Bagikan, Bukan Copas! Karena Membagikan Lebih Terhormat Ketimbang Copas



Gambar oleh Felix Mittermeier dari Pixabay


Selaku penulis, saya bukan tak pernah melakukan copy & paste. Akan tetapi, hal tersebut saya lakukan di awal-awal saya belajar menulis. Semakin ilmu bertambah, hal tersebut saya tinggalkan. Saya tidak melakukannya lagi, bahkan merasa tidak nyaman ketika ada orang yang copy & paste tulisan orang lain. Terlebih tanpa disertakan sumbernya.

Menulis itu, kawan, butuh perjuangan. Sekalipun hanya curhat, tetapi tetap butuh usaha agar tulisan enak dibaca atau dimengerti orang. Apa rasanya jika tulisan yang susah-payah kita unggah, begitu saja di copas? Pasti tidak mengenakkan bukan? Jika demikian mengapa kita "tega" melakukannya pada tulisan orang.

Acap pelakunya berdalih "Toh, niat saya berbagi untuk kebaikan. Kebetulan tulisannya bagus, jadi apa salahnya jika di copas?".
Benarkah demikian?
Jika ya, coba sekarang posisi dibalikkan. Pelaku copas yang menulis dan kita yang ganti menyebarkan tanpa menyebutkan nama penulisnya atau link sebagai sumber rujukan. Kira-kira kesal tidak? Jika kesal, maka jangan lakukan itu pada tulisan orang lain. Jika ingin menyebarkan informasi positif atau kisah yang inspiratif cukup tekan tombol share atau bagikan. Mudah bukan?

Mudah memang, buat mereka yang paham. Akan tetapi, buat orang lain yang gemar copas pasti akan ada balasan jawaban semacam "Memang apa salahnya kalau tulisan si Fulan di-copas? Toh, itu bisa jadi ladang amal untuknya 'kan?"
Baiklah, jika jawabannya demikian. Namun, sebagai manusia yang diberi akal pikiran, mengapa kita tidak membantunya beramal kebaikan lewat tulisan dengan jalan yang benar? Yaitu dengan menekan tombol share atau bagikan. Rasanya hal ini lebih mudah ketimbang copas .

Masa sih lebih mudah?
Kalau tidak percaya coba kita bandingkan alur membagikan dengan copas berikut ini. Kira-kira mana yang lebih rempong?

Membagikan
Ada artikel atau status yang caem—kita baca—bagikan—kelar.

Copas
Ada artikel atau status caem—kita baca—copy—paste di akun pribadi—lalu klik send (kirim).

See? Lebih panjang proses copas 'kan? Lalu kenapa Anda kekeuh melakukannya?

Sejatinya ada apa sih dengan keinginan Anda copas itu? Coba pertanyakan pada diri sendiri dengan hati dan kepala yang jernih "Apakah jauh di dalam sana Anda ingin bisa menulis sebagus itu, tetapi tidak mampu? Lalu jalan pintasnya Anda memilih copas?".
Atau malah diam-diam "Anda ingin mendapat like yang banyak?" dari status cakep berpotensi viral yang Anda copas itu?

Bisa jadi ada yang tersinggung begitu membaca dua kalimat di atas. Merasa bukan bagian dari itu dan sekedar membagikan karena status atau artikel yang dibaca layak dibagikan. Tak mengapa, itu berarti Anda membaca tulisan saya. Dan ini saatnya melakukan perubahan, yaitu tekan tombol share atau bagikan. Karena ini lebih terhormat ketimbang copas.

Jika ada yang bertanya “Kenapa sih perkara sekecil ini saja harus diributkan?”
Maka akan saya jawab bahwa ini bukan perkara kecil. Apa yang kita lakukan, dalam hal ini copas, bisa jadi diamati dan ditiru oleh anak-anak atau keponakan kita. Maka jangan heran jika kelak saat dia diminta mengerjakan makalah atau paper yang ada mereka nyontek seada-adanya. Tidak mempedulikan tata cara mengutip yang benar. Asal tugas terpenuhi, punya orang di-copas pun tak peduli. Jika demikian, siapa yang bisa disalahkan? Mereka atau kita, generasi tua, yang ceroboh kala melakukannya?

Mari, mulai sekarang kita budayakan share atau bagikan. Sebagai bentuk penghormatan  bagi mereka yang tulisan atau ide cemerlangnya menginspirasi orang. Bukan malah copas begitu saja, karena sejatinya tanpa sadar kita telah menjadi “pencuri” yang nyata.



Komentar

  1. setuju... copas tulisan orang lain itu sama aja mencuri sbnrnya. Ntah mereka ngerti ato pura2 ga ngerti, tetep aja salah. Aku bnr2 g respect dengan org yg lbh suka meng- copas tulisan org lain drpd share. kalo di hal2 seperti ini aja terbiasa mencuri, gmn dgn hal2 lain yg lbh besar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, itu dia Mbak Fanny. Jika hal sekecil ini diabaikan apa kabar dengan lainnya?

      Hapus
  2. Saya keinget bener saya pernah jadi korban copas bahkan tak menyebutkan saya penulisnya. Sampai saya labrak lewat email itupun bilangnya masih kekeuh bahwa dia tidak tau dia pikir blog yg dah lama ditinggal boleh sembarangan di copas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dziiingh, kok enteng bener mikirnya. Ck, ck, ck ... Orang macam ini boleh nggak sih dikirim ke Pluto?

      Hapus
  3. Pernah lihat tulisan digroup KBM dicomot tanpa sumber penulis di salah satu akun IG, anehnya yg nyomot lebih banyak like dan komennya dibanding penulis aslinya😣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kelakuan buruk ini. Bisa-bisanya copas tanpa nyebutin sumber. Minta ditenggelamkan!

      Hapus
  4. Tulisan dari blog saya juga sering dikopas. Yang gemes itu dah nyalin sama persis trus gambar/skrinsutnya dikasih watermark logo blognya dia. Lha? Kalau mau keliatan otentik mah artikelnya bikin sendiri kali!

    Sayangnya pelaku kayak gini lumayan banyak, dan kadang kalau ditegur malah galakan dia. #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apa sih maunya. Pingin dapat rejeki dari nulis kok gini amat? Mbok yo belajar sendiri.

      Hapus
  5. anti copas..
    jikalau anda beriman, lakukanlah share...
    copas itu ciri-ciri orang yang gak kreatif dan pencuri konten. stop lah..gak kekinian kali kalo copas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Share itu lho lebih gampang, kok yo malah milih copas.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Ekowisata Jaga Hutan Papua