Postingan

JAGA KOMENTAR KITA SUPAYA TIDAK ADA SULLI LAINNYA

Gambar
Sebagai orang yang tidak terlampau nge-fans dengan artis-artis Korea, nama Sulli hanya sekilas-sekilas terdengar saja. Saya tahu dia pernah tergabung dengan grup F(x), tetapi selebihnya itu saya tak mengikuti beritanya. Tetapi, tetap saja mengejutkan mengetahui bahwa ia bunuh diri. Penasaran saya pun membuka berita-berita tentangnya. Sulli dianggap sebagai orang yang penuh dengan kontroversi. Bahkan ada satu berita yang menyamakannya dengan Awkarin. Ada tujuh kesamaan yang ditulis di sana, mulai dari image lugu dan cerdas pada awalnya, paras cantik dan tubuh indah, suka umbar kemesraan dengan pasangan, sering menampilkan foto yang hot, sering menimbulkan kontroversi, banyak haters-nya, dan terakhir banyak sekali komentar jahat mampir ke akun instagramnya.
Sejahat itukah netizen? Sampai membuat orang seperti Sulli depresi dan ingin bunuh diri? Saya hanya tahu soal itu di media, itu pun sudah diterjemahkan, jadi mungkin sudah dikoreksi agar "pedasnya" tak sejeletot aslinya. T…

Tak Hanya Bagikan Buku, Bookbuster Membuat Saya Harus Mengalahkan Rasa Takut di Jalan Raya

Gambar
Tak banyak yang tahu kecelakaan yang pernah saya alami, yang membuat saya ngamar kurang beberapa hari di rumah sakit beberapa tahun lalu. Masa itu sudah usai, tetapi traumanya masih ada. Perlahan memang menghilang, tetapi belum sepenuhnya. Setiap kali berpapasan dengan mobil, truk, atau kendaraan lain yang lebih besar dari motor saya, rasa tidak nyaman itu terkadang masih muncul ke permukaan. Bayangan ketika ditabrak dari belakang, lalu dada menghantam setang, dan saya jatuh ke aspal dengan darah segar merembes melalui jilbab kala-kala muncul meski hanya sekilas. Lecet-lecet di kaki dan tangan memang tidak terlampau parah, namun akibat kecelakaan itu saya butuh tiga bulan untuk bisa menatap komputer dengan benar tanpa perlu merasa pusing atau berkunang-kunang. Hingga sekarang bagian kepala yang robek dan harus dijahit itu masih terasa sengkring-sengkring. Meskipun sudah tidak sesering dulu. Kondisi semacam ini yang bikin saya ragu ikut Bookbuster tahun ini meskipun sudah mendaftar. Pas…

Kiprah Fiya Mendorong Tumbuhnya Budaya Literasi di Lingkungan Sutri

Gambar
“Bukan tugas guru atau pemerintah saja yang harus menyebarkan virus-virus literasi, tetapi juga kita. Kalau bukan kita, dari masyarakat dan pemudanya yang membantu, kapan literasi di Indonesia akan maju?”
Begitu kata Fiya ketika ditanya mengapa ia rela bersusah-payah membuka rumah baca. Ia paham jika langkah yang diambilnya takkan mudah, tetapi gadis kelahiran tahun 1995 itu bergeming. Kunjungan ke beberapa rumah baca bersama rekan-rekan Rumah Literasi Indonesia (red. dulu Rumah Literasi Banyuwangi/RLB) telah memicu Fiya untuk melakukan hal yang sama, turut menyebarkan dan membudayakan virus literasi di sekitarnya dengan mendirikan rumah baca. Ia berharap rumah baca ini kelak bisa menjadi wadah bagi anak-anak bermain, berkumpul bersama, dan berinteraksi (srawung) dengan masyarakat sekitarnya, selain menebarkan kegemaran membaca sebagai goal akhirnya.

Menyadari bahwa masyarakat di sekitarnya kurang memahami apa itu literasi, Fiya memilih berstrategi dengan mengenalkan lewat anak-anaknya …

SIKAPI KEGAGALAN SEBAGAIMANA NELAYAN BERJUANG MENDORONG PERAHU KE LAUTAN

Gambar
Kadang ada satu masa di mana kita merasa bosan dan putus asa. Terlebih ketika yang kita upayakan gagal di depan mata. Seperti yang saya alami hari itu, ketika mendatangi pantai Pecemengan untuk menikmati sore di sana. Saya nampak baik-baik saja di luar. Akan tetapi, di dalam saya tengah berkutat dengan perasaan tidak nyaman akibat kegagalan. Naskah novel yang saya kirimkan untuk lomba, gagal. Tidak masuk final. Naskah dua cerpen anak saya pun demikian.
Hal pertama yang saya lakukan usai membaca pengumuman lomba-lomba tersebut adalah kesal. Disusul dengan gerutuan ,"Tahu begini nggak usah ikut saja. Sudah susah-susah menulis, tak ada satu pun yang nyangkut juga."
Namun, Allah yang baik justru memberikan pelajaran gratisan dari dua orang nelayan tua yang berupaya mendorong perahunya ke tengah lautan di Pantai Pacemengan. Perahu itu jelas tidak ringan. Mendorongnya ke lautan, untuk kemudian digunakan berlayar mencari ikan, jelas butuh butuh kekuatan. Lalu bagaimana caranya agar …

Cik Gwat, Kembang Telang, Dan Kebaikan Spontan

Gambar
Saya baru pulang dari takziyah di rumah tetangga waktu melihat kembang telang di sisi kiri jalan berbunga. Kembang telang itu tumbuh subur, diantara perdu bunga soka. Tepat di depan rumah yang dimiliki toko Bares. Tidak disangka sewaktu asyik menyibak daun-daunnya, mencari buahnya yang berbentuk polong-polongan, seseorang menyeru pada saya. Menyilakan saya jika ingin mengambil bunganya untuk dijadikan seduhan atau malah obat. Konon kawannya yang sakit mata sembuh karena minum rebusan bunga telang.
“Ambil saja, nggak apa-apa. Saya kok yang menanamnya di situ,” katanya ringan. Saya yang sejatinya tidak berniat mengambil bunga itu, mengucapkan terima kasih atas tawarannya. Saya bilang ingin mencari buahnya untuk dijadikan bibit. Ternyata perempuan paruh baya itu malah menawari saya bibitnya. Tak lama kemudian ia pun menghilang. Lalu kembali sekejap kemudian dengan kresek hitam kecil di tangan sembari meminta maaf karena ternyata bibitnya tidak ada di rumah, melainkan di tokonya.
Tak berapa…

Bagikan, Bukan Copas! Karena Membagikan Lebih Terhormat Ketimbang Copas

Gambar
Selaku penulis, saya bukan tak pernah melakukan copy & paste. Akan tetapi, hal tersebut saya lakukan di awal-awal saya belajar menulis. Semakin ilmu bertambah, hal tersebut saya tinggalkan. Saya tidak melakukannya lagi, bahkan merasa tidak nyaman ketika ada orang yang copy & paste tulisan orang lain. Terlebih tanpa disertakan sumbernya.
Menulis itu, kawan, butuh perjuangan. Sekalipun hanya curhat, tetapi tetap butuh usaha agar tulisan enak dibaca atau dimengerti orang. Apa rasanya jika tulisan yang susah-payah kita unggah, begitu saja di copas? Pasti tidak mengenakkan bukan? Jika demikian mengapa kita "tega" melakukannya pada tulisan orang.
Acap pelakunya berdalih "Toh, niat saya berbagi untuk kebaikan. Kebetulan tulisannya bagus, jadi apa salahnya jika di copas?". Benarkah demikian? Jika ya, coba sekarang posisi dibalikkan. Pelaku copas yang menulis dan kita yang ganti menyebarkan tanpa menyebutkan nama penulisnya atau link sebagai sumber rujukan. Kira-kira k…

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…