Unggahan Terbaru

Catatan Lebaran 2 : Empat Tahun Lebaran Tanpa Ibu di Sisi

Gambar
Saya lupa tahun keberapa saya memakainya. Dulu mukena itu milik Ibu saya. Kadang saya pinjam saat sholat hari raya, baik Idul Adha atau Idul Fitri. Sejak beberapa tahun silam, meski tidak secara resmi mukena itu berpindah tangan pada saya. Akan tetapi, dalam keseharian jarang dipakai juga. Bukan karena bahannya tidak bagus. Cuma kurang nyaman karena terasa berat dipakainya. Dan sudah hampir empat lebaran ini saya memakai tanpa ada Ibu di sisi saya. Jika dulu setiap sholat hari raya berdampingan dengan Ibu, sekarang tidak. Orang lain yang tidak saya kenallah yang duduk bersebelahan dengan saya. Saya juga mulai terbiasa berangkat sendiri, tidak menunggu-nunggu lainnya.

Tahun 2015, saya masih sempat sungkeman dengan Ibu sebelum beliau meninggal di bulan September 2015. Akan tetapi, setelah itu tidak lagi. Sofa tempat Ibu dan Bapak biasa duduk untuk menerima sungkem dari kami, anak-anaknya, hanya dihuni seorang saja. Bapak saya. Saya tidak tahu apa yang dirasakannya setelah ibu tiada. Saya…

DAMN!





Bosan. Saban hari itu yang terdengar. Seputar ukuran dada, paha dan pinggang.
Plus tips-tips khusus membuat perempuan jatuh bangun disimpul rayuan maut.

Bosan. Apa nggak ada pembicaraan yang cerdas menyegarkan. Seputar gadget terbaru kek. Atau apalah…asal jangan-maaf-ukuran dada, paha, dan pinggang.
Hei, pria! Yang kau bicarakan sampai berbusa itu kaum ibumu juga. Yang harusnya kau hormati dan kau jaga. Bukannya diraba-raba.
Inget nggak anakmu perempuanmu itu dua. Apa pernah terpikir olehmu bagaimana hancurnya rasamu jika ada pria meraba mereka dengan segala ketaksenonohannya?

Sepi.
Pembicaraan sunyi. Si dia meraih ponsel di sakunya, lalu memijit nomer telefon seseorang yang dikenalnya.
“ Hallo, sayaaaang…Apa kabar? Udah makan siang?”
Si dia tertawa lebar. Membuat saya geregetan ingin melempar stapler besar.
“Iya, dimana? Jimbaran? Delta Maron? Bu Maksum? Atau di mana? Terserah deh…” suaranya lembut menggoda. Bikin eneg saya.
“Okeee…”
Percakapan terhenti, si dia tersenyum-senyum sendiri. Perempuan mana lagi sih yang mau dikadali pria ini? Apa sih bagusnya dia? Selain kantong yang sedikit tebal, body bagus, dan kumis tipisnya?

“ Eh, ini aku mau nyoba SPG baru ntar sore di Ketapang. Gimana?” katanya pada dua rekan kerjanya.
Mereka tertawa.” Siapa? Anes  yang dadanya…” si baju biru menyahut sambil membuat gesture bola.
“Hahahaha…bukan. Ini anak baru. Yang ngelamar jadi SPG di tempatku.”
“Kau itu selalu nemu. Cakep nggak?”
“ Wuhuuuu!” Si dia membuat gesture bohay.
Ketiganya tertawa. Tapi tidak dengan saya. Saya berharap saya bisa menendang ketiganya di afrika. Jatuh di tempat suku terasing dan tidak kembali lagi sebelum otak kotornya dibersihkan larutan kimia.

Heran saya. Apa sih yang ada dikepalanya itu tentang wanita? Tahu nggak sih mereka perempuan itu hadir bukan untuk dipegang, dijilat lalu dinikmati semacam es krim rasa vanilla?
Tahu nggak sih mereka, bahwa pria-pria yang kebanyakan ngomong mesum tanpa jeda, dimana saja, kapan saja, tak peduli tempatnya dimana, itu bodoh dimata wanita? Tahu nggak sih mereka, perempuan justru tertarik dengan pria yang bicaranya asyik,  up to date, tapi nggak menggurui? Bukan mesum semacam ini?

Lihat nggak mereka mbak-mbak akunting yang mendengar mereka sudah pasang tampang desperate gila? Malas dengan obrolan yang-huuuffff!-itu lagi saban harinya?

Ugh! Dan saya juga!
Tapi mau apa?! Mau protes juga nggak bisa. Saya cuma dispenser di pojok ruang seluas 7x5 meter.

DAMN!


 pic taken from : www.dreamstime.com

Komentar

  1. wididiiiihhh
    keren mbak :)
    penggunaan sudut pandang yang keren ^_^

    BalasHapus
  2. hehehe makasih mbak vera astanti

    BalasHapus
  3. ternyata dispenser yg lagi curhat :D

    BalasHapus
  4. Zaman sekarang yang ngomongin toge & pasar bukan cuma emak2, tapi pria hidung cemong juga. Xixi -_-
    *Salam kenal, Mak

    BalasHapus
  5. @mama keke naima, hwahaha dispensernya eror

    BalasHapus
  6. @boneka lilin, salam kenal juga mak! Kwakaka, yg cemong idungnye kudu dilap kali ye?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

MARI BELAJAR MERAJUT BAGIAN 1 : SIMBOL DAN MACAM-MACAM TUSUKAN DASAR

Adab Yang Tepat Silaturahmi di Rumah Kerabat

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!