15 Mei 2013

LEARN FROM WILD LIFE (MUMBLE TO MY SELF)


TITIK KRITIS

Hujan baru saja berhenti ketika mata kamera saya menemukannya. Binatang itu pasti tidak mengira kalau satu hari ia hidupnya akan berada di satu titik kritis ketika antenanya terkena jaring laba-laba. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskannya tetapi ternyata tidak cukup kuat untuk melakukannya. Sejenak ia diam, lalu kembali bergerak kencang. Terus begitu sekian saat lamanya.
Pada saat yang sama saya tengah berpikir, apa yang harus saya lakukan bila saya berada di posisinya? Berada dalam satu titik dimana tak satu pun bisa menolongnya? Orang-orang yang kita kira akan rela mengulurkan tangan ternyata tak kelihatan batang hidungnya. Apakah pasrah dan bersandar pada Allah atau justru pada kekuatan lain yang katanya bisa membebaskan kita dari bencana? Semoga Allah menunjukkan kau, aku, dan semua agar pilihan pertama yang kita ambil, bukan yang kedua.

BASAH
Dihamburi embun pagi, rasanya pasti menyenangkan sekali. Tetapi tidak bagi kupu di bawah ini. Ia tak bisa bergerak bila sayap-sayapnya basah. Pasti akan terlalu berat baginya.


 Jadi kata siapa berada di tempat “basah” itu menyenangkan? Jangan-jangan justru di dalamnya ada jerat yang membuatnya tak mampu bergerak? Lalu menusuk kita dan menjadikan kita pesakitan setelah beberapa saat meneguknya, seperti orang-orang yang diberitakan di tv? Jadi hati-hati dengan “basah, basah, basah tubuh ini” (Oo, lagunya Elvy Sukaesih banget ya ini?)...Siapa tahu ia justru mengirimmu ke dasar kolam, tenggelam, dan tidak mampu bangkit kemudian.

08 Mei 2013

LOOK DOWN, CLOSER (MUMBLE TO MY SELF)



Apa kau melihat dia, Tuan?
Ia yang kini meringkuk kelelahan. Tak ada penyakit ganas menyerang tubuhnya. Ia   hanya terlalu banyak mendongak,  hingga leher kaku dan mata berkunang-kunang. Semakin mendongak, semakin timbul iri dan tidak senang. Semakin pula hatinya dipenuhi kemarahan. Pada taraf positif kemarahan itu membuatnya bergerak mengejar ketertinggalan.  Tetapi semakin kemari sisi positif itu kian pudar, smentara kutub negatif kian terpancar. Buntutnya ia menyalahkan Engkau, Tuan, atas jabatan, ketenaran, uang...segala gemerlap yang tak kesampaian. Hingga baginya dunia itu hanya suram.



Pada pagi seterang tanah, kau menggamitnya, Tuan. Mengajaknya keluar dari keterkungkungan perasaan. Kau ajak ia menapakkan kaki ke tanah lapang. Membiarkan kaki merasakan rumput-rumput basah oleh embun dan semilir angin yang menyejukkan. Tetapi hati yang kusam itu tak merasakan keindahan.

“Apa bagusnya berada di tanah lapang dengan tumbuhan liar sejauh mata memandang?” pikirnya kesal.  Lalu kau membuatnya tersandung, hingga ia melihat dedaunan berbentuk hati yang merambat di dekat kakinya.  



Ia membungkuk dan mengelusnya. Merasakan embun di daun itu jatuh di telapak tangannya. Dingin, menyegarkan. Menariknya pada satu pemikiran. Apa benar sih Tuan tidak mencintainya? Jika benar tidak cinta mengapa ia masih diberi nafas dan keleluasaan merasakan enaknya makanan setiap kali ia mengumpati-Mu?


Beranjak lebih jauh ia menemukan semak-semak berduri dengan bunga-bunga warna merah muda. Biasa saja nampaknya. Tidak ada yang istimewa. Tetapi engkau telah membuatnya menundukkan diri untuk mengamatinya, saat kumbang-kumbang muncul dari balik semak dan menghisa madunya  maka ia pun berujar ,”Bahkan bunga kecil sepertinya pun bermanfaat. Si kumbang menghisap madunya. Berarti setiap mahkluk diciptakan ada manfaatnya. Termasuk aku juga. Hanya aku yang belum tahu cara memaksimalkan potensi yang ada. Kurasa aku terlalu ingin mencapai kesuksesan seperti mereka, meniru mentah-mentah cara mereka. Dan terlupa bahwa masing-masing orang punya jalan berbeda untuk meraihnya.”


Meninggalkan si bunga merah muda, matanya terantuk pada bunga ungu di depannya. Bunga itu tersembunyi diantara semak-semak, tak terlalu nampak jika tak mendekat. Sesuatu yang kuat mendorongnya untuk mengabadikannya dalam kamera. Lalu klik, klik, klik! Beberapa kali ia mengambil gambarnya. Saat ia melihat hasilnya sebuah ketakjuban muncul diwajahnya. “Cantik sekali bunga ungu ini. Aku tak mengira inilah nampaknya. Tadi kelihatannya ia biasa-biasa saja. Berarti sesuatu yang indah dan luar biasa itu sesungguhnya berawal dari sesuatu yang sederhana. Kau hanya harus melihat dari sudut yang berbeda untuk menemukan keistimewaannya. Begitu juga diriku. Boleh saja orang bilang aku tidak punya kemampuan apa-apa. Meng-under estimate diriku dengan celanya. Tapi benarkah demikian? Mungkin saja bila dilihat dari kacamatanya. Tapi dari kacamata lain? Oh, belum tentu. Jadi intinya akulah yang harus memaksimalkan usaha. Jangan selalu minta bantuan orang lain untuk bersinar.”


Pada langkah kaki ke sekian, ia menemukan bunga mawar. Cantik nian, terlihat menonjol diantara singkong yang tinggi menjulang, rumput-rumput liar, dan sereh wangi yang ditanaman berjajar di halaman orang. Yang menjadi pertanyaan apakah kecantikan itu tetap akan menonjol bila disandingkan dengan banyak kembang? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Bisa jika kemudian ia dipelihara dengan baik. Tidak bila ia dibiarkan begitu saja tanpa perawatan memadai. Seperti juga manusia bukan? Kau punya kemampuan, tapi dibiarkan, tidak diasah. Cukup puas dengan keadaan sekarang. Tidak mau belajar. Memangnya apa yang bisa didapatkan?


Pada akhir perjalanan, ia mengabadikan semburat jingga keemasan yang membias di antara birunya langit. Lalu bergumam sembari berjalan pulang ,”Hidup selalu penuh warna. Jika satu hari hanya warna kelabu yang muncul di hadapan, sepertinya yang salah bukan keadaan. Diri sendirilah yang berpikir demikian. Jadi berhentilah mendongak ke atas, mulailah melihat ke bawah. Agar kau lebih bersyukur atas hidup yang diberikan Tuhan. Tidak bisa meraih kehebatan seperti orang-orang di atas sana, bukan berarti tak istimewa. Mulai lakukan hal-hal kecil yang kau bisa, dan biarkan orang lain menilainya apakah kau pantas disebut istimewa. Jangan biarkan dirimu sendiri yang mengatakannya.”

Posted : Under Mumble to my self
All images taken with DSC W520

10 April 2013

REVIEW CERITA DI BALIK NODA : BUKAN NODA BIASA




Judul              : Cerita di Balik Noda
ISBN/EAN    : 9789799105257 / 9789799105257
Harga buku     : Rp 40.000
Pengarang       :  Fira Basuki
Penerbit          :  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit              :  14 Februari 2013
Halaman          :  248
Berat               :  231 gram
Kategori          :  Fiksi

Cover buku Cerita Dibalik Noda itu telah menarik saya sejak pertama kali. Sederhana, tidak banyak pernak-perniknya.  Hanya percikan noda diatas warna putih bersih. Sederhana tetapi kuat kesan yang ditimbulkannya. Tetapi seberapa kuatkah kesan yang ditimbulkan isi bukunya? Benarkah sehebat covernya, atau akan saya letakkan begitu saja hanya di paragraf awalnya? Itu yang menjadi pertanyaan saya pada awalnya.
Ternyata tidak juga. Dugaan itu meleset jauh dari awalnya. Fira Basuki  benar-benar piawai menulis ulang cerita-cerita pilihan juri lomba “Cerita di Balik Noda” yang di adakan oleh Rinso Indonesia melalui facebook menjadi sebuah cerita inspiratif  yang enggan kita letakkan hingga akhir halamannya.

Dimulai dari cerita berjudul “Bos Galak” yang ditulis sendiri oleh Fira Basuki, membuat saya menelan ludah sekaligus berlega hati. Bagaimana tidak? Saya juga pernah punya bos segalak Bos Rani. Setiap hari ada saja yang salah. Sampai-sampai kami tak jenak duduk di tempat kerja. Waktu itu yang saya pikirkan saya persis dengan rekan-rekan sekerja Rani, bahwa bos macam begini tak mungkin berubah kecuali matahari terbit dari timur. Tetapi dalam kisah ini justru Rani hendak mengajarkan pada kita untuk tetap optimis bahwa segala-galanya bisa terjadi jika kita meyakininya. Dalam hal ini Rani yakin satu ketika bosnya yang super galak itu bisa luluh juga.