Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

BELAJAR NULIS NONFIKSI? YUK DIMARI!




Sedari kecil saya hanya suka membaca. Saya menikmati prosesnya, memilih buku di perpustakaan, meminjam (karena saya dulu tak punya uang untuk beli), membawanya pulang, membaca di balik selimut sampai kantuk datang, lalu esok harinya tersenyum senang karena sudah menamatkan kisah yang menyenangkan. Ketika akhirnya saya berhasil menelurkan beberapa antologi, tiga buah novel remaja bersama dua orang teman, saya menyadari itu lompatan yang besar. Andaikata saya tidak membaca mungkin hal itu takkan terjadi pada saya.

Saya tidak tahu seperti apa kelak karya saya dikenang orang. Yang saya tahu ketika menulis “suara saya takkan padam”, walaupun sudah meninggal. Persis seperti apa yang Pramoedya Ananta Toer katakan.


 Belakangan dari menulis fiksi saya mulai belajar menulis non fiksi. Satu atau dua dimuat di majalah. Lainnya
di beberapa situs online seperti Vemale, Ummi, Bersama Dakwah. Kok baru sedikit sih? Iya, saya menyadari memiliki banyak kekurangan dalam penulisannya. Kerap terlampau berbunga-bunga, tidak  langsung ke pokoknya, bak menulis fiksi saja. Wajar kalau kemudian tulisan saya mendapat penolakan.
 
Oleh karena itu saya ingin berguru pada ahlinya, duo suhu yang menggawangi Kelas Menulis Online Smart Writer yaitu Mbak RiawaniElyta dan Mbak Leyla Hana. Supaya apa? Supaya tulisan saya semakin baik dan layak untuk dibaca orang. Tidak membosankan, sampai-sampai orang malas membaca begitu melihat kalimat pembukanya.  Tetapi, tidak sekedar belajar menulis fiksi saja yang saya inginkan. Tujuan saya kemudian adalah menerbitkan buku nonfiksi.
menulis nonfiksi yang "feels like pleasure" butuh mentor tepat, contohnya mbak Ria dan Mbak Leyla Hana
 Kenapa sih saya ingin menerbitkan buku nonfiksi? Saya berharap tulisan itu kelak bisa membuat orang-orang yang tengah susah tak merasa sendirian. Ada banyak orang di luar sana yang mengalami masalah sama—berat, megap-megap—tapi terus maju jalan, nggak pakai nengok kiri-kanan. Percaya saja, di luar sana ada jalan keluar.

Aduh, terlalu besar impian itu kawan!

Aish, namanya juga impian. Senyampang nggak bayar boleh dong bermimpi besar? Ya ‘kan?

Dan saya percaya  belajar bersama kedua mentor itu saya bisa mewujudkan mimpi saya. Sebagai penulis buku nonfiksi Sayap-Sayap Sakinan dan sayap-Sayap Mawaddah juga sekaligus pemenang Feature Ufuk Majalah Ummi, ilmu Mbak Ria bisa membantu memantapkan tulisan nonfiksi saya. Pengalaman Mbak Leyla penulis lima buah buku nonfiksi dan mantan editor sebuah penerbitan  akan membantu menunjukkan pada saya tulisan macam apa yang disukai dari kacamata seorang editor. 

So...belajar nulis nonfiksi? Yuk dimari!

http://smartnulis.blogspot.co.id/2016/02/1st-giveaway-smart-writer.html#comment-form

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA