06 Februari 2014

Dear ALLAH part 1 : Engkau Membuatku Teramat Kaya



Dear Allah,

Engkau teramat baik ketika mengingatkanku agar jujur dalam bekerja. Meski untuk itu aku harus keluar dari tempat kerja dan mencari cari menafkahi diriku sendiri dengan ketrampilan yang kukuasai sebelumnya. Secara finansial memang belum nampak hasilnya. Dibanding gaji di tempat kerjaku yang lama jelas gajinya yang sekarang lebih kecil.


Tetapi justru dengan itu Engkau membuatku teramat kaya. Bukan kaya karena gunungan harta tetapi pengalaman batin yang tiada dua. Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang dalam kesempitannya bahkan tidak sempat menyeru buruk kepada-Mu. Kau tunjukkan aku dengan orang-orang yang tetap teguh melangkah menuju-Mu walau susah sungguh. Kau palingkan mukaku kepada  orang-orang yang tak kuasa meminta-minta walau hidupnya miskin papa.
Kau perdengarkan kepadaku kisah-kisah baik orang-orang yang memilih bersusah-payah membantu anak yatim ketika dirinya sendiri sesungguhnya membutuhkan pertolongan. 


Dear Allah,
Seluruh kejadian itu membuatku melongok ke dalam diriku. Sesungguhnya seperti apa aku menyikapi kesusahanku.
Tak seperti mereka, justru keluhku yang meraja. Kukatakan bahwa aku paling sial di dunia, layaknya orang yang jatuh lalu tertimpa tangga. Duh, duh...padahal dibanding mereka deritaku tak berarti apa-apa.


Dear Allah,
Terima kasih untuk butir-butir kekayaan yang kau berikan padaku. Memang tak berupa harta, tetapi dengannya kau membantuku membuka mataku bahwa orang yang paling kaya itu sesungguhnya yang paling bisa bersyukur seperti apapun keadaannya.  Seperti yang kau perlihatkan lewat sikap orang-orang yang kusebut diatas.



6 komentar:

  1. Kaya itu bisa diberbagai hal ya, jangan hanya mengukur dari materi

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget Mbak Lidya, seringkali kita mikir kaya itu ketika harta berlimpah ya?

      Hapus
  2. wah,setuju banget sama komen mbk lidya...bagun tidur aja rasanya dah bener2 bersyukur, bisa nafas, bisa mendengar adzan,bisa minum,dll....

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak Hanna, hal-hal kayak gitu mahal sekali. Kita nggak ngerasa karena indra kita lengkap semua, tidak merasakan sulitnya mendengar, bersuara, lari dan sebagainya.

      Hapus
  3. bahkan kesehatan adalah harta yang paling berharga. kadang ga keliatan memang, dibanding harta yang kita bisa liat. tapi kalo pas sakit, baru kerasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cocok banget La, saat sehat kita merasa itu hal biasa. baru ketika harus menyambangi rumah sakit dan menghabiskan waktu disana baru tau betapa mahalnya sehat ya

      Hapus