04 Desember 2017

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)


source image : http://pixabay.com/


Dikira Hamil
            Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
            Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
            Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
            Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.
            Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
            Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
            Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).

30 November 2017

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ





            Aplikasi workshop menulis Room to Read Phase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya...
           
            Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanya  beberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu bikin saya gamang.
             Satu hal kemudian menyadarkan saya, kenapa saya takut sebelum mencoba. Lakukan saja, perkara lolos atau tidak urusan belakang. Toh, kalau tidak lolos pun saya tidak rugi apa-apa. Takut amat sih? Begitu kata hati saya. Berbekal kalimat itu saya menulis dua naskah cerita sesuai yang disyaratkan yaitu sepanjang 50-200 kata. Selesai ditulis, cerita saya endapkan sejenak, sebelum akhirnya saya kirim tanggal 2 Juli, enam hari sebelum deadline. Saya tidak berpikir apa-apa. Berpikir lolos atau tidak lolos juga tidak. Pikiran saya teramat sederhana ,”Pokoknya saya berusaha, selebihnya biar Allah saja yang menentukan.”
            Tanggal 23 Juli 2017, ponsel saya berbunyi. Kala itu saya berjibaku (eleuh, bahasanya!)  menuruni jalan setapak menuju air terjun Telunjuk Raung bersama kawan saya, Niken. Nomer yang tertera di layar memang asing, tetapi saya terima juga karena berpikir itu penting. Lhadalah beneran! Ternyata yang menelepon adalah perwakilan dari pihak Provisi Education yang menyatakan saya lolos pelatihan Room To Read. Yang lolos siapa saja? Hm, saya emejing melihat daftarnya. Karena nama yang tertera adalah orang-orang yang saya kenal sebagai penulis andal. Jadi, saya beruntung lolos pelatihan yang dilaksanakan mulai tanggal 18-21 Agustus itu.

23 November 2017

“DEAR HUSBAND”, KUMPULAN SURAT CINTA YANG MENUNJUKKAN KETULUSAN DAN KETERIKATAN PENULIS PADA PASANGAN





 Judul buku                    :    Dear Husband
Penulis                          :    Afifah Afra, Sinta Yudisia, Laila, dkk.
Tahun terbit                  :    November 2016
ISBN                            :    978-602-6344-07-7
Ketebalan                      :    128 halaman
Cover                            :    Soft Cover
Penerbit                         :    Indiva Media Kreasi
Harga buku                   :    -

            Melihat  cover dan membaca judul buku ini  tak urung mengingatkan saya pada tahun-tahun 90-an ke belakang di mana orang-orang masih menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan lainnya. Termasuk didalamnya urusan cinta. Pada masa itu jamak bagi pasangan untuk mengungkapkan isi hatinya lewat selembar surat berisi kalimat puitis dan romantis.
            Sekarang situasi sudah berbeda. Pola komunikasi berubah masa kini telah berubah. Kecepatan komunikasi di era digital membuat acara mengirim dan menerima pesan terjadi secara instan. Anda bisa dengan mudah menerima pesan singkat yang terdiri dari beberapa kalimat, lalu membalasnya dengan cepat dengan emosi yang sama pula. Saat Anda tengah tenang mungkin tak apa-apa, tetapi emosional melanda  perbedaan penafsiran bisa jadi pangkal permasalahan.