IJIN TEMAN KALA BERTAMU, SUNGGUHKAH PERLU?


Pic : mentatdgt from Pixabay

 
Kebanyakan ketika kita bertamu, tak perlu ijin atau bilang dulu. Cuz, datang saja tanpa perlu repot ngomong ini-itu pada keluarga atau kawan yang hendak kita datangi. Saya sendiri juga melakukannya, tetapi tidak pada semua orang. Biasanya memang hanya berlaku bagi mereka yang sudah saya kenal baik. Ikrib bingit, istilah anak sekarang. Itu pun tidak banyak, hanya beberapa gelintir saja. Belakangan saya memilih untuk minta ijin dulu jika ingin bertamu. Bertanya pada teman saya apakah ia ada waktu atau tidak, sibuk atau tidak, atau pertanyaan lain yang intinya semacam itu. 

Lho, buat apa? Kok harus seformal itu? Ya kalau mau namu ya namu aja kali?
Dulu saya pun berpikir begitu. Namun, sejak teman-teman menikah kebiasaan bertandang tanpa diundang itu saya kurangi perlahan. Bagaimanapun juga mereka punya kesibukan yang berbeda dengan saya. Ada prioritas utama yang harus diurusi ketimbang saya, temannya. Maka saya pun tidak ingin menjadi pengganggu mereka. Saya berusaha mengirim pesan dulu jika hendak main ke rumahnya. Jadi saya tahu apakah dia bersedia atau tidak jika hari itu saya ingin bertemu dia.

Pic : Drew Coffman from Unsplash.

Pernah ditolak nggak sih?
Iyalah! Saya pernah ditolak waktu hendak bertandang ke rumah teman. Dia memang sedang sakit. Ia lebih suka istirahat daripada menemui tamu dalam keadaan semacam itu. Tidak maksimal, begitu bahasa ringkasnya. Oleh sebab itu saya tidak keberatan ketika dia berkata ,"Lain kali saja ya?"

Apakah tidak merasa sebal atau tidak dihormati ditolak seperti ini?
Pada awalnya, meski sedikit, ya sebal juga. Walau sebelumnya sudah menyiapkan diri seandainya ada penolakan seperti itu. Maklum, kebiasaan minta ijin itu kebiasaan baru. Jadi  masih butuh penyesuaian. Akan tetapi, tidak sampai merasa tidak dihormati karena niat baik untuk silaturahmi ditolak. Apalagi sekarang. Saya justru memaklumi dan berpikir bahwa berterus-terang dengan kondisinya jauh lebih baik ketimbang dia menyilakan saya datang hanya karena tidak enak hati.

Saya sendiri berpikir seandainya itu saya, terbayang betapa tidak enaknya bertemu orang lain dalam keadaan tidak sehat-wajah pucat, muka lesu, dan ngomong saja enggan. Bukannya menyenangkan, saya bisa saja jadi pribadi yang tidak menyenangkan. Tahu sendiri ‘kan? Terkadang saat sakit kita pinginnya rebahan, nempel di kasur dan bukannya meladeni orang lain ngobrolin segala macam. Jika hal itu tak tertahan, saya bisa berubah monster menyebalkan. Yang mengeluarkan tanduk dan asap setiap kali menyahuti ucapan kawan. Mengerikan bukan? 

Pic : Johua Sazon from Unsplash

Lalu bagaimana jika kita hendak bertandang ke rumah teman yang jauh dan menginap di rumahnya? Perlu nggak sih ngomong dulu?
Tentu saja. Kita tidak bisa begitu saja datang, meskipun teman itu sudah akrab dengan kita. Akrab bukan berarti boleh sembarangan,  karena siapa tahu dia punya kesibukan tersendiri atau janji yang harus ditunaikan. Kalau kita datang ujug-ujug mak bedunduk begitu saja, bisa jadi malah merepotkan. Kalau demikian, kedatangan kita jadi tak menyenangkan bagi dia. Memaksa masuk selagi tak ada orangnya pun jangan. Bisa-bisa kita dikira pencuri yang hendak mengambil barang. Gawat ‘kan kalau begini kejadiannya?

Oleh sebab itu penting banget untuk bicara lebih dulu dengan teman kita, bisa atau tidak jika kita main ke rumahnya. Kalau dia menerima, sebisa mungkin sih tidak merepotkannya. Kalau ditolak pun jangan berpikir ia sombong atau gimana. Memang sedang sibuk atau jadwalnya tidak cocok dengan kita. That's all.

Pic : Yura Fresh from Unsplash
 
Jadi kesimpulannya, ijin bertamu itu perlu banget. Meskipun ini bukan kebiasaan kita. Efeknya bukan semata-mata untuk orang lain, tetapi diri sendiri. Meminta ijin bertamu adalah satu cara sederhana menghormati kawan kita. Menghormati privasinya. Dan ini sesuai betul adab bertamu yang tersebut dalam surat An-Nur ayat 27-28 :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”



Komentar

  1. aku biasanya kalau mau datang ke rumah teman nanya dulu dia ada apa nggak. soalnya kalau aku pribadi juga bete kalau tiba-tiba ada tamu datang nggak ngasih kabar. kecuali itu keluarga kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Aku juga sungkan nyusahin orang kalau tiba-tiba datang.

      Hapus
  2. kalau aku pernahnya di batalin sih..:) jadi sebelum berangkat ke lokasi ya batal padahal udah siap2..pernah juga pas udah sampai tapi untung ketemunya di mall jadi klo gk jadi ttp bisa window shopping :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahah, lha iya itu. Untung di mal, kalo batal masih bisa nge-es cendol di food court-nya

      Hapus
  3. kalau kau suak tanya karena takutnay sdh ke sana dainya gak ada, makanya janjian dulu, apalagi kalau urusan penting biar gam sia2 datang ternyata gak ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Tira, udah jauh-jauh yah ... yang mau ditemuin gak ada. Kan sayang ...

      Hapus
  4. dari dulu aku terbiasa ngomong/telp dulu ke temen2ku ato org yg mau aku kunjungi mba. Bukanhya napa2, males aja udh datang kalo ternyata orangnya g ada di rumah. makanya aku slalu lbh suka nanya dulu dia bisa ato ga :D. mau deket banget atopun ga, aku pasti begitu

    BalasHapus
  5. Bukan cuma bertamu ke rumah orang lain, menjenguk orang sakit juga kupikir perlu bertanya dulu. Apalagi kalau orang sakit itu di rumah sakit. Soalnya kadang, penjenguk orang sakit itu malah bertanya-tanya dan mengkomentari hal-hal nggak perlu disampaikan ke orang sakit. Maksud hatinya mungkin baik, ingin menunjukkan perhatian, basa-basi. Tapi bener, kadang kita perlu bertanya lagi, seandainya pernyataan dan pertanyaan semacam itu disampaikan ke diri sendiri dalam posisi yang sama, apakah kita bias menerima.

    Saya juga pernah mau jenguk ortu teman yang lagi sakit, izin dulu, dia mau enggak. Pas dia bilang enggak mau, awalnya saya juga sempat merasa sedih, kok ditolak niat baik saya. Tapi saya belajar, ohya, tidak semua orang sama seperti diri kita. Mereka punya privasi. Dan tentunya mereka juga punya pertimbangan sendiri dan tertentu kenapa tidak ingin kita bertamu atau menjenguk saat itu.

    Kuncinya tetap berpikir positif. Ditolak bertamu bukan berarti diri kita yang ditolak, atau diri kita bukan dianggap teman. Tapi mereka sedang ada pertimbangan sendiri, yang mungkin penting.

    :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah Menebar Kebaikan Lewat Sedekah

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash: Antara Mood, Social Distancing, dan Corona

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Ekowisata Jaga Hutan Papua