06 Agustus 2016

OLEH-OLEH DARI ATAMBUA 3 : INIKAH INDONESIA?



Setelah merasakan perjalanan lama yangbikin pantas saya kebas, kini saatnya saya menceritakan ketika saya diam-diam bertanya : Inikah Indonesia? 

duh, sayang gambarnya blur
  Ya, itulah pertanyaan yang muncul di kepala saya melihat rumah-rumah beratap daun lontar kering, berdinding bebak, tanpa ventilasi, dan berlantai tanah di tepi jalan. Beberapa nampak modern dengan sentuhan atap seng, jendela kayu, dan lantai semen. Lainnya, seperti yang saya ceritakan. Beberapa dari rumah-rumah itu sudah miring. Jika angin kencang menerpa bisa jadi rumah itu roboh seketika. Ditilik dari segi kesehatan jelas rumah gewang tanpa jendela dan berlantai tanah sangat kurang. Tanpa ventilasi berarti aliran udara dari dalam dan luar tidak berjalan lancar. Dengan demikian bisa meningkatkan penularan penyakit di dalam rumah, contohnya penyakit infeksi pernapasan. Tanpa ventilasi berarti rumah juga kurang mendapat cahaya alami. Membuat rumah lembab dan rentan terhadap bibit penyakit. Lantai tanah juga berpotensi tidak bagi bagi kesehatan. Jika kering berdebu, sebaliknya jika musim hujan becek. Kondisi ini akan menyebabkan penghuninya mudah terserang penyakit terutama kala hujan.

Soal infrastruktur jalan sama saja. Masih banyak daerah yang susah akses jalannya. Menurut cerita Kalix masih banyak di NTT daerah yang jalanannya tidak bagus. Seperti yang saya temui di Fulur, kecamatan Lamaknen. Jalan menuju area itu semula memang bisa ditempuh dengan aspal. Hanya saja tanpa motor atau jenis kendaraan pribadi lainnya, susah untuk pulang pergi dari dan ke Fulur. Mendekati daerah Fulur, jalanan beraspal menghilang berganti dengan jalan berbatu yang menyulitkan siapapun yang mengendarai kendaraan. Tikungan yang kerap curam dan tajam menghiasi sepanjang jalan. Percayalah, kalau sopirnya tak berpengalaman mobil yang kami tumpangi alamat tak sampai tujuan. Belum lagi berdebu dan panas yang ampuun! Kalau saja AC tak menyala bisa dipastikan kami akan mandi keringat. 

03 Agustus 2016

OLEH OLEH DARI ATAMBUA 2 : SERASA TIPIS PANTAT SAYA



NTT dari udara


Setelah mengalami perjalanan yang penuh drama, akhirnya saya berangkat juga ke Kupang dengan pesawat Batik Air. Sekitar pukul satu pesawat yang saya tumpangi itu akhirnya landing di Bandara El Tari. Saya tidak sendiri disana. Ada teman-teman dari tim dari Gramedia dan Elex Media (Mas Bagus, Mbak Retno, Listi), Save The Children (Mas Ruly, Mbak Maitra, Mas Frandy, Fandy, Jeppery, Franky, Maymunah, Tora, Hana, dan Nadia) juga dua pemenang Gramedia Blogger Competition lainnya (Huud Alam dan Ursula) bersama saya. Itu hal yang luar biasa. Bertemu orang-orang baru yang ramah dan menyenangkan sejak mula. Dari bandara kami segera bergerak menuju markas Save The Children di Kupang menggunakan mobil sewaan. Mobil itu serupa bis kecil yang mampu diisi hingga 20 orang. Disana kami bertemu dengan jurnalis dair kompas teve, Astried dan Kalix. Usai ngobrol sejenak kami melanjutkan perjalanan. Tetapi, rasa lapar akhirnya membawa rombongan kami menuju KFC dan menikmati makanan disana. Di tempat itu pula kami bertemu dengan jurnalis dari Media Indonesia, sekaligus yang menggawangi portal Lintas NTT, Om Palce (maaf Om kalau penulisan namanya salah).

makan di KFC bersama tim dari Kompas Gramedia, Elex Media, dan Jurnalis

 Usai makan perjalanan dilanjutkan. Astrid (di foto atas itu berbaju merah) wanti-wanti agar kami bersiap sedia. Jalanan yang hendak kami lalui berkelok-kelok dan menanjak. Tikungannya pun tajam. Bagi mereka yang mudah muntah mending duduk di depan. Saya pikir tidak lebih panjang dari Gumitir di Jember, daerah pegunungan yang memiliki kondisi jalan serupa. Ternyata saya salah duga, ini lebih panjang dan lama. Sepanjang 6 jam  jalanan yang kami lalui ternyata memiliki banyak kelokan tajam. Mobil kerap bergoyang kiri-kanan untuk mengimbangi kondisi jalanan. Tak ubahnya ada di atas sampan kala terombang-ambing di lautan. Syukurlah saya tidak apa-apa. Mungkin terbawa perasaan senang, jadi saya tak mengalami mual. Malah santai-santai saja selama perjalanan.

31 Juli 2016

OLEH-OLEH DARI ATAMBUA : PERJALANAN YANG DIAWALI DENGAN DRAMA



 
kalau tidak diberitahun Mbak Hairi Yanti, saya pasti kelewat berita ini. Terima kasih banyak Mbak...
Menjadi salah satu dari tiga orang pemenang Gramedia Blogger Competition periode 1 Mei-30 Juni lalu tak pernah saya duga. Selain persiapannya mepet saya pun upload menjelang akhir lomba. Pikir saya, mari berpartisipasi saja. Menang kalah usah dipikirkan. Syukur-syukur masuk dalam dalam 10 karya terbaik. Kalau tidak pun tidak apa.

Diluar dugaan saya justru masuk tiga besar. Sungguh, saya tidak percaya. Saya berulang kali berpikir, mungkin ada yang salah dengan pengumumunannya. Iya, begitu adanya. Saya ingat betul, saat masih penjurian saya justru menjagokan penulis lainnya. Penulis cilik yang keren menurut saya. Tapi, rupanya ketentuan Allah kerap tak terduga. Ternyata malah saya dianugerahi hal luar biasa. Jelang ulang tahun yang kesekian, saya mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk mengenal Belu lebih dekat sekaligus hadir dalam Festival Membaca di sana.

Tetapi seperti halnya kegembiraan lainnya, takkan lengkap bila tanpa drama. Iya drama!

Dimulai dari hilangnya ponsel tanggal 19 sore, jelang keberangkatan saya menuju Surabaya. Jadi waktu itu saya pergi ke warnet untuk cetak  3 tiket pesawat dan satu guess check ini di hotel Ibis. Lha dasar dodol, saya langsung ngeloyor pergi gitu aja begitu selesai cetak. Lupa kalau ponsel ada di meja. Begitu saya kembali ke sana, ponsel sudah tak ada. Saya tak bisa apa-apa. Mau menuduh, siapa pula yang dituduh? Toh, saya juga yang salah. Dalam hati saya berdoa, semoga bermanfaat bagi yang menemukannya.