Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

MUMBLE TO MY SELF : HOW MANY TIMES DO YOU SAY THANK YOU TO ALLAH?






Buka matamu dan lihat cahaya pagi yang menyelusup di sela-sela jendela ini
Lalu hirup segarnya hawa yang bahkan kau nikmati tanpa perlu membayarnya
Sentuh tanganmu, raba kakimu
Cubit ia, rasakan sakitnya
Terasakah?
Bila ya, itu tanda kau normal dan baik-baik saja

Coba langkahkan kakimu, rasakan dingin lantai keramik di bawah tapakmu
Berjalanlah ke kamar mandi dan ambil wudlu
Apa kau bisa rasakan segarnya air menerpa wajahmu?
Coba bayangkan andai saja kau alergi pada air sesegar itu
Betapa tersiksanya kamu

Jika sudah selesai kembalilah ke kamarmu, pakai mukena lalu sujud pada-Nya
Apakah mulutmu masih bisa mengucap surat-surat pendek yang diajarkan sejak dulu kala tanpa kesulitan?
Pikirkan, andai mulutmu tak lagi bisa mengucap sepatah katapun
Apa yang kau rasakan?

Lalu apakah kau masih ingat semua nama teman-temanmu, hal-hal menakjubkan dalam hidupmu, dan lain sebagainya?
Bagaimana jika Tuhan mengambil separuh memori itu?
Apa yang akan kau lakukan?
Atau andai saja mendadak matamu diburamkan, tak lagi bisa melihat dunia dan segala bentuk keindahan?
Masihkah kau bersyukur atau justru mengumpati Tuhan?

Sekarang jika sudah selesai kau bersembahyang, coba putar musik yang kau suka kencang-kencang
Apa kau bisa dengar Yanni, LMFAO, Jennifer Lopez, Adele, atau Vanessa Mae berkumandang?
Kalau ya berarti telingamu tidak bermasalah kan?

Dan pertanyaanku setelah sebagian kenikmatan itu terpapar padamu : Berapa sering kau berterima kasih untuk semua itu?



Inspired by In The Morning Light (Yanni)
Pic taken from : www.dipity.com

Komentar

  1. eh... waktu tinggal di Sydney dulu, aku alergi dingin dan ketika musim dingin tiba.. subhanallah.. aku tersiksa sekali jika harus ambil wudhu atau mandi besar... kulitku semuanya merekah, lalu mengeluarkan darah.. sakittt banget.. ngiluuu..

    BalasHapus
  2. perbedaan suhu bikin gitu ya mbak ade, dulu pas masih di bali aye baru liat loh bule kulitnya ngelupas parah gara-gara kepanasan. Lha kitanya nyantai aja kena sinar matahari ealaaah ealah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA