17 Juli 2018

Selalu Ada Cara Mengatasi Kesulitan, Asal Kita Tak Tinggal Diam



sumber gambar : Photo by Kaboompics .com from Pexels


Saya tercenung di depan komputer. Masalah command prompt yang beberapa waktu lalu terselesaikan kini muncul lagi. Meski tanda (x) sudah di klik comman prompt tetap muncul lagi dan lagi. Upaya menggunakan aplikasi RKill untuk membenahi masalah tersebut juga gagal. Si command prompt tetap bandel tidak mau pergi.

Di saat yang sama setiap kali membuka google chrome, selalu muncul Nineteducer.info.
Nineteducer.info adalah pop-up ads yang selalu muncul bila kita membuka browser. Secara konstan kita akan diarahkan ke situs Nineteducer.info meski sudah menolaknya dengan cara klik tanda (x). Berulangkali, hal samalah yang terjadi. Wah, saya garuk-garuk kepala karena ini.

Masalahnya saya tidak punya teman yang bisa dimintai tolong untuk mengatasi hal ini. Jadi apa yang harus saya lakukan? Menanti adik saya pulang dan minta dia mengatasi problem tersebut atau mencari jalan keluar sendiri? Saya pilih opsi kedua karena jika memilih opsi pertama akan terlalu lama. Adik saya yang paham soal IT bekerja di luar kota. Pulang hanya sepekan sekali. Jika menunggu dia, maka saya harus bersahabar menantinya beberapa hari. Wah, nggak asyik.

Maka solusinya adalah mengandalkan diri sendiri. Google terbuka lebar, ada banyak ilmu tersedia jika kita mau mencari. Pikir saya. Maka tanpa ragu saya mencari informasi bagaimana cara mengatasi problem  pop-up ads Nineteducer.info tadi. Berbekal koneksi internet saya ketikkan info yang saya butuhkan via mesin pencarian ternama, Google. Rupanya Nineteducer.info menginfiltrasi komputer kita berbarengan dengan file yang kita unduh dimana didalamnya telah disusupi virus.

Satu-satunya cara adalah uninstall program-program yang tanpa kita sadari terinstal sewaktu kita mengunduh file dari internet. Saya yang awam berusaha keras mencari tahu bagaimana caranya. Ternyata prosedurnya ternyata sederhana. Hanya masuk ke kontrol panel, klik uninstall a program, lalu klik installed on, dan kemudian klik tanggal mulai problem terjadi (munculnya pop-up Nineteducer.info bermula). Dari sini akan muncul aplikasi apa saja yang terinstal tanpa kita sadari. Hapus semuanya. Dan masalah teratasi seketika.

04 Juli 2018

Bepergian Sendiri, Tujuh Hal Ini Yang Harus Dipersiapkan






Belakangan saya gemar berkeliling spot-spot wisata lokal di Banyuwangi. Ada begitu banyak pilihan dan semuanya jempolan, yang kadang-kadang bikin iri kawan-kawan dari luar Kabupaten. Sebab sekali jalan, saya bisa ketiga tempat wisata dengan biaya yang ramah di kantong.
Akan tetapi, saya acap bepergian sendiri. Bisa dikatakan jarang mengajak teman jika jalan-jalan. Bukan karena tak senang, akan tetapi bepergian sendiri memberi saya kebebasan untuk mengeksplorasi suatu tempat dengan lebih nyaman. Tidak terburu-buru hendak ke tempat lain dan tentu saja bisa lebih nyaman memotret di suatu tempat.

Bersama kawan-kawan sebenarnya menyenangkan. Bisa seru-seruan bareng bersama mereka. Hanya saja bepergian dengan banyak orang, meski jarak dekat biasanya memang butuh perencanaan. Terutama soal waktu. Tidak semua orang bisa bepergian di waktu yang sama, harus diperhitungkan masak-masak agar semua bisa bisa. Pergi sendiri tentu saja beda, saya tinggal naik motor dan sampailah di tempat tujuan.

Lantas apa saja yang harus dipersiapkan agar perjalanan nyaman? Simak keterangan berikut ini :
1. Cari tahu banyak-banyak soal daerah tujuan
Sebelum pergi ke suatu tempat pastikan Anda tahu benar daerah tersebut. Googling atau tanya-tanya orang yang sudah pergi kesana. Dengan demikian kita punya gambaran seperti apa.
Cek google maps untuk tahu jalan menuju kesana. Pelajari dengan baik dan lihat jalan-jalan mana saja yang harus ditempuh untuk sampai di lokasi wisata.
Lalu set google maps dalam mode offline sebelum berangkat agar Anda tetap bisa melihat peta dalam perjalanan.

2. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik
Ini penting agar perjalanan kita lancar. Bensin, kondisi ban, serta mesinnya harus diperhatikan. Jangan sampai ditengah jalan kita cengar-cengir karena  lalai memperhatikan kondisi kendaraan.

3. Bekal Secukupnya
Saya jarang membawa bekal yang banyak. Biasanya saya hanya menghitung untuk bea masuk, parkir, bensin, serta sedkit uang untuk berjaga-jaga jika ada keperluan mendesak. Ban kempes misalnya. Karena yang penting bagi saya adalah memotret dan melihat-lihat tempat wisatanya, jatah makan biasanya tidak terlampau saya perhitungkan. Untuk minuman dan makanan kecil pengganjal perut lapar, saya bawa sendiri. Tidak beli di lokasi. Jadi bisa lebih irit lagi. Namun, sesekali saya juga beli makanan di tempat wisata, sekedar tahu seperti apa makanan disana. Akan tetapi, untuk kehati-hatian saya tetap membawa ATM. Siapa tahu lupa mengisi uang di dompet, saya bisa langsung ngepot ke ATM.

03 Juli 2018

Bepergian Sendiri Mengajari Saya Memahami Arti Kalimat "Berbaik Sangka Pada-Nya"






Saya memang bukan petualang. Saya tak paham adventure atau segala macam. Terlebih saya itu anak rumahan. Kata adik bungsu saya itu kalah jauh mainnya sama ayam. Iya memang benar. Saya hampir tidak pernah keluar karena dulu acap merasa tidak nyaman. Takut bila nanti di jalan kenapa-napa, padahal berangkat saja belum. Padahal yang dituju hanya seputar kabupaten sendiri.

Sekarang sebaliknya. Orang-orang sering heran karena saya pergi sendirian mengunjungi berbagai tempat wisata yang bejibun di kabupaten saya tinggal, Banyuwangi. Tidak beramai-ramai dengan lainnya. Padahal acapkali saya tidak paham betul tempat yang saya tuju meskipun  Hanya mengandalkan google map dan info-info yang saya dapat dari browsing, saya biasanya menetapkan hendak menuju kemana. Tanpa perlu mengajak si ini atau si itu.

Entahlah, menurut saya pergi sendirian itu jauh lebih nyaman ketimbang bareng teman. Bukannya bareng-bareng tidak menyenangkan, akan tetapi ada hal-hal yang bisa jadi kurang pas dengan gaya saya jalan. Saya ini tergolong tukang jalan minimalis. Bekal saya tidak besar, ada uang untuk masuk dan parkir plus sedikit uang saku saja sudah cukup. Air minum bawa dari rumah, tapi tidak untuk makanan kecuali beberapa butir coklat saja. Tetapi, soal data tempat tidak. Saya butuh waktu browsing dan melihat peta. Kalau perlu peta di screenshot untuk saya pelajari detilnya. Baru kemudian berangkat.

Meski demikian saya pun kerap tersesat. Bagaimanapun juga, peta dengan kenyataan di lapangan terkadang jauh berbeda. Gambaran yang kita bangun di kepala, bisa runtuh begitu dihadapkan dengan kenyataan di depan mata. Yang nampaknya gampang di peta  dan bikin kita bilang "Ah, gini aja. Kecil!" ternyata bikin pusing. Sering saya harus memanfaatkan GPS betulan alias "gunakan penduduk setempat" untuk sampai di tempat tujuan.

29 Juni 2018

KETIKA AFIN YULIA MENJADI MARKONAH A.K.A MARISA




Februari silam ...
"Fin, kamu besok ikut main Oplosan (red. nama talkshow di sebuah televisi lokal, Banyuwangi TV) ya," kata Mas Faisal, waktu ketemu saya di Rumah Baca Sahabat Kecil.
Jreeng! Ha, saya kok disuruh berakting. Mana bisa? Sekalinya saya nampil di depan orang banyak (sok) nge-drama itu ya bersama Maliki dan Widhi di acara ISL (inspirasi Sekolah Literasi) 2017 Desember silam. Selain itu mana pernah. Tapi, nggak apa-apalah ini acaranya kan tujuannya untuk pendidikan. Kalaupun nanti gagal, paling kedepannya tidak dimainkan. Pikir saya sambil mikir adegan yang mungkin saya mainkan. Yah, paling figuran. Pikir saya tenang.

"Kamu main jadi TKI yang baru pulang ke Indonesia ," kata Mas Faisal sambil menjelaskan seperti apa saya harus tampil nanti yakni kudu bling-bling, cetar, dan gaya.

Mbokneee! Secara saya ini tampilan sehari-hari 'kan tomboy. Baju seadanya, sandal jepit, jilbab, dan tanpa bedak pula. Pernik-pernik yang "cewek banget" saya nggak punya. Saya punya rok, tetapi nggak cocok untuk gambaran Markonah itu.
Terpaksa saya ke mal (heleeh, kok mal? swalayan  hai ...) beli baju baru untuk acara itu.
Karena sehari sebelumnya saya harus ikut acara Kelas Relawan di Margomulyo, maka persiapan pun seadanya. Saya pikir masih bisa pulang, ternyata langsung bablas ke Singojuruh. Jadi bisa dibayangkan, dari Margomulyo saya hanya bawa tas ransel isi baju yang kemarin dipakai, peralatan mandi, dan sandal japit. Untungnya kostum untuk bermain peran sudah masuk tas, kalau tidak bisa dibayangkan seperti apa mumetnya.

sumber gambar : koleksi pribadi
 
Tiba di tempat, muka saya yang sudah cakep ini (hak preet!) langsung dipermak oleh Mbak Ayoel menjadi lebih cakep lagi. Kostumnya pun ganti, tetapi hanya bagian atas saja. Yang bawah tidak, wong saya tidak membawa baju lainnya.
Wis, singkat kata begitu selesai dipoles, Afin Yulia hilang. Saya menjelma menjadi Markonah alias Marisa, si TKI yang super gaya itu.

27 Desember 2017

Lebih Baik, Lebih, Sehat, & Lebih Manfaat di Tahun Mendatang




            Tahun 2017 segera berlalu beberapa hari lagi. Terlepas dari beberapa kegagalan—penolakan penerbit dan naskah cernak yang belum ada kabar—saya mensyukuri apa yang saya capai di tahun ini.
            Pertama, kesempatan belajar dari ahlinya. Dua tahun lalu saya sudah berkeinginan untuk  ikut kursus menulis cernak online pada dari Ibu Nurhayati Pujiastuti. Tetapi, karena uangnya tidak terkumpul juga, keinginan itu akhirnya batal. Tidak terduga tahun ini saya justru mendapat kesempatan belajar langsung pada beliau dengan cara yang berbeda. Saya mendapakan bonus kelas nulis gratis berkat membeli bukunya. Kelas nulis pertama pada bulan Juni, kedua pada bulan Nopember. Meskipun hanya berlangsung sepekan dengan waktu belajar kurang lebih dua jam, tetapi apa yang beliau ajarkan itu memberikan saya pemahaman baru soal apa dan bagaimana menulis cerita anak. Bahkan hasil belajar pada beliaulah beliau ajarkan membantu saya lolos pelatihan Room To Read Agustus silam dan berkesempatan langsung belajar pada mentor-mentor hebat seperti Alfredo, Mbak Eva Nukman, Mbak Grace, dan lainnya.
            Sayangnya saya tidak lolos sampai akhir. Akan tetapi, ilmu yang saya dapatkan disana membuka mata lebih lebar ikhwal proses menulis cerita anak sebenarnya. Dua diantaranya adalah adalah  mengenali target pembaca  dan menempatkan diri menjadi anak-anak. Dua hal ini ternyata suka dilewatkan oleh orang-orang dewasa seperti saya. Acap kita memakai kacamata dan pemahaman orang dewasa, lupa bahwa yang pembaca yang hendak kita tuju masih belia.
            Kedua, terbit buku-buku baru. Di awal tahun 2017 terbit satu buah antologi baru. Antologi berjudul Aku Bukan Perempuan Cengeng ini merupakan hasil sayembara  menulis Jangan Jadi Cewek Cengeng yang diadakan oleh penerbit Indiva tahun sebelumnya. Yang lebih menyenangkan, ada buku lain yang menunggu di terbitkan di DAR Mizan. Naskahnya sendiri saya ikutkan dalam sayembara KKJD Hunt tahun 2015 silam. Tidak disangka, ternyata tahun 2017 saya dan beberapa kawan lain dihubungi untuk diterbitkan. Jelang akhir tahun, dapat kabar gembira. Ternyata naskah cerita saya lolos dalam lomba menulis cerita anak yang diadakan oleh UNSA. Alhamdulillah, berarti tahun depan tambah satu lagi antologi cerita anak saya.