10 Maret 2016

BELAJAR SABAR DAN POSITIF DARI MBAK ESTI SULISTYAWAN



Saya terdiam membaca tulisan seorang teman blogger, Mbak Esti, yang berjudul Pentingnya Sugesti Diri. Dalam artikel singkat itu Mbak Esti mengungkapkan perjuangannya sebelum akhirnya hamil dan memiliki anak. Empat setengah tahun bukan waktu yang singkat untuk terus bersabar dalam penantian. Aduh, saya nggak bisa bayangkan kalau itu saya. Lha wong dicoba nggak punya duit saja saya sudah merana, seolah matahari tak bersinar lagi, apalagi begitu rupa. Entah apa yang akan saya katakan pada Tuhan. Bisa jadi saya akan menggerutui apa yang ia gariskan. Tidak mau peduli bahwa Tuhan sudah memberi banyak  pada saya, berupa kesehatan, udara gratisan, pikiran yang jernih, dan keluarga serta teman yang menyenangkan. 

Seperti yang dikatakan Mbak Esti “...kami memang harus berusaha sekuat tenaga, akan tetapi hasil akhir adalah hak sepenuhnya Allah Swt” itu ada benarnya. Seperti apapun manusia berusaha hak prerogatif memang ada pada Tuhan. Jika memang cobaan yang dihadirkan lebih dulu sebelum akhirnya doa kita dikabulkan, tujuannya bukan untuk melemahkan. Tetapi, menguatkan dan membuat manusia lebih dekat pada-Nya. Sekaligus belajar sabar di saat yang sama.

Eh, masa?

Lho iya, beneran ini. Coba ingat-ingat, kalau kita sedang ditengah kesulitan bukankah kita jadi sering “ngapelin Tuhan”? Duduk di dalam kesunyian, memohon dengan sungguh-sungguh agar kita kuat menghadapi kesulitan sekaligus ditunjukkan jalan keluar.


Terus, bagaimana bila kemudian permohonan itu tak datang-datang?
Kata Dr. Bilal Philips sederhana saja :
“Delay is not denial, Allah knows what’s betst for us and when it’s best for us to have it. Supplicate to Allah with full trust.”
Artinya “Penundaan itu bukan penolakan, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita dan kapan waktu yan tepat untuk kita. Memohonlah kepada Allah dengan seluruh keyakinan.”
teruslah bersabar dan jagalah nyala lilin harapan, yakin Tuhan akan mengabulkan



Lagi-lagi seperti Mbak Esti bilang “Semua berawal dari diri sendiri”. Keyakinan itu nggak bisa dipupuk oleh orang lain, tetapi diri sendiri. Nah, disini nih pentingnya memberikan sugesti positif pada diri sendiri, seperti yang mbak Esti lakukan dengan menulis kalimat pengharapan berbunyi ‘a-mom-to-be’ baik di akun instagram, twitter, dan facebook,. Mungkin terdengar aneh, mosok kalimat pengharapan kok sengaja disiar-siarkan. 

Aheii, justru itu! Bukankah ada Hadist Rasul yang mengatakan setiap perkataan adalah doa? Ketika kita membiasakan diri mengucapkannya (bahkan menuliskannya) bukan tidak mungkin suatu waktu doa itu akan dikabulkan-Nya. Bukan tidak mungkin juga lho seseorang mengamini pengharapan tersebut dan jadi perantara terkabulnya doa. Ya nggak?

Ah, saya harus berterima kasih hari ini untuk artikel tersebut. Tulisan Mbak Esti mengingatkan kita untuk terus sabar, berpikir positif bahkan kalau perlu mensugesti diri sendiri bahwa satu ketika doa akan dikabulkan. Semoga saja, Mbak Esti sekeluarga beserta putrinya, selalu dilimpahi keberkahan.

Dan semoga juga tulisan berjudul "Belajar Sabar dan Positif dari Mbak Esti Sulistyawan" ini bisa bermanfaat juga buat banyak teman.


Salam


source pic : pixabay




12 komentar:

  1. Terima kasih sudah mengambil sisi positif dari tulisan saya, Mbak. Semoga Mbak Afin sekeluarga juga selalu berbahagia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Esti, barakallah ya

      Hapus
  2. Bersabar dan berserah itu kalau dibayangkan indah dan mudah, tapi prakteknya tetap aja merana hihiii.. TFS ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mbak Yoanna...aduh, kerap kali kita gagal dalam prosesnya. Terima kasih untuk komennya

      Hapus
  3. sabar dan ikhlas itulah yang harus kita miliki, sudah sabar gak ikhlas, waduh...tapi itulah kita diuji atas kesabaran dan keihlasan kita yg setiap org berbeda2

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha, iya bener Mbak Tira. Hihihi...*ngaku

      Hapus
  4. Aku kenal Mbak Esti udah cukup lama, selain sabar, dewasa juga beliau. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya bayangin jadi Mbak Esti, fyuuuh...elap keringet, Mbak. Semoga mbak Esti selalu diberkahi Allah

      Hapus
  5. Semua berawal dr diri sendiri, dengan keyakinan yang kuat, usaha dan doa....*Mbak Esti ajib bikin posingan motivasi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. OOT: Mbak Afin dr Banyuwangi ya? BWI mana Mbak? Aku pernah tinggal di sana loh

      Hapus
    2. Lha aku dari genteng Mbak Ririe, walah baru tahu sekarang yo kalau sampean pernah disini...hihihi

      Hapus
  6. komen dulu ahh baru baca.. :3 hhehhe

    BalasHapus