Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

KETIKA AFIN YULIA MENJADI MARKONAH A.K.A MARISA




Februari silam ...
"Fin, kamu besok ikut main Oplosan (red. nama talkshow di sebuah televisi lokal, Banyuwangi TV) ya," kata Mas Faisal, waktu ketemu saya di Rumah Baca Sahabat Kecil.
Jreeng! Ha, saya kok disuruh berakting. Mana bisa? Sekalinya saya nampil di depan orang banyak (sok) nge-drama itu ya bersama Maliki dan Widhi di acara ISL (inspirasi Sekolah Literasi) 2017 Desember silam. Selain itu mana pernah. Tapi, nggak apa-apalah ini acaranya kan tujuannya untuk pendidikan. Kalaupun nanti gagal, paling kedepannya tidak dimainkan. Pikir saya sambil mikir adegan yang mungkin saya mainkan. Yah, paling figuran. Pikir saya tenang.

"Kamu main jadi TKI yang baru pulang ke Indonesia ," kata Mas Faisal sambil menjelaskan seperti apa saya harus tampil nanti yakni kudu bling-bling, cetar, dan gaya.

Mbokneee! Secara saya ini tampilan sehari-hari 'kan tomboy. Baju seadanya, sandal jepit, jilbab, dan tanpa bedak pula. Pernik-pernik yang "cewek banget" saya nggak punya. Saya punya rok, tetapi nggak cocok untuk gambaran Markonah itu.
Terpaksa saya ke mal (heleeh, kok mal? swalayan  hai ...) beli baju baru untuk acara itu.
Karena sehari sebelumnya saya harus ikut acara Kelas Relawan di Margomulyo, maka persiapan pun seadanya. Saya pikir masih bisa pulang, ternyata langsung bablas ke Singojuruh. Jadi bisa dibayangkan, dari Margomulyo saya hanya bawa tas ransel isi baju yang kemarin dipakai, peralatan mandi, dan sandal japit. Untungnya kostum untuk bermain peran sudah masuk tas, kalau tidak bisa dibayangkan seperti apa mumetnya.

sumber gambar : koleksi pribadi
 
Tiba di tempat, muka saya yang sudah cakep ini (hak preet!) langsung dipermak oleh Mbak Ayoel menjadi lebih cakep lagi. Kostumnya pun ganti, tetapi hanya bagian atas saja. Yang bawah tidak, wong saya tidak membawa baju lainnya.
Wis, singkat kata begitu selesai dipoles, Afin Yulia hilang. Saya menjelma menjadi Markonah alias Marisa, si TKI yang super gaya itu.


Di sinilah masalah mulai terjadi. Markonah ini kan harus tampil sebagai OKB, padahal aksesoris tak mendukung sama sekali. Tidak ada perhiasan bling-bling, sepatu high heel, atau tas jinjing kecil dengan permata yang tersebar di mana-mana. Ya, sudah cuma dandannya saja yang menor (sampai sampai lupa itu wajah siapa begitu ngaca saudara), lainnya asal. Sepatu yang dipakai adalah sepatu bertali yang agak bulukan karena tidak dicuci, tasnya pinjam Mbak-Mbak Karang Taruna Singojuruh. Kacamata dipinjami juga oleh Mbak Faradina Rachmi. Haduuh, pokoknya semua serba pinjaman.
Soal skrip jangan tanya. Kami tampil tanpa skrip dan langsung diarahkan sutradara merangkap pemain (Mas Faisal).
Jadi, begitu waktunya saya tampil, Mas Faisal akan memberikan arahan apa yang harus saya lakukan.
Singkat kata saya melaksanakan tugas sebagai Markonah a.k.a Marisa sesuai interpretasi saya-omongnya banyak dan suka pamer. 

sumber gambar : Emy Lestari
 
Sial, karena tubuh saya begitu semampai, saat berakting disamping pagar pendopo yang digunakan Pak Camat Singojuruh dan Lurah Kalang Kabut (Mas Faisal), tak kelihatan. Untung ada bangku tepat disamping pagar. Jadi saya nangkring di situ dengan bertumpu pada kedua lutut saya agar tampak di kamera. Wis, wis ... kacau!

Yang menggelikan, tas yang saya pakai untuk take adegan sebanyak tiga kali itu tidak sama. Take pertama dan kedua pakai tasnya Mbak-Mbak dari Karang Taruna Singojuruh, take ketiga saya pakai tasnya Mbak Ayoel (istri Pak Lurah di Oplosan). Pasalnya, sewaktu take adegan terakhir itu si Mbak sudah pulang. Terpaksa saya gaet tasnya Bu Lurah  (Mbak Ayoel) yang sudah kelar syuting.

Lalu bagaimana hasilnya?
Begitu jadi saya tutup muka. Baru tahu, jika di Oplosan episode 4 yang berjudul "PRASASTI, PEMUDA DESA YANG MENGHIDUPKAN KEARIFAN LOKAL" itu saya bisa tampil gila. Pantas, setiap selesai take adegan teman-teman tertawa. 

Mau lihat Markonah a.k.a Marisa? Sini, kemari ... tampilan berikut ini.


Nah, sesi berikutnya saya tampil juga di sini :



Dan gara-gara Oplosan ini, untuk sesaat nama asli saya dilupakan. Ganti dengan nama  "Markonah a.k.a Marisa", mbakyu-mbakyu TKI yang gayanya sundul langit.

Salam.


Komentar

  1. Hahahahha... Natural loooh mba aktingmu :D. Ga kliatan baru tampil .. Bagus juga ya ada acara begini. Aku jd inget pas masih suka nonton tvri :). Acara2 lokal begini aku suka nontonnya. Lbh berisi drpd acara2 tv skr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwikikiki, abis acara ini namaku langsung ganti jadi Markonah.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA