05 Februari 2010,3:04 PM
PEJALAN JAUH PART 9
Lama tak mendengar kabarmu, Pejalan Jauh. Ternyata aku sudah ketinggalan banyak berita seberapa jauh engkau telah tumbuh. Kudengar jejak langkahmu kian mantap. Goresan-goresannya prestasi yang kau bangun berkembang, menyeruak diantara segenap banyak orang yang berkemauan. Kau memang hebat, Pejalan Jauh. Kau selalu tak mudah menyerah, maju terus pantang mundur demi sepotong cita-cita yang kau gantungkan setinggi bintang.
Tetapi menyaksikanmu bersimpuh di hadapan Tuhan, jauh lebih mengesankan ketimbang berita kesuksesanmu yang sering terdengar. Kau tampak menyatu dan jauh dari kesan sulit dijangkau saat berhadapan dengan Sang Pencipta Alam. Seluruh kesah kau haturkan dalam nada lirih penuh perasaan.
Kau sama sekali tak tampak garang, tapi justru kesan lembutlah yang tersembul jika demikian. Betapa berbedanya engkau kini, Pejalan Jauh. Tak sama lagi seperti lelaki kecil yang kutemui beberapa tahun lalu.
Ingatkah kamu ketika syair-syair patah hati merasukimu. Kau jadi sedemikian sentimentilnya, membuatku tertawa saat melihatnya. Ajaib betul melihatmu selemah itu, kukira kau setegar batu karang. Takkan terhanyut perasaan saat dihempas gelombang kekecewaan.
Dari denting gitar yang kau petik dalam sunyi, aku menangkap sejumput kesan kesedihan namun tak ingin kau tampakkan.
Dan melihatmu sekarang, maka hanya ucapan selamat dari seorang sahabat yang bisa kuhaturkan, serta sepotong doa kecil dari kejauhan. Tak usah pake traktiran, toh aku takkan bisa makan semeja denganmu. Kamu ingat kan siapa aku? Ya, ya, kau benar sobat. Aku adalah seekor pipit kecil yang dulu suka nangkring di pohon dekat kamarmu lalu mencicit membangunkanmu.



Done, 080509; 03:37


 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 3 comments
25 Januari 2010,1:57 PM
TIGA HARI MENJELANG RAMADHAN


Kepada Yth. Ibu Negara,

Assalamu’alaikum, Ibu. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu. Entah kenapa malam ini saya ingin bercerita tentang semua keresahan saya kepada Ibu tercinta.

Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa tidur nyenyak, Bu. Diganggu kegelisahan tiap kali menatap penanggalan. Ya, tiga hari lagi ramadhan tiba dan saya tak punya uang. Jangankan untuk belanja selamatan menjelang ramadhan, Bu, untuk makan sehari-hari saja saya kebingungan. Mau hutang ke warung Yu Kismi saya tak berani, sebab masih ada hutang lalu yang belum saya lunasi. Bahkan si kecil demam pun saya tak bisa membelikannya obat. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa sambil mengompresnya dengan air dingin.

“ Pergilah ke Puskesmas, Yu. Gunakan Jamkesmas,” saran Bu Rus, pengurus Posyandu RT kami.

Tapi bagaimana caranya? Saya kan tidak punya. Entah kenapa kok justru orang-orang yang lumayan berada seperti Mbak Sri yang justru bisa menggunakannya. Bukankah program jaminan kesehatan masyarakat ini seharusnya hanya untuk orang-orang miskin seperti saya, Bu?

Belum selesai perkara ini eh si Ardi, anak saya yang duduk di kelas dua STM, berkata kalau ia masih menunggak pembayaran buku-buku sekolah. Aduuh, uang dari mana? Sedangkan Bapaknya sudah tidak melaut lagi selama tiga hari ini, pekerjaan sambilannya sebagai buruh bangunan juga sedang sepi. Ah, Bu, katanya sekolah gratis ada dimana-mana tapi kok masih terasa berat ya di pundak saya?

“ Sekolahnya gratis, lain-lainnya ya ndak! Buku, seragam dan lain sebagainya kan harus biaya sendiri, “ sahut seorang tetangga ketika saya berkeluh kesah tentang itu pada mereka.

“ Karena itu kusuruh Arti berhenti sekolah saja, biar bisa bantu-bantu orang tua. Sekolah tinggi juga nggak jaminan, nyatanya itu si Dirun bisa jadi juragan kapal tanpa sekolah,” sahut yang lainnya.

Deg! Saya miris mendengar ini. Saya dan suami tak ingin pendidikan anak-anak berhenti disini. Kami punya cita-cita tinggi agar anak-anak bisa melebihi kami yang tak tamat SD ini.

Kemoncolen! Kere wae macem-macem (Sok! Miskin saja macam-macam.red)!” komentar seorang tetangga mendengar tekad kami.

Kemoncolen? Bukan, Bu. Bukan begitu. Kami hanya berpikir dengan bekal ilmu dari sekolah nasib mereka bisa berubah. Tidak mewarisi pekerjaan ayahnya sebagai sebagai nelayan yang sekarang sulit dijadikan topangan. Siapa tahu kelak dia jadi Presiden seperti suami Ibu, lalu meluncurkan cara-cara jitu bagaimana cara mengangkat kehidupan nelayan kearah lebih baik sekaligus meretas masalah hilangnya ikan-ikan dari lautan. Kata suami saya hilangnya ikan-ikan itu akibat ulah kapal pukat, Bu. Tanpa ampun mereka tandaskan semua ikan tanpa peduli ukurannya bahkan terumbu karang pun jadi ikut rusak akibat tersangkut jaring mereka. Yang lebih gawat ulah kapal pengebom ikan, sudah merusak terumbu karang tempat kami mencari ikan mereka juga seenaknya saja meninggalkan ikan yang tak masuk dalam buruan terapung-apung mati di lautan. Inilah yang kemudian jadi pikiran suami saya. Seringkali ia termangu di beranda rumah reot kami, sembari menatap langit-langit malam, memikirkan bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari jika kondisi seperti ini terus terjadi.

Saya sendiri ikut merasa cemas juga, Bu. Bertanya-tanya dalam hati apakah masa depan kami akan sesuram cahaya lampu minyak penerang rumah kami.

Sabar, Nduk. Gusti Pangeran luwih ngerti apa sing apik kanggomu lan keluargamu (Sabar, Nduk. Gusti Pangeran lebih tahu apa yang terbaik bagimu.red),” ucap Ibu mertua saya sembari membenahi jala, seolah tahu kegelisahan yang saya sembunyikan.

Saya mengangguk dalam, sementara pikiran saya melayang-layang.

“ Assalamu’alaikum,” suara salam itu membuyarkan lamunan. Saya segera bangkit menuju depan. Saya lihat seraut wajah kuyu milik Ardi ketika pintu rumah terkuak lebar.

“ Kok pulang sore lagi, Di? Sudah seminggu ini kau pulang sore terus, apa ada kegiatan di sekolah?”

Ardi menggeleng. “ Ah tidak , Bu.”

“ Lha terus kamu kemana?”

Ardi meringis .” Sudah seminggu ini ikut sekolah diperbaiki. Saya nguli disitu, Bu, supaya bisa melunasi tunggakan buku dan membelikan Tri obat. Maaf, saya memang ndak bilang dulu sama, Ibu,” jawabnya polos.

“ Apa kamu tidak malu, Le, dilihat teman-temanmu?”

“ Ah, tidak, Bu. Malu takkan bisa menyelesaikan masalahku,” katanya sembari tersenyum.

Tangis merebak di mata saya, bangga sekaligus terharu. Terlebih ketika menerima sebotol sirup penurun panas dari tangannya yang kurus.

“ Terima kasih, Le,” sahutku terbata-bata.

Bapaknya langsung berkaca-kaca ketika saya ceritakan semua itu. Sejumput rasa bersalah terlontar dari mulutnya di tengah kebanggaan yang melingkupi dadanya. Katanya ,” Maaf, seumur hidupku belum pernah aku membuatmu dan anak-anak bahagia.”

Aku trenyuh menatapnya. Dalam hati aku berkata ,” Maafkan aku juga, Pak, sering ngomel-ngomel kalau rejeki lagi seret begini. Bahkan dalam kesempitanku aku sering menyuruhmu hengkang ke negeri jiran tanpa peduli bagaimana nasibmu disana nanti. ”

Sejurus kemudian hening menguasai kami. Tak ada yang kami bicarakan selain diam, asyik tenggelam dalam alam pikiran kami masing-masing. Tiba-tiba seseorang mengucap salam, kami segera bangkit melihat siapa yang datang. Ternyata, Dik Kasno . Kedatangannya tak lama, ia hanya mengabarkan kalau besok ada kerjaan. Apalagi kalau tidak jadi buruh bangunan.

Berita singkat itu kontan membuat wajah suami saya berubah menjadi cerah. Senyumnya terkembang ketika ia menatap saya. Alhamdulillah, batin saya bercampur malu. Bukan malu pada suami saya, tapi pada Tuhan, Bu. Sedari tadi saya mengeluh saja, dan ternyata kini ia justru mengirimkan rejeki-Nya.

Ah, tak terasa malam kian larut, Bu. Tuntas sudah segala kisah saya tumpahkan. Maafkan jika ada kata yang kurang berkenan, jujur saya tak punya maksud apa-apa ketika keluh kesah ini saya sampaikan. Hanya sekedar bercerita, seperti layaknya curhat seorang anak kepada ibunya, meski sang Ibu diam saja dan hanya menatapnya tapi perasaan sudah lega. Plong, setelah beban di kepala terlontar kepadanya.

Oh iya, tiga hari lagi ramadhan tiba, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ibu dan Bapak dikaruniai keberkahan. Selalu diberi kesehatan agar tidak mudah tumbang menunaikan kewajiban sebagai pemegang kemudi kapal bernama Indonesia. Juga diberi kejernihan menghadapi badai dan gelombang yang terus menghadang.

Wassalam.

 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 0 comments
20 Januari 2010,7:36 AM
PEJALAN JAUH PART 7
Duluuu…saya ndak pernah mikir saya bisa cinta saya manusia seperti sampeyan. Apanya yang menawan dari seorang pria berbandana hitam, menutupi rambut cepak yang malas shampoan, kulit coklat karena terbakar sinar, bercelana sedengkul bulukan berpadu kaus pudar yang paling nyamleng kata sampeyan, beserta tas ransel tua yang nggak pernah ketinggalan. Fiuuh!! Noraaak! Norak bukan kepalang!

“ Yo ben! Pokokmen aku seneng,” balas sampeyan enteng waktu seseorang menegur perkara penampilan yang aneh bin ajrut-ajrutan itu.

Sumpah deh, saya gak mau sama orang kayak gitu,” batin saya sambil berlalu.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Pelan-pelan tingkah laku sampeyan mencuri perhatian. Cara bicara yang tajam dan tepat sasaran bikin saya ternganga, kepingin nimpuk tapi sekaligus menyadari kalo sampeyan benar tentang makna pasrah yang sering kali disebut banyak kyai dalam pengajian bukanlah pasrah, neda nrima, tanpa usaha. Sudah ada pancingnya, maka kaillah ikannya. Jangan diam saja berharap pancingnya mengail sendiri. Opo tumon?

Ibarat sedang kebanjiran. Apa iya sampeyan akan larut oleh pusaran arus tanpa mau berenang ke pinggiran? Yo mati no sampeyan. Wis ta lah buang kata nggak bisa, nggak mampu itu dari kepala. Karena pikiran buruk akan melemahkan semangat, ” cerocos sampeyan, bikin sewot pendengar.

Ngomong sih gampang! Prakteknya yang susah, tahu nggak siih?!

Lha nyatanya saya bisa, mosok sampeyan enggak. Bukankah Allah itu ngasih kesempatan sama pada tiap manusia.”

Tapi kalau takdirnya gitu gimana?”

Lho bukannya takdir itu bisa berubah. Usahakan dulu baru ngomong yang itu. Buktikan kalo sampeyan bisa, jangan ngeluh, jangan omdo saja!” balas sampeyan ringan, seringan sesapan kopi panas yang kini sudah tinggal ampasnya doang.

Wis, ya. Saya mau sholat ashar dulu. Nanti kita terusin lagi ngobrolnya.”

Deg! Jadi pria ini masih sholat juga? Tak pikir dia seajrut-ajrutan gayanya. Keren banget ya? Aneh, mendadak hati saya tergetar, melihat apa yang sampeyan lakukan. Beribu lonceng di dada gemerincing seketika.

CLING! CLING

Lonceng-lonceng di hati pun berbunyi.

CLING! CLING!

Begitu bunyinya melagukan satu symphony cita hati.

Syukurin, syukurin! Makanya jangan suka judge the book by its kolor (hihihihi), bener kolornya bulukan, bener wajahnya kusam sama sekali tapi belum tentu tidak tahu cara mencintai Tuhan,” ejek bayangan dalam kaca saya sambil berjingkrakan. “ Nananana, kamu jatuh cinta! Nanananana!”

Ndak itu bukan cinta, sangkal saya. Tapi kenyataan berkata lain, sangkalan saya mentah ketika bayang-bayang wajah jahil dan mata tersenyum jenaka hadir dalam berbagai pose di tembok kamar. ARRGGH! Menyebalkan!

Ya Khalik, mbok ya jangan dia. Kan masih banyak pria yang lebih baik darinya?” keluh saya dalam doa.

Apa kata Ustadz dan kawan-kawan sepengajian kalo tahu saya naksir sama pria aneh yang blas ndak pawakan santri kayak gitu. Byuh, bisa habis saya diguyu-guyu.”

Meski begitu tak urung saya selalu mencari-cari alasan untuk ketemu dan kecewa ketika sampeyan tak kelihatan dimana pun jua. Duh ya perasaan ini apa namanya? Kenapa ketika melihat sampeyan saya sangaaat lega, tapi ketika tak ada saya pengen njotos muka siapa saja (termasuk muka sampeyan) biar ikut merasakan pedih perihnya perasaan saya.

Tulis email! Kirim SMS! Beres!” seru Cinta mendengar curhat saya.

Ndak bisa. Saya ndak sanggup melakukannya.”

Lho, trus gimana caranya dia tahu kalau kamu suka dia? Sudahlah….DOR! Tembak saja! Kalo dia ternyata kutubnya negative ya dia kabur, kalau positif ya maju terus pantang mundur.”

Oalah, Cinta…Cinta, andai semudah itu melakukannya. Saya justru takut menyusahkan dia jika saya berterus-terang seperti usulmu itu. Akan jadi tak mengenakkan jika ternyata dia sudah tak sendiri dan si tambatan hati mengetahui ada orang lain yang suka sama kekasihnya. Gawaaaat, gajah makan kawat, Ta! Bisa kiamat dunia dalam sekejap. Lagipula saya tak ingin dia kabur setelah tahu perasaan saya. Ah, eman-eman rasanya. Bukankah dari dia kita bisa belajar banyak, dia Guru yang tak terduga, dimana saya suka mengaji diam-diam darinya.

Kalo dianya tiba-tiba menjatuhimu cinta gimana?”

Wuaaa, laen cerita! Tak terima dengan tangan terbuka, dengan catatan dia masih sorangan ya.”

Nggak sih, ngomong-ngomong apanya yang bikin kamu termehe-mehe begitu rupa. Kaya ya dia?”

Lah, kok saya malah ndak tahu dia kaya apa ndak. Yang saya tahu dia punya kerjaan. Lagian saya malah berharap dia itu orang biasa, saya miris banget kalo dia banyak duitnya. Bisa-bisa dia jumawa dan pengen kawin empat-lima wanita! Ah, bikin nelangsa.

Atau tampan?”

Woalah, kalau wajah kayak gitu dibilang tampan gimana dengan Brad Pitt, ya? Enggak, coy! Biasa aja (thanks Allah karena dia biasa aja), super biasa. Nanti deh saya tunjukin gambarnya, biar kamu bisa menilai sendiri seperti apa dia.

Atau rayuannya maut?”

Wah embuh, ya. Belum membuktikan, tapi kalo memetik gitar sambil menatap bintang itu tergolong rayuan (pulau kelapa?), saya sih mengakui sering tersihir mendengar kemampuannya yang ini. Saking tersihirnya sampai saya jadi liyer-liyer ngantuk dan tak sadar kalau liur netes semua. Hwahahaha!

Lalu apanya yang istimewa hingga bikin kamu nolak banyak pria?”

Duoooh! Bukan nolak, Cinta, saya hanya nggak tahu kenapa kata-kata ya seolah ilang dari kamus bahasa Indonesia di otak saya tiap kali mereka serius bertanya-Apa kamu mau jadi pendamping saya?- terlebih ketika muka jahilnya terbayang di pelupuk mata.

Sudah empat pria kau anggap angin lalu lamarannya. Pertama pria santun, penyabar yang katanya bekerja sebagai Guru di SD XYZ itu. Ia yang datang tanpa diundang pulang nggak pake diantar itu harus kecewa karena kau menolaknya meski caramu sehalus sutra.

Kedua, saudagar kaya yang berkata akan langsung membawamu naik haji selepas kalian jadi suami istri. Tuh kan kurang apa lagi?

Ketiga si Donny, pria sederhana yang ndak ada modis-modisnya. Tapi punya sikap lembut dan penyayang serta pekerjaan mapan di perusahaan IT, yang ternyata tak membuatmu terkesan sama sekali.

Keempat si tampan Pierce Brosnan (duooh, cuma mirip doang, itupun kalo dipandang pake sedotan), yang naksir situ bukan kepalang. Yang bilang kalau mau bintang tinggal bilang, pengen bulan tinggal pesan. Iih nggak kreatif, dikiranya aku nggak tahu kalau rayuannya itu nyontek abis lirik lagu?

Katakan padaku apa istimewanya pria itu!”

Ndak tahu! Pokokmen dia okeee aja dimata saya! Ah kok jadi ikutan cara ngomongnya sih?

Tapi ku lihat kamu menderita. Bertepuk tangan saja agaknya. Apa kamu nggak menyesal mencintai dia?”

Tidak. Saya ndak menyesal ia pernah tiba di hati saya dan memberi saya warna pelangi meski sekejap saja. Jatuh cinta kepadanya juga membuat saya lebih dekat dengan Allahu Robbi, berkeluh kesah padanya saat buncahan rasa yang nano-nano rame rasanya itu membikin saya sengsara. Kamu tahu, gara-gara itu juga aku jadi rajin sholat malam, ngadu sama Allah sambil nangis saking kagaaak nahaaaan gara-gara kangen yang menggumpal (syah!).

Wooh, dasar! Niatan nggak bener tuh! Deket-deket karena ada mau.”

Iya seeeh, tapi belakangan aku justru mikir, mungkin dia secara nggak langsung dikirim Allah untuk membuatku sadar jika selama ini aku terlampau sombong karena menjauhinya, tak pernah meminta dan merasa kalau saya baik-baik saja, mampu mengatasi segala. Lupa kalau saya ini hidup diatas bumi ciptaan-Nya. Wa lillaahi maa fissamaawaati wa maa fil ardli…dan kepunyaan Allah-lah yang ada di langit dan di bumi.

Begitu enaknya saya nikmati dunia, tapi enggan mendekati empu-Nya. Ngeles saat menepati janji kencan yang lima. Cik kurang ajare saya!

“ Sekarang ?”

Sekarang sudah beda lagi. Aku mendekati Allah karena sebuah kebutuhan, Cinta. Aku merasa nyaman ketika aku tengah konek dengannya, bercerita tentang sedih dan gembiraku sebagai mahkluknya.

“ Ciee, alim nih ye?”

Haha, ndak juga. Saya ini manusia, seonggok debu di sahara. Menjauh darinya juga ndak bikin saya jadi lebih perkasa.

Ah semoga Allah memercikkan Nur kepadanya, melembutkan hatinya, menjadikan ia semakin dekat kepada Tuhan-nya, mencintai keluarganya, sahabatnya, dan terutama orang-orang kecil di sekitarnya. Menjadikan ia pria yang bisa menggunakan segenap harta dan ilmunya demi kebaikan agamanya. Amiin (Cinta, aminin dong, jangan diem aja).

Heh, kamu belum jawab tanyaku. Ayo jawab seperti apa dia?” Cinta memaksa.

Malu-malu saya menunjuk ke satu sudut. “ Itu dia,” kata saya.

Cinta menoleh ke satu sudut dan melongo. Mak Ploook! Dia tepok jidatnya sambil ngedumel panjang pendek di depan hidung saya.

Woalah jan edun! Dasar kamu nyamuk Aedes Aegepty ndak tahu diri! Dari jaman kuda gigit besi, mana ada manusia mau sama nyamuk begini?”

Hiks! Saya tertawa. “ Lah wong cinta, tak ada salahnya…” teriak saya sambil terbang cepat menghindari raket listrik Sang Pejalan Jauh yang terayun lurus.



^_^


A story,

Inspired by Di and the whole story (whuuf, I hope you get your dream finally), my chit chat with Cinta Astari, and Man behind the wall (I used to see him over and over to describe Pejalan Jauh)

Thanks to : Forbidden City (Twelve Girls), A Phantom Agony (Epica), Is It You Girl (The Brandals) plus Mahabbah Rindu-nya Abidah El Khalieqy


 
posted by afin yuliani
Permalink ¤ 1 comments