Setiap Hari Adalah Keajaiban, Bukti Cinta-Nya Yang Tidak Terbatas

 

Sumber: Bing

Judul itu mungkin lebay. Masa iya setiap hari adalah keajaiban? Apa itu benar? Pasti kalimat tersebut muncul hanya untuk mendramatisir keadaan! Tapi jika direnungkan memang demikian adanya.

Saya mengingat bertahun-tahun silam, ketika saya masih seorang yang cengeng dan mudah menggerutui banyak hal. Allah yang Baik itu justru menceburkan saya ke tempat kerja yang menyebalkan. Setiap hari rasanya tertekan, karena atasan sering berucap kasar. Bahkan ketika bawahannya tak melakukan kesalahan. Belakangan saya paham, saya dibawa ke sana agar menjadi orang yang lebih tangguh, tidak gampang menangis jika menemui permasalahan. Sekaligus paham untuk tidak meniru perilaku buruk yang dipertontonkan atasan saya selama bekerja di sana. Sayangnya tanpa sadar saya jadi lebih kasar.

Untuk melunakkannya, Allah menguji keteguhan saya ketika saya memilih resign dari kantor dan berjibaku mencari uang lewat tulisan. Saya sadar jalan yang saya pilih itu tidak gampang. Namun, yang terjadi kemudian jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Penghasilan saya minim, padahal saya butuh dana cukup agar tetap bisa tegak di jalan ini. 

Saya mulai putus asa. Saya tidak tahu harus apa. Satu waktu saya hanya punya uang Rp10.000,00 di tangan. Yang akhirnya saya sedekahkan, ketimbang membeli bensin setelah menimbang-nimbang sekian lama. Di tengah rasa pesimis itu, Allah membalas sedekah itu sepuluh kali lipatnya. Kecil memang, tetapi saya bisa bernapas lega. Karena saya bisa memiliki sedikit uang dari hasil usaha sendiri.

Dari situ saya mulai rajin sedekah. Bukan karena ikhlas, tetapi karena dorongan ingin dilancarkan rejekinya. Alhamdulilah! Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin rajin sedekah, rejeki kok semakin susah. Saya akhirnya mogok sedekah, karena merasa tak ada manfaatnya. Sampai satu waktu sebuah kesadaran menghampiri. Saya memang tidak berlimpah uang, tapi saya sehat. Tidak kurang suatu apa. Kalaupun sakit, waktunya tidak lama. Dan jenis sakitnya pun yang ringan. Bisa sembuh hanya dengan istirahat saja.

Bukan nikmat sehat saja yang Allah berikan, Ia juga melimpahi saya waktu luang. Sehingga saya punya waktu untuk rewang alias membantu di rumah saudara atau tetangga yang sedang hajatan. Dulu boro-boro, kesibukan di kantor tidak memungkinkan saya untuk melakukannya. Dari acara rewang itulah rupanya Allah sedang memberikan saya kesempatan untuk srawung (bergaul) dengan orang-orang. Saya bisa lebih bisa memahami mereka. Bahkan mendapatkan pelajaran, apa yang mesti dilakukan hingga topik apa yang aman dibicarakan saat bergaul dengan banyak orang di tempat rewang. Hal yang tak mungkin saya dapatkan jika saya bukan “pengangguran”.  

Namun, bukan itu saja ketrampilan yang saya dapatkan selama jadi “pengangguran”. Selama saya kesulitan bagaimana caranya survive setelah resign dari kantor, saya jadi terlatih untuk memendam kesusahan. Saya jarang sekali bercerita kepada orang lain, peliknya hidup saya. Saya terlatih untuk menangani sendiri kesulitan yang terjadi, karena enggan merepotkan orang lain. Kala-kala saya memang bercerita, tetapi biasanya setelah kesulitan itu berlalu lama. Sehingga saya lebih santai sewaktu bercerita. 

Saya juga lebih bisa mengontrol emosi, setelah sekian lama mengalami situasi tidak menyenangkan. Saya bukan lagi Afin yang baru resign dari kantor, yang gampang naik darah dan mengesalkan. Ketika hal buruk terjadi, saya tak langsung bereaksi. Biasanya saya diam dan berpikir terlebih dulu untuk mencari jalan keluar. 

Satu hal lagi, saya menemukan orang-orang yang luar biasa baik, yang membantu saya di kala kesulitan. Orang-orang itu memang tidak pernah menampakkan diri, dalam artian menunjukkan bantuan apa yang telah mereka berikan pada saya. Namun, saya tidak akan pernah lupa bagaimana mereka ada sewaktu saya merasa putus asa. Satu keajaiban dari Allah yang membuat saya termotivasi untuk melakukan hal serupa, yaitu bersikap baik pada sesama. Terutama ketika mereka tengah kesulitan, walaupun mampunya hanya menepuk bahu dan menjadi pendengar saja.




Komentar