Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

SEBUAH PERTOLONGAN


Malam pekat. Pagi melambat. Kulalui jalan setapak. Kuseka peluh sembari membenahi buntalan daun jati di pundak. Mendadak rasa tak enak menyergap. Bertalu-talu ia mengharap—Pulanglah cepat!
Di tikungan seseorang meraup dadaku lekat. Mulutku dibungkam kuluman yang jahat. Aku tak bisa berontak. Hingga satu kesempatan tiba, aku melesat.
Sampeyan kenapa?” tiba-tiba pria tua muncul dan bertanya.
Aku tergugu dan menurut saja saat ia menuntunku ke warungnya.
“Diam disini, ia takkan menemukanmu,” katanya seolah tahu apa yang menimpaku.
Benar saja, sang durjana tak melihatku disana. Kudengar serapahnya, gara-gara aku tak juga ditemukannya.
“ Sudah aman, keluarlah sampeyan sekarang,” kata pria tua itu kemudian.
Aku mengiyakan, tapi mataku tak kuat menahan kantuk dalam. Hingga aku dibangunkan seorang pencari kayu yang bertanya heran ,”Ngapain sampeyan tidur di pring-pringan?”


126 kata termasuk judulnya
Dibuat dalam rangka Lomba Flash Fiction Blogfam

Catatan
Sampeyan : kamu
Pring-pringan : rimbunan bambu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA