Tuesday, July 14, 2009,6:56 PM
PEJALAN JAUH PART 6
Photobucket




Selalu saja ia datang dan berkata ,” Mari bertaruh untuk memiliki Sang Pejalan Jauh.”

Dan selalu pula aku tak acuh. Membiarkannya berkelebatan bagai hantu di terik siang, tidak menakutkan hanya jeritnya memekakkan. Ah, menyebalkan. Apa yang kau mau kawan?

“ Mari bertaruh untuk memiliki Pejalan Jauh!”

Untuk apa? Biarkah aku mencinta dengan cara yang berbeda. Membiarkannya berliku dijalannya, tak hendak membelokkannya kearahku kecuali Allah menghendakinya.

“ Kau terlampau lemah, hai wanita!”

Terserah katamu, Kawan. Bagiku bertaruh bukan suatu kepentingan. Apalah artinya pertaruhan jika empat puluh hari saja ia bisa kau luluhkan, selebihnya itu cinta buyar menjadi kepingan. Tak bisa disatukan karena rasa memang tak bisa dipaksakan.

“ Kau penakut! Haha, kau tak berani bukan menerima kenyataan jika ia sang pujaan lebih memilihku ketimbang dirimu yang tak berani menyatakan perasaan.”

“ Bisa jadi kau benar. Jika cinta kau jadikan pertaruhan, apa yang tersisa di akhir kisah. Kesakitankah karena terlalu banyak pengorbanan tersiakan? Melantak di padang kesengsaraan tanpa seorang bisa mengulurkan tangan ketika kasih sudah disalut kepalsuan. Sekedar nafsu untuk bisa memekakkan kebanggaan-Pejalan Jauh sudah kutaklukkan! Kujerat ia dengan tubuh ranumku yang matang! Bibirku yang merah menantang pun elus lembut rayuku yang mengesankan!”

Jika mau jujur pernah suatu ketika aku hampir mengiyakan tantanganmu. Ingin tahu siapa yang akan jadi pemenang, tak peduli seberapa kotor caraku melakukan. Ingin kuacungkan di depan hidungmu yang bangir itu bila aku juga merampas hatinya yang kembara. Bahwa akulah yang juara!

Namun seleret kalimat bijak menyadarkan emosiku yang meninggi. “ Kemarahan adalah api yang menghanguskan, biarkan ia memadam dengan siraman air kebijakan,” bisik seseorang penuh kelembutan.

Kutoleh dan tak kulihat siapapun disana. Lalu seolah diseret memasuki cahaya aku menemukannya. Satu kisah mengharuskan tentang cinta. Cinta yang diuji untuk menemukan maknanya. Ketika tubuh sang kekasih telah kehilangan daya. Meringkuk bergelut dengan penyakit yang menggerogotinya.

Pria itu mengulurkan tangannya. Ia memandangku dengan tatapan bijak yang tak bisa kulukiskan. Mari sini, seolah itulah yang ia katakan lewat senyuman. Seorang perempuan manis duduk disebelahnya, tak bosan-bosannya mengurus keperluan suaminya. Meski kelelahan nampak jelas dimatanya. Andai saja ada kamera yang mampu menangkap aura kemesraan dan kehangatan yang terpancar di wajah keduanya, maulah aku membelinya. Dan kutunjukkan padamu betapa mengagumkan mereka yang tak putus asa meski acap dihampiri kabut coba.

Sang perempuan bercerita dengan tawa yang menyegarkan, bahwa sang suami pria yang hebat. Guru yang mengajarinya tegar bahkan ketika ia sendiri tengah kesakitan. Yang mengajarinya untuk bersyukur meskipun rasa sakit tak henti mendera, membuatnya terpasung diatas ranjang belaka, tetapi tidak jiwa dan pikirannya yang terus mengembara.

Satu hati bertanya ,” Andai saja aku adalah ia, mampukah aku terus mendampingi pujaan jiwa ketika ia kehilangan segalanya? Ketampanan, kemudaan, kekayaan, yang dulu dipuja banyak wanita? Masihkah kau mampu tegar melewati hari tanpa mengeluh dan justru mengucap syukur karena Allah telah memberikan ujian yang mengaduk-aduk batas sabarmu?”

Belum lagi pertanyaan terjawab. Tiba-tiba satu pintu lain terbuka. Menampakkan seorang pria yang tengah menyeka nanah yang keluar dari infeksi di kepala sang istri. Dengan telaten dan hati-hati ia membersihkannya tanpa banyak kata. Sejenak nanah tak lagi keluar. Tapi sepuluh menit kemudian, bahkan kurang, si nanah mengalir lagi dari luka di sisi kiri kepala sang istri. Sang suami mengelap nanah itu kembali dengan kapas ditangannya. Sama sekali tidak jijik ketika kapas ditangannya dipenuhi cairan kekuningan yang dipenuhi kuman.

Iigh! Bisa jadi itulah yang orang lain katakan melihat keadaan si istri. Membuang muka, dan berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perut yang naik karenanya.

Aku terdiam. Meresapi dalam-dalam perwujudan cinta yang tersaji di depan mata. Subhanallah! Inilah cinta yang kuinginan, batinku ketika satu tawa membuyarkan angan. Kulihat sang pejalan jauh tengah bergandengan tangan, bukan dengan ia yang menantangku taruhan tapi dengan sosok lain yang tak kukenal. Menyedihkan, menggoreskan getir tapi bisa kutahan. Sang Penantang balik kanan tak kuat menyaksikan kenyataan.

CINTA, CINTA, CINTA…

Kubiarkan ia melarut dalam helai hujan, dan berbalik pada sang Akbar

Sepoi angin mengibaskan dedaunan, pelan-pelan ia bergoyang. Mengalun, mengikuti irama senja yang kian temaram. Pelan aku berjalan meninggalkan ia yang bersikukuh hendak bertaruh mencari cinta sang pejalan jauh, ditingkahi satu simfoni dan bait-bait puisi karya Indra Tjahyadi,

PENANTIAN

Kupilih kata-kata yang terbit

Dalam musim-musim duka

Untuk kupasung mesra

Diantara gaun-gaun indah

Sang waktu yang dungu

Lalu, aku pun semakin menunggu

Sekejap lain untuk datang padaku

Dan menyapa ,” masih ada cinta untukmu…”

Masih ada cinta untukku, batinku sendu. Ya, masih ada cinta untukmu, kali ini suara bijak dan dalam memasuki gendang telingaku. Tak kasat mata tapi bisa kurasakan betapa kebesarannya. Aku tahu siapa dia. Ia yang menungguku dan tak bosan mencintaiku. Sang Maha yang tak henti memberiku ruang meski seringkali aku enggan pulang. Sibuk menghujatnya dan lupa pada tiap jengkal kenikmatan yang ia sodorkan ketika aku terpuruk dalam kubangan kecewa. Bahkan Menolak untuk datang, tiap kali panggilannya datang. Dan justru asyik berenang dalam kolam kebahagian fana. Mengentengkan 114 emailnya yang datang, menganggapnya tak terlampau penting dengan penuh kesombongan.


Pic taken from terpsichore.stsci.edu/.../spz/spz.html

A story, done May 28, 2009; 06.00

Inspired by Babe dan Bunda tercinta, Na, Mbak Tami dan Mas Pepeng ( The Thoughest Man On Earth)

Thanks to Murattal Syeikh Musya’ari Rasyid (Surah Ar-Rahman 1-78)

 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 0 comments
Sunday, June 14, 2009,9:26 PM
SMS NYASAR

Heran saya, akhir-akhir ini kok ada saja yang nyasar?

Siapa sampeyan? Saya ndak kenal. Tanpa nama, tanpa identitas, apa sampeyan hoax? Sok kenal sok dekat, saya kok merasa justru gak pengen akrab? Siapa sampeyan? Saya tidak suka main tebak-tebakan. Dari cara sampeyan menyapa, saya tahu sampeyan pasti tahu saya (entah dari kawan atau dari siapa). Atau justru sampeyan sebenarnya orang-orang dekat (yang sengaja ngerjain) saya?

Saya senang punya banyak teman, tapi enggan bermanis ria dengan orang tak dikenal. Setahu saya itu membahayakan (saya punya pengalaman buruk soal ini kawan!). Jika banyak orang senang-senang saja dengan sms nyasar (atau malah sengaja nyasar), saya kok justru sebaliknya.

Ketika saya cerita pada Na, sahabat saya, justru ia cengengesan dan berkata ,” Ladeni saja…Apa susahnya?”

Susah bagi saya. Karena saya tidak suka bermanis muka jika tak nyaman di hati saya.

“ Kan seru tuh?”

Apanya? Buang-buang waktu saja. Nggak penting juga. Apalagi malam-malam saat saya asyik bercerita dengan Kerlip Bintang di Langit Kelam. Itu waktu pribadi saya. Bersamanya saya bisa lupa banyak hal, karena ia bisa memaku saya untuk mengalirkan banyak kisah lewat hentakan jemari diatas si hitam (laptop sekaligus bantal kalo udah kecapekan).

Maaf jika saya kasar, saya hanya berusaha jujur sampeyan. Kalau tidak berkenan dengan berbagai kalimat yang saya serukan, jangan dendam.

Terima kasih atas tawaran menjadi tempat curhat atau sekedar tempat meluapkan amarah, hiks saya kok merasa lebih aman dan nyaman bercerita pada si hitam.

Barokallah buat sampeyan.

* gara-gara sms nyasar yang sempat bikin saya bertanduk dan bertaring panjang (hehehe)

Ciaaaattttt!

picture taken from
: www.electronics.howstuffworks.com/question230.htm

 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 4 comments
Monday, June 08, 2009,12:14 AM
KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 5
Photobucket

Tumben kau lama duduk di situ. Seingatku kau jarang berlama-lama jika bertandang di tempatku. Selalu ada acara yang lebih penting ketimbang denganku. Maka tak heran jika kau buru-buru berlalu setelah berbicara dan mengutarakan maksudmu.
Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku, sampai kau rela bersimpuh menungguku? Mari masuk kemari. Jangan ragu, aku selalu ada waktu untukmu meski jadwalku penuh dan banyak masalah yang harus kubereskan dalam tugasku sebagai CEO nomer satu.
“ Apa nikmat itu?” tanyamu.
Lho jadi kau tak tahu apa nikmat itu pejalan jauh? Bukankah sepanjang jalan hidupmu telah kau rasakan itu? Tapi baiklah jika kau tak tahu aku tak segan memberitahumu.
Ruangan meredup, di hadapan terpampang gambar seorang pria tengah makan. Ia terperangah, berbalik kearahku dan bertanya ,” Lho itu aku. Bagaimana Kau tahu?”
Aku tertawa geli melihat keheranan Pejalan Jauh. Aku ini CEO nomer satu, tak ada yang tak mungkin bagiku. Jika seluruh semesta tunduk padaku, hanya mengetahui peristiwa sekecil ini apa susahku?
“ Sebentar, aku heran bagaimana gambarku ini bisa kau putar dengan menjentikkan jari seperti yang Kau lakukan bahkan tanpa layar?” ia meraba si gambar yang nongol tanpa layar. Ia terheran-heran, penuh kekaguman.
“ Bagaimana bisa? Canggih betul ya? Bahkan tidak perlu pake remot seperti kebanyakan,” ia mengernyit mendekati gambar yang berputar. “ Wuuh hebat!”
Lho ya jelas hebat! Akuu…gimana sih kamu? Apa kamu tahu, teknologi paling canggih yang kalian kenal masa kini tak ada seperempatnya dibanding teknologiku. Bahkan pengetahuan yang kata kalian nomer satu tak ada apa-apanya bagiku. Bagaikan setitik air di lautan, begitu kalian mengibaratkan. Ah, sudah. Berhenti dulu mengagumi teknologi canggih punyaku, mari kembali kepada tujuan semula. Menjawab tanyamu nikmat itu apa.
Cerita kembali berputar, mengetengahkan kisah sang pejalan jauh, sang tokoh utama.
“ Kenapa Kau pertontonkan aku soal makanan? Aku kan bertanya tentang kenikmatan.”
“ Kisah ini masih panjang, Kawan. Teruslah melihat dan kau akan dapat jawaban.”
Ia diam, kembali menikmati kisah yang tengah berjalan. Di akhir cerita, aku bertanya ,” Apa yang kau dapat darinya?”
Ia tersipu-sipu dan berkata ,” Aku jadi malu tak pernah mengakui bahwa dalam hidupku dipenuhi kenikmatan. Makanan yang kumakan takkan enak kurasakan ketika aku tak enak badan. Benar-benar aku ini kurang ajar, sudah diberi kesehatan tapi jarang berterima kasih dan justru menggerutu.”
Aku tertawa. Dengan bercanda kujentikkan jari dan kuperlihatkan saat ia merepet panjang pendek, mengumpati-Ku suatu waktu.
“ Kau ingat itu?”
“ Iya.”
“ Kenapa tuh?”
“ Aku ketinggalan pesawat waktu itu, kehilangan pula klien kelas satu. Ponsel hilang entah dimana, dan kecurian uang juga. Ah! Benar-benar hari yang menyebalkan.”
“ Apa kamu tahu apa maksudku?”
Ia menggeleng.
Gambar kembali berputar. Nampak sebuah pesawat meledak, membuat 120-an orang kehilangan nyawa dalam sekejap.
“ Jadi itu maksudnya? Andai saja peristiwa kecurian uang dan ponsel itu tak ada, aku pasti langsung berangkat dengan pesawat pertama dan bisa jadi aku jadi korbannya kan?”
“ Kau ingat ini?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“ Iya. Aku lagi kesal sama bosku yang sialan. Ups, iya dilarang ngomong kotor ya? Tapi benar loh, aku jengkel padanya sampai aku mengumpati-Mu segala.”
“ Apa kau ingat ini juga?”
“ Iya. Aku bilang aku ingin kaya. Enak banget kelihatannya. Ndak susah…”
“ Dan ternyata?”
“ Ealah…ndak juga. Tak pikir setelah punya segalanya di usiaku yang masih tiga puluhan sekian (boleh dong berahasia?) aku bisa ongkang-ongkang setelahnya. Ternyata ndak juga. Malah keseret pekerjaan, nggak pernah punya waktu luang.”
“ Bahkan lupa padaku juga, kan? Paling kalau ingatpun kalau kamu sedang butuh teman curhat, abis cerita panjang lebar lalu minggat.”
“ Iya, ya. Benar-benar aku ini mahkluk bejat!”
“ Wooh, kamu yang ngomong sendiri lo. Aku ndak ikutan.”
Ia tertawa, ada malu nampak di matanya.
“ Bahkan baca email-emailku saja kamu jarang. Palingan juga pas Ramadhan, itupun buyar kalo kesibukan menggodamu.”
“ He-eh. Aku memang jarang baca email-email-Mu. Saking lamanya tak menyentuhnya, sampai aku blekak-blekuk membacanya.”
“ Gimana nggak blekak-blekuk wong kamu ndak membiasakan membaca. Bacalah, disana ada banyak pelajaran yang bisa kau timba. Tentu saja kalau kau mau bertanya-tanya juga pada ahlinya. Anggap seperti main gitar saja, semakin kau sering memainkannya, tak berhenti belajar, kau semakin hebat kan?”
“ Iya. Tapi ngomong-ngomong soal gitar, aku sekarang juga jarang nyentuh dia. Kesibukan membuatku harus berkelana sementara ia di rumah, anteng dalam kandangnya.”
“ Hahaha, ingat kata pepatah jawa lamun ana bandha sira tentu ngreksa, lamun tambah akeh tambah ngrekasa artinya kalau ada harta tentu kamu mencarinya, tetapi semakin banyak kamu tambah sengsara. Gimana enggak kalau kamu jadi kepikiran, uh gimana nyimpan harga segitu banyaknya, disimpan di rumah takut kemalingan , disimpan di bank takut bank-nya kolaps. Dan masih banyak gimana lagi yang bikin pusing kepala, bukannya malah lega setelah kamu punya banyak harta segunung tingginya.”
“ Hehehe, tahu saja…”
Lho wong aku. CEO nomer satu. Ya jelas tau hal-hal semacam itu.
“ Lah terus gimana dengan Cah Ayu itu? Bukankah waktu kamu putus dengannya mulutmu maju persis kayak orang baru ngemut gardu? Masih juga marah-marah karena itu?”
“ Hiyaaa! Engkau membuatku malu saja, ah. Sudah tidak.”
“ Ck, gitu dulu uring-uringan melulu sampai-sampai malas menemui-Ku. Menganggap-Ku jahat dan tak adil karena menghalangimu. Ada sesuatu di balik itu, Kawanku. Hanya saja Aku ingin kau mengetahui jawabannya sendiri.”
“ Iya. Maaf aku suka negative thinking pada-Mu.”
“ Oke.”
“ Aku pamitan dulu.”
Hati-hati, Sob. Semoga Nur-Ku tersampai pada-Mu. Melingkupimu, menyentuh hatimu, menjadikan kau seseorang yang mulia. Berilmu, berharta tapi tak pernah lupa bersyukur pada Penciptanya. Lembut dalam bersikap dan bertutur kata, tidak kardi (karepe dibi’) alias sak enak udele dhewe seperti dulu kala.
Sampai di pintu ia berhenti. Tersipu-sipu, tapi tertawa juga saat melihatku.
“ Kenapa?”
“ Aku malu dengar murattal itu. Fabi-ayyi aalaaa-i robbikuma tukadzdzibaan…Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”
Aku tersenyum. Semoga Ar-Rahman memberimu keberkahan. Selalu teringat berapa banyak nikmat yang telah Ku berikan, Kawan. Menjadikanmu bijak dalam bahagia atau kesengsaraan.

A story, done May 23, 2009; 04:23
Thanks to Murattal Syeikh Musya’ari Rasyid (Ar-Rahman ayat 1-78)
 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 0 comments