besar itu sementara Anda menelan ludah. Melihat ke arah lain, Anda hanya bisa menghela napas sewaktu menatap orang-orang menikmati kopi di kedai paling gaya dalam lingkup toko besar itu juga. Sedangkan Anda? Jangankan kopi, uang saja tinggal seribu rupiah.  Anda mulai mengutuki keadaan. Mungkin juga mulai mengutuki Allah. Bertanya sembari memaki kasar kenapa Allah yang Maha Pemurah itu tak kunjung membuat hidup Anda naik kelas? Anda masih ada di level terbawah. Level kelas teri, itu teri kualitas rendah. Bukan teri berkelas yang dijajakan di toko-toko besar kenamaan. Usaha Anda seperti berhenti di tenga

KARENA SUKSES ITU BUTUH PROSES

Gambar
Suatu hari saya duduk dengan teman. Dia tengah memulai usaha baru, setelah memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tempatnya bernaung dulu. Ia memutuskan hal ini bukan tanpa perhitungan. Ia merasa  memiliki ilmu dan pengalaman, jadi kenapa tidak dicoba. Tetapi, ternyata   menjadi seorang enterpreneur memiliki banyak cobaan. Teman saya mengaku ilmu dan pengalaman yang ia miliki tak semua bisa diterapkan pada usaha barunya itu. Saya memahaminya, sebab meski kami terjun di dunia yang berbeda (dia kuliner dan saya menulis), situasi yang terjadi kurang lebih sama. Saya ingat saat memutuskan terjun bebas di dunia menulis lima tahun lalu saya pun membawa semangat yang sama. Saya yakin mampu dan bisa. Dalam perjalanan saya menyadari “amunisi” saya masih kurang dalam menghadapi merah-birunya dunia penulisan. Buat anak baru dan unyu seperti saya, dunia menulis itu belantara. Saya tergagap-gagap mencari jalan yang mana. Saya benar-benar tidak tahu harus apa. Selama itu

JANGAN COPY PASTE SEMBARANGAN, TAPI TEKAN TOMBOL SHARE ATAU TOMBOL BAGIKAN

Gambar
sumber gambar : https://pixabay.com Belakangan kasus plagiarisme memang mencuat. Saya tak banyak berkomentar, karena kenyataannya saya masih harus memperbaiki soal penulisan dan bagaimana cara mencantumkan nara sumber yang benar. Tak jarang karena tulisan itu terlampau umum, kita menuliskan tanpa pikir panjang. Lalu mengunggahnya di media sosial, tanpa sekalipun terpikir menyebutkan nama penulisnya. Karena masalah inilah saya berpikir ulang sebelum ikut-ikut “nyinyir melambai” di berbagai sosial media.  Lho kenapa kok saya berpikir demikian? Sederhana saja, tak jarang saya   berpikir yang saya lakukan sudah lurus dan benar. Padahal saat ditelisik dan di runut sampai ke belakang, eh ternyata saya pernah melakukannya. Hanya saja kita lupa, tidak sadar, atau malah tak ketahuan. Lalu bagaimana cara kita berkontribusi melawan plagiarisme? Tidak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri dengan tidak meng- copy paste sembarangan tulisan yang tersebar di me

JARANG MENJAWAB PESAN, TANDA TEMAN TAK PERHATIAN?

Gambar
sumber gambar : https://pixabay.com/ Beberapa kali saya ngobrol dengan teman, soal kekecewaan mereka pada teman lain yang susah sekali menjawab sapaan mereka via BBM, Line, WA atau sosial media. Kalaupun dijawab biasanya lama. “Jadi malas deh berteman dengannya. Masa iya balas pesan gitu aja nggak bisa. Emang sesibuk apa sih hidupnya? Lha wong aku yang sibuk ono, ini, anu, itu aja masih bisa kok balas chat di BBM atau WA.” Saya memahaminya kekecewaannya . Saya pun pernah berpikir sama. Seorang teman yang tak membalas berarti tak lagi perhatian sama kita. Dan itu menjengkelkan saya. Saya jadi berburuk sangka padanya . Saya berpikir ia sudah tak ingat lagi pada saya. Padahal dulu semasa lajang, segala hal dilakukan dengan saya. Bahkan curhat masalahnya pun ke saya. Sekarang jangankan “ say hi ”, ketemu saja sulitnya minta ampun. Teman macam apa itu? Tetapi pemikiran itu berubah ketika bertandang ke rumah seorang teman lainnya. Saya melihat bagaimana kesibukannya seb

PESAN MAMA MUDA UNTUK SINGLE FIGHTER SEPERTI SAYA: JANGAN NYEKOLAHIN ANAK KARENA GENGSI SEMATA

Gambar
Sebagai mama muda Liv (bukan nama sebenarnya), menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena itu saat mertua menyarankan agar anak sekolah di dekat rumahnya saja, ia menolak. Liv beranggapan sekolah di desa tidak cukup baik untuk putri pertamanya. Ia ingin dia mengenyam pendidikan di sekolah terbaik. Kebetulan di kecamatan tempat dia tinggal merupakan gudang sekolah terbaik. Dari TK, SD, SMP sampai SMA semua ada. Jadi ia tidak perlu khawatir soal pendidikannya. Karena itu begitu putri pertamanya usia lima tahun ia masukkan ke sebuah TK favorit. Meski biaya pendaftaran mahal tak apa, yang penting baik bagi putrinya. Begitu juga SD-nya. Ia bahkan rela membayar agar sang putri bisa masuk SD idaman sejuta umat itu. Tapi, apa lacur yang terjadi kemudian justru bikin Liv merasa stress sendiri. Putrinya, sebut saja Nana, enggan sekolah. Setiap hari ia harus berperang dengan putrinya, hanya agar si putri mau berangkat sekolah. Sepertinya sekolah adalah momok menakutkan bagi Nana. 

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!

Gambar
  Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun. Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng- up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lem

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA

Gambar
Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak.  Lalu bahagia itu apa? Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah m

STRATEGI MEMAJUKAN KOPERASI DI ERA DIGITAL

Gambar
  Unit Usaha Toko Koperasi Karyawan Indocement             Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh The World Co-operative Monitor 2016, ranking dan kapital indeks koperasi dunia masih di dominasi oleh negara-negara barat utamanya utamanya Amerika dan Eropa. Tercatat hanya empat negara dari Asia yang berhasil masuk ke dalamnya yaitu Jepang, Korea, Singapura, dan India. Dari keempatnya hanya Korea dan Jepang yang bisa menduduki posisi sepuluh besar. Korea di urutan keempat, sedangkan Jepang menurun peringkatnya, dari posisi utama menjadi urutan kesepuluh. Sementara Perancis berhasil mendudukkan tiga koperasinya di posisi 1, 7, dan 8, German   berada di posisi ke-3 dan 9, disusul oleh Amerika menduduki posisi ke-5 dan 6. Indonesia sendiri diwakili oleh Koperasi Warga Semen Gresik, KOSPIN JASA, Koperasi Karyawan Indocement, Kopkar PT. Pindodeli, dan Penabulu Jaya Bersama hanya masuk dalam daftar koperasi yang dimonitor oleh lembaga tersebut.             Hal ini seolah menun

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA

Gambar
Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja. Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?” Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.” Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa. Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?” Dziingh! Saya bin

MUKENA KANGGO EMAK

Gambar
              Mukena ing cantholan kuwi rupane wis kuning. Ana perangan kang suwek, nanging ditisik saengga ora katon. Renda ing pinggire mukena uga akeh sing dedes. Ketara menawa umure mukena wis tuwa. Mandeng mukena mau Lila dadi trenyuh. Kepingin rasane nukokne mukena anyar kanggo Emak. Nanging apa sing arep dienggo nukokne? Lha wong duwit sitheng bae ora nduwe.             Kanthi rasa prihatin Lila ndeleh mukena ing cantholan maneh. Ing batin Lila ndonga supaya bisa antuk rejeki. Mbuh piye cara. Yen wus cukup mengko arep dienggo tuku mukena.             Tas mari nyantholne mukena, dumadakan ana sing celuk-celuk. Lila cepet-cepet mbukak lawang ngarepan. Ngertakne sapa sing ngundang. Wo, tibane Danisha. Kanca rakete ing kelas VA.             “Hei, Nish. Ana apa?”             Danisha ora semaur, mung ngelungne kresek kang gemantung ing sepedahe. Lila nampani karo ujar ,”Apa iki?”             “Coba delengen.”             Lila nuli mbukak kresek. Tibane ing njer