Tampilkan postingan dengan label kontes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontes. Tampilkan semua postingan

16 Januari 2019

Lima Alasan Mengapa ASUS ZenBook S UX391UA Bikin Liburan Lebih Mengasyikkan


"A dream doesn't become reality through magic; 
it takes sweat,determination and hard work."

Demikian  kutipan dari Colin Powell. Kutipan itu banyak benarnya. Tanpa peluh, determinasi dan bekerja keras tidak mungkin sebuah mimpi akan tercapai. Yang ada hanya akan jadi onggokan bunga tidur, yang tak kunjung menjadi kenyataan. Akan tetapi, bekerja terlampau keras tanpa jeda ternyata kurang baik bagi tubuh kita. Tanpa disadari kita jadi mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan imunitas tubuh menurun  sehingga mudah sakit-sakitan.
Hal semacam ini pernah saya alami. Demi menyelesaikan naskah saya rela begadang mengurangi istirahat. Tak ayal tubuh berontak, ditandai dengan kondisi tubuh yang tak sebaik semula. Saya jadi mudah meriang dan terkena flu. Bukan itu saja, ketika saya paksakan pekerjaan saya tak juga kelar karena fokus berkurang. Belakangan saya tahu ternyata itu adalah efek dari bekerja tanpa jeda. Agar bisa mengembalikan kondisi seperti semula saya hanya perlu istirahat dan menikmati waktu dengan berjalan-jalan. Begitu dicoba ternyata benar juga.

Jawatan, hutan yang menyerupai hutan Fangorn di film Lord Of The Ring.
Kini saya selalu menerapkannya. Di tengah-tengah asyiknya bekerja sebagai penulis, saya menyempatkan diri untuk bepergian.  Menyenangkan diri dengan liburan. Tidak jauh, hanya seputar Banyuwangi saja. Bertemu dengan alam dan mengagumi kemolekannya seperti waktu berkunjung ke Jawatan beberapa waktu lalu. Berada di tempat yang menyerupai hutan Fangorn di film Lord Of The Ring ini tak hanya menyegarkan mata, tetapi juga tubuh, jiwa, dan pikiran. Rupanya berlibur ke sana  juga mampu membuat semangat membara kembali seperti sebelumnya. Alhasil ide-ide segar mengalir begitu saja dan memenuhi kepala.

Asyik duduk sambil mengetik di antara rindangnya pohon di Jawatan.
Nah, yang cocok di bawa ke liburan macam ini tentunya laptop yang ramping dan baterainya cukup tahan lama. Semisal Asus Slimbook X401U andalan saya sejak enam tahun silam. Bentuknya slim, bobotnya juga ringan (1,76kg), nggak bikin pundak capek kalau dibawa ke mana-mana. Baterainya pun bertahan cukup lama, kurang lebih 3-4 jam. Sehingga sewaktu-waktu ide muncul, saya bisa menuliskannya dengan rentang waktu cukup lama tanpa tanpa bingung mencari colokan. Sebab ketahanan daya baterai cukup bisa diandalkan.
Laptop ini buat saya mengesankan karena tetap bekerja dengan baik meski pernah kehujanan. Itu terjadi lebih dari lebih dari sekali. Saya ingat situasi itu terjadi ketika saya sedang jalan-jalan sembari browsing dan mengirim naskah cerita. Mendadak hujan datang dan bikin saya pontang-panting menyelamatkan laptop kesayangan. Saya sudah khawatir si laptop kenapa-napa.  Aduh, untunglah laptop saya ini bandel! Setelah kehujanan ternyata tetap lancar digunakan hingga sekarang dan menghasilkan buku kurang lebih lima belas buah. Baik berupa antologi, trio, atau solo. Bahkan memenangkan sekian banyak lomba sejak dipakai hingga sekarang. Keren ‘kan?
Dan ternyata generasi baru ASUS  yakni ZenBook S UX391UA bisa memenuhi semua harapan. Bahkan lebih! Kok bisa? Nih, penjelasannya :
1.      Tidak merepotkan dan cocok untuk pengguna yang demen bepergian
Laptop satu ini memiliki bentuk yang sangat ramping. Dengan dimensi 31,1 x 21,3x 1,29 cm, orang-orang yang acap bepergian baik untuk bekerja atau justru jalan-jalan bisa dengan mudah memasukkannya tanpa takut menyita ruang untuk barang lain yang lebih penting. Bobotnya yang hanya mencapai 1 kg, tentu tak memberatkan pundak mereka yang gemar jalan-jalan menggunakan ransel dan bukannya koper, seperti saya. Jadi jika ingin memilih komputer portable, ASUS ZenBook S UX391UA adalah pilihan utama.



2.      Daya tahan baterainya luar biasa, fast charge pula
Daya tahan baterai ASUS ZenBook S UX391UA mencapai 13,5 jam.  Bayangkan jika jalan-jalan di daerah terpencil seperti Teluk Ijo atau Alas Purwo. Di tempat seperti ini mencari colokan untuk mengisi daya susah karena listrik tidak ada atau kalaupun ada jarak tempuhnya jauh. Dengan kemampuan semacam ini jelas membantu sekali. Kita tetap bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa dihantui rasa was-was jika laptop mati di tengah-tengah bekerja.
Yang mengasyikkan pengisian dayanya tidak memerlukan waktu lama. Hanya butuh waktu 49 menit untuk mengisi ulang hingga kapasitas 60%. Semua itu berkat teknologi fast-charge yang digunakan oleh ASUS ZenBook S UX391UA. Nah, ini nih bikin acara traveling jadi makin menyenangkan! Dengan begini kita memiliki banyak waktu untuk explore destinasi wisata yang kita datangi ketimbang duduk  berlama-lama menunggu baterai laptop terisi penuh.
3.      Tangguh dan berstandar militer
Buat mereka yang gemar melancong ke mana-mana, ASUS ZenBook S UX391UA adalah pilihan yang tepat. Bagaimana tidak? Laptop ini memenuhi standar militer MIL-STD 810G—tahan terhadap tabrakan, benturan, getaran serta guncangan keras yang mungkin terjadi saat beraktivitas. Dan hebatnya tetap selamat tanpa kerusakan eksternal atau internal yang serius.
Dalam lingkungan yang ekstrem pun laptop tetap bertahan. Laptop tetap bekerja di suhu rendah atau tinggi. Berada di lingkungan dengan kelembaban tinggi atau di ketinggian 40.000 kaki laptop tak masalah.
Selain itu, bagian-bagian laptop ini juga sudah mengalami serangkaian uji ketahanan yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Mulai dari tes ketahanan keyboard, tes engsel, tes tekanan panel, hingga tes tekanan layar. Semua tes ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan bahwa tiap komponen pada laptop bisa diandalkan dan bisa memberikan layanan terbaik dalam waktu lama.
Aduh, jika begini tak sabar rasanya pergi ke Ijen dan mendakinya sembari membawa ASUS ZenBook S UX391UA yang handal luar biasa!

4.      Desainnya mengutamakan kenyamanan pengguna
Sebagai penulis saya paham benar bagaimana rasanya ketika mengetik di atas laptop dalam posisi yang tidak nyaman. Saya harus mengatur kemiringan agar enak kala digunakan mengetik dalam jangka waktu yang panjang. Nah, ASUS ZenBook S UX391UA dirancang sedemikian rupa dengan engsel Ergolift yang secara otomatis membuat keyboard berada di posisi kemiringan 5,50 sementara layar 1450. Sudut ini merupakan sudut paling optimal untuk melakukan pengetikan. Di mana tingkat kemiringan ini juga diperhitungkan agar bisa meningkatkan kinerja audio yang dilengkapi speaker Harman Kardon dan ASUS SonicMaster, pun pendingin laptop istimewa yang memiliki sistem efisien dan tenang bahkan saat saat beban sedang tinggi.


Keyboard-nya yang ergonomis sengaja dirancang untuk memanjakan penggunanya. Jarak antar tombol yang cukup lebar dengan permukaan tombol yang lembut menjadikan proses pengetika jadi lebih akurat dan nyaman. Cahaya lembut keemasan dari keyboard memungkinkan pemakai laptop bekerja dalam kondisi minim cahaya sekalipun.

15 Juni 2017

STRATEGI MEMAJUKAN KOPERASI DI ERA DIGITAL



 
Unit Usaha Toko Koperasi Karyawan Indocement
            Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh The World Co-operative Monitor 2016, ranking dan kapital indeks koperasi dunia masih di dominasi oleh negara-negara barat utamanya utamanya Amerika dan Eropa. Tercatat hanya empat negara dari Asia yang berhasil masuk ke dalamnya yaitu Jepang, Korea, Singapura, dan India. Dari keempatnya hanya Korea dan Jepang yang bisa menduduki posisi sepuluh besar. Korea di urutan keempat, sedangkan Jepang menurun peringkatnya, dari posisi utama menjadi urutan kesepuluh. Sementara Perancis berhasil mendudukkan tiga koperasinya di posisi 1, 7, dan 8, German  berada di posisi ke-3 dan 9, disusul oleh Amerika menduduki posisi ke-5 dan 6. Indonesia sendiri diwakili oleh Koperasi Warga Semen Gresik, KOSPIN JASA, Koperasi Karyawan Indocement, Kopkar PT. Pindodeli, dan Penabulu Jaya Bersama hanya masuk dalam daftar koperasi yang dimonitor oleh lembaga tersebut.
            Hal ini seolah menunjukkan bahwa mewujudkan impian Bung Hatta menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia masih jauh dari harapan. Selain kontribusi terhadap PDB (Produk domestik Bruto) kecil, koperasi juga belum mampu menunjukkan tajinya kala krisis ekonomi melanda tahun 1997-1998. Saat itu justru UMKM yang mengambil peran sebagai penyelamat. Sektor ini terbukti mampu bertahan dan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak ketimbang sektor lainnya. 

 
Pellervo Society, Biro Komunikasi Koperasi Finlandia
            Fakta ini berbanding terbalik dengan kondisi di Eropa dimana koperasi justru menjadi solusi saat krisis ekonomi melanda. Di Swedia, model bisnis jenis ini justru unggul dibandingkan sektor lain. Keberadaan pelanggan yang sekaligus menjadi anggota koperasi memberikan manfaat tersendiri. Keuntungan yang ada tidak diberikan kepada pemegang saham, akan tetapi berputar di perusahaan tersebut dan memberikan manfaat bagi semua orang disaat yang sama. Finlandia, yang dikenal sebagai negara koperasi dunia karena 84% rakyatnya menjadi anggota koperasi, sudah membuktikan sejak seabad silam bahwa koperasi mampu menjadi penopang bagi penguatan ekonomi di negaranya meski tanpa dukungan dan campur tangan pemerintah. Bahkan menjadi penyelamat saat terjadi keterpurukan ekonomi sebagai imbas runtuhnya Uni Soviet di tahun 90-an. 

16 Desember 2016

Lancar Bahasa Inggris Lisan dan Tulisan #Resolusiku2017

           
Attention please...Do you speak English? (source : http://gratisography.com)
            Sebagai penulis saya bersyukur memiliki kemampuan berbahasa lebih. Tak hanya satu tapi lima bahasa sekaligus—bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa kalbu, bahasa tubuh, dan bahasa tarzan (pakai tangan, kaki, atau sembarang pokoknya you paham). Kedua bahasa yang pertama membuat komunikasi dengan orang berjalan lancar. Saya tak dituduh alien karena gagal paham bahasa apa yang mereka gunakan. Setidaknya dengan tetangga sebelah saya.
            Bahasa ketiga, bahasa kalbu, yang paham tidak sembarang orang. Harus yang mumpuni untuk memahami apa yang saya pikirkan. Dan ternyata yang mumpuni membaca kalbu saya tak lain adalah  saya sendiri. Lha buktinya, meski saya sudah njureng-njureng (njureng itu apa ya bahasa Indonesianya, ah...iya muka serius, alis kenceng) menyiarkan bahwa dompet saya dalam titik nadir tidak ada yang mampu menangkapnya *hwahahaha. Jadi, ya sudahlah. Saya harus terima  kalau bahasa kalbu itu tidak pas untuk komunikasi masal. Terlebih karena kebanyakan orang bukan cenayang yang mampu membaca pikiran.
            Bahasa yang keempat, bahasa tubuh. Ini penting untuk kita kuasai. Karena tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaan. Kerap orang menyuarakan dengan bahasa tubuh yang samar. Kalau kamu tidak paham bisa repot juga.  Contoh soal kamu cakep tapi bau kandang sapi dan kamu tidak sadar akan hal terakhir ini. Kalau kamu ingin tahu perasaan orang soal “bau kandang sapi”-mu kau bisa cek bahasa tubuhnya. Coba lihat apakah tiap kali kamu maju dia  mundur-mundur sambil  nyengir kuda?  Atau malah celingukan kayak nyari jalan buat hengkang tiap kamu ngajak bincang-bincang?  Jangan-jangan jika kamu mendekat dianya lompat-lompat? Bahkan kalau  kalian  sampai duduk bersama, dia akan beringsut jauh-jauh ke ujung lainnya. Kalau ditanya kenapa jawabnya ,”Ah, tempat masih lebar masa sih dempet-dempetan?”
            Kelima bahasa Tarzan. Penting kalau ketemu orang asing di jalan, terlebih kalau kemahiran bahasa Inggrismu nihil jaya. Tak ada cara lain yang pas digunakan selain bahasa Tarzan untuk komunikasi dengan mereka. Cyat, hyat...yang penting I paham, kamu understand lah...

14 Desember 2016

KETIKA BUNDA BERPULANG



            Saya berpikir Ibu saya akan hidup lama. Bisa mendampingi saya menikah, melahirkan anak-anak, dan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi, Allah Sang Maha Kuasa itu memiliki skenario berbeda. Ibu saya dipanggilnya pulang dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-59.
            Saya masih ingat, jauh-jauh hari Ibu sering kali bilang bahwa dia tak ingin merepotkan siapapun saat meninggal. Ibu ingin saat hari itu tiba ia tidak mengalami sakit  panjang hingga menyusahkan seluruh anggota keluarga. Allah yang baik mendengar dan mengabulkan pintanya. Ibu meninggal tanggal 13 September pukul 2.30 setelah mengeluh sesak di dadanya.
            Saya ingat betul, tengah malam itu Bapak membawa Ibu ke rumah sakit dengan bantuan Om saya. Saya tidak ikut karena harus jaga rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman, saya berlari menyongsong Om dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu saya.Tapi jawaban yang saya dengar mengejutkan.
            Dengan suara terbata-bata Om berkata ,”Ibu sudah tidak ada, Nduk...”
            Seperti orang linglung saya menatapnya. Saya tidak menangis. Saya juga tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya merasa kosong di dalam sana. Sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa. Saya kembali pulang dan terdiam di kamar beberapa waktu lamanya. Saya perlu menenangkan diri  sebelum akhirnya memberitahukan kabar ini. Ini penting karena ketenangan membuat saya mampu mengontrol emosi dan perkataan. Sulit untuk berkata dengan lancar bila hati saya diliputi kesedihan. 
 
  sesaat setelah Ibu tiada perasaan saya kosong, sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa            

            Saya ambil napas dalam, saya katakan pada diri sendiri bahwa saya mampu melampaui musibah ini. Bukankah ada dalil yang mengatakan “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”? Berulang-ulang saya mengatakan itu hingga mampu menguasai diri sendiri. Barulah setelah itu saya mengambil ponsel dan menghubungi kedua adik saya, Wendy dan Wawan. Kemudian disusul keluarga dan teman-teman. Beberapa mengangkat telepon saya dan menangis begitu mendengar apa yang saya sampaikan. Lainnya tidak bisa dihubungi, meski nadanya tersambung tapi telepon saya tidak diangkat. Saya memahaminya. Hari masih terlalu dini. Orang-orang pasti masih terlelap dalam tidurnya.

06 Desember 2016

MENDAKI IJEN, MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI


            

            Saya belum pernah naik ke Gunung Ijen ketika Yogi, teman saya, menawari saya untuk ikut bersama rombongan tour yang dipimpinnya. Tawaran yang menarik. Tapi, saya sangsi mengingat saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Mendaki gunung itu bukan kegiatan main-main. Butuh stamina kuat agar energi tubuh tak mudah terkuras saat melakukannya. Bahkan meski  jaraknya hanya sejauh 3 km seperti Gunung Ijen. Jangan salah, meski jalurnya pendakiannya pendek medan yang dilalui cukup berat—menanjak dengan dengan kemiringinan antara 25-35 derajat. Tanahnya berpasir pula. Siapapun yang pernah kesana pasti tahu bahwa langkah kaki  akan terasa lebih berat. Para pendaki harus menahan bobot tubuhnya agar tak tergelincir kembali ke bawah. 
pagi hari di gunung Ijen
             Oleh karena itu kondisi tubuh harus disiapkan betul saat melakukan pendakian. Tubuh yang kurang fit selain membuat perjalanan jauh lebih lambat juga bisa merepotkan kawan seperjalanan. Padahal itulah yang saya alami kala itu,  tak enak badan—meriang ditambah dengan tenggorokan yang kering dan sakit. Yang bikin keraguan saya bertambah besar adalah bobot tubuh. Dengan tinggi mencapai 146 cm, berat tubuh saya mencapai 60 kg lebih. Saya tak yakin bisa mendaki tanpa kerepotan dengan bobot sebesar itu.

            Tapi, melewatkan kesempatan itu sayang juga. Kapan lagi jika bukan sekarang? Mumpung ada teman, pikir saya. Akhirnya saya pun mengiyakan. Saya berdoa semalaman agar keesokan hari saya diberi kemudahan. Ajaib, esok paginya saya sudah enakan. Saya tak lagi merasa seburuk semalam. Perjalanan ke Banyuwangi bersama Yogi dan seorang teman lain, Edwin, berjalan lancar.  

29 November 2016

SWITCH ALPA 12, NOTEBOOK YANG MELEBIHI HARAPAN


            Banyak yang mengira pekerjaan sebagai penulis itu pekerjaan yang keren dan seksi. Padahal yang sudah menjalani justru tahu pekerjaan ini berat. Banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena tidak sanggup menerima ujiannya. Bayangkan, tidak mudah menembus majalah atau koran. Tak cukup sebulan waktu tunggu hingga akhirnya karyamu layak tayang. Bisa berbulan-bulan hingga kau lupa pernah mengirimkan karya di majalah atau koran itu. Begitupun menerbitkan buku di penerbitan. Butuh jangka waktu sedikitnya tiga bulan untuk tahu kepastian apakah karyamu layak diterbitkan. Jika lebih dari itu tak ada jawaban harus sabar. Barangkali masih menunggu antrian. Bukankah yang kirim ke satu penerbit itu bisa ribuan? Kalaupun akhirnya layak terbit, si buku masih harus melalui proses yang lama lagi. Saya pernah menunggu kurang lebih dua tahun untuk menunggu terbitnya novel berjudul Glamo Girls yang saya tulis bareng dua teman saya, Tya dan Fitri.
            Jika sebegitu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tayang di majalah, koran atau penerbitan, maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya mencari duit dari menulis ‘kan? Padahal seorang penulis harus tetap melahirkan karya. Tak boleh mandeg dan menunggu hingga karyanya muncul. Saya sendiri pernah mengalami musim paceklik parah. Dompet praktis hanya berisi sarang laba-laba, sementara ATM tak jauh beda. Ibarat hari, kondisi ATM saya adalah malam yang muram. Jadi bila menengoknya yang ada cuma hela napas panjang. Efeknya jelas, saya tak bisa pergi ke warnet untuk mencari bahan tulisan atau bahkan mengirim naskah ke majalah, penerbitan, atau lomba menulis sekalipun. Jika sudah begini penulis  dituntut kreatif dalam mencari jalan keluar agar tetap bisa berkarya. Contohnya dengan memanfaatkan wifi gratisan yang disedikan Pemkab Banyuwangi di ruang-ruang terbuka seperti yang saya lakukan. 

 
            Saya rela berangkat pagi-pagi (biasanya sehabis subuh) demi bisa menikmati wifi dengan nyaman. Sinyalnya lancar, tidak tersendat karena digunakan oleh banyak orang. Tak ubahnya alien di tengah lautan manusia, di kala yang lain datang untuk berolaharga di RTH (Ruang Terbuka Hijau) Maron itu, saya justru duduk bersila  dan berselancar di dunia maya. Tak heran banyak orang menatap aneh pada saya. Beberapa sampai bertanya apa yang saya lakukan disana.

09 November 2016

BATAL GANTUNG PENA BERKAT WIFI.ID





“Jadi penulis tak boleh gampang nangis. Harus tahan bantingan,
sebab banyak sekali kesulitan menjelang. Tak cuma soal naskah yang tak ada kabar, tapi juga ketahananmu menghadapi krisis finansial.”

            Saya mengetahui hal-hal itu sejak saya terjun di dunia literasi tahun 2009. Tapi, saya baru paham setelah benar-benar menggantungkan diri pada pekerjaan satu ini sejak 2012. Saya memang tergolong nekat, berbekal pengalaman menulis yang minim saya berani terjun menjadi penulis. Maka ibarat orang lari yang tak melakukan pemanasan cukup ketahanan saya pun menurun. Meski lintasan yang dicapai belum mencapai seperempatnya, saya megap-megap karena kesulitan bernapas. Walau begitu saya tetap bertahan. Saya sudah memulai perjalanan, jika saya berhenti maka sia-sia saja langkah yang sudah saya lakukan.
            Tetapi, ketika dompet hanya berisi lima ribu rupiah saya menyerah. Sepertinya saya harus berhenti saja. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk pergi ke warnet satu kali. Lalu selebihnya bagaimana? Padahal saya butuh internet untuk melakoni pekerjaan saya sebagai penulis. Butuh browsing ini-itu, mengumpulkan artikel yang saya perlukan untuk si calon tulisan, juga mengirim naskah tulisan saya via e-mail ke penerbit, majalah, atau lomba-lomba penulisan. Tanpa internet yang jadi sahabat saya (dan tentu saja para penulis lain di era digital), saya mati gaya. Sepertinya saya harus gantung pena (berhenti menulis).
            Namun, Allah sungguh baik. Keputusan untuk gantung pena itu batal saya lakukan ketika adik saya menceritakan soal wifi.id di RTH Maron di awal tahun 2014.
            “Kecepatannya boleh, juga. Aku barusan dari sana,” kata Wawan.
            Ah, tapi biasanya kan tidak gratis, pikir saya. Setidaknya butuh Rp 5000, 00 agar bisa akses wifi-nya. Padahal isi dompet saya tinggal segitu. Ah, sedihnya...
            Seperti tahu pikiran saya, Wawan, berkata ,”Yang di RTH Maron wifi-nya versi gratisan alias free. Kalau lainnya kayak flashzone-seamless, flash zone, @wifi.id, sama flexi zone baru bayar. Cuma kalau pake yang free ini tiap 20 menit harus log in ulang. Tapi, itu nggak masalah lah...”
            Waah, ini jalan keluar bagi saya!           

03 November 2016

AKHIRNYA SAYA PILIH IBU DAN BUKAN PEKERJAAN

 
Bunda cinta dan kasihmu adalah cahaya

            Agustus, 2014.
            Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang yang tengah dilanda “kekeringan” ketimbang tawaran pekerjaan. Maklumlah sebagai penulis saya memang masih taraf belajar. Tulisan saya belum banyak yang tembus ke media. Beberapa kali jadi finalis atau menang lomba nulis, tak berarti saya mumpuni. Maka tak heran jika hasil dari menulis jauh dari harapan. Tak bisa dijadikan pegangan.
            Maka wajar jika saya bergembira ketika karib saya, Endang, mengatakan ada lowongan pekerjaan. Meski pun profesi yang ditawarkan jauh sekali dari ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dulu yaitu jadi guru SD di sebuah sekolah swasta baru.
            “Siapa tahu, Fin. Kenapa tidak dicoba? Nggak apa-apa meski kamu lulusan Faperta.”
            Pertanyaannya kemudian ”Apa saya mampu? Mengajar tak sekedar mencari uang, didalamnya ada tanggung jawab besar. Apalagi saya tak memiliki ilmu mengajar”.
            Seolah tahu apa yang saya pikirkan, Endang, sahabat saya itu berkata ,”Coba saja. Tak ada salahnya. Yuk aku antar ke tempat Mbak Sita (bukan nama sebenarnya). Katanya di sekolah Islam yang dia rintis ini butuh banyak guru.”
            Ah, dia benar juga. Coba saja. Tak ada salahnya. Lagipula jika saya memiliki pekerjaan, saya bisa memiliki penghasilan tetap. Sehingga saya tak selalu was-was diliputi pertanyaan “Adakah uang untuk pergi ke warnet?” setiap kali saya ingin mengirim artikel, cerpen, atau novel.

24 Oktober 2016

TANTANGAN DAN UPAYA PEMERINTAH UNTUK MENAIKKAN KEMILAU PERNIAGAAN INDONESIAN SOUTH SEA PEARL


source : IG @indonesianpearlfestival2016
            Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan luas lautan mencapai dua pertiga luas daratan. Tak heran bila kemudian Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi kelautan yang besar—baik sumber daya alam, potensi wisata, hingga kekayaan biota lautnya. Akan tetapi, baru sedikit yang dieksplor dan dimanfaatkan. Sehingga belum bisa memberikan kontribusi tinggi pada kesejahtaraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
            Salah satu contoh nyatanya adalah mutiara laut selatan atau disebut juga sebagai Indonesian South Sea Pearl (ISSP).  Dikutip dari situs Worlds Richest Countries, Indonesia hanya menyuplai sebesar 2% kebutuhan dunia atau menduduki peringkat sembilan dari sepuluh negara terbesar pengekspor mutiara. Berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan bahwa Indonesia merupakan penghasil mutiara laut selatan terbesar. Dari total produksi sebesar 12 ton per tahun, 55% lebih berasal Indonesia. Sementara sisanya berasal dari Australia, Filipina, dan Myanmar. 
  

http://www.worldsrichestcountries.com/top-pearls-exporters.html

Tantangan Yang  Dihadapi Pemerintah Terkait Perniagaan Indonesian South Sea Pearl
            Tantangan pertama di bidang perniagaan yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah ekspor secara ilegal. Ditengarai maraknya  bisnis mutiara ilegal menjadi sebab kecilnya nilai ekspor Indonesian South Sea Pearl. Sehingga hanya mampu membukukan US$ 31,2 juta pada tahun 2015. Meskipun pencapaian tersebut lebih  baik ketimbang Filipina (US$ 20.3 juta) dan Myanmar (US$10 juta), tetap saja kenyataan tersebut menjadi ganjalan.  Dengan luas wilayah laut mencapai 5.800.000 km2, harusnya ekspor Indonesian South Sea Pearl bisa mengungguli Australia yang kini ada di peringkat kelima dengan nilai ekspor sebesar US$ 56,4 juta.
 

22 Oktober 2016

MENGAJI KEMBALI DI USIA KE-28, ITU PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN



source : https://pixabay.com


DITEGUR TUHAN
            Merasa cukup dengan pengetahuan agama, saya tidak merasa perlu untuk menambahnya. Sampai satu hari saya ditegur Tuhan lewat peristiwa kecil yang berefek besar.
            Sore itu saya mendengar kumandang adzan dari surau kecil di timur kantor kepolisian. Sang muadzin sudah tua, terdengar jelas dari suaranya. Tetapi, bukan itu yang jadi pangkal kejengkelan melainkan kekukuhannya mengumandangkan adzan meski tahu suaranya tak memenuhi syarat—buruk, gemetar, napasnya pendek, dan nadanya asal. Parahnya lagi panjang-pendek yang harus diperhatikan dalam adzan diterjangnya habis-habisan. Kentara bila sang muadzin tak paham tajwid dengan benar.
            ”Ck, muadzin tak becus tajwid begitu disuruh maju. Yang lainnya memang gak ada? Yang muda-muda, yang paham cara ber-adzan kan ada?!” gerutu saya.
            Di detik itu juga, Allah mengusik hati kecil saya dan membuatnya bertanya ,”Bagaimana jika anak muda yang kau maksudkan tidak ada? Atau kalaupun ada mereka tidak mau mengambil alih tugas itu dan memilih menjadi penggerutu seperti kamu? Dan kamu sendiri bagaimana? Mengatai orang tak becus tajwid, memangnya sudah berkaca? Lihatlah, kau sendiri tak lebih baik dari muadzin tua itu. Ilmu tajwid-mu jauh dari sempurna!”
            Saya tertegun. Deretan kalimat itu membuat saya tercenung cukup lama. Perlahan mendorong satu hal baru dalam diri saya, ingin mengaji kembali setelah sekian lama merasa cukup dengan pengetahuan yang saya punya. Mengaji kembali dari nol.  Tetapi, dimana? Memangnya ada tempat mengaji yang mau menerima orang dewasa.

20 Oktober 2016

MENGGERUTUI HUJAN



 
sumber gambar : https://www.pexels.com/

Benar-benar tidak diharapkan. Saat lagi orang butuh jalan, mengirim naskah yang super penting, eh dianya malah turun sembarangan. Mak bress! Tidak pakai kode atau sinyal. Haduuh, kalau begitu bagaimana caranya sampai di warnet tanpa kebasahan? Ha, mbok ya nanti saja kalau sudah selesai urusan. Atau nanti saja waktu malam, sehingga saya bisa nyenyak tidur. Begitu kata saya ketika menggerutui hujan. Hujan yang sebenarnya merupakan keberkahan. Hingga kaum muslim kerap dianjurkan untuk berdoa di kala hujan tengah turun. 

Tetapi, Allah yang baik itu justru mengirimkan hadiah sebagai balasan atas gerutuan saya. Saya diberikan kesempatan melawat bumi lain yang tak pernah saya bayangkan, hadiah menang Gramedia Blogger Competition Juli silam. Saya diterbangkan ke Belu via Jakarta dan mengikuti rangkaian acara “Festival Membaca Belu” yang diadakan oleh Save The Children dalam rangka Hari Anak Nasional tgl 23 Juli 2016.
Menyenangkan! Sampai kemudian pesawat yang saya tumpangi sampai di atas langit Kupang. Dari jendela saya bisa melihat Kupang didominasi warna kecoklatan. Tanah-tanah lapang kering tanpa rerumputan. Saya membayangkan menapakinya langsung tanpa alas kaki bisa membuat panasnya bumi nyetrum hingga ke tulang. 

11 Juni 2016

AKU, KAMERA PONSELKU, DAN MUPENG INGIN YANG BARU





Sebagai pekerja kantoran yang gajinya kurang dari 1,5 juta, praktis saya tidak memiliki anggaran lega untuk bela beli belu ponsel baru. Kalaupun iya, saya harus  menunggu THR dulu. Saat THR datang ternyata masih banyak hal lain yang lebih penting ketimbang membeli ponsel baru.  Sementara membeli dengan cara berhutang bagi saya memberatkan. Saya tak sanggup membayangkan saban bulan harus dikejar-kejar hutang, sedangkan gaji saya tidak terlampau besar.

Oleh karena itu saya  manfaatkan saja  gadget yang ada, yang sejak 2009 bersama saya. Peduli amat jadul dan tidak kekinian. Asal masih bisa digunakan berkirim pesan, telepon, dan bermain internet sudah cukup bagi saya. Fitur-fitur lain yang katanya dahsyat, tak saya pedulikan. Bahkan setiap kali muncul peer pressure dari teman-teman atau lingkungan agar membeli ponsel baru saya cuek saja. Racun mereka tidak mempan bagi saya. Alasannya ya itu tadi, anggaran yang tidak mencukupi. Kalau nekat mengikuti kompor semacam ini, waduh bisa-bisa dompet saya gantungisasi (baca : gantung diri). Ujung-ujungnya yang mumet saya juga nanti.

Tapi, keputusan macam ini bukan tidak mengandung resiko. Kerap orang menertawakan ponsel jadul saya. Malah ada yang menjadikannya guyonan segala. Mereka bilang ,”Hari gini kok ya masih pakai ponsel jaman baheula? Nggak bisa buat BBM-an, WA-an...hadeuuh.”
Saya jarang menanggapi candaan semacam itu. Paling-paling hanya tertawa. Meski kadang ingin garuk tembok juga kalau sudah keterlaluan (hahai!).

29 Februari 2016

BELAJAR NULIS NONFIKSI? YUK DIMARI!




Sedari kecil saya hanya suka membaca. Saya menikmati prosesnya, memilih buku di perpustakaan, meminjam (karena saya dulu tak punya uang untuk beli), membawanya pulang, membaca di balik selimut sampai kantuk datang, lalu esok harinya tersenyum senang karena sudah menamatkan kisah yang menyenangkan. Ketika akhirnya saya berhasil menelurkan beberapa antologi, tiga buah novel remaja bersama dua orang teman, saya menyadari itu lompatan yang besar. Andaikata saya tidak membaca mungkin hal itu takkan terjadi pada saya.

Saya tidak tahu seperti apa kelak karya saya dikenang orang. Yang saya tahu ketika menulis “suara saya takkan padam”, walaupun sudah meninggal. Persis seperti apa yang Pramoedya Ananta Toer katakan.


 Belakangan dari menulis fiksi saya mulai belajar menulis non fiksi. Satu atau dua dimuat di majalah. Lainnya

11 Februari 2016

LASER TONER BLUEPRINT BIKIN KONSUMEN MERASA YAKIN


  
Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Gutenberg

            Sejak metode cetak pertama kali diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1450-an, mesin cetak (printer) telah mengalami perkembangan pesat. Tak lagi menggunakan teknik engraving seperti dulu, kini mesin cetak telah menggunakan teknologi laser. Mesin penemuan Gary K. Starkweather ini akan mengubah data (teks atau gambar) yang akan dicetak dalam bentuk bitmap, lalu memindahkannya secara elektrostatik, dan dengan bantuan panas dari fuser partikel-partikel toner (tinta bubuk) akan dilelehkan sehingga terikat pada kertas  selama proses pencetakan.

Laser Printer Lebih Unggul dibanding Printer Ink-Jet
            Dibanding dengan laser printer, harga printer ink-jet memang jauh lebih murah. Sayangnya printer ini hanya mampu mencetak hingga 500 halaman, itupun tergantung seberapa berat proses pencetakan per-lembar-nya. Bila head-nya tersumbat atau kering, ink cartridge bisa berhenti  bekerja di tengah-tengah proses pencetakan. Tentu saja hal ini tidak menguntungkan bagi perusahaan/institusi yang setiap tahunnya bisa mencetak lebih dari 2000 halaman.
            Untuk itulah laser printer menjadi jawaban. Mesin satu ini mampu mencetak lebih banyak, yaitu 2000 halaman sekali proses cetak. Ini tak hanya menghemat waktu tetapi juga biaya pencetakan. Selain itu cartridge-nya juga mampu bertahan lebih lama. Sehingga untuk penggunaan jangka panjang laser printer lebih diunggulkan.

Kekurangan Laser Printer
            Meski begitu, tidak dipungkiri ada kekurangan dari mesin cetak jenis ini. Toner cartridge asli bisa sangat mahal. Sehingga pilihannya jatuh pada alternative brand yang compatible atau remanufactured cartridge demi menghemat 30%-50% pengeluaran. Sayangnya banyak produk  yang mutunya kurang. Sehingga ketika digunakan hasil pencetakan tidak stabil, warnanya juga tidak hitam, dan jumlah lembaran yang dicetak jauh lebih sedikit dari aslinya. Tentu saja jika ini dibiarkan, bukan penghematan anggaran yang terjadi. Melainkan pemborosan!
           

Delapan Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membeli Laser Toner Alternatif
            Agar tidak kecewa kecewa saat membeli laser toner alternatif perlu diperhatikan  delapan hal berikut ini :
1.      Reputasi Pembuatnya
            Perusahaan yang bereputasi baik biasanya memiliki komitmen terhadap para pengguna produknya. Tidak sekadar menjual tetapi juga memperhatikan kualitas  setiap produk yang dihasilkan.

29 Januari 2016

GADGET YANG MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK DAN ORANG TUA, ACER LIQUID Z320 JAWABNYA!


               Tak dipungkiri penggunaan internet meningkat pesat akhir-akhir ini. Maret 2015 Liputan 6 melansir bahwa  menurut APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) di tahun 2014 pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta. Termasuk di dalamnya remaja dan anak-anak.
            Unicef Indonesia bahkan melaporkan bahwa sebagian besar anak-anak dan remaja rutin menggunakan internet untuk menggali informasi, terhubung dengan teman (lama atau baru), sekaligus menjadikannya sarana hiburan yang menyenangkan. Perangkat canggih seperti smartphone rupanya memegang peranan penting dalam rutinitas tersebut.
            Belakangan tak hanya anak-anak atau remaja, balita pun sudah mulai mengakrabi smartphone. Seperti yang terjadi pada Kenzo, keponakan saya. Meski belum paham benar apa fungsi sebenarnya, tetapi sepertinya bocah tiga tahun itu mulai memahami salah satu fungsinya yaitu untuk berkomunikasi. Terbukti ketika ada telepon masuk ia akan mengangkat sendiri dan “say hello” atau memberikan kepada orang tuanya jika sedang enggan. Yang agak mengejutkan ia mampu membuka smartphone dalam keadaan terkunci ketika usianya belum genap dua tahun. 

            Belajar dari pengalaman tersebut, Wendy dan Rena selaku orang tua, mulai berhati-hati meletakkan smartphone mereka. Jika sudah mampu membuka gadget yang terkunci, bukan tidak mungkin ia mampu membuka salah satu aplikasi yang tersedia dalamnya, semisal you tube, pada kesempatan berikut. Kalau sampai terpapar konten berbau kekerasan atau pornografi karena tidak sengaja memencet  aplikasi tersebut bisa gawat! Menurut banyak pakar perkembangan otak anak jadi terhambat.

            Pertanyaannya ,”Darimana keahlian semacam ini didapatkan?”
            Jawabannya sederhana. Anak belajar dan memperhatikan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Begitu seringnya anak melihat kita beraktifitas dengan gadget, secara otomotis pengetahuan tersebut diserap dan ditirunya. Bukankah daya serap otak anak seusia itu bak spons? Cepat sekali menyerap apapun yang terjadi dilingkungan sekitarnya? Hal inilah yang terjadi di depan kita.
            Maka tak heran, di masa kini memilih gadget tepat menjadi pe-er tersendiri bagi orang tua. Smartphone tak hanya keren, tetapi juga fungsional, terjangkau kantong dan tentu saja harus aman untuk anak.  
            Memahami kondisi tersebut Acer meluncurkan ponsel Android Acer Liquid Z320 dengan spek dan fitur yang sesuai kebutuhan keluarga (ayah, bunda, beserta putra-putrinya) seperti berikut ini.

23 Januari 2016

BUKU : CANDU YANG HARUS DIPELIHARA DAN DISEBARKAN KEMANA SAJA



                  Saya yakin anda sekalian akan terkejut jika mengetahui saya adalah pecandu. Sedari kecil saya dicekoki barang-barang aditif itu.  Dan pihak yang paling bertanggung jawab adalah orang tua saya. Merekalah yang menjerumuskan saya jadi pecandu.
                Apakah saya menyesalinya? Tidak. Saya justru bangga.
                Apakah saya perlu direhab? Sebaliknya. Jika sampai ada yang mengusulkan hal itu saya akan menolaknya.
                Bagaimana bisa?
                Sebab jenis kecanduan yang saya derita justru harus dipelihara. Bila perlu disebarkan kemana saja. Mau tahu saya kecanduan apa? Kecanduan buku!


               
Dimulai di Usia Yang sangat Muda
                Sejak usia dini orang tua saya sudah mengenalkan dengan buku bacaan. Untuk anak yang belum bisa membaca pilihan ibu saya tidak biasa. Saya tidak diberi buku bergambar tetapi buku seri pengetahuan binatang. Tentu saja saya tidak paham. Yang saya lakukan hanya membolak-balik halaman-halamannya yang dihiasi foto menarik hewan-hewan. Dan inilah yang kemudian mempengaruhi minat baca saya ke depan.
         

18 Januari 2016

DELAPAN PERMAINAN TRADISIONAL YANG GAUNGNYA HILANG DI ERA DIGITAL






            Masa sudah berganti. Permainan tradisional yang dulu saya kenal gaungnya sudah mulai menghilang kini. Kegembiraan bocah memainkan permainan anak seperti jaman saya kecil dulu sulit ditemukan. Ketimbang keluar rumah dan bermain di bawah hangatnya matahari, kanak-kanak di era digital lebih mengakrabi permainan yang disajikan lewat komputer, tablet, atau ponsel pintar.
            Jika terus demikian, maka tak heran bila kemudian permainan tradisional tinggal kenangan. Sayang bukan? Padahal permainan tradisional banyak memberikan manfaat positif seperti :
1.      Belajar mencoba hal-hal yang berbau kekuatan dan kecakapan
Yang tergolong dalam permainan jenis ini adalah gobak sodor, enthik, bentengan. Tak hanya butuh kekuatan tubuh tetapi juga  kecakapan dan strategi agar seseorang bisa memenangkan permainan.
2.      Melatih panca indra
Contohnya : gatheng, dakon, layangan, delikan (petak umpet), kelereng, dampar. Dengan permainan ini anak diajak meraba, memperkirakan jarak, melatih indra penglihatan dan pendengaran sekaligus menghitung bilangan

16 Desember 2015

BULAN-BULAN TERAKHIR BERSAMA IBU





Memandang foto ibu dan bapak di tembok ruang, memang terasa timpang. Bukan karena letaknya yang miring atau kurang sesuai dengan estetika ruang. Bukan. Melainkan karena ketiadaan ibu karena berpulang tanggal 13 September silam.
Mengingat jauh ke belakang, hubungan saya dan ibu dalam konteks anak dan orang tua sedari kanak-kanak tak luput dari kesalahpahaman. Seperti ombak ada kalanya pasang datang dan kami kerap berbeda pendapat tentang segala hal. Bergesekan keras meski ujungnya kembali tenang. Seperti laiknya pantai kala ombak telah surut.  

Terlahir sebagai anak pertama, saya memiliki kecenderungan keras kepala dan bersikap blak-blakan. Sejak kecil saya memiliki pemikiran sendiri atas banyak hal. Tidak bisa diatur-atur atau disuruh seperti gadis kecil yang manis dan penurut. Itu bukan saya banget. Mungkin karena itulah penyebab saya dan ibu kerap bergesekan. Meski begitu, boleh dikatakan hubungan saya dan ibu tergolong aman. Dalam artian komunikasi kami berjalan baik. Tidak ada hambatan. Saya dan ibu adalah teman. Kami bisa ngobrol segala hal, dari yang jadul sampai yang kekinian. Memang beberapa kali ibu “terasa ketinggalan jaman”, tetapi secara keseluruhan ibu saya bisa mengikuti pola pikir anak muda sekarang. 

Tahun berganti, saya bukan lagi remaja tetapi sudah menjadi manusia dewasa. Saat itulah tanpa sadar komunikasi itu hanyalah ala kadar. Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri dan pekerjaan, hingga hampir tak pernah saya menanyakan apa kabar. Tidak juga bertanya bagaimana keadaannya atau hal-hal kecil lainnya.  Saya menganggapnya tidak perlu. Alasannya sederhana ,”Lha wong masih tinggal serumah dan bertemu saban hari masa iya hal-hal begitu ditanyakan? Kecuali saya tinggal jauh, wajarlah hal-hal begitu diomongkan.”

28 Juli 2015

Bertualang dari Amuntai ke Maratua Itu Impian Saya!







           Tak perlu jauh-jauh untuk melihat keindahan dunia. Begitu banyak destinasi wisata bagus hanya dengan melongokkan kepala ke arah lain, selain pulau Jawa dan Bali. Salah satunya Kalimantan. Jelajah Kalimantan rassanya takkan lengkap jika belum pergi ke Amuntai dan melihat peternakan kerbau rawa. Disebut kerbau rawa, karena memang kerbau-kerbau ini tinggal diatas kandang yang terletak di rawa-rawa. Tak main-main kandang-kandang tersebut umumnya berukuran besar, berdaya tampung 50 sampai 200 ekor  kerbau, dengan langit sebagai atapnya. Tak seperti kerbau umumnya, kerbau di daerah Amuntai ini dikenal dengan kemampuannya berenang. Sehingga meski kebanyakan kandang di bangun di daerah rawa yang dalam, tak perlu khawatir si kerbau akan tenggelam.

            Untuk bisa menggembalakannya, sang pemilik harus menggunakan jukung atau perahu kecil untuk bisa mengawasi ternaknya. Tak heran, dengan keunikan ini banyak orang penasaran dan berkeinginan untuk melihatnya secara langsung. Aih, membayangkannya saja sudah terasa menggiurkan. Apalagi jika benar-benar bisa kesana dan merasakan ambience-nya. Pasti akan terasa luar biasa dan menjadi salah satu pengalaman yang mengesankan bagi saya yang selama ini hanya berkutat di Jawa dan Bali saja.