Unggahan Terbaru

Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Gambar
Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.

Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya…

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!



   Sepertinya tak ada yang istimewa dengan keripik satu ini. Bungkusnya mungkin boleh juga. Tetapi tampilan kripiknya tidak menarik mata. Warnanya terlampau coklat, membuat calon penikmat berpikir sedikitnya dua kali untuk mencicipinya. Tetapi, laiknya mencari calon pasangan, tampilan luar ternyata tak bisa dijadikan tolak ukur. Bisa jadi yang tampilannya menarik, justru tak asyik jadi pasangan. Sebaliknya yang biasa saja dan terkesan membosankan malah mengesankan. Nah, part terakhir itulah yang tepat untuk menggambarkan keripik ayam La Forest.

   Rasanya ternyata tidak mengecewakan. Begitu satu dimakan rasanya pecah di mulut, kawan! Rasanya rempahnya yang kuat, dipadu pedasnya cabai membuat kita terhenyak. Fuuh, panas! Tapi bikin nagih. Itu yang saya pikirkan waktu memakannya. Tak heran meski bolak-balik harus ber-huh-hah kepedasan, nyatanya saya tak berhenti menikmati keripik itu.




Penasaran akan rasa lainnya, saya tinggalkan sejenak keripik ayam La Forest rasa puedas, dan beralih ke rasa original. Rasanya mengena. Saya suka. Gurih dan rempahnya juga terasa. Berikutnya yang saya cicipi adalah keripik rasa pedas. Bagi saya yang doyan pedas, rasa pedas keripik ini sudah tepat. Tidak terlampau menggigit seperti keripik yang saya rasakan pertama, rasa puedaas. Kalau yang pertama, buat saya keterlaluan! Bertahan sampai keripik penghabisan bisa-bisa menghabiskan air bergalon-galon euy!

That’s why saya bilang bandrol harga sebesar Rp 23.900/pc  untuk keripik yang terbuat dari campuran daging ayam, tepung, dan rempah-rempah pilihan itu sepadan. Hanya sayangnya tidak bisa dijumpai di segala tempat, produksinya masih lokal.  E...tapi, kalau teman mau pesan kayaknya ada tuh tokonya di OLX.. Cuma kalo ntar ketagihan jangan nyalahin saya ya.



Salam.



Komentar

  1. Kayanya enak banget. Jadi kepengen..

    BalasHapus
  2. Wah... ini bisa jadi alternatif kala malas masak. Jadiin lauk

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha iya Mbak Widya, bisa banget itu. Pas lagi males beli ini, langsung hap

      Hapus
  3. Menikmati ayam dengan cara yang berbeda ya. Kreatif banget, disini belum pernah ketemu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu dia Mbak Tarry, beda dan rasanya yang asyik itu yang bikin nagih

      Hapus
  4. Pengen nyoba..udah dijual dimana aja ni mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya masih dijual online via OLX itu mbak muna kalo mo pesen.

      Hapus
  5. Yumm... favorit nih pastinya. apalagi yg peudesss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak citra, wiis...pokoknya nendang pedesnya

      Hapus
  6. Selalu penasaran sama apa pun yang pedas apalagi kaya rempah <3

    Salam,
    Senya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Adab Yang Tepat Silaturahmi di Rumah Kerabat

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!