19 Juni 2017

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!





Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun.

Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng-up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lembaga. Apalagi kalau sudah berputra, wah...malah nggak nyaman karena harus meninggalkan mereka.
Nah, beruntunglah waktu itu di halaman facebook saya seliweran soal kursus bahasa Inggris di I Can Course. Saya tertarik karena kursus dilakukan online, jadi tidak memerlukan tempat khusus. Cukup dilakukan di WA dan proses belajar pun dilakukan. Nah, proses belajar itu akan berlangsung selama 2 bulan, sebanyak delapan kali pertemuan, dari jam 19.30-21.00. 

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA




Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak. 

Lalu bahagia itu apa?

Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah menyita waktunya. Praktis hidupnya adalah kantor dan rumahnya. Lainnya? Bukan tidak ingin, hanya waktunya yang tidak bisa.

15 Juni 2017

STRATEGI MEMAJUKAN KOPERASI DI ERA DIGITAL



 
Unit Usaha Toko Koperasi Karyawan Indocement
            Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh The World Co-operative Monitor 2016, ranking dan kapital indeks koperasi dunia masih di dominasi oleh negara-negara barat utamanya utamanya Amerika dan Eropa. Tercatat hanya empat negara dari Asia yang berhasil masuk ke dalamnya yaitu Jepang, Korea, Singapura, dan India. Dari keempatnya hanya Korea dan Jepang yang bisa menduduki posisi sepuluh besar. Korea di urutan keempat, sedangkan Jepang menurun peringkatnya, dari posisi utama menjadi urutan kesepuluh. Sementara Perancis berhasil mendudukkan tiga koperasinya di posisi 1, 7, dan 8, German  berada di posisi ke-3 dan 9, disusul oleh Amerika menduduki posisi ke-5 dan 6. Indonesia sendiri diwakili oleh Koperasi Warga Semen Gresik, KOSPIN JASA, Koperasi Karyawan Indocement, Kopkar PT. Pindodeli, dan Penabulu Jaya Bersama hanya masuk dalam daftar koperasi yang dimonitor oleh lembaga tersebut.
            Hal ini seolah menunjukkan bahwa mewujudkan impian Bung Hatta menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia masih jauh dari harapan. Selain kontribusi terhadap PDB (Produk domestik Bruto) kecil, koperasi juga belum mampu menunjukkan tajinya kala krisis ekonomi melanda tahun 1997-1998. Saat itu justru UMKM yang mengambil peran sebagai penyelamat. Sektor ini terbukti mampu bertahan dan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak ketimbang sektor lainnya. 

 
Pellervo Society, Biro Komunikasi Koperasi Finlandia
            Fakta ini berbanding terbalik dengan kondisi di Eropa dimana koperasi justru menjadi solusi saat krisis ekonomi melanda. Di Swedia, model bisnis jenis ini justru unggul dibandingkan sektor lain. Keberadaan pelanggan yang sekaligus menjadi anggota koperasi memberikan manfaat tersendiri. Keuntungan yang ada tidak diberikan kepada pemegang saham, akan tetapi berputar di perusahaan tersebut dan memberikan manfaat bagi semua orang disaat yang sama. Finlandia, yang dikenal sebagai negara koperasi dunia karena 84% rakyatnya menjadi anggota koperasi, sudah membuktikan sejak seabad silam bahwa koperasi mampu menjadi penopang bagi penguatan ekonomi di negaranya meski tanpa dukungan dan campur tangan pemerintah. Bahkan menjadi penyelamat saat terjadi keterpurukan ekonomi sebagai imbas runtuhnya Uni Soviet di tahun 90-an. 

09 Juni 2017

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA





Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.

Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).