05 Desember 2015

ALTITUDE 3088 : MENGHIBUR DAN MEMBERI WAWASAN



 
Judul buku      :           Rengganis  : Altitude 3088
Penulis            :           Azzura Dayana
Tahun terbit     :           Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN              :           978-602-1614-26-6
Ketebalan        :           232 halaman
Penerbit           :           Indiva Media Kreasi
Ukuran            :           20 cm
Harga buku     :           Rp 46.000,00


            Mengusung tema pendakian, novel ini memang  menyajikan petualangan menjejaki gunung sedari awal. Tidak sekedar tempelan untuk mempermanis cerita dengan sisi romantis yang menjadi topik utama. Dibuka dengan prolog  yang beraroma misteri, Azzura Dayana menarik rasa penasaran pembaca untuk membaca bab-bab berikutnya. Tidak dipungkiri Yana, demikian ia dipanggil, piawai melukiskan keindahan yang ditemui sepanjang pendakian. Sehingga anda selaku pembaca seolah-olah berada diarea yang sama ketika para tokohnya merambahi Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, hingga Taman Hidup di pegunungan Argopuro.

 
ilustrasi sabana di pegunungan Argopuro


            Adalah Dewo, karyawan pabrik yang gemar keluyuran ke alam di kala senggang. Petualang sejati yang selalu dianggap sebagai ketua tim dalam pendakian. Fathur, wartawan berpostur kurus tinggi yang sudah menjelajahi gunung di Jawa dan Nusa Tenggara. Rafli, seorang fotografer dengan penampilan tegap bak tentara.  Dimas, pebisnis sekaligus novelis yang dikenal paling kalem, bijak dan relijius. Acil, pengusaha garmen yang sabar dan teliti dengan prestasi mendaki yang paling banyak diantara lainnya. Ajeng, biologist yang sudah khatam menyambangi gunung di Jawa Tengah dan Yogya. Nisa, gadis Surabaya yang dikenal periang sekaligus penakut ini sudah menjajal gunung di wilayah Jawa Barat, Merapi, Semeru, dan Rinjani. Juga Sonia, si cantik yang juga tinggal di Surabaya seperti Nisa, dengan pengalaman mendaki yang paling minim diantara lainnya. Kedelapan orang itulah tokoh yang menghidupkan kisah Rengganis : Altitude 3088.

            Tak hanya itu, Azzura Dayana juga menaburkan pesan kepada pembacanya apa yang harus dilakukan dalam pendakian. Tak hanya bermodal semangat, mendaki gunung sejatinya juga erat kaitannya dengan pengetahuan, kerjasama, dan tanggungjawab. Kesiapan fisik, perbekalan, peralatan, dan observasi medan yang hendak ditempuh penting untuk kelancaran perjalanan. Akan lebih baik lagi jika ada yang
menjadi penunjuk jalan, seperti halnya Acil yang diangkat sebagai guide tim karena pengalamannya mendaki Rengganis dalam novel ini.
            Perkara kepemimpinan juga tak luput jadi bahan perhatian. Melalui Dewo, Azzura Dayana seolah hendak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Tak hanya mampu meng-koordinir teman-temannya seperti yang diperlihatkan di halaman 15, ia juga mampu berlaku bijak saat konflik muncul diantara mereka. Seperti yang diperlihatkan pada halaman 187-200 ketika Rafli yang sempat berseteru dengannya hilang dari tenda begitu saja. Bukannya balik kanan dan bersikap tidak peduli, Dewo menanggalkan ego-nya dan berkeras untuk ikut mencari meski kondisinya tak terlalu baik setelah tergelincir dan hampir masuk jurang di pegunungan Cemara Lima.

ilustrasi dermaga di Danau Taman Hidup
 
            Bagaimana harusnya pendaki berlaku di alam pun tak lepas dibahas dalam novel ini. Tak sekadar mengaku cinta, seorang pendaki harusnya memaknai kecintaannya itu lewat perilakunya terhadap alam dan lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan atau melakukan aksi vandalisme di sepanjang pendakian. Tak heran Acil, sang guide tim menyebut pendaki yang tidak sadar lingkungan itu sebagai orang-orang itu sangat memprihatinkan. Mengaku mendaki karena mencintai alam, tetapi justru mengkhianati cinta itu dengan merusak alam.
            “Sesungguhnya bukan alam yang mereka, cintai tetapi mereka sendiri,” demikian Acil menegaskan.
            Tidak lupa Azzura Dayana menyelipkan kelucuan di sela-sela novelnya lewat puisi milik Fathur seperti berikut ini :
           
Jauhnya jalan untuk merambahmu, Sur
Padahal kau sekedar anak kecil saja
Lancang sekali menyuruhku bersimbah keringan dan terserang ulat
Jika ternyata begitu aku tiba di hadapanmu kau hanya suguhiku minum
Tapi saat kutatap parasmu yang bersih dan lugu
Anggun, tenang, dan menggembirakan
Yang jauh dari polusi udara dengan kata-kata yang lebih belantara
Kuurungkan niatmu untuk membawamu pulang kota
Selayaknya memang kau disini saja
Berteman sabana dan dijaga sang dewi
Supaya mereka yang berhasil menemuimu hanya para terpilih
Bersih jiwa dan mencintaimu
Yang rela mencari meski engkau diam sembunyi
Oh, Sur..Sur
Wahai sungai Cikasur
(__Puisi Fathur)

            Seperti halnya teman-teman Fathur yang tertawa-tawa mendengar puisi itu saya pun sama. Caranya menyebut Cikasur dengan “Sur” saja seolah kepada  seorang teman akrab itu yang bikin  saya jadi geli. 

            Tetapi, dibalik keunggulan-keunggulan tersebut  ada hal yang mengganggu saya. Tepatnya di bab Turun Gunung, halaman 154, ketika Dewo untuk menjawab pertanyaan Nisa soal hewan yang menggeram di dekat mereka.
            “Aku tidak tahu. Mungkin macan. Atau singa,” jawab Dewo. Wajahnya masih serius menakutkan. “Beruang, bisa jadi,” tambahnya.
            Membaca kalimat itu tak urung membuat saya bertanya-tanya. Singa? Beruang? Benarkah kedua habitat hewan itu disana? Laman InfoPendaki.com menyebutkan bahwa kijang, babi hutan, rusa, merak, ayam hutan, dan macan merupakan fauna pegunungan Argopuro. Sementara laman PecintaAlam.net menyebutkan rusa, burung merak dan babi hutan  selain 16 jenis burung endemik dan 11jenis burung migran. Beberapa blogger lain bahkan menyebutkan lutung dan kucing hutan. Tetapi singa dan beruang tidak ada. Via Wikipedia pun saya tidak menemukan. Beruang yang tercatat di Indonesia adalah beruang madu yang habitatnya di Kalimantan dan Sumatera. Adapun singa justru tidak saya ketemukan. Hanya catatan tentang harimau jawa yang sudah dinyatakan punah.
            Oleh karena itu,  rasanya janggal seorang Dewo yang mengatakan “A traveler without observation is like a bird without wings di awal kisah bisa melontarkan kalimat demikian. 
 
buku patut jadi pilihan kala butuh bacaan
            Lantas bagaimana dengan alur cerita di novel ini?    
            Berbeda jauh dengan trek panjang  dan melelahkan yang harus dilalui oleh kedelapan tokoh novel ini, alur yang dibangun oleh sang penulis rupanya berkebalikan. Mudah ditebak, dengan gesekan-gesekan kecil akibat kesalahpahaman yang ujungnya bisa terselesaikan. Konflik yang muncul masih kurang dalam dan sebenarnya masih bisa dikembangkan.
            Tetapi jangan salah sangka, meski demikian bukan berarti novel ini menjemukan. Alurnya yang cepat justru tidak akan membuat anda bosan berkelana menemui molek dan misteriusnya Argopuro yang dibumbui oleh intrik serta kegigihan para pendakinya. Maka saat senggang dan anda butuh bacaan, novel setebal 232 halaman yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik didalamnya ini bisa menjadi pilihan. Takkan rugi karena novel ini menghibur dan memberi wawasan. Bagi anda yang gemar menulis, novel ini juga memberi sebuah pesan ,”Tak perlu menambahkan adegan tujuh belas tahun keatas agar karyamu disukai orang.”

14 komentar:

  1. Yana memang rajin mendaki jadi novel2nya yang ttg pendakian juga bisa kuat bgt setting n penceritaannya. Kirain ini sekuelnya novel sebelumnya tapi kayanya enggak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak, terasa benar pengalaman mbak yana di seluruhbl bab. Tidak hanya soal mendaki tapi juga fotografi

      Hapus
  2. Hhhhmmmm....kayanya aku mesti beli nih. Suka sama cerita2 pendakian.gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Recomended bgt mbak, ini ceritanya keren

      Hapus
  3. Jarang banget novel dengan setting pendakian gunung, jadi pengen baca novel ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangga mbak, gak rugi beli dan baca buku ini

      Hapus
  4. jadi penasaran pengen baca bukunya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus penasaran hahahah, ceritanya emang bagus man 17 tahun mbak Ira. Tanpa bumbu adegan 17 tahun keatas dan kalimat yang lebay, pembaca digiring untuk mengikuti perjalanan pendakian dari awal hingga akhir

      Hapus
  5. Waah... Buku bagus nih. Semoga berjodoh dengan buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga saat memasuki gramedia mata mbak Ahliah langsung terantuk buku kece ini. Dijamin gak nyesal

      Hapus
  6. Aku belum baca yang ini, baru yang Altitude 3676. Kelihatannya bagus juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. meski dari judulnya mirip tapi ini beda banget mbak Kayla, mangga segera dilirik dompetnya, siap-siap beli buku ini.

      Hapus
  7. Makasih yaa reviewnya :)
    Baca juga unek2 saya di review Rengganis di sini: http://azzura-dayana.blogspot.co.id/2016/01/menjawab-rengganis.html

    BalasHapus
  8. wah terima kasih mbak untung kedatangan dan komennya, saya merasa terhormat :)

    BalasHapus