Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

MENGINTIP BERANDA FACEBOOK-MU

Sebuah bayangan berhenti di sudut. Diam memperhatikan perempuan yang kepalanya terkulai di depan laptop.
Setengah berbisik ia berkata,
"Mengintip berandamu facebook-mu,
selalu kubaca kerinduanmu di tiap lekat katamu. Untukku. Selalu.
Terharu. Tapi tak bisa menjangkaumu.
Hanya kurasa aku akan menjagamu dari jauh. Dan bukan memerangkapmu untuk bersetia padaku. Aku lepaskan kau dengan segenap hatiku jika memang ada seorang yang bisa menjagamu.
Bukan, bukan karena tak cinta kamu. Justru kukatakan itu karena aku amat mencintaimu. Aku tak ingin kau sendiri menyusur lingkar jalan hidup ini.Aku tahu kamu teramat kuat. Amat sangat kuat. Setiap lekuk jalan sanggup kau lewati.
Tapi bagaimanapun juga berdua itu lebih baik ketimbang sendirian memikul beban dipundak, tak berkawan.
Menikahlah saja. Sungguh aku tak apa. Sudah cukup kurasa pengabdian dan cintamu selama kita bersama. Kini carilah bahagiamu sendiri. Jangan terpaku pada bayangku.
Aku tak ada lagi disisimu.
Aku kini berada disisi Tuhanmu, yang juga Tuhanku.
Peluk ciumku untukmu dan anak-anak.”

Sekilas kecupan mampir di kening si perempuan. Perempuan terjaga, merasakan kehadiran seseorang. Tak ada siapa. Hanya dia, ruang kamarnya, dan laptop yang masih terbuka.
Suara adzan nun jauh disana, merasuki gendang telinga. Diusapnya airmata. Lalu bangkit mengusapkan air wudlu kemuka. Segenap takzim berdoa untuk suami tercinta, yang berpulang tanpa pesan apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA