Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

SEMAKIN KITA MENGENAL SESEORANG



Semakin kita mengenal seseorang
Semakin kita mengetahui banyak kesalahan
Sesungguhnya itulah bentuk teguran
Betapa kesempurnaan hanya milik Tuhan
Manusia tak ubahnya seonggok debu di lautan

Semakin dalam kita memasuki hati seseorang
Semakin kita dikenalkan pada sisi-sisi kelam
Sesungguhnya pula itu pelajaran
Betapa manusia itu gudangnya kesalahan

Seorang guru pernah berkata padaku ,”Jangan terlalu jika kau mencintai sesuatu, begitu pula bila kau membenci sesuatu. Siapa tahu yang kau cinta itu satu ketika menyakitimu, sebaliknya yang kau benci justru membawa manfaat bagimu.”

Dan aku belum mampu melakukan itu
Hati manusiaku memiliki kecenderungan “terlalu”
Maka ketika kisah demi kisah dihamparkan padaku
Aku termangu
‘Tak salah apa yang guru itu katakan padaku,” gumamku

Maka aku kembalikan semua kepadamu, Tuhanku
Bukankah setiap lekuk kisahmu itu serangkaian pelajaran?
Agar semakin bijak aku menyikapi kehidupan
Menyadari padaku tersimpul banyak kekurangan

Lalu pantaskah aku menepuk dada dan berkata—padaku tersemat seribu kebaikan?


141212

Komentar

  1. Kereeen deh ... mudah dimengerti oleh saya yang susah mengerti puisi ...

    BalasHapus
  2. Heheheh, Bundanya Fiqthiya, saya malah bingung itu jenisnya apaan. Puisi apa curhatan ya?
    Salam kenal nggih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA