Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)


source image : http://pixabay.com/


Dikira Hamil
            Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
            Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
            Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
            Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.
            Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
            Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
            Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).

            “Nggak pa-pa, Mbak. Santai aja,” jawab saya.
            Lalu disambungnya dengan kata-kata ,”Kalau saya ini mana bisa lemu  (baca : gemuk). Saya ini mikiran orangnya. Apa-apa dipikir. Makanya makan banyak pun hasilnya ya segini aja.”
            “Wah, kalau begitu saya kebalikannya, Mbak. Saya itu tergolong cuek beibeh. Wis orang mau ngomong apa ya saya cuek. Kesel sih, tapi jarang tak simpan. Bikin sempit perasaan,” balas saya sambil bercanda.
            Nah, yang paling epic yang beberapa waktu lalu (lupa kapan tepatnya), pokoknya waktu itu saya lagi belanja di Alfa****. Waktu bayar di kasir, begitu melihat perut saya si Mbak langsung nanya  ramah ,”Berapa bulan Mbak?”
            Lah teringat pengalaman yang sudah-sudah saya bak makan buah simalakama. Kalau saya terus-terang si Mbak bakal malu semalu-malunya. Kalau saya bohong, enaknya ngaku hamil berapa bulan. Kan saya nggak tahu perut seperti saya itu cocoknya disandingkan dengan Emak-Emak yang hamil berapa bulan. Maklum, saya ini kang masih single fighter (elah single fighter  euy, dikata petarung kali). Wajar dong saya nggak ngerti soal gitu-gitu.
Tapi, demi kemaslahatan bersama saya jawab ,”Tujuh, Mbak.”
            Lhadalah lha kok si Mbak masih ngejar juga. Katanya ,”Kecil ya, nggak kelihatan lho kalau tujuh.”
            Ngg...krik, krik.
            Heninglah saya sambil mikir perut sebesar ini cocoknya itu disandingkan dengan ibu hamil berapa bulan? Dan karena tidak tahu harus menjawabnya tentu saja  yang keluar jurus andalan. Apalagi kalau bukan senyum ceriaaaa!

Kok Bisa tetap Tenang? Kamu Pasti Sabar Banget
            Nah, kalau Anda mikir kenapa saya nggak ngembang kacang alias mbesengut (red. besengut itu nama kembang kacang dalam bahasa Jawa) alias ngamuk  atas pertanyaan nyebelin itu karena sabar o...Anda keliru!
            Saya tidak sesabar itu. Kalaupun saya bisa sesantai dan setenang itu karena saya sudah berulang kali mengalami sebelumnya. Dulu saya sempat marah ditanya begitu, lama-lama saya memahami kalau kebanyakan yang tanya adalah orang yang tidak saya kenal, yang umumnya sekedar mencoba beramah-tamah saja. Seperti umumnya orang-orang Jawa pada umumnya. Karena itu saya berpikir untuk tidak memasukkan dalam hati.
            Kenapa kok tidak dimasukkan ke hati?
            Lha justru energi yang kita keluarkan demi memasukkan ke hati itu sangat besar. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mikir hal-hal bagus, malah tersita untuk ngomel dan mikir hal-hal negatif. Belum lagi saat marah naik dada berdetak lebih cepat. Kalau dibiarkan situasi ini justru memberikan efek buruk bagi kesehatan. Orang yang kerap marah beresiko mengalami stroke, darah tinggi, dan masalah kardiovaskuler lain. Juga meningkatkan resiko nyeri punggung, kaku otot, sakit leher, plus mengurangi fungsi paru.
            Duh, kalau itu terjadi repot juga saya. Bukan hanya soal biaya, tapi saya juga akan merepotkan keluarga. Karena itu kita harus pandai-pandai mengelola emosi. Masalah yang kecil, ya tempatkan di wadah kecil. Tidak perlu dimasukkan dalam wadah besar. Kalau perlu diusir ya usir saja agar tak memenuhi wadah (baca : pikiran). Lagian nggak enak banget deh terus-terusan hidup memendam amarah. Sudah muka saya ini pas-pasan, saban hari kesal, ha terus jadi apaan? Iih, bisa-bisa kecoa saja lari lihat muka saya.
            So, moral cerita ini adalah tempatkan masalah pada tempatnya. Tidak perlu repot memperbesar yang kecil. Kalau bisa perkecil yang besar agar ringan hati kita. Taket it easy saja. Memang sulit sekali mengawalinya, terlebih bagi penggerutu sekaligus manusia yang mirip petasan banting seperti saya. Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin kok. Ketika hal semacam itu jadi kebiasaan, pada akhirnya cara kita menghadapi masalah pun jadi berbeda. Lebih smooth, tidak lagi terburu amarah.
            Hug, hug.


Komentar

  1. Yes take it easy ajaaaa. Ihihihiii. Semangat terus mbak Afiiiinnn

    BalasHapus
  2. Hwahahaha, terima kasih Mbak Adriana. Semangat!

    BalasHapus
  3. Mbak, aku juga pernah begini, mana langsung ngelus perut saya orangnya. Hehe.
    Cuma bisa tersenyuuuum yg lebar. Wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA