OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

Pemukulan rebana dalam rangka launching agro wisata dan festival buah naga.


Mendung dan hujan yang menggayuti langit Banyuwangi bulan Desember silam sebenarnya sempat membuat saya enggan keluar. Dua hari sebelum Festival Buah Naga digelar, saya mangu-mangu untuk datang. Akan tetapi, rasa penasaran yang besar membuat saya nekat datang. Tidak tahu kenapa saya merasa kalau nggak datang saya akan rugi besar. Padahal sungguh saya nggak tahu jalan. Meski beberapa kali ke Pulau Merah (iya daerah yang hendak saya datangi ini memang sejalur dengan jalan menuju Pulau Merah yang terkenal itu), tapi saya belum pernah sekali pun ke sana.

Tadinya saya hendak berangkat hari Sabtu pagi, sekitar pukul 6.00, agar nututi acara yang berlangsung sejak pukul 7.00. Akan tetapi, saya sangsi bisa datang tepat waktu jika datang hari Sabtu. Membayangkan diri ini masih harus mencari jalan, tanya sana-tanya sini, cek google map dengan kemungkinan salah yang cukup besar, saya memutuskan untuk datang sehari lebih awal. Artinya saya harus menginap di sana. Kebetulan Rizka, salah satu panitia festival saya kenal baik. Well, dengan mantap saya pun mengabarkan padanya bahwa saya akan datang hari Jumat, selepas sholat Jumat.

Tepat seperti dugaan saya, saya bingung mencari jalan. Sudah melongok google map pun, ternyata tiada guna ketika berhadapan langsung dengan kondisi nyata. Tetap saja saya harus tanya sana-sini plus minta panduan Rizka, kawan yang hendak saya datangi itu, via WhatsApp. Satu hal saya aktakan dalam hati waktu itu “Kalau tidak menemukan, saya balik kanan dan pulang”. Syukurlah, Allah masih memudahkan jalan saya. Meski sempat krik-krik, karena bingung jalurnya akhirnya saya sampai juga.

Tiba di dusun Ringinsari, hari masih sore. Warga setempat saat itu sibuk mengurusi printilan untuk acara yang dihelat esok harinya. Mendirikan tenda untuk pameran dan lomba lukis, menyiapkan kebun agro wisatanya, menyiapkan dekorasi panggung, dan sebagainya. Malam hari, acara tersebut tak reda. Malah kian menjadi. Saya sendiri tidak ikut sibuk apa-apa. Hanya duduk di sekretariat, menyaksikan duo MC, Sandy dan Meyda sibuk  bikin konsep. Sementara Rizka yang jadi wakil ketua panitia, sibuk wara-wiri mengurusi tenda-tenda untuk tenant yang mengisi festival tersebut. Tenda untuk penjual es cendol di mana, bakso di mana, kue di mana, begitu juga lainnya.

Ketika saya dan  Meyda tidur tidur, Rizka masih sibuk di sekretariat. Baru datang menyusul kami menjelang pagi. Itu pun tidak lama. Saat adzan subuh berkumandang ia bangun dan menyeret langkah menyiapkan acara hari itu. Semua panitia bahkan sudah stand by sekitar pukul enam, lalu sibuk dengan tugas masing-masing, seperti yang sudah ditetapkan.

Menggambar dengan tema "Buah Naga".

UKM yang hendak mengisi tenda pamer juga sudah berdatangan. Menyiapkan barang masing-masing di atas meja, sementara ibu-ibu dengan anak-anak TK-nya berdatangan mengisi tenda di dekat panggung. Di sana mereka duduk sambil membawa meja untuk mengikuti acara menggambar, yang masih satu rangkaian dengan Festival Buah Naga. Ada yang ibunya heboh ngurusin anaknya, ada yang santai bak di pantai, ada pula yang ngerumpi dengan kawannya sementara si anak mewarnai gambar buah nagar. Beberapa saya lihat teknik mewarnainya sudah bagus dan merata. Lainnya masih biasa. Namun keberanian mereka patut diacungi jempol. Buat anak-anak seusia mereka, bukan menang yang jadi tujuan utama. Namun memupuk keberanian jauh lebih utama.

Salah satu produk yang dijual di areal festival buah naga.

Sementara ibu-ibu sibuk dengan anak-anaknya, tenda-tenda tempat para UKM menata produk sudah terisi dengan rapi. Saya berjalan-jalan dari ujung ke ujung dan menikmati apa yang dipajang tenant. Ada yang membawa kaus dan baju, buah, olahan buah naga (dari mulai kripik hingga dodol), kue-kue dan pastry, juga jajanan yang digemari sejuta umat seperti cilok dan telur gulung. Mau bakso? Ada. Kue tradisional? Tidak ketinggalan. Es cendol dan es kelapa muda? Tersedia. Tinggal narik isi dompet saja, semua bisa dibawa.
Tak jauh dari sana, para pengisi acara—mulai dari panjak (penabuh gamelan), sinden, hingga penari yang berasal dari Sanggar Seni Kuwung Wetan—sibuk mengisi berdandan dan mempersiapkan diri sebelum tampil sejam kemudian. Sebagaimana profesional mereka berdandan cekatan dan taktis. Sebelum jamnya semua sudah selesai berdandan dan berpakaian.

Sementara penari berkumpul di rumah yang terletak di samping kanan panggung, panjak serta sinden naik ke atas panggung. Lalu melakukan gladi sekejap, sebelum acara dimulai. And you know what? Lagu Banyuwangen berjudul Impen-Impenen yang dibawakan sinden dan penabuh kendangnya—digarap dengan apik. Lagu yang pernah merajai radio-radio masa kecil saya dulu, diaransemen berbeda dengan aslinya. Aduh, lebih syahdu dan kekinian. Sayang saya tidak punya videonya. Sempat saya taruh ponsel diantara batang bougenvil untuk merekamnya (maklum nggak punya tripod), sebelum akhirnya numplek dan menggagalkan harapan saya. Deretan lagu lainnya tak kalah keren. Merinding rasanya mendengar lagu-lagu lama dan masa kini ditampilkan lewat tabuhan gamelan Banyuwangen yang mewakili musik tradisional dipadu dengan keyboard yang mewakili musik modern. Dan kerennya baik panjak, sinden, atau penarinya semua muda-muda. Semangat yang mereka bawa ke atas panggung membuat penonton larut dan menikmati apa yang mereka bawakan.

Di tempat yang berbeda para ibu berjibaku menunjukkan kreativitas membuat olahan dari buah naga. Ada yang bikin mie, kue, minuman, dan entah apalagi. Yang jelas mengasyikkan sekali melihat para ibu beraksi sambil mengumandangkan yel-yel masing-masing.

Tari dan gending Banywangen turut mewarnai acara festival.

Untuk acara pembukaan festival buah naga sekaligus launching agro wisata sendiri berlangsung beberapa saat kemudian. Didahului oleh iringan musik tradisional yang dibawakan oleh Sanggar Seni Kuwung Wetan, lantas disusul dengan santunan anak yatim. Usai itu baru dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tari gandrung menjadi pengisi acara berikutnya, sebelum upacara pembukaan festival dilaksanakan. Setelah persembahan lagu dan tari, barulah tamu undangan dipersilakan menuju tempat jamuan. Tepatnya di antara kebun buah naga kurang lebih seratus meter dari panggung. Jamuannya sendiri ala pedesaan, ada sayur nangka, oseng kates, sayur daun ubi, pepes, sambal, kerupuk, dan sebagainya yang ditaruh dalam wadah-wadah dari tanah liat.

Berawal Dari Keresahan Muncul Ide Membuat Festival
Festival buah naga ini sejatinya berawal dari kegelisahan empat pemuda desa Ringinsari yakni Yudha, Erdi, Candra, dan Yogi tentang lapangan kerja di desa. Di desa mereka memang tak banyak pekerjaan yang bisa “dipandang”. Kecuali Yudha, tiga pemuda lainnya setelah lulus SMA hanya kerja serabutan. Ya nguli, ya nyari rumput. Pokoknya apa saja. Yudha-lah satu-satunya yang pernah kuliah dan bekerja sebagai karyawan kantoran di kota. Hanya ketika ibunya mengalami kecelakaan, ia memilih pulang dan merawat ibunya sembari mengerjakan sawah milik keluarganya.

Selama itu pula Yudha menyaksikan betapa susah lapangan kerja di desanya. Pekerjaan yang tersedia hanya mengandalkan otot dengan gaji tak seberapa. Akan tetapi, di lain sisi ia juga tak mau mengandalkan instansi, dalam artian bekerja di kantor. Keinginannya adalah mandiri. Gayung bersambut, ketiga kawannya memiliki pemikiran sama. Akhirnya terbersit untuk bikin usaha kuliner bersama. Tujuannya waktu itu di Bali. Akan tetapi batal karena satu dan lain hal meski sudah siap memesan gerobak untuk jualan. Setelah rencana ke Bali batal,  keempatnya mendapatkan tempat yang bagus di Balikpapan. Dekat bandara, namun lagi-lagi ini batal.

Pertemuan dengan Rizka yang awalnya hanya membicarakan reuni sekolah membuahkan hasil berbeda setelah bertemu ayahnya. Ayah Rizka inilah yang pertama kali bertanya “Kenapa di luar kota, kenapa tidak di daerah kita saja?" ketika mereka pertama kali bercerita tentang mimpi-mimpinya.

Inilah yang kemudian memicu mereka untuk membuat usaha di desa. Tetapi apa? Roti bakar? Ini akan menjual tidak? Mengingat Ringinsari bukan daerah yang ramai. Setelah dipikir ulang, Yudha justru terpikir untuk menjual buah dan sayuran setelah melihat potensi desanya. Sebaliknya ayah Rizka yang dasarnya guru pariwisata mengusulkan untuk menyewakan transportasi dan pengelolaan wisata ke sukamade. Bukan tanpa alasan beliau berkata demikian. Berdasarkan pengalaman transportasi ke tempat tersebut mahal. Local guide pun belum ada.

Kenapa harus ada local guide? Karena keberadaan local guide bisa membuat suasana lebih hidup. Para pelancong tak sekedar jalan ke tempat wisata, lalu sudah. Dengan adanya local guide mereka bisa mendapatkan beragam informasi terkait ada istiadat, budaya kebiasaan masyarakat setempat. Jadi kenapa tidak kedua hal tersebut diusahakan? Ternyata semua setuju.

Ndilalah, setelah itu panen buah naga hanya mencapai Rp1.500,0 hingga Rp2.000,00/per kilo. Kondisi ini membuat mereka yang selama ini membantu orang tua mengelola buah naga di lahan masing-masing mereka merasa dirugikan. Padahal di luaran sekilonya bisa mencapai Rp25.000,00-Rp30.000 ribu. Dari sinilah terpikir untuk mem-branding tempat mereka sebaai tempat agro wisata.

Namun sebelum itu dilakukan, yang pertama kali harus matang adalah bagaimana cara mengelolanya sekaligus menjadi local guide-nya. Hal-hal inilah yang kemudian ditularkan oleh Ayah Rizka lewat pelatihan sederhana bersama mereka dan beberapa pemuda lain. Tujuannya agar lebih komunikatif dan representatif kala tampil di muka umum.

Sekretariat Pokdarwis RinginBWI.

Langkah berikutnya adalah membentuk komunitas yang acara pertamanya adalah dangdutan Agustusan. Tak sekedar dangdutan, tetapi ada konsep jelas. Acaranya di helat dengan konsep “No drug, No alcohol, No tawuran”. Ternyata sukses besar, bahkan menghasilkan sedikit keuntungan. Akan tetapi, setelah ini apa? Hanya sekali mengadakan acara dan menghasilkan sedikit keuntungan tak bisa dijadikan lahan pekerjaan.
Akhirnya dibentuklah Pokdarwis yang menjadikan wisata kampung kampung sebagai program jangka panjang, pengolahan buah naga sebagai program jangkan pendek,  dan menengah dengan mendirikan usaha kuliner semacam kafe. Sementara SK Pokdarwis belum turun, ternyata sudah ada tamu dari Jakarta, Bekasi, dan Surabaya. Dari sanalah mereka dapat masukan agar wisata kampung ini semakin baik.

Ketika SK Pokdarwis turun, ternyata malah mereka harus lari cepat. Festival buah naga yang sejatinya dilaksanakan bulan Januari saat panen raya, justru diminta dimajukan pada bulan Desember. Menghelat acara sebesar ini dengan kemampuan sumberdaya yang minim dan waktu yang singkat memang bikin ngos-ngosan. Semua orang yang tergabung dalam Pokdarwis merasakannya, terutama Yudha, Erdi, Candra, Yogi, dan Rizka. Rizka, yang paling muda dan tengah  sibuk menyiapkan tugas akhirnya di UNESA bahkan rela bolak-balik Surabaya-Banyuwangi demi acara ini. Dia mengakui turun di semua lini dan ia menerima ini sebagai resiko yang harus dihadapi karena bersikukuh memperjuangkan mimpi mengangkat potensi desanya bersama keempat kawannya.

Di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan festival buah naga, mereka kedatangan tamu kembali. Dalam acara ini para pengunjung tak hanya berkeliling dan memetik buah naga, akan tetapi juga dikenalkan bagaimana keseharian masyarakat setempat yang tergolong Jawa Mataraman. Baik budaya, adat istiadat, juga makanannya. Yang istimewa ibu-ibu yang menyajikannya menggunakan bahasa daerah (bahasa Jawa) yang digunakannya dalam keseharian, bukannya bahasa Indonesia. Jadi pelancong benar-benar bisa merasakan ambience wisata kampung sebenarnya.

Bukan Orang Tua, Melainkan Anak Muda Yang Bergerak Demi Melejitkan Potensi Desa
Jika di tempat lain rata-rata inisiator dan pelaksana adalah orang-orang tua yang sudah berpengalaman, di dusun Ringinsari justru kebalikan. Penggerak adalah anak-anak muda dengan segala potensi dan semangatnya. Meski demikian, semua anggota masyarakat dari usia dini hingga lansia juga turut dilibatkan. Tidak bisa sendirian. Dengan demikian impian untuk menjadikan desa berdaya berkat melejitnya potensi desa bisa diraih dan dinikmati bersama-sama.

Namun demikian Rizka mengakui juga jika apa yang mereka upayakan bersama itu tidak mudah. Masih banyak orang yang menganggap apa yang mereka kerjakan itu tak menguntungkan. Lebih baik mencari pekerjaan kantoran atau pegawai pemerintahan saja ketimbang menjadi enterpreneur di bidang wisata. Terlebih pekerjaan mereka itu nampak seperti main-main. Tidak mentereng. Padahal di masa kini menggantungkan nasib dengan menjadi pegawai sudah menjadi ide yang usang. Mandiri dan bisa tegak di atas kaki sendiri sekaligus memberi kemanfaatan bagi sekitar adalah hal baru yang dilakukan anak muda di masa kini.

Saya tersenyum mendengar penuturan ini. Ah ya, waktu memang masih panjang. Akan tetapi dengan kegigihan, harapan anak-anak muda dari Pokdarwis RinginBWI untuk meningkatkan kesejahteraan desa sekaligus mengurangi tingkat pengangguran akan segera menjadi kenyataan. Bahkan menjadi contoh bagaimana seharusnya pemuda berkiprah dan berkontribusi bagi negara dan bangsanya.

Penasaran di mana dusun Ringinsari tempat agro wisata buah naga berada? Peta berikut ini akan memandu Anda.






Komentar

  1. Unik juga ya nama festivalnya buah naga. Melalui berbagai rintangan akhirnya mereka berhasil juga membuat festival yang sekaligus mengenalkan desanya.
    Murah banget ya mbak buah naganya di sana, kasihan petaninya.
    Apa kabar mbak? lama aku gak berkunjung ke sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mak Lidya. Hahaha iya, sudah lama nggak kemari.
      Saat buah naga panen raya harganya memang murah Mbak, padahal biaya perawatannya mahal juga. Tapi, sekarang barusan banyuwangi teken kerjasama untuk pembuatan sirup buah naga, jadi buah naga yang banyak itu bisa ditampung di perusahaan tersebut.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!

Kiprah Fiya Mendorong Tumbuhnya Budaya Literasi di Lingkungan Sutri

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!