13 Februari 2017

KADALUWARSA


            Sudah jamak bagi saya menerima pertanyaan “Kapan nyusul, “Kapan nikah?”, “Mana calonnya?” karena orang melihat kesendirian saya. Saya jarang mempermasalahkan atau memasukkan ke hati, apalagi sampai mendendam pada si penanya. Tapi, bukan berarti saya tak pernah marah. Pernah. Ketika itu kesendirian saya  dijadikan bahan olokan oleh seorang rekan kerja. Ia mengatakan saya kadaluwarsa, tak ubahnya susu basi yang teronggok di pojok gudang tempat saya bekerja (sekarang sudah ex). Nadanya yang sinis sangat menyakiti perasaan.
            Jika menuruti emosi maka saya akan melempar printer LQ 2170 didepan saya sekaligus mejanya. Sudah terbayang di mata saya betapa menyenangkannya melihat orang itu tersungkur sambil mengaduh-aduh kesakitan. Itu akan sangat memuaskan bukan? Tetapi kebalikan dari hati, saya  justru tidak melakukan apapun. Saya biarkan orang itu dan kata-katanya berlalu, tak mengijinkan kata-kata buruknya menyentuh hati saya. Seujung pun.
            Sederhana. Karena saya  tidak kadaluwarsa. 
            Kadaluwarsa bagi saya  adalah bagaimana manusia menjalani hidupnya. Manusia kadaluwarsa itu tidak update pada sekitarnya. Cenderung bersikap negatif menghadapi dunia. Lebih suka nyinyir saat yang lain mendapatkan kebahagiaannya tanpa bertanya pada diri sendiri sekeras apa usahanya di dunia. 
            Manusia kadaluwasa cenderung tidak suka belajar. Menganganggap dirinya paling pintar, paling berpengalaman, paling mengerti padahal dalam kenyataan nol besar. 

08 Februari 2017

MINIM SPONSOR DAN DANA, PAGELARAN MAKARYA BERHASIL DIHELAT DENGAN GOTONG ROYONG SEMATA



 
source : Karo Adventure

            Gotong royong merupakan budaya bangsa yang sarat akan nilai luhur. Diwariskan secara turun temurun, budaya satu ini berakar kuat di pedesaan dan menjadi kepribadian bangsa. Banyak manfaat dari aktivitas ini, salah satunya menjalin kebersamaan dan mengeratkan hubungan emosional antar warga yang pada akhirnya berujung pada persatuan. 
            Sayangnya, aktivitas positif ini mulai tergerus jaman. Seiring perkembangan yang  terjadi belakangan, gotong royong lambat laun mengalami pergeseran. Gotong royong tak lagi kental akibat pengaruh modernisasi pada bidang ekonomi, sosial, budaya, dan gaya hidup masyarakat kita. Sebuah konsekuensi yang mau tak mau harus ditanggung karena masyarakat yang semula bersifat tradisonal menjadi lebih modern seperti sekarang. Gotong royong di masa kini lebih bersifat formal dengan pemberian upah berupa uang. Berbeda dengan gotong royong di masa lampau, di mana segenap masyarakat bahu-membahu secara sukarela tanpa mengharap imbalan,
            Akan tetapi, baru-baru ini masyarakat Songgon mematahkan anggapan tersebut. Lewat pagelaran seni budaya bertajuk Makarya (Masyarakat Kaki Raung Berkarya) warga Songgon berhasil menunjukkan budaya gotong royong masih eksis dan belum pudar di masa sekarang. Sudarmono selaku ketua panitia mengakui bahwa pagelaran ini memang minim sponsor dan pendanaan. Persiapan yang mepet, terhitung satu bulan sejak ide dilontarkan, jelas menyulitkan segenap panitia untuk mencari banyak dukungan dari pihak luar. Namun, hal ini tak menjadi halangan untuk menggelar acara sedemikian besar. Mengandalkan partisipasi warga dari sembilan desa di kecamatan Songgon yang meliputi Balak, Bayu, Bedewang, Parangharjo, Songgon, Bangunsari, Sragi, Sumber arum, dan Sumberbulu—pagelaran tersebut terselenggara.
            Disinggung mengenai tujuan Makarya, Sudarmono mengungkapkan bahwa  pagelaran ini diharapkan mampu menumbuhkembangkan potensi masyarakat baik ekonomi, sosial, dan budaya sehingga menjadi desa yang mandiri, kreatif, dan produktif serta mampu “Go Global”. Lebih lanjut, Sudarmono menceritakan bahwa semula acara yang digagas dan diprakarsai para pemuda desa Songgon ini tidak dimaksudkan sebagai pagelaran besar. Hanya event sederhana yang diselenggarakan sebagai uji coba sekaligus persiapan festival yang lebih besar di waktu-waktu mendatang.

07 Februari 2017

Memahami Kenapa Dia Memilih Bertahan dan Bukannya Bercerai



Sebagai tukang dicurhatin, saya terbiasa mendengar beragam topik pembicaraan. Mulai dari anak pilek, sengkring-sengkring usai sectio caesarea, sampai masalah rumah tangga yang bikin mulas pendengarnya. Widiiih, untuk ukuran nona-nona yang tidak pengalaman soal rumah tangga (tangga rumah sih paham ya) itu perkara yang berat juga. Gara-gara itu pula banyak orang “nuduh” saya belum menikah itu karena jiper dengar banyak orang curhat masalah rumah tangga. Lha gimana, wong masalah rumah tangga itu biasanya pelik bin ruwet jaya.
Tapi, swear deh kakak, saya belum menikah hanya karena belum saja. Ya, seperti rejeki dan mati begitu pun jodoh. Meski saya sudah menjolok langit dengan doa, alhamdulillah masih diberi kesendirian hingga sekarang (ihiiir...).

Eits, back to topic...Soal curhat rumah tangga. Saya pernah dapat curhatan teman yang mengalami KDRT. Semua orang bilang dia goblok karena tak mau meninggalkan suaminya. Masa, pria macam itu kok dipelihara. Yang ada cuma bikin sakit dada dan sakit jiwa. Saya tak sampai meng-goblok-goblokannya tapi tetap saja saya merasa sesak napas.  Sama seperti lainnya saya heran kenapa dia nggak cerai aja. Itu lebih aman buat dia dan anak-anaknya. Maklum terlampau sering melihat ibu dihajar ayahnya bukanlah contoh yang baik buat anak-anak itu. Secara psikologis, hal itu bisa mengganggu kejiwaan mereka. Luka batin yang dibiarkan tak tertangani bisa berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak.

Tapi belakangan saya bisa memahaminya. Memahami kenapa dia memilih bertahan dan bukannya meninggalkan arena. 

Pertama, menjadi janda itu tidak gampang. Ini memang benar. Tak jarang janda jadi bulan-bulanan  orang. Diomongin kesana-kemari, bahkan meski perilakunya benar. Serba salah pokoknya jadi janda itu. Tersenyum salah, nggak tersenyum ya salah. Ramah salah, jutek ya salah. Memang tidak dipungkiri ada janda yang yah begitulah perilakunya. Tetapi, nggebyah uyah pada asine (menganggap semua garam sama asinnya) jelas salah. Dan itu yang dikhawatirkan teman saya. Dia merasa gamang memandang masa depannya sebagai janda.