31 Juli 2016

OLEH-OLEH DARI ATAMBUA : PERJALANAN YANG DIAWALI DENGAN DRAMA



 
kalau tidak diberitahun Mbak Hairi Yanti, saya pasti kelewat berita ini. Terima kasih banyak Mbak...
Menjadi salah satu dari tiga orang pemenang Gramedia Blogger Competition periode 1 Mei-30 Juni lalu tak pernah saya duga. Selain persiapannya mepet saya pun upload menjelang akhir lomba. Pikir saya, mari berpartisipasi saja. Menang kalah usah dipikirkan. Syukur-syukur masuk dalam dalam 10 karya terbaik. Kalau tidak pun tidak apa.

Diluar dugaan saya justru masuk tiga besar. Sungguh, saya tidak percaya. Saya berulang kali berpikir, mungkin ada yang salah dengan pengumumunannya. Iya, begitu adanya. Saya ingat betul, saat masih penjurian saya justru menjagokan penulis lainnya. Penulis cilik yang keren menurut saya. Tapi, rupanya ketentuan Allah kerap tak terduga. Ternyata malah saya dianugerahi hal luar biasa. Jelang ulang tahun yang kesekian, saya mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk mengenal Belu lebih dekat sekaligus hadir dalam Festival Membaca di sana.

Tetapi seperti halnya kegembiraan lainnya, takkan lengkap bila tanpa drama. Iya drama!

Dimulai dari hilangnya ponsel tanggal 19 sore, jelang keberangkatan saya menuju Surabaya. Jadi waktu itu saya pergi ke warnet untuk cetak  3 tiket pesawat dan satu guess check ini di hotel Ibis. Lha dasar dodol, saya langsung ngeloyor pergi gitu aja begitu selesai cetak. Lupa kalau ponsel ada di meja. Begitu saya kembali ke sana, ponsel sudah tak ada. Saya tak bisa apa-apa. Mau menuduh, siapa pula yang dituduh? Toh, saya juga yang salah. Dalam hati saya berdoa, semoga bermanfaat bagi yang menemukannya.


Kemalangan tak berhenti sampai disitu saja, saya teringat bahwa seluruh kontak penting ada disana. Bagaimana saya menghubungi orang-orang terutama Mas Frandy dari Save The Children yang mengurusi keberangkatan saya juga ada disana. Juga Mas Jeppery, tim Save The Children Surabaya, yang akan berangkat bersama ke Jakarta. Lha terus piye iki? Garuk-garuk kepala yang tak gatal saja yang bisa saya lakukan saat begini.

Berikutnya ada berita yang bikin saya lebih down lagi, semua travel yang hendak menuju Surabaya sudah penuh semua. Waduh, lha saya naik apa? Pesan tiket kereta mendadak begitu mana bisa. Apalagi itu masih musim-musimnya arus balik (tanggal 20 masih ramai diisi oleh orang yang mau balik). Fyuh, saya mulai berkeringat dingin euy! Takut tidak bisa mengikuti acara festival baca di Belu nanti.

Jika itu sudah bikin saya lesu, maka mendengar ucapan Bapak berikutnya saya semakin lesu saja. Bapak bilang saya yang dititipkan padanya berkurang. Padahal Bapak menyimpannya rapi-rapi dalam dompet khusus. Agak aneh memang mengingat kejadian semacam itu tak pernah kami alami. Saya sudah lama menitipkan uang ke Bapak tapi tak pernah raib tanpa jejak macam ini. Selalu utuh. Masalahnya sekarang (hihihi) kalau uang itu kurang berarti uang saku saya ke Atambua juga kurang. Ha, terus gimana?
“Apa ada tuyulnya ya mbak?” ucap Bapak memecah kediaman.
Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Mengingat masih ada saja orang-orang rela melakukan apa saja demi menjadi kaya di jaman modern seperti ini. Bahkan jika itu dilarang agama seperti memelihara tuyul.
Tapi, saya justru menjauhkan pikiran itu dari kepala saya. Saya justru meringankannya. Ponsel dan uang (sangu ke Atambua) yang hilang itu hanyalah titipan. Kalau Empunya barang ingin mengambil kembali, tak sulit bagi-Nya melakukan itu. Kun fayakun, jadilah maka jadilah! Tak ada yang terlalu rumit baginya. Maka itu saya tak berhak menolaknya. Marah apalagi. Terutama kepada Bapak saya. Toh, uang yang hilang itu tak sebanding dengan apa yang sudah dilakukannya untuk saya. Maka seperti kata adik-adik saya (Wendy, Wawan, dan Rena) untuk mengikhlaskannya, itu pula yang saya pikirkan.
“Nggak apa sudah, Pak. Siapa tahu, Pak, nanti dapat rejeki yang lebih besar,” kata saya kemudian.

Di saat segenting itu yang bisa saya lakukan adalah pasrah dan  mengembalikan semuanya ke Allah. Yakin saja bahwa Allah memberikan hadiah manis berturut-turut macam itu bukan sebuah kebetulan. Pasti ada yang ingin Ia ajarkan. Pikir saya berbaik sangka.

Blam! Seperti menjawab saya, semua permasalahan satu-satu terurai. Adik bungsu saya, Wawan, menawari untuk meminjam dulu ponsel pintarnya. Adik ipar saya, Rena, justru memberikan ponselnya untuk saya.
“Pakai saja, Mbak. Saya mau beli yang baru kok,” katanya sambil menyerahkan ponsel merah miliknya.

Bersamaan dengan itu saya teringat kalau saya sebelumnya sempat mencatat nomer Mas Frandy di kertas. Dari Mas Frandy saya mendapatkan nomer Mas Jeppery. Aduh, lega. Berikutnya adik saya, Wendy, kembali dengan berita gembira kalau ia berhasil mendapatkan travel yang akan membawa saya ke Surabaya.
“Besok sampeyan dijemput pukul sembilan. Seenggaknya sampai di Surabaya  pukul lima sore-an. Paling lambat pukul tujuh, mengingat kemacetan yang ada,” jelasnya.
Saya berterima kasih padanya. Ia mau bersusah payah mencarikan travel untuk saya. Kakaknya yang dodol ini.

Soal uang bagaimana? Aih, kalau rejeki memang tidak kemana. Bapak merogoh koceknya untuk memberi uang saku pada saya. Tidak terlampau besar. Tapi, cukup untuk beli-beli apalah nanti di jalan hihihi...

Dan sepertinya semua beres ‘kan? Oh, tunggu dulu. Belum kawan! Belum selesai ternyata dramanya (hahahah)

Sopir travel yang menjemput saya telat datang, rupanya beliau itu tidak paham jalan-jalan di kota saya. Beliau berasal dari Lumajang, baru satu bulan tinggal di Banyuwangi. Pantas saja tampangnya seperti orang bingung. Itu yang memperlambat proses penjemputan penumpang.
Baru jelang pukul 12 kami, seluruh penumpang, dengan sopir selanjutnya yang bertugas membawa kami ke Surabaya meninggalkan Banyuwangi. Karena lewat jalur pantura tentu saja jarak tempuh jauh lebih lama. Pak Sopir berusaha keras mengejar agar tiba di Surabaya tepat waktu. Tapi, sayang di Bangil kami kena macet. Pukul 6 kami masih disana. Sempat saat itu saya kontak Mas Frandy, mengenai kesulitan yang saya alami. Saya sempat berkata kalau kemungkinan besar saya akan telat check in. Waduh, padahal katanya pesawat paling malam dari Surabaya ke Jakarta hanya pukul 20.00. Kalau saya telat, alamat saya tak bisa meluncur kesana.

Dziiing! Panik mulai menyerang. Lha piye iki?
Tapi lagi-lagi senjata saya cuma pasrah srah! Saya tidak memiliki kekuatan apapun untuk menyulap ketidakmungkinan menjadi mungkin. Cuma Allah yang sanggup. Sambil komat-kamit dzikir dalam hati saya berkata ,”Jika ini rejeki saya, saya tetap akan berangkat ke Jakarta apapun caranya.”

setelah delay beberapa lama, akhirnya naik pesawat juga diirngi gerimis
 
Pukul tujuh malam, kami mulai lepas dari kemacetan dan mulai melesat di jalan tol. Jelang pukul delapan, mungkin kurang sepuluh menit, saya tiba di Bandara. Aih, tapi Pak Sopir justru menghentikan saya di area keberangkatan pesawat Sriwijaya Air, Lion, dan teman-temannya. Bukan di area keberangkatan Citilink. Waduh, terpaksa saya lari-lari menujunya, takut terlambat check ini. Aneh, ternyata masih bisa meski jamnya sudah mepet. Ternyata oh ternyata pesawat delay, kakak!  

di kamar ini saya meletakkan badan setelah drama yang mendebarkan
  Alhamdulillah...setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya berangkat ke Jakarta bareng Mas Jeppery dari Save The Children Surabaya. Tiba di Jakarta hampir tengah malam dan langsung menuju hotel Ibis di dekat bandara. Langsung bongkar ransel, cari baju ganti, bersih-bersih dan tidur.

Dibalik semua drama itu ada dua pelajaran penting buat saya :
Pertama, bersikap tenang dan tetap berbaik sangka pada Tuhan. Pasrah dan bersandar-lah hanya pada-Nya. Ia-lah tempat bergantung paling Maha. Hanya Ia yang bisa menunjukkan jalan keluar ketika kita jalan-jalan seolah tertutup di depan kita.
Kedua, belajar ikhlas. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya titipan. Jika Allah mengambil kembali titipan itu, relakan saja. Sebab Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita.

Salam.













27 komentar:

  1. Selamat ya mba :)
    Alhamdulillah ya bisa belajar dari drama yang terjadi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, semua orang yang saya ceritain ketawa ngakah Mbak Alida

      Hapus
  2. selamat untuk kemenangannya ya...dan memang dramanya seru bangeet itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya mbak Indah, banget

      Hapus
  3. Sepertinya gampang ya mbak... tenang dan ikhlas.. tapi kalo pas kejadian, panik lah yang melanda... btw selamat ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iya mbak Retno. Haduuh...

      Hapus
  4. Kunci utamanya memang harus berprasangka baik pada Allah dan bersikap tenang ya mbak...btw selamat atas kemenangannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, insyaAllah begitu kuncinya Mbak Tuty

      Hapus
  5. Selamat atas kemenangannya. Menunggu bukunya terbit.
    btw, kisah drama luar biasa, yang sarat pelajaran. Terima kasih sudah berbagi, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakak, iya mbak. Haduh, deg-degan aja isinya. Sama-sama, terima kasih juga sudah mampir kemari

      Hapus
  6. Wahhh... keren.. selamat ya mba.. lain kali jgn lupa sama hp yah. Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixi, Mbak Ruli terima kasih udah diingetin. InsyaAllah kejadian itu ngajarin saya untuk cek en ricek :)

      Hapus
  7. jadi ikut deg2an baca ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwahaha, mbak Tira..serasa jantungnya ikut copot juga?

      Hapus
  8. Hiiiii mepet bener mba, flight jam 8. Sementara jam 6 masih di Bangil, pernah seperti itu. Saya doanya, supaya pesawat di delay hahaha curang yah saya :D

    Btw salam kenal dan selamat ya mba. Jadi penasaran dengan tulisannyabyang memenangkan Blog Competition :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka, masa Mbak Nining? Waduh tos dulu! Samaan ini ceritanya

      Hapus
  9. wawww... incredible mbak... congratulation ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas Ali Shodiqin

      Hapus
  10. Waaaa selamat ya mbaaa sudah jadi pemenang kompetisi ini. Betuuulll, rejeki gak bakal kemana, dan Allah akan selalu membantu hambanya😊😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha betul Mbak Mia, cuma memang kita harus belajar tidak panik, super tenang, dan ikhlas dalam kondisi demikian.

      Hapus
  11. Waah bacanya aja ikut deg-degan..Untung semua bisa teratasi ya mbak dengan pasrah dan doa tentunya.Alhamdulilah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, iya mbak. Haduh saya udah pucet aja waktu itu.

      Hapus
  12. Alhamdulillah. Bantuan Allah selalu ada ya mba. Selamat yaa

    BalasHapus
  13. iya mbak, alhamdulillah disaat genting dan bisanya cuma pasrah Allah kasih keberkahan

    BalasHapus
  14. Selamat, mba Afin. Keren banget bisa terpilih jadi pemenang. ceritanya seru ya, mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwahaha iya non, banget. Sampai mules saya

      Hapus
  15. Aaaaakkk, pasti seru banget deh, diawali dengan drama, diakhiri dengan bahagia nih kayaknya mbak :D

    Salam,
    Senya

    BalasHapus