Unggahan Terbaru

Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Gambar
Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.

Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya…

A LETTER TO MY SWEET NOVEMBER




November datang dengan kelabu di langit kita
Tak apa, sebab dibalik itu ada keberkahan menetesi tanah-tanah kita
Sekaligus dingin yang menghantar kita bergelung dibalik selimut tebal
Dan aku sendiri  menemukan kehangatan dibalik pelukmu, setiap waktu

Menatap langit sore itu, keping-keping kejadian berputar
Tentang pertanyaan atau celetuk kecil yang sering kudengar
“Kenapa nggak makan?”
Mbok kalau bicara itu yang halus.”
“Sabar sedikit jadi orang.”
“Siapa yang bilang kamu jelek? Ndak kok.”
Dan aku tertawa sendiri mengingatnya.

Kau tahu, hidup takkan sama tanpamu,
Sebab denganmu kulampaui waktu
Dengan tawa, obrolan hangat, debat menyebalkan, saling memendam kesal serta pelukan

Hidup takkan asyik tanpamu
Sebab denganmu aku belajar sesuatu
Sebelum guru lain datang dan mengajariku

Hidup takkan seru tanpamu
Sebab denganmu aku melaju
Dengan segenap perhatian, kecerewetan, dan cinta tanpa jeda

Sering aku tak sabar menghadapimu
Bahkan untuk hal-hal kecil yang harusnya tak perlu kulakukan itu
Padahal kau tidak begitu
Seberapa badung, seberapa bengal, seberapa keras kepalanya aku
Kau selalu disitu, disisiku

Kepadamu, sering kuceritakan hal yang biasanya kusimpan dalam kotak pikiran
Membacanya dengan tepat bahkan ketika aku diam dan tak hendak menceritakan
Tapi acap kau pura-pura tak tahu
Dan membiarkan aku mengatasi sendiri kesulitanku
Untuk jadi lebih kuat, untuk jadi lebih hebat

Maafkan aku mematikan impianmu tentang bagaimana harusnya seorang perempuan
Aku tidak manis dan santun bersikap
Cenderung keras kepala dan seenaknya
Lebih suka bercelana ketimbang bergaun
Seringkali terlampau lugas dan terbuka jika bicara
Kurasa sikap terakhir itu yang bikin kita sering bergesekan

But above all
I wanna say “I LOVE U, BU”
So sorry for everything I do


pic taken from www.everythingthatsvitaltypepad.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Adab Yang Tepat Silaturahmi di Rumah Kerabat

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!