JANGAN PANGGIL SAYA BANCI






Terlahir ke dunia sebagai pria. Di, sebut saja begitu namanya, memang tidak seperti pada umumnya anak laki-laki seusianya. Ia cenderung melambai dan gemulai seperti wanita. Meski suaranya tidak kemayu, tetapi jelas gayanya berbeda. Caranya berdiri, caranya berkata, caranya menggerakkan tangannya...Membuat orang dengan mudah mengatainya sebagai banci.

Bahkan semasa kecil ia lebih suka bermain dengan anak perempuan ketimbang anak lelaki. Apa pasal? Di sana ia tidak diterima. Keberadaannya selalu jadi bahan olokan. Dengan anak perempuan, ia lebih senang. Disana ia lebih bisa diterima. Ya, meski ada yang berlaku sama, mengolok-oloknya, tetapi tak separah bocah-bocah sejenisnya.

Ketika ia mulai beranjak remaja, Di mulai menyukai lawan jenisnya. Seperti yang anda bisa bayangkan, Di ditolak oleh gadis yang ditaksirnya. Alasannya sudah bisa diduga. Karena kondisi Di yang menurut mereka tak sewajarnya. Pria kok kayak wanita. Ngetril gitu jari-jarinya.
                 
Di bukan tidak sedih mengetahui hal ini, tapi bagaimana lagi? Lha wong keadaannya memang begini.  "Jangan panggil saya banci, " ungkapnya kepada saya.  
“Saya ini pria asli, lho Mbak. Bukan banci...tapi ya gitu deh. Semua mengira saya banci, termasuk perempuan yang saya sukai,” tambahnya dengan nada sumir.


Deg! Ketika itu saya merasa ada perasaan bersalah mendengar kisahnya. Dan bertanya-tanya jangan-jangan saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang melukai Di dengan mengolok-oloknya. Saya memang tidak merasa, tapi siapa tahu gestur tubuh saya justru berkata sebaliknya. 

Saya mendadak kepikiran, apa yang terjadi jika saya jadi Di? Apa rasanya dicemooh orang sebagai banci setiap hari tanpa bisa membela diri? Apakah ia pernah membenci diri sendiri karena terlahir “istimewa”? Lalu down dan tak lagi punya keberanian menatap dunia?  Oke, mungkin saja anda atau saja akan menjawab ,”Alah, cuma diolok-olok saja sampai down! Cemen!”

 Hei, hei, hei! Itu terjadi karena saya atau anda tidak berada di posisinya. Coba jika kita jadi dia, belum tentu kita kuat menatap langit di atas sana. Sungguh, olokan seringkali berefek buruk dari belati yang menggores kulit kita. Lukanya tak kentara tapi bekasnya jauh lebih dalam. Dan hebatnya, seringkali kita tak sadar kita adalah pelakunya.

Seandainya kemudian si obyek penderita dendam dan kemudian membalaskan rasa itu dengan membunuh anda atau saya apakah dia patut disalahkan? Bukankah kita adalah pemicunya? Duh, ngeri juga kan jadinya?

Lalu, bagaimana dengan kisah Di selanjutnya? Apakah ia tumbuh sebagai bocah yang tak bisa menatap dunia?
Beruntunglah, ia tidak selembek itu. Tahun berganti dan Di masa kini telah berbeda. Saya dengar ia sudah bekerja dan punya kekasih hati. Yang membuat saya bertanya-tanya apa penyebab perubahannya. Mungkinkah hadirnya perempuan yang menerima Di apa adanya yang membuatnya seperti sekarang? Entahlah. 

Satu hal yang menjadi catatan saya, mengolok-olok orang seperti Di tak bisa memberi jalan keluar, bahkan jika niat anda adalah untuk menantangnya agar mengubah diri menjadi lebih baik (artinya tidak gemulai lagi). Jika anda salah perlakuan, bukannya tertantang dia malah tidak percaya diri.  Dan  side effect rasa tidak percaya diri itu buruk sekali. Bisa mematikan seorang calon ilmuwan atau bahkan pemimpin hebat masa depan. Jika begini, maka bukan dia yang menanggung dosa besar, tapi justru saya atau anda sekalian.






               

Komentar

  1. Banyak pria yang lembut dan kemayu, tapi setelah bergaul dengan banyak pria yang tegas dan sangat lelaki, akhirnya bisa juga berubah sikap. Mungkin dia perlu belajar juga untuk itu, agar tak dituduh banci terus ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar zizy, yang baik justru kita ajak bergaul bersama. Saat seseorang menemukan role model yang tepat, bisa jadi itu akan membekas dan menjadikan ia berniat melakukan perubahan dalam dirinya. Tentu butuh waktu ya

      Hapus
  2. Yang gemulai belum tentu banci, sih. Temen SMP saya dulu gemulai, sekarang sudah nikah dan punya anak. Tapi, ada juga temen yang gemulai, dan beberapa tahun kemudian (katanya) beneran jadi banci.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu terjadi karena kebanyakan orang men-generalisir, jika gemulai pasti banci. Jadi ketika ada orang yang sama, pasti julukan itu muncul begitu saja. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ia memang terlahir berbeda, punya kecenderungan seksual dan perilaku yang tidak sama dengan kita hihi

      Hapus
  3. Alhamdulillah bisa berubah ya Mbak, moga2 bisa segera berkeluarga. Aku punya tmn yg melambai jg n Kyanya gq kan berubah deh :-P

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga mikir yang sama, alhamdulillah. Eh tapi emang gak dipungkiri mbak, yang melambai dari kecil sampai dewasa melambai juga. Bagaimanapun juga saat hendak melakukan perubahan itu dia harus bisa menekan hasratnya, itulah bagian terberatnya

      Hapus
  4. Bisa berubah sebenarnya asal niat yang besar ya, juga lingkungan dan pergaulan

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pikir begitu mbak Lidya, ketika berada di lingkungan yang mendukung manusia bisa berubah juga

      Hapus
  5. Saya persis seperti sosok Di yang admin ceritakan.

    Satu hal yang orang selalu salah faham dengan kondisi seperti yang dimiliki Di. Bahwa Di sengaja bertingkah gemulai layaknya wanita.

    "Jadi cowok tuh ngomong yang tegas !! Jangan klemar klemer!!!"
    "Jalannya yang tegap!!! Jangan lenggak lenggok kaya cewek gitu!!!!"

    Bentakan seperti itu sudah bukan hal yang aneh bagi saya. Semenjak kecil , kemana-mana saya selalu menjadi bahan ejekan. Bahkan orang yang tidak saya kenal, yang tidak pernah saya usik kehidupannya , tak segan segan mengejek saya : " eh ...bencong, kemana lu?"

    Saya sudah terlalu sering sakit hati. Saya membenci diri saya sendiri. Saya membenci Tuhan, saya membenci kedua orang tua saya. Mengapa dulu mereka harus berhubungan intim sehingga melahirkan seorang manusia yang hanya menjadi cemoohan orang lain.

    Asal kalian semua tahu, kondisi terlahir bencong ini tak berbeda dengan yang terlahir pincang, sumbing, buta dan aneka kecacatan lainnya.
    Saya terlahir gemulai tanpa bisa protes kepada Tuhan.
    Saya hanya berjalan apa adanya. Berbicara dengan gaya bicara seadanya. Dan tanpa saya mengerti orang-orang menghakimi saya bahwa saya bertingkah seperti perempuan.

    Kadang saya pernah berpikir untuk bunuh diri saja. Biar tidak ada yang merasa terganggu penglihatannya. Lebih baik mati dari pada menjadi polusi pemandangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei, jangan bersedih ya. Merekalah yang tidak memahamimu. Jangan pula membenci Tuhan. Meski kadang kita tidak paham apa maksudnya, tetapi setiap manusia itu dilahirkan ke dunia karena ada tujuannya. Siapapun kamu, kudoakan hidupmu bahagia. Dilimpahi berkah. Insyaallah, Tuhan bersamamu, kawan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Ekowisata Jaga Hutan Papua