16 Desember 2016

Lancar Bahasa Inggris Lisan dan Tulisan #Resolusiku2017

           
Attention please...Do you speak English? (source : http://gratisography.com)
            Sebagai penulis saya bersyukur memiliki kemampuan berbahasa lebih. Tak hanya satu tapi lima bahasa sekaligus—bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa kalbu, bahasa tubuh, dan bahasa tarzan (pakai tangan, kaki, atau sembarang pokoknya you paham). Kedua bahasa yang pertama membuat komunikasi dengan orang berjalan lancar. Saya tak dituduh alien karena gagal paham bahasa apa yang mereka gunakan. Setidaknya dengan tetangga sebelah saya.
            Bahasa ketiga, bahasa kalbu, yang paham tidak sembarang orang. Harus yang mumpuni untuk memahami apa yang saya pikirkan. Dan ternyata yang mumpuni membaca kalbu saya tak lain adalah  saya sendiri. Lha buktinya, meski saya sudah njureng-njureng (njureng itu apa ya bahasa Indonesianya, ah...iya muka serius, alis kenceng) menyiarkan bahwa dompet saya dalam titik nadir tidak ada yang mampu menangkapnya *hwahahaha. Jadi, ya sudahlah. Saya harus terima  kalau bahasa kalbu itu tidak pas untuk komunikasi masal. Terlebih karena kebanyakan orang bukan cenayang yang mampu membaca pikiran.
            Bahasa yang keempat, bahasa tubuh. Ini penting untuk kita kuasai. Karena tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaan. Kerap orang menyuarakan dengan bahasa tubuh yang samar. Kalau kamu tidak paham bisa repot juga.  Contoh soal kamu cakep tapi bau kandang sapi dan kamu tidak sadar akan hal terakhir ini. Kalau kamu ingin tahu perasaan orang soal “bau kandang sapi”-mu kau bisa cek bahasa tubuhnya. Coba lihat apakah tiap kali kamu maju dia  mundur-mundur sambil  nyengir kuda?  Atau malah celingukan kayak nyari jalan buat hengkang tiap kamu ngajak bincang-bincang?  Jangan-jangan jika kamu mendekat dianya lompat-lompat? Bahkan kalau  kalian  sampai duduk bersama, dia akan beringsut jauh-jauh ke ujung lainnya. Kalau ditanya kenapa jawabnya ,”Ah, tempat masih lebar masa sih dempet-dempetan?”
            Kelima bahasa Tarzan. Penting kalau ketemu orang asing di jalan, terlebih kalau kemahiran bahasa Inggrismu nihil jaya. Tak ada cara lain yang pas digunakan selain bahasa Tarzan untuk komunikasi dengan mereka. Cyat, hyat...yang penting I paham, kamu understand lah...

14 Desember 2016

KETIKA BUNDA BERPULANG



            Saya berpikir Ibu saya akan hidup lama. Bisa mendampingi saya menikah, melahirkan anak-anak, dan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi, Allah Sang Maha Kuasa itu memiliki skenario berbeda. Ibu saya dipanggilnya pulang dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-59.
            Saya masih ingat, jauh-jauh hari Ibu sering kali bilang bahwa dia tak ingin merepotkan siapapun saat meninggal. Ibu ingin saat hari itu tiba ia tidak mengalami sakit  panjang hingga menyusahkan seluruh anggota keluarga. Allah yang baik mendengar dan mengabulkan pintanya. Ibu meninggal tanggal 13 September pukul 2.30 setelah mengeluh sesak di dadanya.
            Saya ingat betul, tengah malam itu Bapak membawa Ibu ke rumah sakit dengan bantuan Om saya. Saya tidak ikut karena harus jaga rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman, saya berlari menyongsong Om dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu saya.Tapi jawaban yang saya dengar mengejutkan.
            Dengan suara terbata-bata Om berkata ,”Ibu sudah tidak ada, Nduk...”
            Seperti orang linglung saya menatapnya. Saya tidak menangis. Saya juga tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya merasa kosong di dalam sana. Sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa. Saya kembali pulang dan terdiam di kamar beberapa waktu lamanya. Saya perlu menenangkan diri  sebelum akhirnya memberitahukan kabar ini. Ini penting karena ketenangan membuat saya mampu mengontrol emosi dan perkataan. Sulit untuk berkata dengan lancar bila hati saya diliputi kesedihan. 
 
  sesaat setelah Ibu tiada perasaan saya kosong, sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa            

            Saya ambil napas dalam, saya katakan pada diri sendiri bahwa saya mampu melampaui musibah ini. Bukankah ada dalil yang mengatakan “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”? Berulang-ulang saya mengatakan itu hingga mampu menguasai diri sendiri. Barulah setelah itu saya mengambil ponsel dan menghubungi kedua adik saya, Wendy dan Wawan. Kemudian disusul keluarga dan teman-teman. Beberapa mengangkat telepon saya dan menangis begitu mendengar apa yang saya sampaikan. Lainnya tidak bisa dihubungi, meski nadanya tersambung tapi telepon saya tidak diangkat. Saya memahaminya. Hari masih terlalu dini. Orang-orang pasti masih terlelap dalam tidurnya.

06 Desember 2016

MENDAKI IJEN, MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI


            

            Saya belum pernah naik ke Gunung Ijen ketika Yogi, teman saya, menawari saya untuk ikut bersama rombongan tour yang dipimpinnya. Tawaran yang menarik. Tapi, saya sangsi mengingat saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Mendaki gunung itu bukan kegiatan main-main. Butuh stamina kuat agar energi tubuh tak mudah terkuras saat melakukannya. Bahkan meski  jaraknya hanya sejauh 3 km seperti Gunung Ijen. Jangan salah, meski jalurnya pendakiannya pendek medan yang dilalui cukup berat—menanjak dengan dengan kemiringinan antara 25-35 derajat. Tanahnya berpasir pula. Siapapun yang pernah kesana pasti tahu bahwa langkah kaki  akan terasa lebih berat. Para pendaki harus menahan bobot tubuhnya agar tak tergelincir kembali ke bawah. 
pagi hari di gunung Ijen
             Oleh karena itu kondisi tubuh harus disiapkan betul saat melakukan pendakian. Tubuh yang kurang fit selain membuat perjalanan jauh lebih lambat juga bisa merepotkan kawan seperjalanan. Padahal itulah yang saya alami kala itu,  tak enak badan—meriang ditambah dengan tenggorokan yang kering dan sakit. Yang bikin keraguan saya bertambah besar adalah bobot tubuh. Dengan tinggi mencapai 146 cm, berat tubuh saya mencapai 60 kg lebih. Saya tak yakin bisa mendaki tanpa kerepotan dengan bobot sebesar itu.

            Tapi, melewatkan kesempatan itu sayang juga. Kapan lagi jika bukan sekarang? Mumpung ada teman, pikir saya. Akhirnya saya pun mengiyakan. Saya berdoa semalaman agar keesokan hari saya diberi kemudahan. Ajaib, esok paginya saya sudah enakan. Saya tak lagi merasa seburuk semalam. Perjalanan ke Banyuwangi bersama Yogi dan seorang teman lain, Edwin, berjalan lancar.