02 Oktober 2012

SI DODOL BELAJAR FOTOGRAFI




Waktu memulai saya nggak ngerti apa-apa. Begitu kamera saku di dapat saya bahkan nggak baca petunjuk manualnya.  Saya serahkan semua pada kepintaran si kamera. Biar dia sendiri yang memilih scene apa yang baik saat saya menjepretkannya ke suatu benda. Tentu dengan tambahan kilatan flash bawaan si kamera.
Setahu saya begitulah tukang foto bekerja. Prat-pret dengan flash menyala. Kelihatannya gaya.
Tapi ternyata buruk hasilnya. Gambar jadi terlalu terang, over exposure kata ahlinya (saya baru  tahu istilah tersebut baru-baru ini saja). Masalahnya ketika flash-nya saya matikan, gambar jadi gelap. Lha terus gimana? *gigit-gigit kamera.  Salah satunya contoh gambar over exposure adalah gambar di bawah ini  yang saya ambil saat hujan deras.






Seorang teman bilang speed cahayanya cukup tinggi, keren. Satunya lagi nambahin flash-nya dimatikan saja. 
Twing-twing! Saya bengong tralala. Gimana cara ngulanginya? Saya kan asal jepret saja yak?

Ya sudahlah. Saya lupakan itu.  Lalu satu hari tanpa sengaja dengan mode intelligent auto saya mendekatkan kamera saya ke sebuah obyek. Kalau tidak salah tetesan air. Saya terkejut karena hasilnya kok jelas? Titik-titiknya terlihat. Lha itu tadi gimana caranya? Lagi-lagi saya tidak tahu, heheheh.




Baru setelah berulang-ulang saya paham bila ikon bunga muncul, kita bisa melakukan makro fotografi (saya juga baru ngeh akhir-akhir ini). Oalaaah...dung, dung pret! Jadi ini to yang bikin si titik-titik air jadi jelas? Wah, giranglah saya. Saya mulai meraja lela dengan pengetahuan tersebut. Rajutan, buku, buah, makanan, rumput, embun, semut, daun jadi obyek foto makro saya. Selama itu bahwa penggunaan cahaya alami hasilnya jauh lebih baik ketimbang menggunakan flash bawaan si kamera. Flash terlalu terang. Gambar yang dihasilkan jadi tidak alami seperti yang saya inginkan. Tapi sebaiknya hindari cahaya diatas jam 9 sampai jam 3, akan terlalu terang, bahkan jika itu jatuhnya melalui jendela.

Karena saya memang tidak punya guru, saya baca saja artikel-artikel  dan e-book yang bertebaran. Apakah saya paham? Nggak juga. Hahahah...istilah-istilahnya memusingkan saya. Maka saya biarkan saja semua itu.
Dari membaca salah satu artikel hasil browsing saya baru sadar kalau cara saya memegang kamera itu salah besar. Pantaslah kalau hasil gambar saya goyang. Lha wong saya megang pakai satu tangan. Dengan satu tangan, kamera takkan stabil. Untuk itu diperlukan bantuan tangan kiri yang berfungsi sebagai tripod bila tangan kanan menekan shutter.
Ealaah dodolnya, hahahahaha...!

Meski begitu merubah kebiasaan itu memang diperlukan latihan. Kebiasaan lawas memegang dengan satu tangan sulit dihindarkan. Tapi semakin kesini saya semakin paham, kamera harus disangga bukan dicengkeram.  Seiring dengan itu pula pengetahuan saya bertambah. Untuk memotret makro, dekatkan kamera seketat mungkin dengan obyek.  Obyeknya bisa apa aja misalnya rumput, bunga, hewan, embun, koin, kue, makanan, dan sebagainya asal jangan terlalu kecil ukurannya. Untuk semut atau kutu kamera saku nggak mampu. Saya udah nyobain dan hasilnya bagus banget...blurnya maksudnya hihi.

Bila obyek goyang ex: motret bunga pas angin nyamber, jangan dipaksa. Karena gambar akan blur alias kabur. Tunggu sampai keadaan tenang barulah preeet!
 Untuk memotret serangga sebagaiknya pahami jam aktifnya, nokturnal (malam hari) contoh ngengat dan laron atau diurnal (siang hari) contoh kupu, kumbang, lalat, belalang.


Karena keterbatasan sumber cahaya, saya nggak pernah motret malam. Di saat siang pun saya juga nggak bisa sembarangan. Tahu sendiri kan  kamera poket punya keterbatasan dalam menangkap obyek bergerak. Jadi saya pilih motret antara jam  mulai 5.30-7.00 saat pagi, kalau sore di atas jam 3.00.  Kenapa? Karena  saat itu serangga nokturnal tak terlalu banyak bergerak, masih bisa diikuti dengan kamera poket. Kalaupun bergerak gak segesit antara 8-3 sore. Jadi masih bisa diantisipasi dengan mengubah setting burst-nya dari tunggal ke burst, sehingga bisa foto gambar secara kesinambungan. Ntar tinggal pilih aja yang bagus.


Diatas jam itu berarti kita mencari keringat, heheheh. Soalnya serangga sudah terlalu gesit dan gambar pun akan kabur. Kita akan sibuk lari-larian buat ngejar si serangga. Tapi nggak pa-pa sih kalau pengen nurunin berat badan (hahahah...piss, piss  kawan).


Nah penggunaan metode memotret secara kesinambungan atau burst juga saya lakukan untuk motret kucing. Tapi itu bukan makro.  Biasalah, untuk antisipasi blur.



Karena saya pengen belajar lebih lagi, saya pun gabung dengan grup Kopdar Sidoarjo di fb. Waktu itu teman saya Dee yang mulai, saya ikut setelah diceritain dia. Sekedar ingin tahu saja seperti apa sih karya fotografer yang lebih kawakan. Mereka punya agenda rutin tiap bulan yaitu even lomba dengan tema yang tiap bulan berbeda.  Saya juga ikutan. Ya tentu saja sesuai kemampuan. Memang nggak menang, lha wong memang saya ikut buat ngasah mental. Hehehehe....

Ketika ada lomba food photography dan kids photography di blogfam saya ikutan aja. Seperti di grup kopdar saya nekat mengirimkan foto dan link blog lomba ke blogfam. Saya ikut dua-duanya tanpa berpikir menang atau apa. Waktu foto saya dinyatakan sebagai juara 1 foodtography blogfam, saya senang luar biasa.
Tapi kemudian saya nyengir  kuda. Lha sebenarnya saya juga nggak bisa apa-apa. Kalau pun menang mungkin lucky saja. Hahahahaha, jadi kalau saya nepuk dada rasanya nggak pantas juga. 





Apalagi pas baca komentar jurinya, bahwa sebagian besar peserta ternyata tidak memenuhi syarat lomba yaitu posisi foto yang harus vertikal (kayaknya ini termasuk punya saya, xixixi) berhubung harus ada yang juara maka juri berusaha mengambil keputusan.
Untuk foto diatas Mbak dan Mas Juri bilang komposisinya agak menggantung, tapi tetap menarik bagi mata dan perut.

Saya mesam-mesem aja baca komen tersebut. Jujur euy, saya emang nggak paham komposisi, POI, dan sebagainya itu. Ibarat saya ironman versi 2025 (wakakakakakaka, belum produksi kan ya), saya menguasai perangkat dengan nekat. Asal tekan tombol, tanpa tahu itu sebenarnya buat apa. Trial and (so many) error lah kata nenek saya. Maka saya pikir bila juri berkata demikian nggak salah. Bener malahan.
Tapi dari situ tuh saya jadi pengen belajar lebih banyak lagi perkara komposisi dan POI. Saya mulai lagi tuh baca ebook-ebook dan artikel simpenan, nyari tentang komposisi. Saya berusaha mempraktekkan, hanya benar tidaknya saya nggak tahu.

Dari perjalanan belajar  foto makro super dodol itu, saya belajar bersabar. Tenang, menjaga tangan jangan sampai goyang. Karena sedikit saya goyang gambar kabur. Bahkan bernapas pun bikin gambar goyang. Maka pas motret makro  sebisa mungkin napas ditahan. Belum lagi, memotret dari berbagai angle itu ternyata cukup melelahkan. Meski kameranya ringan, ternyata bisa bikin tangan pegal-pegal (maklum gak punya tripod wekekekek). Nggak kebayang kalo pake kamera yang segede gaban itu. Biasanya untuk motret makro saya lakukan berulang kali untuk obyek sama, hanya sudut pengambilannya saja yang berbeda. Contohnya untuk gambar makanan diatas, saya ngambil gambar dari sudut yang sejajar sampai 90 derajat. Sampai-sampai perlu naik kursi segala, heheheh.
Oh iya nih, jangan selalu percaya LCD ya. Ceklah dengan komputermu. Kadang yang kelihatannya oke di LCD, begitu dilihat di komputer ternyata buruk.
Jangan lupa juga dengan bayangan. Sering saat motret makro bayangan tangan atau menimpa benda. Usahakan entah gimana caranya cari posisi yang bikin bayangan tangan nggak nimpa obyek foto kita.

Oh ya, terakhir cropping. Sering dalam foto latar belakangnya mengganggu, jadi biar obyeknya aja yang nonjol perlu diberlakukan cropping. Ya sesuai feeling saya aja. Soalnya  pemahaman komposisi saya emang perlu pembenahan *dilempar kamera.


Nah setelah cerita saya yang panjang lebar itu, saya cuma mau bilang jangan dicontek deh cara saya belajar itu. Mending baca dulu manualnya, akrab dengannya, jangan asal coba. Syukur-syukur ada gurunya jadi nggak ngeraba-raba.
Dan jangan khawatir kalau kameramu cuma kamera saku seiprit. Di luar sana banyak foto bagus hasil dari kamera poket.

Kata teman saya yang penting bukan apa kameranya, tapi man behind the gun (meski lama-lama “gun” penting juga).
Lalu pertanyaan yang paling penting diatas semua itu adalah apakah si dodol Afin sudah pinter? Belum jek, sampai tulisan ini diturunkan saya tetap nggak ngerti-ngerti. Kemampuan saya yah gitu-gitu aja, hasil jepretannya pun yaaah…masuk kategori gambar “gitu-gitu” juga. Hihihihi.


 Baaa....Owe si Cute Owl, atas nama yang punya blog ngucapin sampai jumpa di cerita dodol lainnya


3 komentar:

  1. Astaga dodol sekali dirimu mbak ya qiqiqi *kabur*
    Kayak yang nggak dodol aja ya. Sama koq, saya juga dodol *balik lagi, merangkul mbak Afin, sesama dodol women*

    BalasHapus
  2. foto makro nya bagus mbak, saya dulu juga malas sekali baca petunjuk, tapi setelah mengetahui pentingnya membaca petunjuk penggunaan, akhirnya saya tetap malas membacanya.... :p

    BalasHapus
  3. mba Afiii, kamu ga sendiri kok :D.. Aku jg masih dodol bgt motretnyaa... sampe2 sebulan alu aku beli kamera slr, dan ga ngerti tombol2 ini utk apa aja ;p... tpksalah aku ambil kursus sehari demi tau kamera ini gunanya apa aja ;p

    memang hrs bnyk latihan sih ya... cuma ya itu, waktunya weekend, aku malah leyeh2 doang di rumah...

    BalasHapus