26 April 2010

TEMPAT SAMPAH




Jika pikirmu jadi tempat sampah itu mudah kau salah. Tempat sampah yang baik akan menyimpan kebaikan yang terbuang dari setiap kisah yang datang. Menariknya dari kubangan dan menyemaikannya kembali di hati seseorang. Menumbuhkan kekuatan dan membuatnya bisa tersenyum selepas mencurahkan perasaan.

Jika jadi tempat sampah itu kau pikir mudah kau salah. Tempat sampah yang indah adalah tempat sampah yang tahu memilah. Kapan harus diam, memberi masukan, atau justru hanya memberi pelukan. Membiarkan orang-orang yang datang mengungkapkan perasaan dengan sikap netral. Tetap jernih, walau kadang kita merasa beban hidup kita pun butuh dicurahkan.

Jika kau pikir jadi tempat sampah itu gampang. Kau harus buka pikiranmu lebar-lebar. Sebab tempat sampah yang menyenangkan adalah yang mampu menutup rapat kisah kelam dan menyedihkan, menyarikannya jadi satu pelajaran. Untuknya sendiri atau orang lain lagi yang datang.

Jika kau pikir jadi tempat sampah itu tak susah rasanya kau kau harus berpikir panjang. Sebab ia tak boleh membuka aib orang sembarangan. Padahal ia cuma manusia biasa, bisa terpeleset pada suatu ketika. Tergoda untuk bercerita, entah bagaimana mulanya.

Jika kau pikir jadi tempat sampah itu tak lelah maka harus coba mendengarkan setiap keluhan atau cerita yang sama selama berjam-jam. Membiarkannya perasaan mereka lega padahal harimu tak kalah buruknya.
Kadang saat tempat sampah itu meluber saking banyaknya cerita yang memasukinya ia juga harus cerdas membuang yang mana yang tak penting untuk didengar dan yang mana yang memang membutuhkan bantuan.

Tapi kau juga salah jika berpikir jadi tempat sampah itu membosankan. Selalu ada hal-hal menyenangkan saat kau mendengarkan cerita-cerita yang datang. Dari sana banyak pelajaran berharga didapatkan. Bahkan ketika kau belum mengalaminya. Menjadikanmu berpengetahuan dan mampu berempati sekaligus bersimpati sewaktu menyaksikan gelombang-gelombang datang menerpa hidup seorang rekan. Menyadari kehidupan itu memang tak pernah sempurna. Selalu ada retakan-retakan yang muncul, mewarnai perjalanan. Menjadikannya penuh warna. Ada kalanya retakan itu melebar, menjadi jurang. Tak terelakkan. Membuat segala yang telah ditata rapi tercerai berai tak berarti. Sering pula kau dapati retakan itu justru memperindah lukisan kehidupan seseorang. Menjadikannya kuat dan mampu melewati tiap-tiap cobaan dengan bahu ditegakkan.



*Terima kasih untuk teman-teman yang sudah datang dan menceritakan berbagai hal. Tanpa sadar kalian telah memberiku pelajaran yang susah dicari dimana sekolahnya. Pelajaran yang tak pernah kuminta tapi diberikan gratis oleh kalian semua.
Thanks juga untuk ibuku dan bapakku yang selalu mendengarku sewaktu aku ngedumel ini itu.
Maafkan aku jika dalam banyak hal aku belum bisa jadi pendengar yang netral, bijak dan bisa menenangkan. Big hug for u all.


picture taken from www.ginkgraph.net

2 komentar:

  1. tak mudah menjadi tempat sampah yang B A I K . . . . .

    BalasHapus
  2. Anonim9:08 AM

    enggih Pak, susah jadi tempat sampah yang baik.

    BalasHapus