Unggahan Terbaru

Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Gambar
Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.

Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya…

TAK TERLUPAKAN : NEKAT NYEMPIL DI POJOKAN HINGGA DUDUK DI KURSI UNDANGAN DEMI GREBEG SUROAN




            Hari sedang panas-panasnya ketika saya berangkat ke Pekulo dalam rangka menonton grebeg suro, Senin (10/9/2016). Itu pun masih ada drama ketinggal ponsel pula. Padahal waktu itu sudah jauh dari rumah dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Beruntung acara ternyata belum dimulai, dari jadwal pukul 12.00 ternyata mundur sekitar sejaman. Syukurlah pikir saya.
            Sampai ternyata tempat acara sudah dipenuhi orang. Sudah susah mencari tempat motret yang menyenangkan. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah di masuk ke dalam, di sudut kanan, tepat di samping pintu masuk. Di tempat itu saya melihat ada beberapa orang sudah bersiap dengan senjata laras panjang, bukan buat menembak, tapi buat motret. Iya, kamera maksudnya, yang lengkap dengan lensa telenya pula. Saya memutuskan untuk nyelip masuk, sebelum Wakil Bupati tiba dan acara dimulai. Lantas bergabung orang-orang dari media di sana. Peduli amat, meski saya bukan bagian dari mereka, yang penting bisa dapat tempat untuk motret.
Saya ada di belakang orang-orang ini, tepat disamping panggung kehormatan, tempat Wabup berada.
            Ternyata tempat itu memang ciamik. Saya bisa memotret segala macam foto yang saya perlukan. Mulai kedatangan Wakil Bupati, tarian gandrung sebagai pembuka acara, hingga kirab tumpeng yang diarak di jalan. Tak ada yang mencurigai saya, mungkin dipikirnya saya bagian dari mereka, orang-orang media atau yang ditugasi mengabadikan acara. Who knows? 

            Jelang ashar, saya berangkat ke tempat berikutnya, di daerah Lemahbang. Wah, sampai di sana pun kondisinya sama, belum dimulai. Panitia bahkan masih membereskan panggung dan pernak-pernik acara. Daripada memble saya pun akhirnya pergi ke masjid yang tak jauh dari sana. Sholat sekaligus mendinginkan badan setelah menghadapi mentari yang panasnya bikin kulit terasa cekat-cekit.   
            Jelang pukul empat barulah saya keluar masjid sambil mikir, gimana ya nanti caranya masuk biar bisa motret. Masa iya ujug-ujung duduk tanpa permisi. Sebelumnya memang sempat ngobrol dengan rekan di sana kalau saya mau datang, tetapi dia pasti sibuk sih. Nggak enak juga merepotkan untuk hal-hal begini. Ha, ndilalah ketemu Slam, salah satu tokoh preman dari Desa Kalang Kabut di talk show Oplosan.  Rupanya dia hendak menghadiri acara itu juga bersama sederet rekan karang taruna dari Kecamatan Singojuruh lainnya.
Nyempil diantara tamu undangan, diantara anggota karang taruna dan rombongan kecamatan.
            Laah, pucuk dicinta ulam tiba! Saya ikut rombongan mereka. Ikut-ikutan duduk di deretan tamu undangan. Padahal saya tamu jadi-jadian. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Alhamdulillah, nggak hanya bisa motret acara dari dekat, tetapi juga bisa menikmati makanan lezat. Mulai dari jenang suro sampai nasi kenduri di atas ancak.
            Tanggal 15, ada acara suroan lagi. Kali ini diadakan di Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu. Kurang lebih 7 km dari rumah. Acaranya konon pagi, begitu tiba di sana saya orang-orang masih sibuk menata stannya. Bahkan sound system pun baru tiba. Syukurlah ada teman saya di sana, Yuniati, seorang guru di daerah Tojo sana. Ia datang bersama rekannya untuk mengantar murid-muridnya yang bertugas mengisi acara. Kalau tidak bisa ingah-ingih saya (apa ya ingah-ingih bahasa Indonesianya?).
Ngadem di deretan kursi undangan, di tengah panas yang membakar
            Pukul 9.00 acara belum dimulai. Barulah pukul 10.30, pembukaan acara puncak Pagelaran Suroan digelar. Dibuka oleh  Sekcam Kecamatan Sempu, acara pun dibuka dengan pukulan gong sebagai penanda. Saya duduk di mana? Lagi-lagi duduk di kursi yang seharusnya untuk undangan dan pengisi acara. Cuma kali ini memang jarak panggung dan tempat duduk jauh, jadi saya harus lari-lari jika ingin mendapatkan foto yang dekat. Panasnya jangan ditanya. Luar biasa! Saya motret asal saja. Karena tidak bisa melihat layar ponsel karena silaunya. Saya baru tahu hasilnya blur atau tidak, miring atau lurus, setelah selesai memotret.
Bubur suro yang dibuat sejak pukul 9.00, diarak keliling desa.
            Hari kedua, penutupan Pagelaran Suroan, saya memilih datang waktu acara kirabnya. Bubur suro yang dibuat paginya diarak keliling jalanan desa bersama peserta kirab. Lalu kembali lagi ke tempat acara, di gedung PUSKUD. Yang paling seru di acara hari terakhir ini tampilan drumband lansia. Wahaha, dua jempol buat mereka! Salut banget karena meski tidak punya dasar musik, tetapi mau berusaha mempelajarinya. Ini seolah mengingatkan saya, nggak ada yang nggak mungkin jika kita mau berusaha. Tidak peduli berapa usia kita, selama tekad masih membara, impian apapun bisa kita wujudkan. Asal tak putus menyulam benang-benang impian itu hingga menjadi kenyataan.
            Salam.


Komentar

  1. Balasan
    1. Di sini banyak agenda durian mbak, ada yang sudah masuk agenda wisata ada pula yang belum. Ning yaitu, tempatnya jauh-jauh.

      Hapus
  2. ingah ingih sy kira inggah inggih apa mungkin seperti unggah ungguh, tapi saya baca lagi, baru ngeh saya, ingah-ingih mungkin semacam tengsin, malu, sungkan gak pede gitu kali ya mba hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Vitro, kurang lebih artinya begitu. Hwahahaha, jadi nebak-nebak jadinya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Adab Yang Tepat Silaturahmi di Rumah Kerabat

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!