Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

RUMAH KITA




Rumah kita
Tak usah seluas lapangan bola, cukup kecil saja
Tak banyak jeda agar  kita selalu bisa cilukba sepanjang masa
Bahkan saat kau enggan mendekatku karena hati kita diamuk bara


Rumah kita
Diiringi setapak berumput di kanan kirinya
Dialun lembut dedaunan dan bunga aneka warna
Ditaburi jambu, lengkeng, dan mangga
Tempat anak kita belajar tentang dunia sembari membaca dibawahnya


Jangan, jangan kau bangun rumah kita seluasnya meski kau bisa
Dimana ruang dan pintu begitu banyaknya
Memberi jarak tanpa kita menyadarinya
Sebab semakin banyak ruang, semakin besar kemungkinan masing-masing dari kita
menemukan tempat persembunyian
Lalu menjadikannya benteng kecil pelarian tiap kali permasalahan menghampar
Begitu pun dengan banyak pintu kita pasang
aku takut dengan banyaknya pintu justru kita terpisah perlahan
Kau nyaman melalui pintu satu
Dan aku dengan pintu lainnya
Tanpa sadar hati kita tak lagi bertautan

Rumah kita
dibangun diatas pondasi batu kokoh kasih sayang
Diukir diatasnya janji kita pada Empunya semesta
Dipatri oleh doa
Agar kita kuat mengarungi tiap riak dan gelombangnya

Rumah kita
Biarlah berdiri dengan segala kekurangannya
Agar kita juga semakin giat membangunnya
Biar saja ia tak sempurna
Sebab aku ingat kata Ustadz ," Apa-apa yang sempurna sejujurnya sebentar lagi akan menuju kehancurannya."


pic taken from : http://wallpapersuggest.com 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA