25 Oktober 2009

MIRAGE MYSTERE

Mir.
Aku lebih suka kau memanggilku Mir, ketimbang Mirage nama asli pemberian ibuku.
''Namamu aneh.''
''Tidak lazim.''
''Seperti sebuah nama pesawat jet.''
Itu sebagian kecil komentar orang-orang ketika mengetahui kepanjangan Mir berasal dari kata Mirage.
''Mystere?'' Guru kelasku di SMP mengernyit membaca nama panjangku, Mirage Mystere.
''Ayahmu pasti berharap kau akan menjadi sosok yang luar biasa,'' seorang peramal disebuah pasar malam mengatakan itu diantara kartu-kartu tarot yang berserakan dihadapannya. ''Aku tidak mengharapkannya,'' sahutku jujur.
''Oh ya?''
Perempuan peramal bernama Dorinda (ah, kenapa namanya terdengar seperti tokoh telenovela jaman baheula?), menatapku dalam-dalam.
''Kenapa?'' tanyanya lembut, terdengar amat perhatian.
''Tak menyenangkan,'' jawabku.''Aku hanya ingin menjadi orang biasa,'' kataku penuh penekanan pada kata biasa.
Dorinda tertawa. Ditepuk-tepuknya punggung tanganku sambil berkata ,'' Anak muda, percayalah kau luar biasa.''
Ia terkekeh sementara aku bergerak meninggalkannya. Kernyitan tanda tak suka muncul di wajahku bersama dengan hadirnya satu tanya ,'' Bagi siapa?''


* taken from my diary, satu cerita tersihir oleh lagu 100% KONTROL yang ceria

1 komentar:

  1. sepertinya di tidak suka dengan nama pemberian ibunya...

    BalasHapus