SEMPURNA

Masih berpikir tentang sempurna ketika melihatnya. Tinggi cantik putih, mempesona. Rambutnya coklat pirang, high heels-nya nggak ketulungan. Tinggi, runcing, langsing. Selangsing kaki belalangnya yang terpampang hingga di pertengahan paha, selebihnya menghilang di balik rok ber-rimpel warna baby pink. Naik ke atas sedikit sampai ke pinggang rampingnya. Melihat ukurannya mana mungkin 28, pasti 27 atau 26 ya?
Dan wajah itu betapa putihnya, mulus tanpa noda. Mungkin hasil karya salon-salon terkemuka. Bukan yang murahan, mana mungkin perempuan se-elite dia pergi ke salon macam itu. Mungkin saja dokter spesialis kulit seperti bosku-yang katanya harus mengeluarkan uang beratus-ratus ribu maybe moore untuk kulit sehat sempurna, seperti Apel New Zealand atau sejenisnya, yang merah merona. Menggoda, minta digigit saja.
Ya Tuhan, aku kok jadi iri ya. Ingin rasanya memiliki apa yang ia punya. Ia sempurna seperti gambaran wanita-wanita dalam iklan. Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin lahir dengan kaki jenjang sepertinya. Agar tak ada lagi yang mengolok-olokku sebagai Miss Kaki Kesebelasan. Besar, banyak goresan dan mesti pakai stoking kalau enggak mau kelihatan belangnya. Itu saran temannya teman, kedengaran manis tapi mengiris perasaan. Dan pinggang itu, aduhaaai! Tak ada sama sekali gelambir selulit nempel disana. Heran deh, kemana siiih lemak-lemak yang masuk ke tubuhnya disingkirkan? Betapa hebat pencernaannya, hingga segala hal yang tak penting bagai keberadaan tubuh langsingnya langsung dikeluarkan agar tak menjadi sampah di tubuhnya.
“ Kecilin tuh body! Pria-pria takut melihat body macam ini. Barangkali itulah yang jadi penghalangmu mendapatkan jodoh. Ngerti?” ucap seorang kawan kemarin siang sambil menunjuk selulit di perutku.
“ Pria-pira suka yang perempuan model tahun 2010. Ceking sehat. Bukan yang banyak lemak.” Aku diam, menahan perasaan.
Zab! Aku menonjoknya. Ia menggelepar di lantai, mengaduh dan meminta ampun. Sayang hanya dalam angan, sesalku bersamaan dengan sepasang tangan halus yang menarikku ke belakang dan membisikkan ,” Nggak usah diladeni. Cuma bikin capek hati.”
Aku menoleh, mengiyakannya. Tapi tak urung ucapannya buruk itu terus-menerus berdentam. Seperti bunyi drum, bunyinya memenuhi ruang perasaan. Mengaduknya dan menjadikan hatiku tidak nyaman. Damn!
Sreeek!
Bunyi kursi diseret. Lamunanku bubar. Kulihat dua pria, memakai baju krem dan satunya biru duduk di depanku. “ Hm...arah jam dua belas boleh juga,” seru si biru.
Si krem tersenyum penuh arti. “ Apalagi property yang menggantung di dadanya itu. Boleh sekali,” ucapnya disambut kikik geli si biru, kawannya.
“ Berapa kira-kira?”
“ More than 34 kurasa.”
“ Fyuuuh…,” kata si krem geleng-geleng kepala seraya menyeruput es jeruk pesanannya.
Aku tergoda untuk ikut melihat juga. Ah, Memang iya. Bukan cuma mengintip kurasa, tapi sudah melongok keluar. Hendak tumpah seolah ingin mempertontonkan keindahan benda putih mulus di baliknya.
“ Lehernya jenjang. Kakinya juga. Seperti burung flamingo ya?”
“ Iya. Ah, menyenangkan betul siang-siang melihat perempuan penganut paham minimalis soal dandanan.”
“ Hahahahaha!”
“ Andai minuman, ibarat kopi panas dia itu.”
“ Oh ya?”
“ Ya, enak dan mantap diseruput di saat malam-malam berhujan. Pasti menyegarkan.”
“ Ohohoho…iya sih. Tapi tahan berapa lama hangatnya? Toh akhirnya akan mendingin juga. Mana enak sih ngopi kalau sudah dingin?”
“ Lha ketimbang nggak ada lainnya? Kan mending apa yang ada disikat saja. Dingin-dingin kalau lagi butuh ya diembat saja.”
Keduanya tertawa. Si wanita yang jadi bahan bicara tak menyadarinya. Sibuk ketak-ketik embuh apa di ponselnya. Berhenti. Ketak-ketik lagi. Manyun. Ketak-ketik lagi. Resah. Ketak-ketik lagi.
Siapa sih yang sampeyan kirimi sms? Para pemuja ya? Berapa banyak? Ah, kok mau tahu saja!
Si cantik mengibaskan rambutnya. Mengingatkan pada model-model iklan shampoo terkenal. Seperti apa sih rasanya jadi sampeyan, Mbak? Pasti menyenangkan ya, setiap hari pergi diiringi tatapan kekaguman. Tak sepertiku yang tak pernah masuk hitungan. Takkan memacetkan lalu lintas jika menyeberang jalan, begitu istilah DA-ku (Distributor Advisory). Sedangkan sampeyan? Oh my…jangankan menyeberang jalan, baru dipinggirnya saja semua pasti menghentikan laju kendaraan.
Satu sms datang, berbarengan dengan terbukanya yahoo di tangan. Aku abaikan. Lebih baik ngecek emailku duluan. Hanya ada empat email baru-konfirmasi PO, pemberitahuan kenaikan harga barang, form laporan monthly, dan curhatan teman. Tak satupun dari seorang pangeran. Ck, kasihan betul diriku. Batinku sambil menghembuskan nafas gulana ke udara.
Kembali dari dunia maya kulihat seorang waitress tiba ke meja dua pria tadi. Membawakan dua piring soto ayam komplet. Bersama dua gelas jus. Kuning warnanya. Mungkin jus mangga. “ Trims mbak…”ucap si krem, disambut anggukan waitress.
Tepat saat itu muncul dua orang perempuan. Memakai seragam, rambut di gelung rapih di belakang. Diberi pita. Hak tinggi menghiasi kakinya. SPG kurasa. Sejak tiba mereka berkicau saja. Tertawa-tawa, berisik, sambil menarik kursi untuk duduk mereka. Omongannya rame, seru, kebanyakan tentang pria. Mulai dari body sampai perut six pack-nya. Tak peduli pada tatapan aneh orang-orang lainnya. Seolah yang lain numpang dan hanya mereka yang bayar. Mengesalkan.
“ Burung-burung dara yang barusan tiba gimana?” si biru memulai bicara.
“ Es krim kurasa. Enak dijilati sambil jalan-jalan.”
“ Otak lo itu!”
“ Tapi enggak usahlah. Es krim lama-lama lumer juga kalau nggak dipasang di suhu yang pas. Mau disimpan dimana kalau enggak ada pendinginnya. Merepotkan saja.”
“ Jadi gimana?”
“ Air putih saja. Seperti yang di rumah. Menyegarkan walau tanpa gula dan campuran lainnya. Lebih alami dan tak perlu merasa berdosa menikmatinya. Dia juga bisa jadi apa saja. Terserah apa maunya, jadi kopi, teh…sudah halal.”
“ Akhirnya kembali ke selera asal.”
Derai tawa keduanya membahana. Aku bangkit meninggalkan meja, menuju kasir sambil mencatat kalimat terakhir tadi. Kembali ke Asal. Yang dirumah lebih halal. Sampai di parkiran langsung tancap gas, kembali ke kantor dan bergelut dengan rutinitas harian.
Malam tiba. Tak kemana-mana. Nonton teve saja. Salah satu serial menarik perhatian. Tentang perempuan yang bersikeras mengikuti kontes Dewi Amerika, hanya untuk mendapatkan cinta. Dengan serangkaian operasi plastik si itik buruk rupa dirubah jadi luar biasa. Tapi apa daya, setelah semua pengorbanannya ia masih kesepian juga. Cinta yang diharapkan malah kian jauh ketika semua orang merasa ia jadi pribadi yang tak menyenangkan. Seorang yang terlalu gupuh jika ada yang bilang ada satu bagian tubuhnya yang kurang. Dan selalu operasi plastik jalan keluar yang ia pikirkan.
Akhirnya, di tengah kegamangan ia memutuskan untuk membuang semua implant. Menjadi dirinya yang dulu, yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi dilimpahi cinta orang-orang yang benar-benar menyayanginya. Orang-orang yang mendukungnya meski ia bukan siapa-siapa.
Aku tercenung memikirkannya. Moral cerita itu sederhana, syukuri apa yang ada. Tak usah mendongak ke atas karena belum tentu bahagia ketika kau telah meraihnya. Bisa jadi hanya luka sewaktu kau telah tiba di puncaknya sambil bertanya-tanya ,” Kemana hilangnya bahagia? Kenapa tak terasa jua setelah serangkaian derita?”
Aku merasa ditampar. Sangat keras.
Paginya, agak terlambat aku lari-lari masuk ke dalam kantor. Agak heran ketika orang-orang berkerumun di sudut ruang.
Ada apa sih?” aku nimbrung kesana.
“ Ini lho, eman-eman. Cantik-cantik kok bunuh diri?” sahut seorang teman.
Aku melongok. Lho, itu kan perempuan yang kemarin? Kenapa bunuh diri? Apa sih yang kurang darinya? Ia sempurna. Cantik jelita, kelihatannya dari keluarga mapan juga.
Terdorong rasa ingin tahu aku tarik koran, kubaca dan kudapati alasan si jelita itu melemparkan diri ke jurang kematian. Ia tak bahagia. Ia merasa tak pernah dicintai siapa pun juga semasa hidupnya. Limpahan harta tak memberikan arti apa-apa. Semua orang datang karena menginginkan sesuatu, bukan karena ketulusan. Itu yang tertulis dalam suratnya.
Jadi masihkah kau ingin sempurna? Sepertinya si jelita yang memilih membunuh dirinya?
Hatiku kecilku berucap tanya.
“ Di dunia ini tak ada yang sempurna. Karena Tuhan bertujuan mulia agar kita saling melengkapi dengan ketidaksempurnaan itu. Lagipula menurutku orang yang sempurna adalah orang yang menyadari ketidaksempurnaannya tapi selalu mensyukuri dan selalu berpositif thinking pada-Nya,” tulis seorang kawan nun jauh disana sewaktu aku mengiriminya email-ku yang berjudul Sempurna padanya.
Sore tiba. Hujan turun di menimpa jendela kaca. Masih belum reda. Sekedar membuang waktu, kutuliskan kejadian itu dalam satu rangkaian cerita, lalu diposting via blog tercinta. Bukan hendak menggurui siapa-siapa. Namun andai ada yang membaca aku berharap mereka mendapatkan hikmah cerita tentang sempurna.
* berteman Vicky Sianipar, Twelve Girls, Saluang (instrumentalia Minang), Apocalyptica, Vanessa Mae, dan The Dreamhouse Orchestra.

Komentar

  1. klo pun Tuhan memberikan kesempuranaan...

    semoga Tuhan memberikan kesempurnaan ibadah dan amal sholeh serta kesempurnaan hati dan perbuatan...

    amin =)

    nice post Fin

    BalasHapus
  2. kayak judul lagunya ANDRA AND THE BACKBONE . . . . .

    BalasHapus
  3. great... pada akhirnya sempurna memiliki makna lain: menerima kekurangan diri sendiri dan mengoptimalkan kelebihan yang kita miliki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aik mbak chocolieta mampir dimari. Yap bener bgt mbake, optimalkan diri sendiri

      Hapus

Posting Komentar