Unggahan Terbaru

Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Gambar
Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.

Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya…

KEMARAHAN HARI INI




Sepagian tadi saya emosi naik ke tingkat tertinggi. Seorang sales kena sembur karena harga-harga sekian item yang masuk di supermarket Key Account masih salah sejak 2010. Apakah Bapak tidak pernah memberi tahu perubahan harganya? Kesal saya. Begitu juga dengan seorang Supervisor dan MD Supermarket. Betapa jengkelnya saya ketika mereka masih tanya tentang laporan weekly. Padahal sudah saya jelaskan sebelumnya bahkan email ke beberapa pihak yang berkepentingan dengan laporan-laporan itu bahwa laporan akan telat saya kirimkan. Bahwa saya harus bekerja keras untuk mengisi ulang data base penjualan yang hilang sejak awal bulan karena errornya komputer kami sebelumnya, bahwa saya perlu waktu menyelesaikannya.
Sialan! Batin saya sambil ngedumel tak karuan. Terlebih ketika si MD minta saya laporan berapa total karton produk obat nyamuk inovasi baru yang iklannya lagi wara-wiri di tivi itu.
Huugh! Apakah aku tahu aku sedang sibuk mensetting lagi promo-promo yang bubar? Memasukkan kembali beberapa item yang hilang karena errornya computer itu? Tahukah kamu sudah tiga hari ini aku tidak istirahat siang dan pulang sore demi menyelesaikannya?
Saya sudah berteriak berulang kali, saya benar-benar jadi macan hari ini. Saya ingin mereka merasakan napas naga api milik saya, agar mereka tahu betapa capeknya saya.

Tapi siangnya, ketika semua mereda saya teringat pagi tadi ketika seorang perempuan setua nenek saya menuntun sepeda tuanya. Di belakangan sepeda itu ada tobos kecil (wadah berbentuk kotak terbuat dari bambu, biasanya disampirkan di boncengan belakang sepeda), berisi sayuran. Diatas tobos itu ada sebuah karung plastik bekas terhampar sebagai tutupnya. Diatasnya lagi ada tampah berisi semanggi, sayuran yang biasa tumbuh di sawah-sawah. Warna sepedanya sendiri sudah tak jelas lagi.
Bertanya-tanya saya tadi pagi ,”Berapa usia sepeda ini? Setua diakah? Mungkin tidak, tapi yang jelas sudah lama sekali dan usang.”
Sembari mengikuti perempuan itu pergi, saya membatin ia pasti seorang wlijo (pedagang sayuran) kecil. Terlihat dari dagangannya yang ala kadar, hampir tidak menjual barang lain selain sayur-mayur yang jumlah dan jenisnya terbatas.

Berapa ya hasilnya seharian? Apakah semua akan laku terjual? Bagaimana jika banyak yang tidak terjual? Mau makan apa ya? Seberapa lelahnya bersepeda sekian panjang menjajakan dagangan? Apakah ia pernah sekali saja mengeluh dan memilih untuk berhenti?
Mendadak aku ingat perempuan-perempuan lain seperti dia. Aku kenal, banyak malah. Mereka tetap harus bekerja meski usia telah mencapai senja. Tak banyak waktu mengistirahatkan badan, meski seluruh tubuh telah berteriak karena kelelahan. Tak banyak pilihan bagi mereka. Dengan usia tua dan kemiskinannya mereka tak peduli berapa jam harus bekerja, asal perut tetap terjaga.
Ah, betapa beruntungnya saya ya, hanya duduk di belakang meja. Berkutat dengan komputer, tidak berpanas-panas. Kemana-mana naik motor. Tak perlu memeras peluh seperti mereka. Hwah, apakah terlalu banyak mengeluh ya? Tanyaku sambil menatap sajadah merah.Mungkin saja, sahutku sendiri sambil menghela nafas dan duduk menghadap layar komputer kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Adab Yang Tepat Silaturahmi di Rumah Kerabat

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!