17 September 2018

DRUMBAND LANSIA DARI LALANGAN, TAMPIL ATRAKTIF DI ACARA SUROAN



Hari sudah sore waktu terdengar suara drumband dari luar tempat pagelaran suroan dihelat. Saya mengernyitkan kening keheranan. Drumband mana lagi yang hadir sekarang? Bukannya kirab suroan di desa Temuguruh baru saja kelar? Kok masih ada drumband lagi di luar. Karena tempatnya terhalang oleh tembok-tembok tinggi, maka saya tidak bisa melihat drumband siapa itu. Begitu muncul saya melihat sederet emak-emak dengan  make up lengkap, menggerak-gerakkan tangan diikuti sederet barisan penabuh alat musik seperti snare drum, bass, dan lainnya.

Lhadalah drumband itu ternyata masuk ke PUSKUD, tempat digelarnya acara suroan di desa Temuguruh, Sempu. Saya langsung tersenyum melihat atraksi para pemain drumband yang rata-rata usianya sudah lansia. Gitapati dan mayoretnya tak kalah gaya. Wuuh, tak mau kalah dengan gitapati atau mayoret dari SMA. Ada yang memakai baju terusan, ada pula yang berkebaya lengkap dengan jariknya. Yang tidak kalah aksi itu alas kakinya. Wahahaha, emak-emak gitapati dan mayoret ini kebanyakan memakai sandal jepit! Saya terkikik geli melihatnya. Memang ada sih yang bersepatu boot layaknya gitapati atau mayoret drumband umumnya, namun yang memakai sepatu macam itu hanya dua. Dari tujuh orang emak yang bertugas sebagai mayoret dan gitapati, yang empat bersandal jepit, satu memakai sepatu sport, dan dua bersepatu boot. Bagaimana dengan anggota drumband yang mereka pimpin. Jangan khawatir, alas kakinya pun sandal japit. 


Meski demikian mereka tak bisa diremehkan. Cara menabuhnya mantap, lagu-lagu yang dimainkan juga smooth, tidak ada yang fals. Penabuh simbalnya, bapak-bapak berkopiah, dengan sarung tersampir dibahu, nampak aksi berjalan ke sana dan kemari. Ndagel pokoknya!
Lagu yang dimainkan tak kalah hits-nya, Semar Mesem-nya Nella Kharisma euy! Serunya tiap bagian lirik yang berbunyi "Semar mesem, semar mesem" diganti dengan seruan "Drumband Lansia, Temuguruh!".
Color guard-nya tak boleh diabaikan. Meski sudah emak-emak, tetapi profesional. Meskipun harus memakai kebaya dan jarik, namun tak membatasi gerak mereka. Cara nya mengayunkan benderanya penuh semangat.  Nggak ogah-ogahan kaya orang yang kena sindrom kelaparan.

Lah, memang siapa sih mereka? Ternyata mereka adalah drumband lansia dari Dusun Lalangan, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu. Konon drumband mereka sudah berjalan lebih dari lima tahun. Menurut Bu Sultoniyah, salah satu anggotanya, drumband ini dibentuk dalam rangka Maulid Nabi. Tidak ada proses pemilihan anggota secara khusus. Hanya yang ingin ikut dipersilakan, yang tidak pun tak ada paksaan. Anggotanya kebanyakan para petani dan ibu rumah tangga, meskipun ada pula anak muda yang terikut didalamnya. Akan tetapi tidak banyak, hanya dua atau tiga saja kalau tidak salah. Dilatih oleh Pak Hanafi dan Pak Priyanto (semoga saya tidak salah menuliskan, karena saat bertanya kondisi riuh sekali), drumband satu ini sudah sering tampil di berbagai acara.
"Agustusan, Maulid, atim-atiman (red. acara yatiman), sunatan, manten ...," sahut Bu Sultoniyah sewaktu saya tanya kerap tampil di mana.

Bahkan yang membanggakan, drumband satu ini juga mengikuti Festival Drumband yang pertama kali digelar di Banyuwangi setahun silam. See, keren 'kan? Kalau saja Anda melihat dan berhadapan langsung dengan mereka pasti ikut merasakan pula energi yang dikeluarkan masing-masing anggotanya. Orang-orang tertawa, sesekali ada yang menyeletuk lucu melihat aksi para anggota drumband lansia tersebut.
Mau lihat aksinya seperti apa? Baiklah, ini dia ...





Atraksi sore itu berakhir ketika mereka menyelesaikan lagu Ulang Andung-Andung, salah satu lagu Banyuwangen yang terkenal pada masanya. Bahkan masih kerap dinyanyikan hingga sekarang. Para anggota drumband, mulai dari penabuh, color guard, gitapati, dan mayoret pun beristirahat. Menikmati suguhan sederhana yang disediakan oleh panitia. Tidak perlu tempat yang wah untuk menikmatinya, cukup ngelesot atau jongkok di seputar area, sudah cukup bagi mereka. Sempat bau pete menguar, ternyata salah satunya diantara mereka ada yang menikmatinya. Barangkali slogan yang dianutnya itu sederhana “Apapun makanannya lalapnya pete saja!”.


Beberapa lainnya asyik ber-wefie ria. Baik dengan sesama anggota atau justru dengan para penonton, fans sekaligus tetangga, yang minta foto pada mereka. Gayanya tak kalah heboh dengan anak muda. Saya iseng-iseng mengabadikannya dan tertawa sendiri melihat hasilnya. Wah, lain waktu kalau bertemu mereka lagi saya ingin melakukan wawancara mereka lebih lengkap lagi. Biar tahu sejarah, proses latihan, upaya mereka memiliki peralatan, hingga bagaimana serunya tampil di hadapan bupati seperti setahun silam.

Salam.



8 komentar:

  1. Viralkan! Ahahahaha kebayang itu ada yang pakai boot, pakai sandal, pakai sepatu sport. Komplit spesial pakai cinta!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, baru kali ini aku lihat drumband nggak ribet ala petani. Sandal jepit hokeeeh saja. Bahkan kebanyakan anggotanya sandal japitan.

      Hapus
  2. Keren nih, kalau drumband anak tk sudah biasa lihat di acara karnaval, kalau lansia belum pernah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiya mbak, saya sampai mesam-mesem lihatnya. Keren!

      Hapus
  3. waw...baru liat yang kayak gini.emak-emak dan bapak-bapak bersatu..the power of emak-emak ya..
    lanjutkan!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, gokil! Orang-orangnya juga pede tingkat dewa. Wis luar biasa.

      Hapus
  4. Hahaa...kebayang mamak-mamak pada nyanyi semar mesem. Drumband itu biasanya hadir pas karnavalan atau agustusan ya, mbak. Ini unik, ada di Suron.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha iya mbak, aku ngikik waktu lihat. Dan ternyata pas mantenan pun mereka juga tampil.

      Hapus