Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Photo by Amnas from Pixabay

Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.


Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya tidak pernah bertanya. Tetapi, yang jelas Bapak memang jarang mengunjungi makam ibu saya. Bukan karena tidak mau, tapi berat bagi Bapak datang ke sana. Itulah kenapa saya tidak pernah memaksanya. Karena setiap orang punya masa berkabung yang berbeda. Bisa saja mereka yang nampaknya biasa-biasa saja, tetapi menyimpan kesedihan lebih dalam dari yang kita kira. Atau sebaliknya.

Namun saya tidak pernah menyesali kepergian Ibu saya. Sebab dari kondisi itu saya belajar memahami perasaan orang lain yang ditinggal pergi orang-orang terkasihnya-adik, kakak, ibu, bapak, suami, atau anak. Saya tidak terkejut ketika orang-orang masih meratap di dinding akun sosial medianya meski sudah beberapa tahun ditinggal pergi, sementara yang lain justru nampak cepat pulih.

Memang begitu. Tiap orang memiliki proses recovery yang berbeda. Ada yang cepat dan ada yang lama. Kitalah yang justru harus memahaminya. Tidak perlu menghakimi karena orang-orang yang kehilangan itu memang butuh dukungan. Membosankan kadang, karena dinasehati agar move on seperti apa pun nampaknya gagal. Malah si penasehat yang dianggap tidak paham. Itulah kenapa saya menahan diri untuk tidak memberi nasehat mereka yang sedang kehilangan. Saya biarkan saja dia meratap, karena itu bagian dari proses yang harus dijalani sebelum akhirnya sampai di titik mengikhlaskan.

Empat tahun ini sungkeman tanpa Ibu lagi.

Lalu saya sendiri, apa yang saya rasakan selama empat lebaran tanpa Ibu?
Tentu ada yang janggal, terutama awal-awal. Biasa ada ibu, mulai dari menyiapkan baju sampai urusan kebutuhan lebaran lainnya, sekarang hanya dengan Bapak saja. Tidak sedetil dulu, karena pemikiran kaum Bapak itu beda dengan kaum Ibu.

Soal jalan bareng pun demikian, rasanya seperti ada yang pincang. Terlebih jika melihat orang lain yang kedua orang tuanya masih lengkap, tetapi buat saya itu bukan hal penting untuk dikeluhkan. Disyukuri saja, karena kepergian Ibu membawa banyak pelajaran baru buat saya. Termasuk diantaranya hubungan saya dengan Bapak.

Bapak dan saya memang memiliki sifat yang kurang lebih sama, keras kepala. Ketika berbeda pendapat bisa sangat keras gesekannya. Bukan berarti hubungan kami tidak baik. Saya ini anak Bapak. Apa-apa ya Bapak. Hanya saja karena sifatnya terlampau sama, kami sering tidak mau mengalah jika berdebat. Semasa ibu ada, beliau yang sering menjadi jembatan. Setelah jembatannya tidak ada, saya berusaha memahami pola pikir Bapak saya. Mungkin Bapak juga.

Saya masih bergaya blak-blakan, tetapi saya akan mencari saat yang tepat untuk mengatakan. Dulu saya tak pusing soal itu, jika kurang berkenan ya katakan. Mungkin Bapak juga mulai mengerti pola yang baik untuk komunikasi kami. Selain Bapak juga nggak punya teman curhat lagi (selain saya sekarang, hihihihihi ...). Alhasil kami jarang bertengkar.

Gambar oleh İ. A. dari Pixabay 

Adik-adik saya juga mulai terbiasa sepertinya lebaran tanpa ada Ibu di sisi kita. Saya kadang bisa melihat kesedihan mereka, tetapi tidak pernah bertanya. Saya memaklumi, bagaimana pun itu urusan hati. Walau sudah ikhlas, tetap saja ada satu titik di mana kita berharap waktu bisa diputar kembali. Tetapi, tidak mengapa. Kehilangan itu pada akhirnya memang harus kita terima. Sudah ketentuan-Nya. Kita yang tinggal menjalani dan mengambil pelajaran baiknya.

Salam.



Komentar

  1. Right here is the perfect webpage for anybody who wishes to
    find out about this topic. You realize so much its almost hard to argue with you (not that I actually would want to…HaHa).
    You certainly put a brand new spin on a topic that has been discussed for a long time.
    Great stuff, just excellent!

    BalasHapus

Posting Komentar