29 Desember 2012

CERITA SI GOKIL : MUNDUR ATAU MAJU JADI PENULIS? TERSERAH LU!




Aku penyuka buku pada awalnya. Menyukainya hingga bermimpi punya buku atas namaku sendiri. Tetapi mimpi itu terkubur seiring hari-hari, dan aku melupakannya hingga bertahun-tahun saat blog muncul dan telah trend pada awal aku terjun.
Dari sekedar ngeblog pada 2006, aku mulai merambah lomba-lomba ringan. Lomba-lomba yang mengantarkanku ke lomba-lomba berikutnya, bertemu banyak orang, menjadi rival dan kemudian berteman dengan mereka.
Jangan tanya prestasiku apa. Karyaku belum banyak tembus media. Memang ada sekian antologi, tetapi majalah dan koran? Hwoow, belum banyak. Paling hanya dua jari saja. Aku juga bukan penulis yang produktif luar biasa. Menulis seenak udelnya seperti notes atau blog bisa saja kuposting setiap harinya, tapi fiksi dan non fiksi yang ada tujuannya membuatku sering mampet, terbebani, dan jadi stag mau kemana. Ealah...Belum lagi perkara disiplin dan kemauan yang masih kembang kempis seperti balon kurang isi. Aish! Klop sudah.

Tahun 2012, aku dengan tak terduga lolos audisi outline di salah satu penerbitan. Wedyan! Mengingat persiapannya yang gradag-gruduk asal. Maka bisa dipastikan aku kalang kabut begitu harus menerjemahkan outline dalam bentuk cerita sepanjang 80-120 halaman.
Napasku serasa ngos-ngosan, aku seperti seorang yang dipaksa lari sejauh ribuan kilometer di hari pertama aku belajar jalan. Bagusnya, saat itu printer kesayanganku telah tewas dengan sentosa. Terpaksa aku merogoh kocek lebih dalam untuk mencetak artikel dan data yang kuperlukan demi si bakal novel. Padahal di saat yang sama aku sudah berhenti bekerja, hahahahahaa...Untungnya aku masih bisa mengais rezeki dari rajutan *plok, plok, ploook!
Sewajarnya sebuah usaha, usaha rajutanku juga tak selalu lancar. Kadang naik, kadang turun.  Jadi belum bisa memberi kemantapan secara finansial. Belum lengkap, modem yang biasa kujadikan kawan untuk mencari rizki  ngadat pula.  Sudah tidak mau lagi bekerja sama denganku. So aku harus ke warnet untuk mengkilik-kilik mbah google demi beragam info yang kuperluka, juga saat  nge-share hasil rajutan sekaligus promo jualan.  Tidak efektif dan bikin biaya kian bengkak heheheh...
Dan  untuk melengkapi puzzle kebahagiaan sebagai penulis yang nekat menulis novel padahal tidak punya pengalaman memadai di dunia literasi, si kompie meninggal dunia. Krik...krikk...hening sunyi dunia karena saya mengheningkan cipta (nangis maksudnya).  Terus piye jal?
Aku sudah hampir nyerah ketika akhirnya dapat pinjaman laptop dari emak (dibelikan tapi saya bilang itu pinjaman). Apa pasal? Tabungan saya belum cukup kalau harus diperah beli laptop, nek. Weleh nyusahin banget to ya?

Kadang  ingin saya mengeluhkan kerepotan itu hingga mengular naga panjangnya. Tanganku sudah mengetikkannya, tinggal klik saja dan muncul di beranda efbe saya. Ha tapi urung begitu sadar kalimat negatif itu takkan mengubah apa-apa. Malahan justru bikin sampah di dinding teman-teman lainnya. Thats why, akhir-akhir ini saya lebih banyak diam (dehem kenceng), ketimbang nyeplosin keburukan di dunia maya. Hidup sudah susah, masih juga ditambah dengan kalimat sampah. Jiaaah, enggak banget ah!
Nggak jarang saya pengen cerita pada kawan. Akhirnya malah batal demi hukum, hahahaha...nggak ding batal demi nggak nyusahin orang. Kebetulan saya kerap diajak teman curhat. Tahu rasanya gimana saat kamu sendiri butuh dukungan, orang datang dan mewek cerita panjang lebar. Begitu selesai masalah dia kabur dan kau ditinggalkan. Nelpon atau sms saja enggak. Sekedar nanya kabar.
Lha dipikirnya saya ini nggak punya hati, hingga nggak bisa marah kalau digituin? Saat hati bening saya selalu berkata pada diri sendiri, itu bukan hal besar. Wajar aja, kok. Ngapain dipikir? Saat buram pikir, saya kesel juga dan bertanya dimana kalian saat saya membutuhkannya? Hwahahahaha, ternyata saya belum bisa jadi tempat sampah yang baik ya?
Duuh, menggapai cita-cita itu seribet ini ya? Dan jika dengan keribetan itu saya berhenti, bisa dipastikan itu gila namanya!  Aku bisa dihabisi Emak kalau begitu caranya (hahaha nggak ding).  Justru karena itulah aku harus ngebut dan menyelesaikannya. Aku punya hutang banyak pada emak dan orang-orang rumah yang sebegitu pengertiannya. Tapi menyelesaikan novel ini belum sampai pada titiknya. Masih ada editor, penerbitan, pembaca, dan sebagainya.

Masalahnya saat bertekad semacam itu, semangat saya masih belum bangkit juga. Sompreet deh ya...Di saat sekritis itu saya justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca-baca artikel tentang Agnes Monica, Bing Bang (itu tuh idol grup dari Korea), dan S4 (yang terakhir grup baru jebolan ajang Galaxy Superstar).
Agnes Monica, meski di cap sombong oleh orang lain tapi nggak bisa disangkal perjuangannya luar biasa. Fighting spiritnya gila! Ia keras betul mengusahakan mimpinya. Nggak peduli orang berkata apa, dia tetap fokus dan melaju di jalurnya. 


Big bang? Proses menuju tangga kesuksesan grup musing yang digawangi G-Dragon, Taeyang, T.O.P, Dae Sung, dan Seungri nggak semudah bikin sambal (hahah mentang-mentang saya suka sambal ya?).  Perjuangannya makan waktu dan kesabaran.
S4? Saya bukan fans mereka tapi mencermati mereka. Saya terkekeh-kekeh melihat grup baru, yang sebelum resmi meluncurkan mini album-nya, sudah ada anti fans-nya.
Kalau dibalikin ke saya, anti fans itu adalah kendala (malas, gak punya duit, etch). Kalau itu bikin kamu tepar dan nggak mau lagi berusaha, wah kapan berkembangnya? Lha mereka yang diatas itu bisa kayak gitu karena mereka nggak balik kanan dan justru berhadapan dengan kendala, je...

Jadi gimana? Pilih mundur atau maju?

Saya pilih maju dengan segala resikonya. Ketimbang mundur dan menyesal kemudian hari.  Setidaknya saat saya mati, saya tidak penasaran *oisssh bahasanya.
Dan  diatas semua kerepotan itu,  I would like to say thank you to Allah. Allah telah memberi saya kebahagian melampaui kesulitan yang saya terima.
Kelak semua cerita seru itu akan jadi legacy buat anak-anakku tercinta. Aku ingin mereka tahu terkadang perjalanan meretas mimpi tak semudah perkiraan kita. Seringkali sakitnya lebih banyak ketimbang bahagianya. Dan itu untuk mengingatkan kita, jika satu hari impian itu telah tergenggam kau bisa menghormatinya dengan cara yang benar. Berempati saat orang mengalami hal yang sama  dan tidak begitu saja mencela ketika mereka mengeluhkannya.

GANBATTE!

FIGHTING!

*halah kok jadi lebay gini ya

Anyway, pidato kenegaraan saya sampai disini saja ya? Kurasa sudah banyak orang nunggu saya di luar sana, psst...bukan mo minta tanda tangan, tapi sibuk pada mo lempar sendal.

SELAMAT MENYONGSONG FAJAR BARU 2013

5 komentar:

  1. seru pidatonya...
    coba presiden pidatonya kayak gini juga, pasti wuenak deeh

    BalasHapus
  2. hahahaha, lah entu dia mbak ley, kalo gini caranya aye buka les aja dah ya? Mayan, kali terkenal

    BalasHapus
  3. Betul, spirit Agnes Monica luar biasa. Saya salut sekali sama dia. Trus boyband Korea itu ... ah, saya gak kenal

    BalasHapus
  4. Kekeke, mbak mugniar. Gak papa gak kenal, nyang penting kita tiru semangat mereka. Merdeka

    BalasHapus
  5. Anonim5:01 AM

    salah satu hambatan terbesar untuk jadi penulis profesional itu adalah takut untuk mulai menulis. aneh ya?

    BalasHapus