27 Desember 2017

Lebih Baik, Lebih, Sehat, & Lebih Manfaat di Tahun Mendatang




            Tahun 2017 segera berlalu beberapa hari lagi. Terlepas dari beberapa kegagalan—penolakan penerbit dan naskah cernak yang belum ada kabar—saya mensyukuri apa yang saya capai di tahun ini.
            Pertama, kesempatan belajar dari ahlinya. Dua tahun lalu saya sudah berkeinginan untuk  ikut kursus menulis cernak online pada dari Ibu Nurhayati Pujiastuti. Tetapi, karena uangnya tidak terkumpul juga, keinginan itu akhirnya batal. Tidak terduga tahun ini saya justru mendapat kesempatan belajar langsung pada beliau dengan cara yang berbeda. Saya mendapakan bonus kelas nulis gratis berkat membeli bukunya. Kelas nulis pertama pada bulan Juni, kedua pada bulan Nopember. Meskipun hanya berlangsung sepekan dengan waktu belajar kurang lebih dua jam, tetapi apa yang beliau ajarkan itu memberikan saya pemahaman baru soal apa dan bagaimana menulis cerita anak. Bahkan hasil belajar pada beliaulah beliau ajarkan membantu saya lolos pelatihan Room To Read Agustus silam dan berkesempatan langsung belajar pada mentor-mentor hebat seperti Alfredo, Mbak Eva Nukman, Mbak Grace, dan lainnya.
            Sayangnya saya tidak lolos sampai akhir. Akan tetapi, ilmu yang saya dapatkan disana membuka mata lebih lebar ikhwal proses menulis cerita anak sebenarnya. Dua diantaranya adalah adalah  mengenali target pembaca  dan menempatkan diri menjadi anak-anak. Dua hal ini ternyata suka dilewatkan oleh orang-orang dewasa seperti saya. Acap kita memakai kacamata dan pemahaman orang dewasa, lupa bahwa yang pembaca yang hendak kita tuju masih belia.
            Kedua, terbit buku-buku baru. Di awal tahun 2017 terbit satu buah antologi baru. Antologi berjudul Aku Bukan Perempuan Cengeng ini merupakan hasil sayembara  menulis Jangan Jadi Cewek Cengeng yang diadakan oleh penerbit Indiva tahun sebelumnya. Yang lebih menyenangkan, ada buku lain yang menunggu di terbitkan di DAR Mizan. Naskahnya sendiri saya ikutkan dalam sayembara KKJD Hunt tahun 2015 silam. Tidak disangka, ternyata tahun 2017 saya dan beberapa kawan lain dihubungi untuk diterbitkan. Jelang akhir tahun, dapat kabar gembira. Ternyata naskah cerita saya lolos dalam lomba menulis cerita anak yang diadakan oleh UNSA. Alhamdulillah, berarti tahun depan tambah satu lagi antologi cerita anak saya.

04 Desember 2017

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)


source image : http://pixabay.com/


Dikira Hamil
            Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
            Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
            Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
            Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.
            Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
            Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
            Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).

30 November 2017

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ





            Aplikasi workshop menulis Room to Read Phase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya...
           
            Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanya  beberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu bikin saya gamang.
             Satu hal kemudian menyadarkan saya, kenapa saya takut sebelum mencoba. Lakukan saja, perkara lolos atau tidak urusan belakang. Toh, kalau tidak lolos pun saya tidak rugi apa-apa. Takut amat sih? Begitu kata hati saya. Berbekal kalimat itu saya menulis dua naskah cerita sesuai yang disyaratkan yaitu sepanjang 50-200 kata. Selesai ditulis, cerita saya endapkan sejenak, sebelum akhirnya saya kirim tanggal 2 Juli, enam hari sebelum deadline. Saya tidak berpikir apa-apa. Berpikir lolos atau tidak lolos juga tidak. Pikiran saya teramat sederhana ,”Pokoknya saya berusaha, selebihnya biar Allah saja yang menentukan.”
            Tanggal 23 Juli 2017, ponsel saya berbunyi. Kala itu saya berjibaku (eleuh, bahasanya!)  menuruni jalan setapak menuju air terjun Telunjuk Raung bersama kawan saya, Niken. Nomer yang tertera di layar memang asing, tetapi saya terima juga karena berpikir itu penting. Lhadalah beneran! Ternyata yang menelepon adalah perwakilan dari pihak Provisi Education yang menyatakan saya lolos pelatihan Room To Read. Yang lolos siapa saja? Hm, saya emejing melihat daftarnya. Karena nama yang tertera adalah orang-orang yang saya kenal sebagai penulis andal. Jadi, saya beruntung lolos pelatihan yang dilaksanakan mulai tanggal 18-21 Agustus itu.

23 November 2017

“DEAR HUSBAND”, KUMPULAN SURAT CINTA YANG MENUNJUKKAN KETULUSAN DAN KETERIKATAN PENULIS PADA PASANGAN





 Judul buku                    :    Dear Husband
Penulis                          :    Afifah Afra, Sinta Yudisia, Laila, dkk.
Tahun terbit                  :    November 2016
ISBN                            :    978-602-6344-07-7
Ketebalan                      :    128 halaman
Cover                            :    Soft Cover
Penerbit                         :    Indiva Media Kreasi
Harga buku                   :    -

            Melihat  cover dan membaca judul buku ini  tak urung mengingatkan saya pada tahun-tahun 90-an ke belakang di mana orang-orang masih menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan lainnya. Termasuk didalamnya urusan cinta. Pada masa itu jamak bagi pasangan untuk mengungkapkan isi hatinya lewat selembar surat berisi kalimat puitis dan romantis.
            Sekarang situasi sudah berbeda. Pola komunikasi berubah masa kini telah berubah. Kecepatan komunikasi di era digital membuat acara mengirim dan menerima pesan terjadi secara instan. Anda bisa dengan mudah menerima pesan singkat yang terdiri dari beberapa kalimat, lalu membalasnya dengan cepat dengan emosi yang sama pula. Saat Anda tengah tenang mungkin tak apa-apa, tetapi emosional melanda  perbedaan penafsiran bisa jadi pangkal permasalahan.

23 Oktober 2017

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN



Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf...
Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film.

Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan.
Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia tak berhasil jadi penyampai pesan yang mumpuni pada materi yang dia sampaikan. Tetapi, saya juga tak perlu menyombongkan diri dengan berkata ia belum layak tayang. Toh, seorang pemateri handal sebenarnya juga belajar dari banyak kesalahan. Jika pemateri pertama dan kedua begitu enak menyampaikan itu juga disebabkan karena jam terbang.