29 November 2016

SWITCH ALPA 12, NOTEBOOK YANG MELEBIHI HARAPAN


            Banyak yang mengira pekerjaan sebagai penulis itu pekerjaan yang keren dan seksi. Padahal yang sudah menjalani justru tahu pekerjaan ini berat. Banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena tidak sanggup menerima ujiannya. Bayangkan, tidak mudah menembus majalah atau koran. Tak cukup sebulan waktu tunggu hingga akhirnya karyamu layak tayang. Bisa berbulan-bulan hingga kau lupa pernah mengirimkan karya di majalah atau koran itu. Begitupun menerbitkan buku di penerbitan. Butuh jangka waktu sedikitnya tiga bulan untuk tahu kepastian apakah karyamu layak diterbitkan. Jika lebih dari itu tak ada jawaban harus sabar. Barangkali masih menunggu antrian. Bukankah yang kirim ke satu penerbit itu bisa ribuan? Kalaupun akhirnya layak terbit, si buku masih harus melalui proses yang lama lagi. Saya pernah menunggu kurang lebih dua tahun untuk menunggu terbitnya novel berjudul Glamo Girls yang saya tulis bareng dua teman saya, Tya dan Fitri.
            Jika sebegitu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tayang di majalah, koran atau penerbitan, maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya mencari duit dari menulis ‘kan? Padahal seorang penulis harus tetap melahirkan karya. Tak boleh mandeg dan menunggu hingga karyanya muncul. Saya sendiri pernah mengalami musim paceklik parah. Dompet praktis hanya berisi sarang laba-laba, sementara ATM tak jauh beda. Ibarat hari, kondisi ATM saya adalah malam yang muram. Jadi bila menengoknya yang ada cuma hela napas panjang. Efeknya jelas, saya tak bisa pergi ke warnet untuk mencari bahan tulisan atau bahkan mengirim naskah ke majalah, penerbitan, atau lomba menulis sekalipun. Jika sudah begini penulis  dituntut kreatif dalam mencari jalan keluar agar tetap bisa berkarya. Contohnya dengan memanfaatkan wifi gratisan yang disedikan Pemkab Banyuwangi di ruang-ruang terbuka seperti yang saya lakukan. 

 
            Saya rela berangkat pagi-pagi (biasanya sehabis subuh) demi bisa menikmati wifi dengan nyaman. Sinyalnya lancar, tidak tersendat karena digunakan oleh banyak orang. Tak ubahnya alien di tengah lautan manusia, di kala yang lain datang untuk berolaharga di RTH (Ruang Terbuka Hijau) Maron itu, saya justru duduk bersila  dan berselancar di dunia maya. Tak heran banyak orang menatap aneh pada saya. Beberapa sampai bertanya apa yang saya lakukan disana.

16 November 2016

ISL (INSPIRASI SEKOLAH LITERASI BANYUWANGI) BATCH 3 : GERAKAN KECIL YANG MENGESANKAN


Relawan ISL Batch 3 dan murid SDN Tamansari 4-Licin berfoto bersama

            Beberapa tahun lalu seorang karib saya, Dee, mengajak saya untuk mengumpulkan teman dan memberi inspirasi ke sekolah-sekolah. Mereka akan menceritakan profesinya sendiri-sendiri, berharap itu bisa menjadikan anak-anak yang kami temui bercita-cita setinggi mungkin. Waktu itu saya menolak. Dengan gamblang saya mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu tak semudah membalik telapak tangan. Mengumpulkan dan meminta mereka meluangkan waktu di hari kerja bukan perkara gampang. Yang paling penting adalah perijinan. Saya jenis manusia spontan, paling malas kalau harus menghadapi birokrasi macam-macam. Padahal kalau sudah berurusan dengan pihak sekolah banyak yang harus dilakukan. Harus ke UPTD, harus ke sekolah, dan ngurus segala tetek bengek lain demi menyukseskan acara. Apalagi kami tinggal di kota yang berbeda. Dia dimana, saya dimana. Dia juga tak selalu pulang setiap pekan. Ini ngaturnya gimana? Kalau ada yang bikin acara seperti itu dan saya tinggal nyemplung tanpa repot jadi panitia ya mangga, pikir saya spontan.

Seluruh relawan inspirator, fasilitator, videografer, dan fotografer berkumpul di Rest Area Jambu


            Allah sepertinya mencatat kata-kata saya yang terakhir itu. Tanggal 28 Oktober 2016 saya membaca pengumuman pendaftaran “Inspirasi Sekolah Literasi Jilid 3” yang diunggah Rumah Literasi Banyuwangi (RLB). Semula tidak terpikir oleh saya untuk ikutan. Selain merasa tidak memiliki keahlian yang diperlukan (inspirator, fasilitator, videografer, dan fotografer), saya juga tengah mengejar tenggat waktu lomba menulis. Tetapi, sebagai bentuk dukungan saya share pengumuman itu sehari  kemudian.  Tanggal 1 November, tak tahu kenapa saya tergerak untuk untuk mendaftar sebagai relawan profesi (inspirator), meski dalam hati saya merasa “kok gaya betul” saya melamar posisi ini. Saya memang penulis, tapi kelas teri. Apa yang saya bisa bagikan untuk menginspirasi? Tapi, sepertinya memang sudah begitu jalannya, penulis kelas teri ini akhirnya ikut jadi inspirator pada ISL (Inspirasi Rumah Literasi Banyuwangi) Batch 3.

09 November 2016

BATAL GANTUNG PENA BERKAT WIFI.ID





“Jadi penulis tak boleh gampang nangis. Harus tahan bantingan,
sebab banyak sekali kesulitan menjelang. Tak cuma soal naskah yang tak ada kabar, tapi juga ketahananmu menghadapi krisis finansial.”

            Saya mengetahui hal-hal itu sejak saya terjun di dunia literasi tahun 2009. Tapi, saya baru paham setelah benar-benar menggantungkan diri pada pekerjaan satu ini sejak 2012. Saya memang tergolong nekat, berbekal pengalaman menulis yang minim saya berani terjun menjadi penulis. Maka ibarat orang lari yang tak melakukan pemanasan cukup ketahanan saya pun menurun. Meski lintasan yang dicapai belum mencapai seperempatnya, saya megap-megap karena kesulitan bernapas. Walau begitu saya tetap bertahan. Saya sudah memulai perjalanan, jika saya berhenti maka sia-sia saja langkah yang sudah saya lakukan.
            Tetapi, ketika dompet hanya berisi lima ribu rupiah saya menyerah. Sepertinya saya harus berhenti saja. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk pergi ke warnet satu kali. Lalu selebihnya bagaimana? Padahal saya butuh internet untuk melakoni pekerjaan saya sebagai penulis. Butuh browsing ini-itu, mengumpulkan artikel yang saya perlukan untuk si calon tulisan, juga mengirim naskah tulisan saya via e-mail ke penerbit, majalah, atau lomba-lomba penulisan. Tanpa internet yang jadi sahabat saya (dan tentu saja para penulis lain di era digital), saya mati gaya. Sepertinya saya harus gantung pena (berhenti menulis).
            Namun, Allah sungguh baik. Keputusan untuk gantung pena itu batal saya lakukan ketika adik saya menceritakan soal wifi.id di RTH Maron di awal tahun 2014.
            “Kecepatannya boleh, juga. Aku barusan dari sana,” kata Wawan.
            Ah, tapi biasanya kan tidak gratis, pikir saya. Setidaknya butuh Rp 5000, 00 agar bisa akses wifi-nya. Padahal isi dompet saya tinggal segitu. Ah, sedihnya...
            Seperti tahu pikiran saya, Wawan, berkata ,”Yang di RTH Maron wifi-nya versi gratisan alias free. Kalau lainnya kayak flashzone-seamless, flash zone, @wifi.id, sama flexi zone baru bayar. Cuma kalau pake yang free ini tiap 20 menit harus log in ulang. Tapi, itu nggak masalah lah...”
            Waah, ini jalan keluar bagi saya!