Modena Calma WD 1157 Penunjang Gaya Hidup Sehat dan Bersih di Tengah Pandemi Corona


Banyak yang harus disesuaikan ketika virus corona merebak dan jadi pandemi di seluruh dunia. Social distancing diberlakukan demi mencegah penyebarannya. Seruan untuk stay at home juga digaungkan dengan tujuan sama. Maka tak heran, sejak Maret silam Bapak  tak lagi jogging, jalan pagi atau bersepeda bareng teman-temannya. Sebagai gantinya ia jalan-jalan pagi dan lari kecil di seputaran rumah saja. Tentu tidak lupa memajang masker di wajahnya. Kalau Bapak ke pasar untuk belanja, masker tak pernah dilupakan. Setiba di rumah, Bapak segera mencuci tangannya sesuai anjuran untuk mematikan virus-virus yang mungkin ikut terbawa sewaktu belanja.

Kerumunan? Ah, Bapak benar-benar menghindarinya. Bukan karena takut, tapi paham bahayanya jika melanggar. Bahkan ketika ada orang yang bilang “Heleh gitu aja nggak mau salaman, nggak-nggak kalau kena virusnya!”, Bapak hanya berkata ,”Sampeyan yakin nggak bawa virus. Nah, apa sampeyan yakin aku nggak bawa?”

Jreng! Kawannya hanya tertawa-tawa saja mendengar ucapan Bapak sambil mengiyakan ucapan itu. Saya terbahak waktu mendengar cerita tersebut dari mulut Bapak. Ah, orang-orang itu belum tahu kalau Bapak saya itu orangnya konsisten. Saya ingat sewaktu Bapak divonis hipertensi, ia langsung mengubah pola makannya. Gula, garam, dikurangi. Makanan yang menurut dokter harus dihindari karena kurang baik bagi penderita hipertensi,  segera dilaksanakan tanpa tapi. Kalaupun makan makanan tersebut, ia mampu menakar kecukupannya sendiri.

Apalagi ketika pandemi corona merebak seperti sekarang. Oh, jelas Bapak tak mau sembarangan. Anjuran resmi demi mencegah penyebaran virus corona akan dilakukannya tanpa pikir panjang.

Mau refreshing? Bapak tinggal buka YouTube sambil berjemur di halaman belakang. Sembari melihat beragam resep masakan, Bapak membiarkan matahari menyapu badannya kurang lebih 15 menitan. Setelah itu masuk ke dalam, meneruskan kegiatannya entah ngurusin ayam atau memasak. Eh, masak? Iya, Bapak saya suka masak. Kadang-kadang hasil nonton di YouTube dipraktekkannya. Terkadang gagal, tapi tak jarang juga berhasil.

Sama dengan Bapak. saya pun tidak banyak keluar rumah kecuali untuk hal yang penting-penting saja. Misal bayar listrik, air, atau belanja bulanan. Pergi jalan-jalan ke alam di akhir pekan tak lagi saya lakukan. Kegiatan kerelawanan pun demikian. Saya memilih untuk tidak ikut demi mencegah penyebaran virus corona. Nggak keren kalau kegiatan yang tujuannya membawa manfaat justru berbalik jadi bumerang, menyebabkan diri sendiri dan orang-orang yang di sekitar kita sakit karena kurangnya kewaspadaan.

Sebagai gantinya saya refreshing di rumah saja. Dengan nonton drama korea atau justru melihat hewan-hewan dan tumbuhan yang tayang National Geographic. Ngobrol dengan tante dan nenek yang rumahnya berjarak sepelemparan batu juga jadi cara saya untuk menyegarkan hari setelah penat menulis.

Untuk olahraga, pilihan saya berbeda dengan Bapak. Jika Bapak lebih senang jalan kaki, jogging, atau bersepeda di luar rumah bareng teman, saya pilih yoga yang bisa dilakukan di rumah tanpa harus ribet ganti pakaian. Sebelumnya saya mengandalkan video yoga yang saya download dari YouTube. Namun sejak laptop saya dihajar virus dan seluruh data tak bisa diselamatkan, saya memakai aplikasi yoga di ponsel. Cukup memencet latihan mana yang hendak kita lakukan, instruksi pun muncul dan tinggal diikuti saja. Waktunya bisa di set sesuai keinginan, ingin yang 30 menit, 50 menit, atau lebih dari itu pun bisa.

 

Ketika Era New Normal Tiba

Setelah kurang lebih tiga bulan ngerem di rumah, Bapak mulai berani keluar. Kegiatan bersepeda yang sempat mandeg dilakoninya lagi. Bahkan sekarang jauh lebih sering ketimbang jogging atau jalan kaki. Pagi-pagi kalau sudah terdengar suara gladag-gludug, itu berarti beliau sudah bangun dan bersiap pergi mengayuh sepeda.

Tak selalu dengan teman, kalau ketemu ya barengan, kalau tidak pun ia biasa gowes sendirian. Biasanya rutenya dari rumah ke arah Utara hingga daerah Sempu, lalu balik ke rumah. Kalau tidak begitu keliling-keliling seputar Genteng sejauh 6 km. Setelah itu pulang, ngademin diri di kursi depan sambil leha-leha.

Belakangan Bapak juga mulai berani menyambangi Simbah. Semenjak virus corona merebak, Bapak memang tidak berani ke sana. Simbah sudah sepuh dan punya penyakit hipertensi. Bapak khawatir kedatangannya justru tidak membawa kebaikan bagi Simbah. Itu sebabnya Bapak menahan diri di rumah. Saat hari raya, Bapak juga tidak berlama-lama di sana. Setelah maaf-maafan, Bapak langsung pulang. Tidak ada acara ngobrol seru seperti tahun-tahun silam.

Saya? Masih tetap memilih yoga. Nggak terpicu untuk pindah ke olahraga lainnya. Gerakannya memang tak seintens lari, namun karena itulah nyaman dengan olahraga ini. Selain bisa meningkatkan keseimbangan, yoga juga membantu meningkatkan keselarasan tubuh sehingga bisa mengurangi ketegangan pada sendi. Sewaktu saya penat karena kelamaan duduk dan menatap layar komputer, dengan yogalah saya berelaksasi. Rasanya segar setelah melakukan gerakan-gerakan yoga yang membantu menurunkan ketegangan di seluruh badan. Utamanya di punggung, leher, dan pinggang.

Tak pernah melupakan protokol kesehatan dimanapun berada, bahkan di tempat bersantai seperti Pantai Cemara.

Saya juga mulai berani keluar rumah. Mulai dari membayar sepeda hingga menyambangi pantai cemara usai menemani Bapak memperpanjang SIM. Tentunya menerapkan protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, dan tentunya bawa cairan disinfektan sendiri di tas untuk jaga-jaga. Itu pun nggak lama. Setelah makan bekal kami langsung pulang. Rasanya seperti apa? Ada sedikit was-was, tak setenang sebelum virus corona menyerang, meskipun protokol kesehatan diterapkan di sana.

Baru-baru ini saya bahkan mengikuti kegiatan Banyuwangi Ayo Mengajar (BAM). Acaranya sendiri tak jauh-jauh dari KI (Kelas inspirasi) atau ISL (Inspirasi Sekolah Literasi). Hanya materinya memang disesuaikan dengan keadaan sekarang. Selain memberi inspirasi dan motivasi pada peserta didik, ada pula materi tentang Covid-19 dan menumbuhkembangkan karakater Pancasila.

Apakah protokol kesehatan diberlakukan? Tentu saja. Semua pakai masker, cuci tangan, serta jaga jarak aman. Face shield? Tentunya tak dilupakan. Sepanjang hari itu saya memakainya berikut masker. Hanya sewaktu mulai bicara saya melepasnya, karena masker flanel yang saya gunakan mengganggu pernapasan. Alhasil baru bicara sekejap jadinya engap!

Sehari menjadi relawan inspirator Banyuwangi Ayo Mengajar 2020.

Namun, selain berolahraga dan mematuhi protokol kesehatan, ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Apa itu? Tentu saja menjaga kebersihan pakaian dan masker kain yang kita gunakan. Bagaimanapun juga virus itu mampu bertahan di permukaan suatu benda. Menurut Business Insider, penyebab penyakit Covid-19 tersebut dapat bertahan pada kain selama 2 hari.

Oleh sebab itu, kita membutuhkan mesin cuci seperti Modena Calma WD 1157, yang mampu menunjang gaya hidup sehat di tengah pandemi corona. Mengapa demikian? Yuk, simak penjelasan berikut ini.

 

Modena Calma WD 1157, Mesin Cuci Cerdas Yang Memahami Kekhawatiran Kita


Mesin cuci Calma WD 1157 produksi PT. Modena Indonesia memahami betul kekhawatiran kita di tengah pandemi Corona. Lewat fitur Automated Drum Cleaning, kita tak perlu cemas soal kesterilan drum selama berlangsungnya proses pencucian dan pengeringan pakaian serta masker yang kita kenakan. Selain itu, fitur tersebut juga memudahkan kita untuk menyetel pencucian menggunakan air panas. Dengan demikian virus dan kuman yang menempel pada masker serta pakaian akan mati. Proses pembilasan yang berlangsung hingga lima kali menghilangkan kekhawatiran akan sisa deterjen yang masih menempel pada cucian. Ih, keren banget kan ya?

Tapi, tunggu! Jangan-jangan kalau mencuci pakai Modena Calma WD 1157 kainnya malah rusak?

Ck, jangan khawatir. Ergodrum pada Modena Calma WD 1157 sangat ramah terhadap pakaian. Sehingga struktur serat pada kain tidak akan terpengaruh meskipun pembilasan dilakukan sampai lima kali. Modena Calma WD 1157 juga merupakan mesin cuci dual function, sehingga bisa digunakan untuk mencuci dan mengeringkan sekaligus.

Pst, yang lebih keren si Modena Calma WD 1157 ini merupakan mesin cuci yang smart energy. Kemampuan mengukur dan menyesuaikan kebutuhan air yang diperlukan dengan banyaknyan cucian menjadikan mesin cuci ini mampu menghemat air dan tentunya ramah lingkungan. 

Asyiknya Modena Calma WD 1157 dilengkapi pula dengan fitur Power-Off Memory. Apabila terjadi interupsi di tengah proses pencucian, misal adanya pemadaman listrik, pengguna tak perlu khawatir. Begitu listrik menyala, proses pencucian akan kembali dilanjutkan, tak perlu mengulang dari awal.

Demikian pula jika ada pakaian tertinggal dan ingin memasukkannya sewaktu mesin cuci tengah berjalan. Tekan saja tombol untuk menghentikan prosesnya, tambahkan pakaian kotor ke dalam drum, proses pencucian akan berlanjut sebagaimana mestinya. Tidak perlu mengulang proses sedari awal.

Tidak hanya itu saja, Modena Calma WD 1157  juga sangat efisien. Teknologi motor inverternya tak hanya mampu menghemat energi hingga 40%, tetapi juga mengurangi kebisingan dan getaran pada mesin cuci.

Selain memperhatikan fitur dan teknologi, mesin cuci besutan PT Modena Indonesia ini juga memperhatikan estetika. Pemilihan warna titanium jelas bukan sembarangan, namun sengaja dihadirkan untuk menambah kesan elegan. Sehingga Modena Calma WD 1157 tak hanya berfungsi sebagai mesin cuci semata, tetapi juga pelengkap interior ruang. Sementara LED Display yang ditanam pada pusat kendali layar sentuh, tak hanya memudahkan pengoperasian namun menyuguhkan kesan modern pada tampilan mesin berkapasitas 11 kg ini.



Maka hanya satu yang bisa disimpulkan lewat uraian di atas, Modena Calma WD 1157 merupakan mesin cuci penunjang gaya hidup sehat dan bersih di tengah pandemi corona yang berujung pada kebahagiaan penggunanya. Sesuai betul dengan jargon yang didengungkan Modena, yakni “Live healthy be happy”.


Sumber:

YouTube MODENA Indonesia (https://youtu.be/s8if9itGUG8)

https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/4218962/fitur-penjaga-mesin-cuci-selalu-steril-untuk-hasil-higienis-bebas-virus

https://www.businessinsider.com/coronavirus-lifespan-on-surfaces-graphic-2020-3?r=US&IR=T

https://www.modena.co.id/news.php?newsid=544

 


Komentar

  1. Pengen punya mesin cuci smart kayak gini. Ben ga kalah demgan smartphone heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha itu dia. Btw harganya pun sebagus teknologi dan fiturnya ya, Mbak?

      Hapus
  2. Cocok banget ini Mbak buat bapak dan mas-mas ngekos biar irit biaya londri. Yang paling penting tuh irit air karena air di tempat kami cenderung susah pas musim kemarau begini. Smar beneran Modena ini, mupeng aja deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwa itu juga, Kakak. Kalau air hemat, bayar tagihannya juga gak berat. Terus fitur power off memorynya itu kece, bisa masukin baju kotor tambahan tanpa harus ngulang proses dari awal.

      Hapus
  3. protokol kesehatan memang hrs digunakan sebagai bentuk kewaspadaan dan hrs jadi gaya hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Tira, kalau bukan kita sendiri yang waspada, siapa lagi? Nunggu orang lain justru kita yang merugi. Mbak Corona masih gentayangan je.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK