Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Sumber gambar oleh u_rt5bpvly dari Pixabay

Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?"
Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.

Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.

Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya disimpan dalam kulkas. Di kala kami sedang gembira ternyata teman saya malah kebalikannya. Niat memberi daging kurban malah berakhir menjadi kisah menjengkelkan.

Jadi ceritanya saat hari raya Idhul Adha, dia mendapatkan jatah daging kurban dari masjid. Dia sendiri tak melihat isinya, langsung dimasukkan ke dalam kulkas saja. Nah, daging inilah yang kemudian diberikan kepada orang yang bekerja sebagai tukang cuci dan setrika di rumahnya. Ternyata lebih banyak gajih ketimbang dagingnya. Maka orang itu mengirim pesan pada kawan saya perkara tersebut. Kawan saya akhirnya berinisiatif menyuruh orang tersebut mengambil daging yang dibelinya sendiri, kurang lebih seperempatnya. Niatnya untuk nambah-nambah isi daging kurban yang banyak gajihnya tadi. Ternyata si daging tidak di bawa, pulang pun orang itu tak pamitan pula. Kecewa? Tentu saja.

Lain kawan lain lagi ceritanya. Suami kawan saya ini membagikan daging yang didapat dari masjidnya. Begitu dibagikan reaksinya tak terduga. Bukannya terima kasih malah berkata "Ini nggak ada dagingnya, tulang semua".  Tentu saja yang mendengar jadi kecewa. Sudah capek-capek membawakan, eh malah dapat kalimat sedemikian rupa.
Dua cerita ini diam-diam bikin saya berpikir ,"Jangan-jangan saya pun demikian. Bukannya bersyukur sewaktu diberi daging kurban, tetapi malah bersikap tak menyenangkan. Terlebih jika isinya tak sesuai harapan."

Inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya ,"Bagaimana jika saya yang berada di posisi orang itu, mendapatkan daging kurban tetapi dagingnya tak seberapa, justru gajih atau tulangnya yang mendominasi?"

Saya jawab sendiri “kecewa”. Terlebih ketika saya berekspektasi terlalu tinggi, mendapatkan daging terbaik yang hendak dimasak ini-itu. Maka kekecewaan yang terlalu itu tak jarang membuat diri jadi lepas kendali, diluapkan begitu saja tanpa berpikir bagaimana perasaan si pemberi. Padahal si pemberi sendiri tak tahu-menahu soal ini. Sebab dia pun menerima sesuai apa yang diberikan panitia kurban. 

Komplain yang tidak tepat berpotensi menyakiti perasaan (photo by Icons8 team on Unsplash)

Alih-alih melegakan perasaan, komplain yang kita sampaikan tadi justru melukai hati orang yang memberi. Esok lagi jika ada kelebihan daging, sudah pasti orang ini akan berpikir dua kali jika hendak memberi pada kita lagi.  Iya ‘kan?

Jadi apa dong yang harus kita lakukan? Masa iya nggak boleh komplain jika dagingnya tak sesuai harapan?
Tentu saja boleh, tetapi lebih baik disimpan untuk diri sendiri.
Lho, kok begitu?
Iya, sebab tak semua keluhan harus disampaikan. Terlebih jika itu berpotensi menyakiti perasaan. Toh, orang yang memberi posisinya sama dengan kita. Ia menerima sesusai pembagian dari panitia kurban.
Kalau begitu kita salahkan saja panitia, masa tidak becus membagi daging kurbannya?
Rasanya ini juga tidak perlu. Panitia kurban pasti sudah bekerja sebaik-baiknya. Jika ada satu atau dua bagian yang kurang sesuai kenapa tidak dimaklumi saja. Mereka manusia, sama seperti kita. Meski berusaha adil kala membaginya, bisa jadi ada yang alpa. Tidak rata.


Ucapan terima kasih itu penting (sumber gambar oleh rawpixel dari Pixabay)

Jadi kesimpulannya, kitalah yang harusnya mengelola rasa kecewa. Pandai-pandai mengolahnya sebelum dilontarkan dan membawa ketidaknyamanan. Pahamilah dari sisi orang lain terlebih dulu sebelum mengujarkannya. Biasanya ini akan meredam emosi kita.
Jika dirasa kecewanya sudah sampai pada puncak, ambil kertas, tulis kuat-kuat. Lalu buang. Dengan demikian rasa kecewa tersebut tersalurkan tanpa perlu menyakiti hati orang.
Jika bisa ucapkan terima kasih pada orang yang berbaik hati memberi daging kurban. Sebagai apresiasi atas kesediaannya datang dan mengantar si daging pada kita. Meskipun isinya tidak sesuai harapan.

Perkara yang terakhir itu, berterima kasih, memang susah jika tidak terbiasa. Perlu latihan agar mulut dan hati kita sinkron kala mengucapkannya. Tidak sekedar basa-basi, tetapi memang jadi bagian dari diri kita. Sebagai cara kita menghargai orang lain dan juga ungkapan syukur karena Allah sudah mengirimkan rejeki dari arah mana saja.

Salam.

Komentar

  1. Bener mbak, ada kok orang yang kek gitu. Bukannya berterima kasih malah menggerutu. Tapi kalau aku sendiri dapat daging kurban yang banyak gajihnya, ya kuterima saja. Kan bisa dikasihkan orang lain dengan catatan aku ngomong dagingnya seperti apa. Kalau mau silakan, kalau nggak juga nggak apa. Biasanya si mbak ART mau. Kadang dikonsumsi sendiri, kadang dikasihkan tetangganya. Masih banyak orang-orang desa yang mau, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia, Mbak. Wah, ngadepin orang suka menggerutu itu yang bikin kita suka ewuh ya. Jadi serba salah ngadepinnya.

      Hapus
  2. Hahaha iya sih byk yg suka protes. Klo Aku sih apa aja lah
    . Senang udah dikasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, itu dia! Senang udah dikasih. Sambil berdoa semoga suatu hari kita yang berkurban. Kalaupun ada kekurangan, simpan. Kelak jika membagi daging kurban diupayakan adil.

      Hapus
    2. bener banget mbak. semoga kelak kita yang dirutinkan berqurban yaa..aamiin

      Hapus
    3. Allah Maha Mendengar, Mbak. Insyaallah dicukupkan rejeki untuk berkurban setiap tahun. Amin.

      Hapus
  3. Dulu, saat saya masih remaja pernah mengalami apa yang mbak alami. Dimana, bapak membeli daging untuk membahagiakan kami yang tidak dapat daging kurban. Yang bapak saya sampaikan sama dengan yang disampaikan bapaknya mbak, mungkin kita dianggap mampu, jadi tidak diberi.

    Begitulah kita, harus pandai bersyukur dari bermacam sudut pandang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setuju saya. Harus pandai bersyukir dalam beragam sudut pandang. Perasaan macam ini bikin kita jauh lebih tenang. Ngurangin nyinyir atau komen buruk.

      Hapus
  4. Wahhh kalau idul adha kemarin bahagia banget sih, karena bisa dapat daging gratis segar dari warga wuehehe. Walaupun cuma sebagai anak kos juga bisa mendapatkan daging segar dari kurban. Bersyukur banget lah wuehehe

    Sebenarnya soal banyak atau tidaknya pemberian dari orang itu tergantung bagaimana kita mengelolanya, banyak ya bersyukur dikit juga ya gapapa.. Tinggal bagaimana mengelola masakan yang diberikan, kalau dapat dikit yaa bisa dipadukan dengan masakan lain agar bisa terlihat banyak..

    Diambil positif aja sih, walaupun tidak sesuai harapan bisa dapat daging kurban yang banyak atau dapat tulang... Bahkan ibu saya pernah dapat tulang yang dimana dagingnya dikit eh malah dibuat sop tulang dan rasanya pun gak jauh beda sama daging yang banyak, jadi makan pun jadi terasa happy dan enjooyy :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini dia. Bagaimana kita mensyukurinya, itu dia yang harus kita jadikan pelajaran. Banyak sedikit bukan masalah akhirnya. Dan hati yang gembira bisa bikin kita enjoy menikmati daging kurban yang dibagikan pada kita ya? :)

      Hapus
  5. Sepakaat mbaaak, tidak semua keluhan harus disampaikan. Emang seharusnya bsa lebih berdamai dengan ekspektasi sendiri, biar tidak terlalu sering dihanggapi rasa kecewa. Makasih sharingnyaa mbak, jd introspeksi kalau kadang ngeluh dan sering berekspektasi tinggi ke banyak hal yg jelas berakhir kecewa. Apalagi ekspektasinya ke manusia 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sami-sami Mbak Lucky, saya pun demikian masih harus belajar berdamai dengan ekspektasi sendiri. Terima kasih sudah mampir kemari

      Hapus
  6. Betul banget, lebih baik dari diri sendiri yang menyadari dan menahan rasa kecewa, toh biasanya yg dapat daging juga gratisan hanya diberi kupon dan kupon itu yg ditukar dengan daging.
    Mungkin wis rezekinya mendapatkan daging dengan banyak tulang atau gajih, meskipun begitu kan tetap masih bisa diolah.

    BalasHapus
  7. sejujurnya ga prnh ngarepin daging kurban ini. Karena sadar masih banyaaak bgt yg lbh butuh daging ini daripada aku. udah beberapa thn aku memng ga dapet , tp sekali pernah dapet dulu. pas baru pindah :D. yg pasti syukurin kalo memang diksh.. apapun jenis dagingnya, ga panteslah rasanya dikomplen. toh ini kurban. ibarat kata, udh gratis, loe mau apa lagi sih hahahahah..

    agak disayangin yaa kalo ada yg sampe komplen. kesannya kok jd sombong :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Kiprah Fiya Mendorong Tumbuhnya Budaya Literasi di Lingkungan Sutri

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!