14 September 2013

ME, VICKY, FARHAT ABBAS, DAN AHMAD DHANI



HENDRIANTO a.k.a VICKY PRASETYO 


Sebagai biang penggunaan bahasa “tingkat dewa” yang akhir-akhir ini kerap dibahas di media, pria satu ini memang mencuri perhatian. Dia berhasil membuat orang mencelanya habis-habisan. Mulai dari yang berkesan menyanjung sampai yang terang-terangan mengucapkan makian.

Begitu juga saya.  Tak ketinggalan saya ikut mencela dan  bikin status menggunakan bahasa ajaibnya sekedar buat olok-olok. Sampai kemudian ada suara kecil yang bertanya ,”Lha, Fin...jangan-jangan kamu juga gitu. Nggak sadar kamu suka nggunain bahasa ribet biar dikira keren. Itu tuh,  bahasa yang cuma bisa dipahami oleh ahli bahasa kalbu (ngeeek). Biar dikira hebat. Coba aja deh cek status-status ama komen-komen kamu di sosmed.”

Et dah...iya juga ya. Jangan-jangan saya juga begitu. Saya sih nggak merasa.. . Bisa jadi saya juga seperti Vicky. Hanya saja tidak pernah ada orang yang mengatakan terus terang di depan saya. Sepert kata pepatah kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.

FARHAT ABBAS


Satu hal yang terlintas setiap kali Farhat Abbas nongol di media ,”Kenapa tidak ada negara tetangga yang meng-klaim dirinya sebagai aset bangsa? Kenapa?”



Jika ada negara tetangga yang berbuat demikian, saya akan merelakannya. Biarlah Farhat Abbas dibawa pulang kesana. Jujur saya eneg mendengar omongannya. Bagaimana mungkin seorang yang berniat mencalonkan diri jadi Presiden ngomongnya nggak pakai ayakan gini? Atau jangan-jangan sebenarnya dia pakai ayakan, hanya saja ukurannya yang paling besar? Hingga kata-kata yang keluar justru “mempersuram dan mempertakut” keadaan  (huwaah tadi mencela Vicky, sekarang saya malah ketularan).

Sampai-sampai ada teman yang bilang, sepertinya cocok kalau dia duet dengan Vicky untuk jadi Capres dan Cawapres. Sama-sama somplak!

Tetapi sebelum makian terlontar, lagi-lagi suara kecil itu memberi peringatan ,”Hush, hush! Kalau  begitu apa bedanya kamu sama dia? Kamu nggak suka dan menghujatnya dengan kalimat kasar, berarti kalau ngomong kamu juga nggak pakai ayakan dong? Kalau nggak suka cukup pindah channel aja. Beres kan? Lagian Tuhan menghadirkan orang macam ini biar kita bisa berkaca. Noh, lihat...jangan-jangan kita berlaku demikian juga. Suka berkomentar nggak bermutu, menyakitkan perasaan, kerap melakukan tindakan kontroversial, dan sebagainya....dan sebagainya.”

Saat hati sudah tenang, saya mengambil cermin. Tetapi saya kembali meletakkannya. Kenapa? Sebab saya takut si cermin justru menunjukkan saya tak berbeda dari Farhat Abbas, sang pengacara.

AHMAD DHANI


Saat berita kecelakaan yang diakibatkan oleh putra bungsunya di muat di berbagai media, rasanya lebih mudah untuk menghujat ketimbang melihat sisi baiknya.

Sebut saja dia sebagai ayah keterlaluan, membelikan mobil untuk anaknya yang baru tiga belas tahunan.Sebut saja dia sebagai pihak paling bersalah, setelah putra bungsunya menewaskan enam orang (menurut berita terakhir 7 orang) dalam sebuah kecelakaan. Sebut saja ia tidak bijak, bla...bla...bla...

Hingga tak urung saya terpancing untuk berkomentar. “Yaelah, Mas Dhani anak segitu kok dibeliin mobil to?”  begitu yang ingin saya ucapkan sebelum akhirnya saya hentikan.

Kok gitu? Takut ya? Toh komentar itu tidak diketahuinya. Hanya televisi, kursi-kursi, meja dan beragam benda mati lain saksinya. Silakan saja, kenapa ditahan-tahan? 

Ah, bukan. Bukan karena takut atau apa. Saya hanya tak bisa meneruskannya sewaktu (lagi-lagi) suara kecil itu bertanya ,”Hello? Apa iya kita sudah sedemikian benar sampai ikut-ikutan komentar? Jangan-jangan kamu adalah tante, budhe, kakak,  atau malah sepupu yang membiarkan anak-anak saudaramu yang seusia AQJ naik motor di jalan raya? Bahkan berseru senang  dan memuji ketika mereka berhasil mengendarainya...”

Duh! Saya terdiam. Sepertinya suara kecil itu benar. Mengapa tidak menolehi pundak sendiri sebelum menyudutkan orang? Toh, saya juga nggak bisa menjamin, apakah saya bertindak bijaksana jika berada di posisinya. Saya juga tidak bisa menjamin setelah jadi orang tua kelak saya lebih baik darinya.

*Krik, krik, krik...Saya nyengir sendiri pada akhirnya.

Pada akhirnya setiap kejadian diatas adalah kaca benggala buat kita. Terserah bagaimana kita menyikapinya, menjadikannya pelajaran di masa datang atau justru sebaliknya.


Hug, hug!


28 komentar:

  1. Entah kenapa kali ini saya setuju sekali. Sebelum menghujat orang lain memang sebaiknya kita berkaca terlebiih dahulu. belum tentu kita lebih baik dari orang tersebut. Mending simpen di hati sambil berujar, Astagfirullah!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, takutnya ternyata malah diri kita eh saya ding lebih buruk dari yang dicela.
      Lha kan jadi tengsin jadinya, uuuu

      Hapus
  2. sip mbk..ah,farhat abbas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihihihi, malam Hanna
      Lha kok bilang ah buat Akang Farhat Abbas?

      Hapus
  3. oh saya kira mbaknya mau ngekor salah satu dari ketiga orang diatas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwahahaha, apa ya gitu ya? Kan bisa terkenal secara instan, ahihihihi

      Hapus
  4. bener juga, mba. segala kejadian yang ada di sekitar kita bisa jadi bahan pelajaran hidup, tanpa perlu kita yang jadi aktornya, kita bisa ambil hikmahnya. semoga bisa jadi lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh La, nggak bayangin kalo kita aktornya. Mana tahan? Apa nggak pusing dihujat semua orang.

      Uwaa, tidaaak.

      Hapus
  5. Yg pasti ketiga tokoh tadi orang-orang yg "inspiring". Buktinya banyak yg posting topiknya ttg mereka.

    BalasHapus
  6. Nyimak saja ya gan..
    Sukses terus buat Anda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih udah mampir, sukses juga buat and

      Hapus
  7. Keren .... saya juga jadi berkaca soale sama yang orang pertama dan kedua itu, saya ikut geli. Sama yang kedua saya eneg.
    Harusnya berpikir seperti ini ya, apa kita sendiri sudah benar? Kayak lagu Ngaca Dulu Deh ... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi lagunya CJR mangstab dalam hal ini, ngaca dulu deh

      Hapus
  8. Kalau seperti Ahmad Dani membelikan anaknya mobil walau masih kecil mungkin wajar bagi kaum borju gitu ya karena disertai sopir pribadinya. Di Jakarta pan banyak yg kayak gitu. Dan bukan satu dua aja. Bagi mereka biasa. Bagi saya sungguh luar biasa. Boro2 Dul yang baru 13 tahun, anak saya yang 4 tahun aja sudah minta dibelikan mobil. Hadooh...

    Tapi bener dengan kejadian ini semua orang tua mengambil hikmah. Sekolah, pemerintah, dan pihak lainnya mulai memikirkan pengawasan kepada anak2 kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waw.. 4 tahun minta mobil,

      saya dulu lebih hebat bu, waktu kecil sya malah minta robot :D

      Hapus
    2. sisi positif dari kecelakaan itu emang bikin semua pihak melek mbak :-)

      Hapus
  9. syuka dgn tulisan ini.. makasih mbak apin.. bikin sy merenung jga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak, terutama saya. Perlu menengok dan merenung lagi

      Hapus
  10. Bikin mikir, kok ada ya orang orang kayak gitu, hahahaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak ada mereka gak rame

      Hapus
  11. Untung gak sempat menghujat, cuman dalam hati aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi, sambil ngelus dada ye mbak

      Hapus
  12. saya pernah nanya ke teman kampus orang Thailand, "ada nggk berita-berita aneh di negaramu? seperti eyang subur,dkk" teramsuk kyk viki, farhat, dan semua yg aneh-aneh di TV ktia ....

    orang Thailand itu cuma senyum, trus bilang "tidak ada mas!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha iya mas ayub, media kita maunya rating tinggi doang. Hal begono dibahas mulu, cape deh

      Hapus
  13. selalu suka tulisan segarmu mbak afin. Kayaknya cocok jd penulis novel2 remaja or buku motivasi remaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, mbak ella rek. Saya aminin deh

      Hapus
  14. selalu suka tulisan segarmu mbak afin. Kayaknya cocok jd penulis novel2 remaja or buku motivasi remaja

    BalasHapus
  15. selalu suka tulisan segarmu mbak afin. Kayaknya cocok jd penulis novel2 remaja or buku motivasi remaja

    BalasHapus