25 Oktober 2018

Pencernaan Terjaga, Aktivitas Lancar Jaya, Berkat Ekstrak Alami Lidah Buaya

Sejak 2012 silam saya beralih profesi, dari pekerja kantoran menjadi penulis. Banyak suka duka saya alami. Salah satunya adalah dianggap remeh dan gampang. Beberapa pihak mengira  jika menulis itu pekerjaan yang mudah. Tidak perlu usaha, lha wong tinggal duduk dan mengetik saja. Padahal tidak demikian. Untuk membuat satu artikel tentang manfaat buah kepel yang tayang di majalah berbahasa Jawa (Jayabaya) empat tahun silam, saya harus berupaya keras membaca banyak jurnal berbahasa Inggris sebagai dasar tulisan.
Begitu juga sewaktu saya menulis novel solo pertama yang terbit di Sheila (imprint penerbit Andi), “Sweet Sour Love : From Spring To Winter”. Demi cerita ini saya browsing dan membaca sebanyak-banyaknya tentang pergantian musim di Eropa. Seperti apakah musim semi, musim panas, musim gugur, hingga musim dingin untuk mendapatkan gambaran utuhnya. Itu baru perjalanan awal. Selanjutnya masih ada proses panjang yang dimulai dari pengiriman naskah ke penerbit, penerimaan, lalu proses penerbitan.
Akan tetapi, saya jarang membalas komentar yang merendahkan. Buang waktu dan energi saja. Yang perlu saya lakukan adalah bekerja sebaik-baiknya. Namun acap kesibukan menulis membuat saya lengah menjaga kesehatan tubuh saya. Demi menuntaskan tulisan saya bisa duduk berjam-jam tanpa minum. Warna urin yang pekat dan berkurangnya konsentrasi menjadi pertanda bahwa tubuh saya butuh cairan. Akan tetapi, peringatan ini saya abaikan. Saya terus menulis dan hanya sesekali minum ketika benar-benar dahaga.
Kondisi itu masih diperburuk lagi dengan asupan makanan yang kurang serat, cenderung pedas, dan bersantan. Juga olahraga yang kurang. Tidak mengherankan jika saya mengalami gangguan pencernaan. Lebih tepatnya saya mengalami sembelit atau kesulitan buang air besar. Sembelit atau disebut juga konstipasi merupakan kelainan pada sistem pencernaan kita, di mana tinja yang mengeras sulit dikeluarkan. Jika dipaksakan akan menyebabkan kesakitan yang luar biasa pada penderitanya. Inilah yang saya alami kala itu.
Kondisi ini jelas tidak menyenangkan. Rasa begah, sakit, dan tidak nyaman yang saya rasakan mengganggu aktivitas harian. Tidak hanya itu saja. Saya juga diliputi rasa khawatir begitu mengetahui bahwa sembelit yang berlebihan akan melukai usus dan bisa memicu timbulnya kanker. Wah, nggak bisa begini nih, pikir saya. Saya harus mencari cara bagaimana mengatasinya. 
 Berbekal informasi dari internet  saya mengetahui bahwa herbadrink lidah buaya bisa menjadi solusi bagi masalah yang saya alami. Klaim bahwa produk ini minuman herbal alami tak langsung saya percaya. Oleh  sebab  itu ketika menemukannya di swalayan, hal pertama yang saya amati adalah komposisinya. Dari keterangan di kemasan luarnya, herbadrink lidah buaya ternyata terbuat dari ekstrak lidah buaya seberat 4,6 gr. Ekstrak seberat ini setara dengan 10,4 gr daun lidah buaya

 

Di dalam ekstrak lidah buaya terkandung banyak vitamin, mineral, serta konstituen aktif  lainnya seperti enzim, lignin, saponin, asam salisilat, serta asam amino  yang memiliki manfaat besar bagi pertumbuhan dan fungsi sistem tubuh kita. Tidak mengherankan jika kita mengkonsumsinya akan mendapatkan lima manfaat berikut ini :
1.            Mencegah stres oksidatif
Stres oksidatif terjadi karena jumlah radikal bebas melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Kandungan vitamin B12, B1, B2, B6, A, E, C, niasin, serta asam folat pada lidah buaya bisa membantu untuk menghambat terjadinya stres oksidatif.
2.            Meningkatkan fungsi kardiovaskular
Kandungan beta sitosterol pada lidah buaya membantu menurunkan kadar kolesterol, meningkatkan sirkulasi darah, sekaligus memperkuat vena dan arteri. Bisa dikatakan kehadiran beta sitosterol membantu menurunkan resiko serangan stroke dan penyakit jantung koroner.
3.            Meningkatkan imunitas
Kandungan polifenol dalam lidah buaya berperan sebagai antioksidan dalam tubuh. Selain mencegah  radikal bebas, bersama senyawa lain, polifenol berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi pada tubuh kita.
4.            Membantu meredakan peradangan
Anti inflamasi yang terkandung dalam lidah buaya bisa membantu meredakan peradangan  di saluran dubur akibat pengerasan tinja. Senyawa ini bekerja dengan cara mengurangi produksi prostaglandin, hormon penyebab timbulnya radang berlebihan.
5.            Melancarkan pencernaan
Alkali dalam lidah buaya membantu menormalkan PH tubuh dan menyeimbangkannya. Dengan demikian bakteri pencernaan dapat berkembang dengan baik. Begitu pula sistem pencernaan dalam menjalankan fungsinya untuk memecah makanan. 
6.            Membantu mengatasi sembelit               
Aloin atau barbaloin merupakan senyawa yang bertanggung jawab dalam mengatasi sembelit. Senyawa ini akan meningkatkan kadar air dalam usus, merangsang sekresi lendir, dan meningkatkan gerakan peristaltik usus. Sekaligus melonggarkan pergerakan tinja dan memudahkannya keluar dari dari tubuh.

 

Setelah komposisi, hal kedua yang saya amati adalah kandungan gulanya. Penting bagi saya bahwa produk ini bebas gula atau sugar free. Sejak Ibu (almarhum) dinyatakan menderita diabetes, sejak itu pula saya mulai mengurangi asupan gula. Mula-mula saya melakoninya untuk mendukung diet gula beliau. Namun belakangan saya melakukannya untuk menjaga kesehatan.
Produk herbadrink lidah buaya memang tidak menggunakan gula sama sekali. Sebagai gantinya digunakan sukralosa, pemanis buatan tanpa kalori. Penggunaan sukralosa memang bukan tanpa alasan. Pemanis buatan yang telah digunakan di 80 negara dan disetujui oleh BPOM ini tidak memiliki efek pada metabolisme karbohidrat, kontrol glukosa darah jangka pendek maupun panjang, ataupun pelepasan insulin. 



Yang lebih mengasyikkan, ekstrak lidah buayanya sudah dikemas  dalam bentuk saset  yang praktis dan higienis. Bentuknya yang ramping tidak memakan tempat dan memudahkan kita untuk menyelipkannya di dalam tas sewaktu bepergian. Jika diperlukan tinggal ambil dan seduh saja. Hebatnya setelah diseduh, tak ada endapan tersisa. Hal ini terjadi berkat penggunaan teknologi tinggi pada saat produksi. Selain itu masih ada keunggulan lainnya, minuman satu ini diracik dengan seksama. Kualitas dan rasanya pun tak berubah, tetap terjaga sebagaimana aslinya. Tanpa tambahan pengawet dan perisa pula. Dengan begini pencernaan terjaga, pekerjaan pun lancar jaya. Tak terganggu dengan keluhan sembelit yang menyiksa.

Terbebas dari sembelit dengan herbadrink lidah buaya.

Agar lebih afdal, selain minum herbadrink lidah buaya, saya juga melakukan perubahan gaya hidup. Olahraga yang semula saya abaikan kini mulai saya lakukan. Pilihan saya jatuh pada yoga, selain membantu meningkatkan fleksibilitas, olahraga satu ini membantu untuk mengurangi keluhan sakit pinggang dan leher karena terus-menerus menghadap komputer. Makanan pun tak luput diperhatikan. Buah dan sayur sebagai sumber serat tak lupa dimasukkan dalam daftar asupan makanan. Begitu juga minumannya. Tak kurang dari delapan gelas sehari masuk ke dalam tubuh, sebagai ganti cairan yang hilang selama saya bekerja.
Nah, bicara soal produk herbadrink yang bermanfaat, rupanya tidak hanya herbadrink lidah buaya saja. Jika musim penghujan tiba, sari jahe adalah pilihan tepat bagi Anda untuk menghangatkan badan. Sekaligus  meredakan masuk angin, kembung serta mengurangi rasa mual di saat bersamaan. Bila nafsu makan menghilang, sari temulawak merupakan jawabannya. Tinggal sobek sasetnya, seduh, lalu minum sesuai takaran. Bagusnya, kedua produk minuman herbal ini dapat ditemui dalam varian sugar free juga, sama seperti herbadrink lidah buaya.
Fyuh, lega rasanya mendapati ada produk semacam ini. Produk yang memahami keinginan orang-orang di masa kini untuk kembali berdekatan dengan alam. Menggunakan kebaikan racikan bahan-bahan alami untuk menjaga kesehatan, tetapi dengan cara yang lebih modern dan kekinian.



22 Oktober 2018

Hei, Blogfam Homecoming!



Tahun Mei 2006 saya memiliki blog pertama kali. Komunitas yang saya tuju waktu itu adalah Blogfam, salah satu komunitas blog besar pada masanya. Tujuan saya waktu itu sederhana, menambah ilmu dan pertemanan. Maklum saya baru di dunia itu. Wajar jika kemudian saya merasa butuh kawan, agar tak sendirian. Jaman itu blogfam tak ubahnya diary, berisi kisah keseharian. Tidak seperti sekarang dengan niche-niche tertentu, misalnya jalan-jalan, makanan, atau bahkan finansial. Bikin kita, yang baca ini serasa kenal secara pribadi dengan penulisnya meski tak pernah jumpa. 

Sekarang perkembangan blog luar biasa. Dari sana seseorang bahkan bisa menangguk untung berjuta-juta berkat tayangan di blog yang mendatangkan banyak pembaca. Tidak hanya itu saja, dari blog seseorang bisa mendapat tawaran kerja dari mulai review produk hingga review hotel. Keren ya? 

Lha saya bagaimana, rasanya sejak memiliki blog 12 tahun silam, blog ini tak berubah. Tetap menjadi diary bagi saya. Bahasanya tentu beda, mengikuti perkembangan umur pemiliknya. Jika dulu gokil, sekarang lebih tertata. Haha!

Kembali soal Blogfam, apa yang bikin saya terus mengingatnya?
Well, saya terus mengingat Blogfam karena di sanalah saya pertama kali mengikuti lomba blog. Waktu itu tahun 2008 dan menang. Memang hanya juara 3, tapi pencapaian itu memantik saya. Saya terpacu untuk mengikuti lomba blog lainnya yang diadakan Blogfam di tahun 2009. Rasa pede itulah yang kemudian mendorong saya untuk ikut lomba menulis yang berbeda. Bukan lagi di blog tetapi menulis cerpen atau kisah inspiratif yang infonya berhamburan di facebook, salah satu media sosial yang saya ikuti di tahun 2010. Beberapa menang dan lainnya tidak. 

Tahun 2011, buku antologi cerita anak berjudul “Rahasia Rumah Reyot” terbit di Tali Kata. Waktu itu Kang Iwok Abqary-lah mentornya, salah satu penulis buku anak yang terkenal. Dan setahun setelahnya saya menang lomba foto makanan di blogfam. Nggak nyangka juga sih, wong saya juga bukan ahlinya. 

Semua kenangan itu masih terekam baik dalam ingatan saya. Termasuk diantaranya bagaimana saya kenal dengan Mbak Vie dan Tuteh Pharmantara. Sampai sekarang saya masih berkawan dengan keduanya. Meskipun hanya berbalas komentar saja.
Tahun ini Blogfam sudah mencapai usia remaja, 15 tahun euy! Dan Maknyak Labibah Zain berniat mengumpulkan semua anggotanya kembali. 

Kayaknya sih seru tuh. Apalagi tempatnya di Jogja, hari Sabtu tanggal 8 Desember mendatang, di tempat Maknyak tinggal. Kebayang deh senengnya kumpul-kumpul dan mengenang banyak hal menyenangkan. Termasuk bagaimana kita kenal dulu lewat blogfam.  
Eh, kamu juga anggota Blogfam? Hayuk, ceritakan gimana sih kesanmu dulu tentang rumah virtual ini?




 Sumber gambar :

Photo by rawpixel on Unsplash

10 Oktober 2018

Sekelumit Kisah Dari Kelas Inspirasi 6 Di Kaliglagah




Perjalanan Menuju MI Al Khairat, Kaliglagah

Saya sedang tak enak badan ketika berangkat ke Jember, Jumat (5 Oktober 2018), pukul 14.51. Hidung masih mampet, batuk masih tersisa, dan meriang masih tak mau lepas dari badan saya meski  sudah mengalami hal ini sepekan sebelumnya. Saya berbaik sangka saja, insyaallah ketika sampai di tempat hal-hal tersebut tak jadi kendala. Satu setengah jam perjalanan, saya sampai di Jember. Yova, relawan fasilitator yang menjemput  saya, sudah standby di samping masjid yang tepat di sisi kiri stasiun Jember. Saya langsung mengenalinya karena baju batik bermotif burung merak yang dipakainya. Kok tahu? Iya, sebelumnya Yova memang menyebutkan pakaian yang dia kenakan via WhatsApp. Biar saya mudah mencari dia.  

Dari stasiun, Yova mengajak saya ke rumah relawan lain, Riza Rastri. Di jalan Yova sempat bilang, kemungkinan besar saya mengenal Riza. Saya sempat mengerutkan kening, tapi begitu ketemu saya langsung paham. Saya sudah ketemu dia di Pelatihan Menulis yang Diadakan Bekraf 2016 silam. Bersama Tyas juga yang kali ini jadi relawan Videografer untuk Rombel 11, MI Al Khairat, Kaliglagah. Jadi hari itu tak ubahnya reuni saja. Saya tidak sadar selama ini yang muncul di WhatsApp Rombel Al Khairat itu mereka berdua. Wahahaha, dodolnya!

Kami berangkat setengah jam setelahnya dengan motor. Sampai  Sumberbaru hari sudah gelap. Dan yang bikin saya melongo adalah jalannya! Rupanya untuk menuju desa Kaliglagah harus melewati turunan dan tanjakan yang curam, disusul jembatan cor yang tak ada pengamannya selain bambu-bambu ringkih setinggi lutut saja. Bila tak hati-hati bisa terjun bebas ke sungai di bawah jembatan tadi. Dari jembatan ini perjalanan menembus hutan karet dimulai. Berbekal penerangan dari lampu motor kami berempat menembus jalan setapak di kebun karet yang hanya lega dilewati satu motor saja. Jika ada dua motor salipan, salah satu harus minggir untuk memberi yang lain jalan. Sempat hampir salah jalan, karena Yova lupa belokannya. Mungkin karena hari sudah malam rasa-rasanya semua jalan sama saja.

Beberapa saat berlalu, kami menemukan cahaya selain lampu motor kami.  Cahaya yang berasal dari satu-satunya rumah di antara rimbun karet yang kami lalui. Tetangga lain di mana? Ada, hanya letaknya lumayan jauh juga. Sempat mikir kok berani orang itu tinggal sendirian di sini. Terus gimana kalau ada apa-apa malam hari. Hwahaha, benar-benar pemikiran khas orang yang tinggal di kawasan ramai penduduk ‘kan? Yang rumah satu dengan lainnya hanya di batasi halaman sempit dan tembok saja.

Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah perkampungan. Sampai di sini jalanan masih gampang. Jalannya masih datar, sedikit batu, dan tidak berkelok tajam. Disusul jalanan cor yang kira-kira panjangnya mencapai sepertiga desa. Selepas itu jangan ditanya. Saya sampai terlempar-lempar di boncengan belakang Yova. Apa pasalnya? Jalanan buruk sekali. Terdiri dari batu-batu yang tak beraturan dan tajam. Tak ada jalan yang bisa dipilih, keadaannya sama semua dan itu berlangsung hingga kami sampai di tempat tujuan. Percayalah, tak cuma pengendara motor  yang harus prima, motor pun harus prima agar selamat sampai tujuan. Terlebih berkendara malam-malam, bagi orang luar perkampungan yang kurang paham kondisi jalan. 

29 September 2018

My 2018 Best Moment : Menjadi Relawan Sekaligus Menyaksikan Orang-Orang Berduyun-Duyun Datang Ke Alas Malang Demi Kemanusiaan



Saya sudah duduk cukup lama di komputer, sudah pula menemukan foto-foto yang menunjukkan momen-moment terbaik dalam hidup saya. Sesuatu yang siap diceritakan pada dunia. Tetapi, sebelum mulai menulis kisahnya, mata saya terpancang pada  folder bernama "Banjir Bandang Alas Malang".

Saya ingat hari itu tanggal 22 Juni 2016, saya sedang ngobrol di kafe bareng teman-teman SMA ketika berita tentang banjir bandang di Alas Malang itu datang. Diikuti sederetan video yang menunjukkan betapa dahsyat banjir yang melanda desa tersebut. Bukan kali pertama Alas Malang diterjang banjir. Bulan sebelumnya, Alas Malang dibanjiri lumpur  luapan Kali Badeng. Tidak disangka, baru saja sisa-sisa banjirnya dibereskan, banjir yang lebih besar tiba. Kurang lebih 300 rumah terdampak karenanya. 


Briefing sebelum berangkat ke area yang terdampak banjir bandang.

 Sabtu pagi, saya tiba di Posko Penangan Banjir Alas Malang, mengikuti himbauan untuk ikut kerja bakti bersih-bersih sisa banjir bandang yang saya baca di dinding Mbak Ira, salah satu wartawan Kompas yang terjun jadi relawan juga di sana. Seharusnya saya membawa pacul atau sekop, tetapi saya tidak punya. Jadi saya datang membawa badan saja. Setiba di sana saya kebingungan karena ternyata kebanyakan para relawan datang berombongan. Pihak BPBD pun berujar, agar tidak masuk ke area bencana sendirian. Harus berkelompok dan ada yang memimpin, agar memudahkan koordinasi di lapangan. Beruntung saya bertemu rekan-rekan dari Kabat, seperti Siska, Widhi, dan lain-lainnya. Bersama kelompok mereka saya mendaftar jadi relawan di Alas Malang.

Usai briefing, saya dan delapan rekan dari Kabat berangkat ke area yang terkena banjir bandang. Sepanjang jalan kami disuguhi dahsyatnya akibat banjir bandang. Rumah-rumah di tepi jalan dilamuri lumpur tebal. Tidak ada yang kalis, semuanya terkena. Di beberapa sudut rumah, sofa-sofa mentereng teronggok kehilangan cahaya. Tertutup lumpur tebal yang menimpa rumah pemiliknya. Di jalanan bekas-bekas material banjir menggunung, terdiri dari campuran pasir, ranting, pohon tumbang, kasur, dan apapun yang bisa dihanyutkan air.
Di samping jembatan, sebuah toko rusak parah. Hampir semua dindingnya hanyut terbawa banjir. Disebelahnya, toko lain masih berdiri. Namun tidak lagi sempurna. Dibalik pintu rolling door yang terbuka, tidak ada apapun benda yang tersisa. Semua hanyut di bawa banjir yang melanda sehari sebelumnya. Masjid Ar-Royan dipenuh pasir setinggi pinggang saya. Setidaknya sepertiga halaman sudah dibersihkan sewaktu saya tiba. Tak tahu seperti apa bagian dalamnya, tetapi menilik berita yang seliweran di timeline, butuh banyak orang untuk mengembalikan kondisi masjid seperti semula.

Masyarakat dan relawan bahu membahu membersihkan sisa banjir bandang.
 Bagaimana jalan menuju ke sana? Tidak bisa dilewati. Jalanan dari dan menuju Alas Malang ditutup di kedua sisi. Untuk menuju kemari para relawan harus lewat jalur yang memutar, entah lewat Singojuruh atau lewat Rogojampi. Sementara dari posko ke lokasi bencana pun semua orang harus berjalan kaki. Jaraknya memang dekat, tetapi lumpur tebal yang menyelimuti semua area memang menyulitkan untuk berjalan. Di beberapa tempat bahkan bahkan ketinggian lumpur mencapai lutut saya atau kurang lebih 40 cm. Itu membuat perjalanan jadi lebih lama dari perkiraan. Sampai di Garit, salah satu dusun yang terdampak banjir, kami menyebar. Sebagian membantu orang-orang mengangkuti lumpur, sebagian lain membantu membersihkan perabotan rumah seperti kursi atau lainnya.

28 September 2018

Kerja Sama Ayah dan Ibu Berperan Penting Menyukseskan Pencegahan Stunting


 Menjalani kehidupan sebagai orang tua baru merupakan tantangan tersendiri bagi pasangan muda—Wawan dan Elok—yang menikah Juli tahun lalu. Hal tersebut dimulai ketika Elok dinyatakan hamil anak pertama. Meski sudah memiliki gambaran sebelumnya, ternyata kehamilan pertama ini tidak semudah yang disangka. Trimester awal adalah masa terberat baginya. Tidak hanya mual dan muntah, Elok juga harus bed rest karena kandungannya lemah.
“Sebelum tahu hamil, saya baik-baik saja. Tapi, ketika tahu hamil wuu ... itu makanan jarang ada yang masuk dalam perut ya ternyata. Banyak sekali yang keluar,”  kenangnya jenaka.
Bila menuruti egoisme semata, ia akan mengikuti apa kata tubuhnya, menolak setiap makanan yang masuk lewat mulut. Toh, setiap kali makanan masuk akhirnya dimuntahkan juga. Namun Elok tak menyerah. Sebisa mungkin ia menjaga nutrisi bagi si bayi walau dalam keadaan payah. Hal itu dilakukan bukan tanpa sebab. Ia ingin bayinya sehat, tidak mengalami stunting (pendek/kekerdilan). Efek  stunting tak bisa dianggap enteng. Tidak hanya soal kerdilnya badan, namun stunting bisa mengganggu perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme tubuh. Dalam jangka panjang akan menurunkan kekebalan tubuh, kognitif dan prestasi belajar, menderita penyakit degeneratif dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif karena rendahnya produktivitas ekonomi.


sumber gambar : www.sehatnegeriku.kemkes.go.id


 Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak disebutkan bahwa pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Sementara menurut WHO-MGRS (Multicentre Growth Referenci Study), stunting adalah keadaan tubuh yang sangat pendek, dilihat dengan standar baku WHO-MGRS. Adapun penyebabnya adalah kesalahan pada pola makan, pola asuh, serta rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih.
 Untuk mengatasinya ada beberapa hal yang Elok lakukan sebelum bayinya lahir hingga berusia 5,5 bulan :
1. Menjaga asupan makanan bergizi selama masa kehamilan hingga bayi lahir
Sebagai ibu, Elok berupaya memenuhi asupan gizi yang diperlukan dengan makanan yang beragam dan komposisi yang berimbang. Tidak harus mahal, yang penting kecukupan gizi bagi ibu dan bayi terpenuhi. Tidak lupa konsumsi suplemen penambah darah selama masa kehamilan. Karena anemia akibat defisiensi zat besi akan mempengaruhi tumbuh kembang bayi selama dalam kandungan maupun sesudahnya.
2. Lakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan
IMD dan pemberian ASI eksklusif memiliki peranan penting untuk mencegah terjadinya stunting pada bayi. Bukan hanya stunting, ASI juga punya andil dalam penurunan obesitas dan penyakit kronis di masa datang. Tidak ada pemberian makanan lain selain ASI hingga periode ini berakhir, tepatnya saat sang bayi berusia 6 bulan.
3. Pemberian MP-ASI yang memenuhi kebutuhan gizi harian bayi
Khusus untuk ini baru dilakukan setelah masa menyusui eksklusif berakhir yakni ketika usia bayi mencapai 6 bulan. Meskipun si bayi menampakkan tanda siap dikenalkan dengan MP-ASI—sudah mampu duduk tegak dan menegakkan kepalanya, sudah mau membuka mulut bila didekatkan dengan sendok serta tertarik dengan makanan yang dimakan orang dewasa-hal tersebut belum dilakukan. Dikhawatirkan jika memberi MP-ASI sebelum waktunya, lambung dan pencernaan bayi belum siap.
4. Memantau perkembangan bayinya lewat posyandu
Hal ini dilakukan untuk mengetahui pertambahan berat dan panjangnya. Dengan demikian ibu bisa lebih cepat mengetahui jika si bayi mengalami gangguan pertumbuhan.
5. Menjaga pola hidup bersih dan sehat
Lingkungan yang bersih dan sehat mampu mencegah serangan berbagai kuman penyakit penyebab infeksi pada anak. Seringnya mengalami infeksi membuat gizi sulit diserap karena energi untuk tumbuh lebih banyak digunakan untuk melawan infeksi tersebut. Akibatnya tumbuh kembang anak pun terganggu. Contoh sederhana pola hidup bersih dan sehat adalah mencuci tangan sebelum makan, hendak memegang bayi, sebelum menyusui, juga setelah buang air besar dan kecil.
            Kelima hal yang dilakukan Elok tersebut  sejalan dengan upaya intervensi gizi spesifik yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang difokuskan pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).
Ayah Turut Berperan Mencegah Stunting Sejak Dini
Selama masa kehamilan, ibu tidak dibiarkan sendirian. Ayah turut berperan dalam menjaga kesehatan ibu sedari hamil hingga melahirkan. Ayah (Wawan) memberi dukungan penuh terhadap ibu, dalam hal ini Elok, agar tetap nyaman selama mengandung janinnya. Ayah tidak segan mengantar ibu periksa kehamilan. Memberikan semangat dan memperhatikan kecukupan gizi ibuselama itu bed rest di trimester awal. Terus memberi dorongan agar ibu mau mengasup nutrisi baik demi kesehatan janin dalam kandungan. Hal ini berlangsung hingga ibu berhasil melampaui trimester pertama hingga trimester kedua dan ketiga.

            Saat berjauhan, karena ayah bekerja di luar kota sejak usia kandungan ibu mencapai tujuh bulan, komunikasi tak pernah absen dilakukan. Wawan selaku ayah, tak pernah lupa menanyakan bagaimana perkembangan janinnya. Rajin mengirimkan screenshoot artikel-artikel yang dibacanya terkait tumbuh kembang janin serta kesehatan ibu dan anak. Tidak bosan mengingatkan ibu agar selalu makan makanan bergizi dan menjauhkan diri dari makanan yang tidak sepatutnya dikonsumsi demi kesehatan. Contohnya mie atau makanan lain yang serba instan. Hal tersebut tak putus dilakukan hingga janin dilahirkan. Sewaktu ibu mengalami KPD (ketuban pecah dini) komunikasi juga berlangsung terus. Perkembangan ibu terus dipantau sampai mendekati waktu melahirkan. Setelah bayi lahir dan ibu mulai menyusui dukungan ayah tidak berkurang. Meski secara fisik berjauhan ayah tetap hadir, mendampingi ibu menjalankan program ASI eksklusif selama enam bulan. Ayah tidak segan menanyakan apa kebutuhan ibu agar ASI-nya lancar, seperti pekan-pekan awal ketika ASI Ibu belum lancar dan terpaksa dibantu susu formula. Suplemen penunjang dan nutrisi ibu sangat diperhatikan. Hal tersebut dilakukan demi lancarnya progam ASI eksklusif selama enam bulan. Ayah sadar bahwa  tidak ada makanan lain yang terbaik selain ASI.
            Jika akhir pekan, saat ayah pulang, ayah tak segan membantu ibu untuk mengurus anak. Meskipun tidak bisa seluwes ibu, ayah  bisa menggendong, memberikan susu botol hasil pumping sang ibu, hingga mengajaknya bermain. Ayah juga tidak keberatan memasak jika ibu kerepotan mengurus bayinya.
            Tidak hanya dari ayah saja, ibu (Elok) juga mendapat dukungan dari keluarga dekat. Sebagai ibu baru ia banyak mendapat bantuan berupa informasi dari mulai persoalan ASI hingga bagaimana mengurus bayi. Dukungan interpersonal semacam ini membuat ibu merasa diperhatikan, dicintai, serta bernilai. Alhasil ibu nyaman menjalani hari-harinya, terutama dalam upayanya mencegah stunting sejak dini, karena tahu ada dukungan sosial yang kuat dibelakangnya.
Memang, jika dirunut ke belakang, perjalanan pencegahan stunting yang dilakukan pasangan muda ini masih panjang. Apa yang dilakukan Elok dan Wawan dalam mencegah stunting pada sang buah hati baru mencapai pertengahan. Akan tetapi dengan kerja sama semacam ini, upaya pencegahan stunting selama 1000 (Hari Pertama Kehidupan)—yang meliputi 270 hari selama masa kehamilan dan 730 hari setelah melahirkan—akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. 
Sumber gambar : www.sehatnegeriku.kemkes.go.id
 Dengan demikian harapan Presiden Jokowi agar anak Indonesia jangan sampai stunting tercapai. Tidak hanya itu saja, sasaran dari Program Indonesia Sehat yaitu meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat pun terlaksana, berkat kesadaran orang tua bahu-membahu dan bekerja sama memperhatikan kecukupan gizi serta tumbuh kembang bayinya.