Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

CINTA (TANPAMU AKU TAHAN, TANPA TUHAN DEBU PUN AKU BUKAN)



Aku tak tahu seperti apa persisnya menggambarkan perasaanku padamu. Segalanya seterang siang itu, saat aku duduk di tanah lapang. Diantara rerumputan dan ilalang, serta kesiur dedaunan dialun angin siang. Langit sangat cerah, biru dihiasi awan-awan putih. Dan aku melihat wajahmu timbul tenggelam di antara awan-awan itu. Memajang senyum termanismu, sepertinya kau mengajakku bercanda. Sesekali aku melirik sekitar, takut ada orang lain melihatnya. Melihatku tersenyum menatapmu di awan-awan itu.

Kurasa memang aku sudah gila, mengapa tertawa sendirian pada sesuatu yang tidak nyata? Tetapi begitulah cinta, seringkali terasa aneh dimata lainnya, tapi tidak dimata penderitanya.
Oh, tidak. Aku bukan penderita. Aku merasakannya.

Dan kau? Apa kau begitu? 

Sayangnya aku tak tahu. Aku bahkan tak bisa menera apakah kau pernah sekali saja memikirkanku, sepertiku memikirkanmu? 

Memikirkan hal itu senyumku memudar dengan sendirinya.
Rasa asing itu telah membuatku hilang kendali. Terlalu berpijak pada hayalan sendiri. Sementara kenyataan tidak begini.

Adzan dhuhur timbul tenggelam di kejauhan. Kurasa baiknya kuusaikan saja menatap langit sembari rebah dibawah lalang.
Aku akan pulang, hendak bertemu Tuhan. Kau tahu, tanpamu aku bisa tahan. Tetapi aku tanpa Tuhan, debu pun aku bukan.


* a photo story

Komentar

  1. wow.....asyeeek neh:) keren euy tulisannya judulnya juga mancap beud deh:)

    BalasHapus
  2. Mbak Sarah
    auwwww, auwww....gerrr
    *blingsatan dipuji keren

    BalasHapus
  3. Mbak Brin,whazzup
    mana nih hadiahnya, masa keren doang xixixix

    BalasHapus
  4. Mbak anik,
    tau tuh kenapa? beli jamu anti galau ada gak ya?
    hwahahahaahahaha

    BalasHapus
  5. Bagaimana supaya foto yg punya blog bisa gonta-ganti gitu? #salah fokus

    BalasHapus
  6. oalah itu pake anigif mbak, di photoscape ada tuh. Tinggal add beberapa foto, gabungin jadi deh

    BalasHapus
  7. xixixi aku juga mau nanya hal yg sama dengan mba leyla.
    Judulnya mantap mba, isinya juga. Penggalauan yang penuh hikmah

    BalasHapus
  8. Hahahaha...mbak Windi, penggalauan itu masuk KBBI terbaru ya (hyahahahaha)
    Pake anigif mbak, itu. buka aja photoscape tinggal klik, add foto, trus gabungkan, jadi deeh

    BalasHapus
  9. uuuuuh.... keyeeen. kata-katanya daleeeeem, akyu syukaaaa. ehehehe.

    pernah juga aq merasa kaya gitu mbak. tapi percayalah, lebih indah dirasai dengan cara begitu. sebab ketika ia menjadi nyata, saat itulah kita justru baru menyadari... bahwa rupanya kita hanya mencintai kenangannya.

    #ngemeng ape ogut yak?

    BalasHapus
  10. Jiakakaka, galau itu memang penyakit geje berat ya mbak elita? Boleh dunk sekotak coklatnya? *maunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiahahahah.... coklat? sini ambil ndiri ke depok :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

CARA MENGGAMBAR ILUSTRASI SEDERHANA DENGAN PAINT

OLEH-OLEH DARI FESTIVAL BUAH NAGA : MENYAKSIKAN KEGIGIHAN PEMUDA MELEJITKAN POTENSI DESANYA

TONGKAT MADURA MILIK MAYA