20 Oktober 2016

MENGGERUTUI HUJAN



 
sumber gambar : https://www.pexels.com/

Benar-benar tidak diharapkan. Saat lagi orang butuh jalan, mengirim naskah yang super penting, eh dianya malah turun sembarangan. Mak bress! Tidak pakai kode atau sinyal. Haduuh, kalau begitu bagaimana caranya sampai di warnet tanpa kebasahan? Ha, mbok ya nanti saja kalau sudah selesai urusan. Atau nanti saja waktu malam, sehingga saya bisa nyenyak tidur. Begitu kata saya ketika menggerutui hujan. Hujan yang sebenarnya merupakan keberkahan. Hingga kaum muslim kerap dianjurkan untuk berdoa di kala hujan tengah turun. 

Tetapi, Allah yang baik itu justru mengirimkan hadiah sebagai balasan atas gerutuan saya. Saya diberikan kesempatan melawat bumi lain yang tak pernah saya bayangkan, hadiah menang Gramedia Blogger Competition Juli silam. Saya diterbangkan ke Belu via Jakarta dan mengikuti rangkaian acara “Festival Membaca Belu” yang diadakan oleh Save The Children dalam rangka Hari Anak Nasional tgl 23 Juli 2016.
Menyenangkan! Sampai kemudian pesawat yang saya tumpangi sampai di atas langit Kupang. Dari jendela saya bisa melihat Kupang didominasi warna kecoklatan. Tanah-tanah lapang kering tanpa rerumputan. Saya membayangkan menapakinya langsung tanpa alas kaki bisa membuat panasnya bumi nyetrum hingga ke tulang. 

Pintu pesawat dibuka, perlahan para penumpang turun melewati tangga. Ketika giliran saya tiba,  terasa panas menerpa. Tak cuma datang dari atas, tapi juga dari bawah dimana kaki saya berpijak. O, Mak! Panasnya ganda. Saking panasnya, saya yakin memecah telur diatas aspal bandara El Tari pasti langsung matang. 

Keluar dari bandara, saya disuguhi pemandangan Kupang. Terik benar sementara debu-debu  beterbangan memenuhi siang. Tanah, pohon, dan rumput hilang kesegaran. Menurut Astrid Tehang, kawan jurnalis yang meliput festival itu, hujan terakhir dirasakannya setahun silam. Saya terpana. Di Jawa, terutama tempat saya tinggal, lain cerita. Hujan rajin sekali datang, dengan volume dan durasi yang terkadang panjang. Di Kupang malah kebalikan. Bersyukur kendaraan yang saya tumpangi menuju ber-AC. Jadi panasnya udara luar tidak terasa. 

Menuju Belu, kami harus melewati jalanan propinsi sejauh 270 km. Sepanjang itu beberapa kali saya disuguhi bukit-bukit dan lembah hijau mengesankan. Selebihnya gersang karena jarang dirambah hujan. Semak-semak merana, pohon tak ada bedanya. Kalaupun berdiri bisa jadi nyawa si pohon sesungguhnya sudah tak ada. Tinggal pokok-pokoknya saja menantang langit. Rumah-rumah berdinding *bebak berdiri lesu di pinggir jalan. Kebanyakan tanpa jendela, dengan daun lontar atau seng sebagai atapnya. Yang daun lontar itu saya tak bisa menduga-duga bagaimana rasanya berteduh di siang yang sedemikian panas, tapi yang dari seng saya tahu. Saat kecil bagian dapur rumah saya beratap seng. Kalau siang panasnya bukan main! Seperti leleh rasanya.

Seketika itu saya merindukan hujan. Hujan yang terkadang saya sesali namun begitu susah didapati di NTT. Banyak warga disini yang harus berebut air karena kemarau panjang. Bahkan banyak yang gagal panen dan gagal tanam karena minimnya curah hujan. Sementara saya selalu menikmati kelimpahan air tanpa perlu bersusah payah seperti mereka. Detik itu saya sadar, betapa kurang ajarnya saya karena  menggerutui hujan. Saya melupakan kalau hujan adalah nikmat teramat besar.

Terima kasih Tuhan, untuk hadiah terindah-Mu. Kau jawab gerutuku dengan mendatangkan langsung diriku ketempat dimana hujan teramat mahal.

Catatan
Bebak : anyaman dari batang daun gewang




 Diikutkan dalam give away "Cerita Hujan"

11 komentar:

  1. Terima kasih sudah berpartisipasi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Mas Agung Rangga

      Hapus
  2. Tuhan tahu yang kita butuhkan bukan yg kita inginkan yaa...ada alasan mengapa diturnkannya hujan saat itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixix,iya Mbak Ophi...hanya kita baru paham belakangan biasanya

      Hapus
  3. Baru tahu Kupang keadaanya seperti itu :) gudluck mba GAnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Mbak Herva.
      Eniwei kupang itu memang jarang hujan, sering kekeringan

      Hapus
  4. Waah.. Ternyata Kupang jarang hujan ya Mbak..
    Dan ya memang benar, selalu ada alasan mengapa Tuhan mengirimkan hujan ketika itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, jarang banget.
      Nah, alasannya sering kali kita tahu jauh setelah itu. Dan kita baru menyadari bahwa Allah itu punya maksud setiap kali memberi sesuatu

      Hapus
  5. Halo, Mbak Afin!
    Selamat ya, tulisan ini menang dalam Giveaway "Cerita Hujan"!
    https://agungrangga.com/2016/10/31/pemenang-giveaway-cerita-hujan/
    Silakan cek email dan balas email dari saya ya, ditunggu~ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Agung, maaf barusan saya balas emailnya

      Hapus
    2. Hadiah pulsanya sudah dikirim ya Mbak~ :D

      Hapus