Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

TUHAN ITU CURANG


Tak sadar, dengan seratus perak yang kulemparkan pada pengemis jalanan
Ku harap Tuhan mencatatnya sebagai kebaikan
Dalam buku sedekah dengan namaku di sampul depan
Tak sadar dengan sepuluh ribu yang (tak ikhlas) kuberikan aku berharap dapat balasan
Berkali lipat seperti yang Ia janjikan

Satu ketika  sedekahku kutimbang-timbang
Aku merasa tak senang
Kataku Tuhan itu CURANG
Ya C-U-R-A-N-G
Curang!
Aku tidak mendapatkan balasan setimpal
Justru kesukaran dan kepedihan kudapatkan
Aku berteriak lantang pada Tuhan ,”Kenapa?!”

Tenang Tuhan memberi jawaban
Lewat rintik hujan yang menderas kencang
Tunggang langgang aku mencari pohon rindang
Sembari mengumpat panjang lebar

Lalu sayup-sayup kudengar desau angin mengabarkan ,”Tuhanmu telah memberi balasan dengan berbagai jalan. Bahkan lewat hujan barusan. Tetapi engkau tidak sadar. Pikirmu hanya harta dan kekayaan yang kau inginkan. Padahal hujan ini nikmat tiada tara setelah berbulan-bulan kekeringan.
Tak hanya tidak bersyukur, kau bahkan mengumpati Tuhan.
Cobalan sesekali kau belajar berhitung secara benar. Benarkah Tuhan curang. Jika ya mengapa Tuhan memberikanmu oksigen gratisan?
Anggap saja harga oksigen Rp 25.000,00/liter. Jika kebutuhanmu  dalam sehari kira-kira 2880 liter. Hitung saja berapa habisnya selama sebulan, setahun atau sepanjang hayat dikandung badan.
Andai Tuhan memang curang, mengapa engkau diberi kesehatan? Tak perlu bayar, bahkan tidak hitung-hitungan. Bila satu ketika kau bertandang ke rumah sakit, menjenguk kerabat atau handai taulan yang sakit, tanyakan padanya berapa biaya  mereka habiskan agar sehat kembali?

Sekarang aku bertanya padamu,”Siapakah yang curang? Kau atau Dia?”

Ternganga
Aku tak bisa berkata
Tuhan memberi terlalu banyak
Sedang balasanku seujung kuku saja tidak

06:39 190512

pic : taken from snappyneema.tumblr.com

Komentar

  1. oh makasih Bundanya Fiqthiya, biasa lagi mumble to my self alias ngomong sama diri sendiri sebenarnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA