Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

  
Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG : @upirocks)

            Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.


            Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stupid Boss (2016), lewat film “My Generation”. Diperlukan riset selama dua tahun sebelum benar-benar membuat film ini. Hal ini dilakukan Oleh Upi semata untuk menunjukkan seperti apa realita generasi milenial sesungguhnya. Bagaimana perilaku mereka kala bersosial media, apa yang kerap mereka bicarakan, bahkan hingga tutur dan gaya bahasa yang digunakan. Tidak heran kita akan mendapat para tokohnya berbicara menggunakan bahasa campur-campur antara Indonesia dan Inggris kala berdialog, karena sejatinya begitulah cara anak sekarang berkomunikasi. Utamanya di perkotaan.  

            Kisah film ini sendiri berpusat pada empat tokoh remaja yaitu Orly (Alexandra Kosasie), Konji (Arya Vasco), Zeke (Bryan Langelo), dan Suki (Lutesha).  Dikisahkan keempat anak muda ini memiliki pemikiran yang kritis. Mereka berani menyuarakan protesnya terhadap orang tua, guru, dan sekolah lewat video buatan sendiri yang kemudian menjadi viral di sekolah. Tak disangka, justru video ini ber-impact pada batalnya liburan mereka. Tetapi, justru disini cerita bermula. Ada banyak kejadian dan petualangan mereka alami, yang pada akhirnya memberikan sebuah pelajaran hidup tersendiri.

TRAILERNYA NENDANG!
            Dibuka dengan kalimat “Kenapa orang tua menyebalkan!” trailer film ini berhasil membuat saya terpana. Meski hanya dua menitan, tetapi saya bisa menangkap apa pesan-pesan yang hendak disuarakan Orly, Zeke, Konji, dan Suki dalam film My Generation. Tidak sekedar memberontak tetapi anak-anak ini mempertanyakan bagaimana peran orang tua, guru, dan sekolah. Satu hal yang sesungguhnya juga dipertanyakan oleh teman-teman sebaya mereka.

pemeran film My Generation minus Alexandra Kosasie : Lutesha, Arya Vasco, Bryan Langelo

            Bosan dikomplain terus-terusan, dicurigai dan dicap tanpa dasar, terlalu dikekang, dipaksa menjadi seseorang yang bukan diri mereka—adalah faktor-faktor yang mendorong keempat anak muda itu angkat suara. Mereka ingin dilihat sebagaimana mereka, bukan robot atau peliharaan yang bisa diatur-atur seenaknya oleh orang tua hanya demi memenuhi ambisi semata.
            Sebaliknya orang tua, merasa apa yang dilakukan dan diputuskan untuk anak-anak mereka sudah seharusnya dipatuhi. Bagaimanapun juga ini demi kepentingan anak-anak sendiri agar bisa menjadi orang sukses di masa depan.
            Pada akhirnya menonton trailer ini menggiring kita untuk bertanya secara kritis pada diri sendiri ,”Sudah benarkah cara kita menyikapi tingkah anak-anak atau keponakan kita selama ini? Jangan-jangan kita telah salah memberikan penilaian? Sebab kita hanya melihat mereka dari kulit luar, enggan menelisik lebih dalam.”
            Jika memang benar demikian, rasanya memang kita harus mulai mengubah sudut pandang. Bagaimanapun juga kita, orang tua, bukan mahkluk sempurna. Kita kerap tak bisa berpikir jernih saat masalah dengan anak menyala-nyala di depan kita. Alih-alih menunjukkan rasa sayang, justru yang terbaca oleh anak-anak adalah kebencian akibat sikap otoriter dan proteksi yang kelewat ketat. Nah, lho! Repot ‘kan?
            Meniliki gentingnya situasi ini tak salah jika kemudian kita berandai-andai ada sekolah khusus bagaimana menjadi orang tua. Sehingga kita sudah memiliki ilmu yang pantas untuk menghadapi anak-anak saat masanya tiba. Sayangnya sekolah semacam itu tak ada. Kitalah yang harus mencari sendiri dimana ilmunya lewat berbagai kejadian yang kita temui tiap hari, pengalaman hidup orang lain, buku, atau mungkin film seperti My Generation yang bakal tayang tanggal 9 Nopember nanti.

pemain senior yang ikut mendukung film : Joko Anwar, Surya Saputra, dan Aida Nurmala

            And finally...saya hanya ingin bilang, terlepas dari segi fashion dua tokoh utama perempuannya yang (mungkin akan) membuat orang tua mengerutkan keningnya dalam-dalam—film yang digawangi oleh aktor-aktris kawakan seperti Tio Pakusodewo, Surya Saputra, Indah Kalalo, Aida Nurmala, Ira Wibowo, Joko Anwar, dan Karina Suwandi ini layak dijadikan tontonan. Pesan-pesannya layak kita pikir dan renungkan. Bahkan bisa jadi bahan diskusi hangat antara anak dan orang tua atau justru tante/om dengan keponakan selepas menontonnya, agar kita bisa lebih memahami pola pikir mereka. So, jangan sampai kelewat ya? Catat tanggalnya, 9 Nopember 2017.


            Oh, ya biar lebih mantep tonton dulu trailer film My Generation ini :






Komentar

  1. remaja dan lika likunya mungkin tergambar di film ini

    BalasHapus
  2. bikin penasaran aslik deh film ini

    BalasHapus
  3. Aku pribadi gak sabar loh buat menyaksikan film karya UPI yang satu ini, pengen tahu 'sentilan' apalagi yang mau dikasih ke masyarakat. Hehe

    BalasHapus
  4. Yeaah, jangankan remaja ya. Saya aja yg udah hampir kepala 3 kalau dicap, dibanding-bandingkan apalagi dicurigai, juga gak suka. Gimana mereka.

    Film ini tentunya akan mengupas masa remaja yg penuh liku-likunya.

    BalasHapus
  5. Memang aps sekali lagu Bang Rhoma itu, Mbak Afin.
    "Darah Muda, darahnya para remaja."

    Jadi memang dari zaman dulu, menunjukkan masa remaja itu penuh "gejolak" ya, Mbak Afin. Jadi orang tua harus terus memantau perkembangan anak.

    BalasHapus
  6. Seru nih film. Masa remaja memang selalu menarik buat dibahas ya. Nggak ada habisnya

    BalasHapus
  7. jadi pengen nonton... apa sih mau kids jaman now

    BalasHapus
  8. terkadang hrus bercermin, mngkin cara penyampaian kita yg salah..Terlalu judge mreka bukan pilihan yg baik.

    BalasHapus
  9. Aku ga sabar mau nonton nih film. Pgn belajar lg supaya hubungan dgn anak2 bisa tetep deket dan terbuka. Ga pgn kyk aku dulu, yg terlalu didik dengan cara militer ama papa. Makanya jujur aja, hubunganku ama ortu ga bisa deket, ya krn pendidikan terlalu keras itu. Aku jd diam2 ngelawan, bohong, ga mau terbuka, dan justru seneng bgt pas hrs sekolah di tempat yg jauh dr ortu :D. Berasa bebas

    BalasHapus
  10. Anak zaman now lebih banyak konfliknya. Jadi tontonan wajib ortu anak biar bs saling memahami

    BalasHapus
  11. Betul banget. Trailer-nya nendang. ��
    Bisa banget milih kalimat itu untuk jadi pembuka.

    BalasHapus
  12. Dari trailernya sepertinya film mewakili kid jaman now.
    Gak sabar pengen lihat

    BalasHapus
  13. Penerimaan mungkin kata yang tepat pembelajaran yang di suguhkan film ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA